Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 8)

 

PERHATIAN, TULISAN DI BAWAH INI TIDAK UNTUK ANAK 
DI BAWAH UMUR DEWASA!
Catatan : Kisah ini sebagian ada diambil dari kisah nyata pasien dari penulis dan dikombinasikan dengan plot lebih menarik.

Daftar tautan bab lain, silahkan klik link di bawah ini:







Bab 8 Misi Mustahil


 Setelah makan pagi itu, Yuna menelusur situs pondok pesantren itu dan kemudian mengambil air wudhu dan secarik kertas putih kosong di koper Huda. Dia kembali ke meja makan yang sudah dirapikan oleh Harun dan mulai meggambar sigil dan rajah di atas kertas itu.

Dia kemudian melakukan meditasi sebentar dan membacakan surat al Fatihah kepada orang yang dimaksud dan sebuah gelas kaca di atas meja makan pecah.

Semua pria di ruang dapur itu terkejut.

"Kok bisa ya?" Harun membereskan pecahan itu sebelum Yuna terlukai olehnya.

"Orang ini di tubuhnya ada jin bangsa penyembah dajjal rupanya... Kita butuh khodam di atas level jin jenis ini karena di luar sana pasti ada banyak jumlah orang seperti dia.." tukas Yuna.

"Bagaimana cara mencarinya?" Alexis .

"Kita harus ke pondok pesantren tempat ayahku belajar!" Saran Yuna.

"Harun kamu mau ikut?"

"Neng, saya kan kerja di sini..."

"Ajak aku menemui komandanmu biar aku yang urus"

"Abang serius bisa?"

"Ya..." Tajam Huda.

"Oke... Aku ikut!" Harun bertekat bulat karena dia tidak merasa aman di Bandung jika ditinggal mereka sendirian.

Huda berdiri, "ayo!"

"Sekarang Bang?"

"Iya ayo... Kita tidak bisa menunda-nunda..." Huda menggambarkan urusan mereka yang serius.

Harun berdiri dan melangkah keluar villa, dia menghidupkan motor gede-nya dan membonceng Huda ke kantornya.

Setibanya mereka di kantor polres, Harun menyapa rekan-rekannya.

"Kok makai pakaian preman?" Sapa salah satu dari mereka.

"Komandan di mana Bang?" Harun tidak mnghiraukan.

"Ada di ruangannya..."

Harun berlalu disusul Huda yang tersenyum sopan.

"Ada apa sih Bro?!"

Harun tidak mempedulikan teguran temannya dan langsung menuju ruang pimpinan.

"Assalamu alaikum Komandan!" Harun mengetuk pintu pelan.

"Waalaikum salam.. masuk.." jawab pemimpin.

"Ndan, ini saya bawa rekan saya, dia ingin menghadap Anda untuk mendiskusikan sesuatu yang sangat urgent"

"Urgent? Masalah internal?" Pria itu menaruh pandangan skeptis.

Harun menjawab dengan anggukan serius, "duduk!" Perintah atasannya.

"Saya Huda dari Aceh" Huda menjabat tangan pria itu dengan santun.

"Ferdy.." jawab kepala kepolisian di tempat itu.

"Saya ditugaskan di bawah pengawasan Polri pusat Ndan, ini SPT saya sebagai intel... Dan saat ini saya membutuhkan bantuan supaya bisa meminjam tenaga Bang Harun menyelesaikan penelusuran teroris yang ada di Indonesia.." Huda menyodorkan selembar surat perintah dinas dari Polri yang dia dapat dari komandan polisi tertinggi di Indonesia dalam hal menyisir keberadaan teroris dan bandar narkoba di lingkungan masyarakat sebagai intel sipil.

"Jadi kalian menemukan jejak petunjuk?" Ferdy membaca surat itu.

"Ada di Jawa Timur dan sedang saya lacak melalui GPS namun akar organisasi mereka ada di Bandung..." Jelas Huda menganalisis apa yang tadi Yuna temukan.

"Apa peran Harun dalam misi ini?" Ferdy memastikan.

"Meretas dan mem-back-up, kami harus blusukan ke lokasi TKP untuk mendokumentasikan bukti.. sementara ini kami masih hanya berdua saja..."

"Apa gerakan kalian diawasi pemerintah, kenapa hanya berdua? Jika memang ini misi khusus menyisir teroris? Aku bahkan baru tahu masalah ini..."

"Silahkan hubungi nomor Komandan Prasetya..." Huda menyodorkan ponsel di atas meja.

"Ah... Tidak perlu..." Ferdy mengelak.

"Tidak masalah, supaya Komandan yakin tentang mission impossible ini..."

"Baik lah.." Ferdy mencatat nomor itu dengan gawainya dan menghubugi pemilik nomor itu.

Nama di kontak gawai langsung muncul sebab Ferdy juga sudah memiliki nomor tersebut, ternyata benar itu nomor milik Kapolri, "Assalamu alaikum..." Ferdy menyapa setelah panggilannya diangkat.

"Waalaikum salam... Ada apa Ndan?"

"Ah, Komandan, ini ada orang namanya Huda..?" Ferdy mengayun tangan agar pemuda di hadapannya menyebutkan nama lengkapnya.

"Huda Al-Fathir"

"Ah.. Huda Al-Fathir dari Aceh ke sini mau minjam tenaga personil dari bagian IT, Komandan... Dia bawa SPT dari Komandan juga.."

"Oh, itu tangan kanan negara ini... Kasih saja semua yang dia mau... Kalau kamu mau panen bandar narkoba, dia ahlinya tuh..."

"Serius Komandan?"

"Iya, coba kamu buka situs update data kepolosian, kita bahkan ketinggalan jauh dari kepolisian di Jatim, dia lebih mengutamakan bantu sisir di Jatim dulu..."

"Siap saya periksa..." Ferdy membuka laptopnya dan menelusur situs official kepolisian dan membuka data presentase hasil penanganan kasus kepolisian di Jawa timur.

Mata Ferdy terbelalak, "siap Komandan sedang saya baca datanya!"

"Itu semua karya dua tangannya Huda itu..."

Ferdy melotot dan melihat wajah Huda yang terlihat bersih lebih mirip dengan santri sebab gelagatnya juga terlihat lugu.

"Baik Komandan akan saya ACC sesegera mungkin dan menyediakan tangan terbuka untuk segala hal dalam urusan ini..."

"Ya, bantu saja... Dia dari pusat langsung itu, identitasnya tidak perlu dipertanyakan... Yang penting dia WNI asli... Nanti lah data pribadi dia menyusul untuk urus administrasi..."

"Baik Komandan.."

"Iya Komandan Ferdy, selamat siang.."

"Selamat siang Komandan.."

Ferdy terdiam melihat angka di layar laptopnya barusan dan pelan-pelan menulis memo agar sekretaris memproses SPT untuk Harun.

"Kalau butuh bantuan, kamu bilang aja... Semoga semua gembong teroris cepat ditangkap..." Ferdy membaca data laporan kepolisian lagi sambil menelpon sekretaris agar masuk ke ruangannya.

"Siap, Ndan.." singkat Huda dengan wajah tenang.

Agak lama setelah sekretaris itu datang mengambil memo dan mencetak surat SPT yang dia buat untuk Harun yang diutus bekerja di bawah pengawasan pusat komando. Akhirnya Huda berpamitan pulang membawa Harun yang kini harus bekerja jarak jauh secara online.

Mereka kembali ke villa dan di depan pintu rumah besar itu sudah ada mobil untuk mengantar mereka ke Kediri. Terlihat Yuna menurunkan koper Huda juga dari kamar dan menatanya di depan pintu.

"Kerja kalian ini sangat cepat dan ringkas ya Bang... Nah aku bawa apa? Aku belum siap-siap bawa baju dan laptop... Sebentar saya pulang dulu..."

"Iya Bang, hati-hati di jalan..."

Harun yang baru saja ditinggal Huda turun dari jok motornya lalu berputar arah ke rumahnya.

Di tengah perjalanan, di sebuah gang sempit, Harun memarkirkan motornya dan dikejutkan dengan beberapa kelompok berbaju hitam, tidak salah lagi mereka dari kelompok satanis yang sama dengan Harun.

"Harun!"

"Ada apa ini?"

"Mau kemana kamu?"

"Kalian ini kenapa? Kenapa menghalangi jalanku?"

"Harun, kau tidak ada minat kembali ke dalam kelompok kah? Kau kan sudah sumpah darah persaudaraan dengan kami!"

"Lalu?"

"Jika kau keluar kau akan mati sebagai tumbal, biar ga susah-susah kami mencari target... Kau aja mati sekarang buat persembahan ritual di hari selasa besok!"

Pria di hadapannya langsung angkat clurit, Harun turun dari motor gedenya dan berlari menuju jalan ke villa.

"Sratt!" Namun pahanya terbacok oleh kelompok itu.

"Aduh!" Pekik Harun memegangi pahanya yang terkoyak, tubuhnya terbanting ke tanah karena lemas.

"Kau ini lemah Harun, udah ga punya khodam ya!" Salah satu pria mencekik Harun.

"Dor!"

"Argh!"

Kaki pria yang mencekik Harun ditempak dengan tembaga panas. Tiga personil polisi datang ke sana dan mengejar pria-pria yang melarikan diri.

Huda muncul dari balik para personil, "maaf aku lupa kamu ga boleh sendirian..."

"Ga masalah Bang!" Harun menahan sakitnya.

Huda membopong Harun, "dimana rumahmu?"

"Depan situ, dekat kok..." Tunjuk Harun.

Satu personil khusus polisi mengawal mereka menuju rumah Harun yang berdempetan dinding dengan rumah para tetangga lainnya, di atap terasnya bergelantungan baju jemuran, dan pintunya ternyata terkunci dari dalam.

"Bu! Ibu!" Harun menggedor-gedor kaca jendela yang terlihat sudah lama tidak dilap.

Harun menoleh ke Huda dengan mata ketakutan. Polisi mendobrak pintu dan betapa mengejutkannya terlihat Ibu harun diikat di kursi dengan mulut diikat tali dan baju di bagian perutnya sobek dan terlihat ada bercak berdarah.

"Ibu!!!" Jerit Harun.

"Pelakunya pasti sekte sesat yang tadi" kata Huda kepada personil polisi yang dia panggil dengan nomor yang ada di belakang SPT.

"Bang! Aku sudah ga punya siapa-siapa lagi Bang!" Harun melepas semua ikatan dari ibunya sambil merintih duka.

"Tenang, kita akan tangkap semua orang itu..." Huda menepuk bahu Harun beberapa kali agar tegar.

Hari itu polisi mengawal proses pengurusan jenazah ibunya Harun karena khawatir akan ada penyerangan lagi.

Sementara Huda kembali ke villa meninggalkan Harun yang sudah diserahkan ke polisi.

Namun, tanpa sepengetahuan Huda...

Setelah beberapa saat berlalu dan jenazah ibu Harun rampung dikafani, polisi itu menoleh ke Harun dengan mata dingin.

"Kau..." Harun yang kini pahanya sudah dibalut perban dalam tangisnya memandang personil itu.

"Mau apa kau? Menjebloskan semua ke penjara? Mau jadi pahlawan?" Ternyata pria itu adalah salah satu dari mereka.

"Kau mau bunuh aku?" Parau Harun dengan matanya yang kini sudah memerah.

Pria itu menusuk mata Harun dengan tajam dan dingin.

Tak lama kemudian datang satu unit mobil hitam yang disewa Alexis , dia diparkirkan di depan gang sempit.

Orang-orang yang melayat keluar dari rumah untuk melihatnya, sementara Harun dan polisi yang berdiri di depan rumah itu kembali bersikap biasa seolah tidak ada masalah.

"Assalamu alaikum" Yuna datang melihati personil polisi itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Harun menunduk dan melirik wajah Yuna, "waalaikum salam" lirihnya sambil menelan ludah.

Polisi itu dengan mata dinginnya menjawab, "waalaikum salam.."

Huda menuju ke Pak RT yang duduk di dalam rumah menemani adik sang almarhumah ibu Harun.

"Pak kami bawa dulu Bang Harun karena ada urusan kerjaan keluar kota..." Kata Huda setelah duduk bersila dan menjabat tangan Pak RT.

"Ga nunggu proses pemakamannya sampai selesai dulu kah Bang?" Paman Harun bermata sembab.

"Ga bisa... Maaf sekali... Sudah kepepet jamnya..." Huda menyatukan kedua telapak tangannya ke depan.

"Iya Bang, ga apa..."

Harun memasuki kamarnya kemudian tak lama setelah itu keluar dengan membawa ransel besar.

"Paman.. Aa pergi dulu ya... Maaf udah mau terlambat ini..."

"Iya ga apa a... Minta doanya buat Ibu ya a..."

"Muhun, Paman jaga dirinya baik-baik nyak.." Harun memeluk pria senja itu dengan tangisan pedih.

"Di mana pun Aa berada jangan pernah tinggalkan sholat... Karena Allah adalah sebaik-baiknya pelindung buat Aa..."

"Muhun, Paman... Aa janji akan menegakkan tiang agama lima waktu... Aa janji ke Paman... Assalamu alaikum.." Harun mencium pungung tangan paman semata wayangnya itu.

"Waalaikum salam..."

Sementara itu Yuna di luar rumah tetap memandangi wajah personil polisi yang dingin seperti robot itu sambil berkacak pinggang.

"Bang..." Huda menepuk bahu polisi itu.

"Siap?"

"Udah selesai... Makasi ya. Kita bubar barisan!"

"Siap, kembali kasih! Selamat siang!" Pria berseragam dengan pelindung anti peluru itu berjalan santai menjauhi gang lalu menaiki motornya.

Yuna berjalan cepat menuju mobil disusul para pria, sementara Alexis  yang sedari tadi menunggu di mobil sudah pulas dan bermimpi jauh.

"Ada apa sih Yang?" Huda duduk di belakang Yuna.

"Orang sekte tuh!"

"Neng bisa tahu dari mana?" Harun duduk paling belakang sendirian.

"Anyir baunya!"

"Setelah kamu keluar dari Bandung, kamu aman, tenang saja..."

"Siap Bang... Makasih banyak sebelumnya..." Harun menoleh ke belakang, dan benar saja di kejauhan berdiri para anggota sekte yang tadi dikejar polisi.

Mereka berdiri memegang pisau yang berdarah.

"Bang!" Harun meraih bahu Huda membuat Huda menoleh ke belakang.

Pria-pria sekte itu berdiri di sudut sepi gang dan menatap kepergian Harun dalam mobil itu.

"Polisi yang tadi menyergap pasti sudah tewas di tangan mereka!" Huda menghela nafas.

"Bang Harun, kalau udah tahu kayak gitu, jadi ga usah kembali lagi ke kelompok seperti itu lagi, yah!" Yuna membuka snack tanpa ikut menoleh ke belakang.

"Siap Neng, saya takut!"

"Mereka itu udah sadar kalau kita mau menumpas mereka makanya kita di kejar..." Yuna melahap snack-nya dengan santai.

Mobil akhirnya memasuki jalan tol, namun ada mobil hitam mengklakson dari samping mengimbangi kecepatan.

"Satanis!" Huda tercengang.

"Apa kubilang kan!" Yuna nampak tidak kaget.

"Berhenti Pak, ga usah turun dari mobil! Kunci pintunya! Yang, kau tenang duduk di situ, pelajari ini!" Yuna membuka pintu dan berjalan agak jauh di hadapan mobil.

Mobil asing yang terparkir berjarak dengan mobil sewaan Alexis  akhirnya membuka pintu dan mengeluarkan dua pria berbaju hitam.

Mereka menyerang Yuna namun gadis itu terlihat membuat mereka terpelanting sampai memuntahkan darah dengan sekali pukulan angin menggunakan tenaga dalam.

Dua pria itu bergelimpangan di tanah kemudian pingsan setelah tak beberapa lama mengalami sesak nafas karena Yuna seperti menarik keluar sesuatu dari kepala mereka.

Yuna lalu berjalan mendekati mobil sewaan Alexis  yang pulas, supir membuka kunci pintu dan Yuna masuk lagi, duduk di jok samping supir.

Huda telah menyaksikan lekat seksama setiap gerakan Yuna tadi dan menghapal untuk meng-copy-nya, dia memang lebih gesit dari Yuna dengan silat ghaibnya namun ajian yang tadi Yuna praktekan adalah ajian putih dari para waliyullah yang belum pernah Huda pelajari, Huda membutuhkan kunci dasar agar memiliki ilmu itu.

Sopir berkumis itu tidak berani berbicara sepatah kata apa pun karena takut salah bicara, dia menginjak gas lagi meninggalkan lokasi itu.

"Tenang Pak Supir, aman kok..."

"Iya, Bu.." singkat supir itu berusaha fokus menyopir.

"Kalian tahu tidak apa yang membuat mereka mengejar kita?" Yuna melanjutkan makan snack.

"Mungkin mereka mengincar saya Neng"

"Bukan"

"Takut kalau kita benar-benar akan meringkus mereka?"

"Tidak, bukan itu"

"Lalu?"

"Mereka hanya menguji level kesaktian ilmu gaib kita... Kurang kerjaan! Habis ini pasti mereka koar-koar supaya dibantu kelompok lain... Nah yang aku takut, kelompok pondok pesantren sesat itu yang ulur bantuan ke mereka..."

"Ga mungkin Neng"

"Bisa jadi" Huda melihat pemandangan dengan pandangan kosong.

"Kita ga perlu naik pesawat! Aku mau mampir ke Semarang menemui temanku... Dia mau menyampaikan sesuatu juga tentang perkumpulan sesat ini..." Sambung Yuna.

"Anyway... Pak Supir ini siapa namanya?" Tanya Harun.

"Darmanto, Bang..."

"Orang mana?"

"Saya orang Surabaya.."

"Oo... Tadi gimana ngelihatnya setelah menyimak kami?"

"Ya, ngeri-ngeri sedap... Udah tahun dua ribu tiga belas gini kok masih aja makai ilmu ghaib... Apa karna udah balik ke jaman dulu ya!"

"Di jamannya dajjal turun maka sihir pun kembali Pak"

"Ya juga ya..." Sopir itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya berat.

"Bapak punya pengalaman seperti ini ga sebelumnya?"

"Pernah Bang, mengantar penumpang ke kampung setan malah..."

"Kampung setan?"

 


"Itu kampung disebut pabriknya kuntilanak"

"Ada pabrik yang banyak kuntinya?"

"Bukan... Orang sana itu pesugihan membunuh perempuan dan diritualin sampai korbannya jadi kuntilanak gitu... Buat dikasih ke raja jin di sana... Dijadikan istri jin"

"Serius Pak?" Yuna keselek, buru-buru dia ambil air mineral di botol yang disimpan di tas.

"Iya Mbak, jadi ceritanya kemarin mobil ini ngantar keluarga ada istri ada suami, ada anak perempuan sama suaminya itu... Mereka nyuruh saya antar dari Bandung ke sebuah desa terpencil di Jawa tengah gitu... Sampai sana itu malam..."

"Trus?"

"Iya, jadi sesampainya di sana saya kan maunya langsung pulang karena jalanan ke sana saja melewati hutan sama kuburan angker aneh ya saya mendingan cabut lah.. saya buka pintu mobil buat mengeluarkan barang mereka aja sudah mencium bau-bau aneh yang bunga kantil lah yang menyan lah yang anyir bahkan baunya kadang ada yang lewat busuk banget kaya' bau bangkai!"

"Nah trus gimana Bang?" Harun penasaran.

"Ya saya akhirnya pamit kan karena ngeri sendiri di situ eh malah dilarang sama si ibunya yaudah saya tungguin sambil ngopi di depan rumah tua yang mereka tuju itu... Katanya mau langsung pulang habis sowan dari sana malah sampai pagi saya disuruh di situ menginap..."

"Jadi itu rumahnya siapa?" Huda menopang dagu di pembatas jendela mobil.

"Seorang kakek tua Mas, saya disuruh tidur di kamar khusus tamu.. rumahnya itu dari ghedek... Tahu ghedek ga? Anyaman bambu lawas itu lho... Ya ala-ala pedesaan gitu, temboknya semua dari anyaman bambu atapnya dari klaras.... Itu klaras tahu ga? Daun kelapa kering yang disusun-susun gitu."

"Ceritakan semuanya Pak, seru nih!" Pinta Harun antusias.

"Nah, jadi ceritanya saya malam itu ingin tidur karena sudah capek Bang, tapi baru saja kesadaran saya mau lelap malah saya dengar suara tawa perempuan serem banget, kedengarannya sih dari jauh. Tapi karena saya ingat kata teman saya kalau ada suara perempuan jauh banget itu sebenarnya dia lagi dekat banget ya saya langsung merinding donk!"

"Iya sih bener itu"

"Karena saya kepo ya akhirnya saya coba bangun tidur meski pun capek banget kondisi saya waktu itu... Tanpa pikir apa-apa Bang, saya buka dikit pintu kamar, saya ngintip dan di rumah itu udah sepi, semua orang udah ga ada di sana... Wah kesempatan saya mau kabur malah pas saya buka... Aduh! Di depan pintu itu ada perempuan bajunya merah mirip daster gitu tapi lengan panjang..."

"Baju merah?"

"Iya Mbak, rambutnya panjang hitam lurus sepinggang, itu lagi berdiri tepat pas di depan pintu waktu saya buka!

"Padahal tadinya ga ada orang?"

"Lha iya itu saya heran juga padahal tadinya itu pas saya ngintip ga ada orang sama sekali di ruangan itu gitu lho!"

"Lha trus? Om ngapain?!"

"Itu perempuan ya, posisinya lagi berdiri membelakangi saya! Serem ga tuh?! Ya saya tegur, punten, maaf saya ngga ganggu, mohon maaf, saya minta ijin lewat Mbak Ayu, saya bilang gitu!"

"Haha, trus?"

"Dia jawab Mas, iya silahkan gitu suaranya lembut banget! MaasyaaAllah, ada perempuan secantik alus banget suaranya seperti itu pas waktu itu saya batin gitu... Saya bilang, permisi nggih... Dia lalu jalan menjauhi pintu sambil balik badan ke arah saya!"

"Nah, jadi gimana mukanya?!"

"Cantik banget Mbak, glowing! Putih mirip artis Korea!"

"Nah loh!"

"Sangat cantik Mbak, hidungnya mancung persis mukanya Park Bom-Two And E One, pokoknya!"

"Wuaduh!"

"Nah... Saya bilang, maaf Mbak Ayu saya ijin pulang dulu nggih... Nah malah dia jawab sambil lihat mata saya Mbak, dia bilang ngapain pulang, di sini saja ayo ikut saya kalau kamu mau tahu mereka lagi ngapain..."

"Omak!" Huda mengangkat satu alis mendengarnya.

"Nah ya abis itu saya bilang oh nggih Mbak Ayu... Lah dia jalan donk pelan-pelan di depan saya, ya saya ikutin! Kami jalan ke belakang rumah, di situ aja jalan, lawong awalnya saya sampai aja tadi itu kalau ga salah saya ya.. di belakang rumah itu mepet rimbunan pohon bambu tinggi... Lha kok saat itu berubah jadi jalan.. wah ini kacau ini masuk dimensi ghaib udahan saya... Entah bisa pulang apa nggak ini.. batin saya gitu juga waktu itu"

"Jadi Om sadar ya? Ga terhipnotis sama sugesti dia ya?"

"Sadar Mbak! Tapi karena saya mikir saya juga kepo sama para penumpang saya tadi, akhirnya saya ngikut aja!"

"Berani juga Bapak ini, trus gimana?" Huda jadi penasaran.

"Ketika waktu itu udah agak lama jalan kaki, saya mulai melihat ada terang, ada api besar di depan... Perempuan itu berhenti, jadi saya juga ikut berhenti... Anehnya kok saya ga merinding sama sekali ya di tempat sehoror itu gitu...

Saya tuh melihat, pokoknya mengerikan, ya!

Nih..

Itu di sana itu ternyata mbah lanang yang tadi saya bilang itu, ternyata dia itu dukun Mbak!"

"Trus?"

"Kalian tahu ga anak perempuan yang mereka bawa itu? Dia dibunuh, dadanya itu di tusuk pisau. Tapi dihidupkan lagi... Sama si kakek itu!"

"Yang bunuh siapa?"

"Suaminya! Semuanya saya lihat kejadian itu mulai si anak perempuan itu lari ditahan sama ayahnya sendiri kakinya dipegang sama ibu kandungnya sendiri bayangin! Terus suaminya itu nancapin itu pisau astaghfirullah sadis banget!"

"Terus cewe itu mati?"

"Ya mati! Gimana ga mati coba di gituin!

Langsung mati seketika di situ juga.

Nah mereka terus membaringkannya di depan dukun itu. Dan itu kakek memang bukan manusia kayaknya ga ada nuraninya... Dijampi-jampi si mayit itu trus dipaku kepalanya makai pasak.."

"Astaghfirullah!"

"Dijampi lagi itu diritualin saya bingung jelasinnya intinya kaya ada alat-alatnya gitu... Saya ga paham.."

"Trus?"

"Muncul mahluk Mbak, dia tinggi gedhe... Makai jubah hitam, botak gitu ada tanduknya... Wih naudzubillah min dzalik ya Allah! Serem... Itu jin lanang itu!"

"Ngapain dia?"

"Itu mayit dikangkangi, disetubuhi di depan ayah, ibu sama suaminya padahal ya udah mayit! Lah kok hidup abis itu!"

"Hidup?"

"Iya hidup lagi!

Pas mayit perempuan itu duduk bangkit, si perempuan daster merah ini tadi balik badan dan mukanya berubah jadi sangat mengerikan Mbak, Mas, Bang!"

"Hih!"

"Kaget banget saya lihat dia, dia langsung mendorong saya dan saya terpelanting kuat sampai mental jauh itu Mas, lah saya posisi jatuh itu ke tanah ternyata udah ada di depannya rumah si mbah lanang itu tadi!

Wah langsung masuk mobil tancap gas, keluar dari desa itu udah pagi, saya langsung balapan balik kandang saya!"

"Untung Bapak selamat!"

"Ya karna Mbak Ayu itu tadi!"

Yuna menoleh ke Huda sampai bangkit dari jok.

"Yang?"

Huda mengangguk pelan melihat Yuna.

"Om, kalau boleh tahu itu kapan pengalaman Om alamin?"

"Sebulan kemarin!"

"Berani ga kalau Om ke sana lagi?"

"Hmh... Sejujurnya ya, saya itu masih penasaran sama tujuan Mbak Ayu kenapa memperlihatkan itu semua kepada saya gitu...

Tapi ngapain saya cari tahu alasannya orang saya ini lemah!"

"Karena dia yakin Om bakalan menceritakan kejadian ini ke orang yang tepat!"

"Nah! Saya juga baru sadar tumben-tumbennya mau buka aib ini ke orang asing!" Darmanto menepuk jidatnya.

"Nanti mampir ke sana dulu Pak!" Pinta Huda.

"Mas yakin mau ke sana? Itu berbahaya lho!"

"Orang itu punya guru Om, dan kami harus menelusuri gurunya itu. Karena gurunya itu biang kerok menyebarnya semua aliran ilmu hitam jahat di pertiwi ini. Orang seperti dia harus kita tumpas!" Jelas Yuna.

"Serius Mbak?"

"Saya yakin itu, karena orang seperti mereka itu menganggap orang Muslim seperti para waliyullah, habaib itu semuanya pendatang. Orang asing yang merusak kebudayaan di nusantara dan bahkan mereka itu berniat membumi hanguskan para kyai, ulama, habaib dari negeri ini. Mereka itu tidak tahu kalau hadirnya para orang alim itu menjadi pemberat pulau nusantara biar tidak terbalik ditelan laut!"

Huda dan Harun baru mendengar fakta ini keluar dari bibir Yuna dan membuat mereka sadar bahwa ini semua rantai berantai.

"Wah ternyata ada banyak hal di dunia ini yang saya tidak pernah lihat ya... Tapi jika memang saya takdirnya mati dalam urusan ini ya saya niatkan bismillah jihad fi sabilillah Mbak, kalau gitu..."

"Sayang, tapi ini bukan tugasmu, kamu itu kan perempuan, jadi ga punya kewajiban mengurusi hal begituan, kalau pun kamu cuma duduk di dalam mobil ga akan aman, kalau kita sudah di sana maka ga ada namanya tempat aman!"

"Itu lah Yang, tugasmu harus jadi pria sangat kuat karena bebanmu tiga kali lipat, di samping kamu bertarung sama musuh di lokasi itu kamu juga harus melindungi aku dan orang lain di situ!

Itu lah alasanku kenapa mau ajak kamu ke pondok pesantren tempat Bapak dulu belajar karena bisa mendukung perkembangan kekuatan ilmu ghaibmu!"

"Nah, sekarang posisiku kan aku belum punya ilmu itu jadi bahaya kalau kamu ikut!"

"Gak, aku tetap harus ikut sama kalian!

Aku mau kamu juga hadapi masalah ini Yang!

Meski pun sekarang yang kamu pegang cuma ilmu hitam tapi dengan pertarunganmu nanti, kamu jadi bisa mengukur dan menilai sudah sejauh mana kamu bisa ber-duel dengan mereka jika makai ilmu hitam saja!"

"Ya juga sih... Tapi apa kamu yakin?"

"Neng, aku kan ga bisa apa-apa malahan! Gimana sama nasibku nanti, apa lagi khodam dari sekte kemarin sudah Neng ambil?"

"Bang Harun, kamu kan mantan satanist, jin ifrit yang diutus Iblis mengawasi jiwamu itu ya tetap masih ada ngawasin kamu dari jauh tapi sudah ga tinggal di badan kamu lagi, kan kamu mengadakan perjanjian sama Iblis bakalan ngasih jiwa kamu ikut sama dia ke neraka kalau kamu mati. Ya berarti kamu masih punya khodam lah! Kalian itu dikontrak akan saling bergandengan tangan sampai Bang Harun bener-bener sudah the end..." Cerocos Yuna mengomel supaya Harun tidak bawel dan benar-benar paham.

"Udah ga nurut lagi dia sama aku Neng, udah ga bisa kukendalikan karena aku berhianat"

"Bisa. Aku bisa memaksa dia masuk ke badan kamu dan mengurung dia, dan dia akan menurut sama kamu, tapi ada efek sampingnya. Karena kamu sudah taubat maka dia akan kepanasan terbakar jika tinggal di badanmu dan apa yang dia rasakan akan kamu rasakan juga termasuk rasa terbakar di sekujur tubuhmu.

Namun tetap ada caranya supaya kamu bisa mengendalikan rasa panas itu, yaitu dengan terus beristighfar tanpa henti."

Harun menelan ludah.

"Apa kau bersedia?"

"Aku tahu sih kalau udah join sekte tuh, santet lah pocong lah kunti lah wewe... Ga bakalan ngaruh.. tapi... Kayaknya dukun lawan kita ini levelnya di atas khodamku Neng.."

"Yaudah, kalau gitu ga usah ikut, di mobil aja sama Om Darmanto..."

"Eh eh ya engga gitu Mbak, maksudku aku bisa sambil berlatih kesaktian biar bisa lawan sendiri para sekte kalau aku tanpa kalian, boleh lah.. ga ada salahnya dicoba dulu..."

"Hm..."

"Itu ngomong-ngomong Alexis  tidur terus dari tadi sudah kaya' pingsan aja!" Huda mengalihkan obrolan biar Yuna tidak makin me-reog.

"Lah, periksa dia lah Yang!"

Huda menempelkan tangan ke ujung hidung mancung si Bule yang pulas di sampingnya.

"Kok ga berhembus!"

"Lah, Mister Bule kenapa, Bang?" Darmanto meminggirkan mobil karena panik.

"Coba kamu terawang Yang! Apa dia meraga sukma, siapa tahu dia sedang mbolang jiwanya!"

"Aku belum bisa Yang! Ilmu hitamku cuma silat ghaib!"

"Astaga, ya pake kekuatan khodam kamu lah Yang! Ih!" Gemas Yuna.

"Hehe..." Huda menggoda karena lebih senang jika melihat Yuna beraktivitas paranormal namun umpannya gagal menlandai karena Yuna juga lagi mager.

Huda memejamkan mata dengan fokus dan melihat bayangan Zanum di penglihatannya, "tuntun aku!" Lirih Huda.

Zanum membuka sayap kelelawar di punggungnya dan terbang ke atas Huda, mencengkram bahu Huda untuk terbang melintasi gerbang terowongan antar dimensi. Jauh ke depan sana dia akhirnya mendapati Alexis  sedang berdiri di hadapan setan bule yang tempo malam Yuna lihat di villa.

Alexis  memunggungi Huda yang datang sampai akhirnya dia menoleh ketika dipanggil, "Alexis !"

"Huda?" Lirih bule tinggi besar itu sambil menoleh, tatapan kalem matanya penuh kerinduan, rasanya Alexis  sudah lama sekali di situ terjebak seolah berbulan-bulan.

"Sedang apa kamu di sini?" Huda melihat sosok vampir pucat berambut keriting putih itu menatapnya dengan bola mata kuning seperti mata harimau dengan kebencian.

"Dia tidak mau melepaskanku pergi..." Kalem Alexis .

"Kenapa?"

"Dia tidak ingin rahasia kelompokku terbongkar"

"Rahasia apa?" Heran Huda.

Namun vampir tanpa jubah tu langsung terbang melayang ke Huda dan tangan berkuku runcing hitamnya mencengkram leher Huda sekuat tenaga.

Huda meraih dua lengan mahluk bengis yang mulai muncul dan tumbuh dua tanduk runcing panjang di atas kepalanya.

Ternyata dia menghisap hawa energi sukma Huda, pemuda tampan itu melemas dan auranya seperti terhisap ke vampir energi itu. Semakin banyak aura keluar dari tubuh Huda maka semakin tumbuh besar pula tanduk di kepala mahluk itu sampai memutar ke belakang mirip tanduk domba.

Siluman grandong dari Eropa itu menyeringai penuh nafsu, Huda merasa semakin lemas, matanya melirik ke wajah sedih Alexis  yang tak berkutik lalu ia bertekat memejamkan mata.

Di pikirannya terbayang wajah ayahnya, Suherman. Huda membaca al-Fatihah lalu membaca doa yang diwariskan oleh ayahnya itu, seketika jin ganas itu merasakan kedua telapak tangannya terbakar dan terjengkat lompat ke belakang. Tangannya mengeluarkan asap karena melepuh dan anehnya aura Huda yang tadi terhisap habis seperti ter-carge kembali.

"Di alam ini sihir saja yang bekerja, kau harus melawan dia dengan sihir tapi apa kau punya kekuatan ajaib dari jiwamu, Huda?" Kata Zanum berdiri jauh di belakang.

"Kekuatan ajaib dari jiwa?" Huda fokus melihat si vampir yang terlihat pasang kuda-kuda. Dia mengangkat tangannya dengan jari membentuk logo metal.

Kemudian menyemburkan api dari mulutnya ke Huda.

"Bruass!"

"Argh!" Huda menyilangkan lengannya membetuk huruf X dengan jari membentuk logo metal, di depan lengan Huda seperti ada perisai gelombang membuat semburan api itu tidak menyentuh dirinya.

Huda memejamkan mata fokus dan mulai membayangkan setiap detile distorsi musik metal dan lirik lagu yang dia ciptakan menggunakan segenap emosi kemungkaran dalam setiap baitnya.

"Setan aku tunjukkan kepadamu jalanku agar kau tahu siapa aku. Aku tuntun jati dirimu menuju surga versi ciptaanku. Aku tuntun kau berdarah agar bisa menyucikan dosamu. Kucuci semua kesalahanmu dengan setiap tetes dendam yang kumiliki kepadamu, Iblis!" Huda meneriakan mantra lirik lagu death metal ciptaannya sambil mendorong lengannya yang melawan tekanan energi dari si vampir.

Semburan api itu melemah-kalah oleh gelombang kekuatan yang meledak dari amarah di jiwa Huda. Si vampir terpelanting ke tanah.

"Huda..." Alexis  melihati orang yang dia kasihi itu degan cemas.

"Aku racuni duniamu dengan sifatku. Aku hidangkan rasa malumu kepada seluruh ambisiku. Aku hujam dan kutuk kau dengan jeruji besi masa laluku dan aku tak kan memberikan pengampunan atas setiap arang terbakar dari kalimat bohongmu! Haargh!" Huda seperti kesetanan, dadanya sangat terbakar oleh api dendam dan kebencian.

Huda melompat tinggi entah datang dari mana kekuatan itu namun yang pasti itu dari isi hati Huda sendiri. Kini Huda memiliki kuku merah yang tumbuh dari jemarinya dan mulai mencabik-cabik tubuh vampir itu.

Vampir itu tidak mau kalah, dia turut mencabik-cabik diri Huda namun anehnya kulit Huda pulih lagi bak roh di alam baka yang akan kembali seperti semula setelah mengalami azab kubur.

"Hahaha!" Zanum tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang mengerikan menyaksikan perkelahian itu.

"Kau masih hutang satu nyawa kepadaku Setan!" Huda menusukkan sepuluh kukunya ke wajah vampir itu dan mencabut kulit wajahnya dengan bringas.

Huda berdiri sambil melempar jauh kulit jin yang tewas itu sambil terengah-engah, matanya masih mengawasi mahluk itu. Lama kelamaan mahluk itu terbakar oleh api yang muncul dari tanah, Huda melangkah menjauhinya.

Darah yang bercipratan di baju Huda mengerak dan akhirnya terbakar oleh hawa panas di tempat itu sampai musnah, membersihkannya sendiri dari busana Huda.

"Huda... Kamu baik saja?" Alexis  berlari ke pujaan hatinya.

"Ayo kita pulang..." Huda mengulurkan tangannya yang berangsur-angsur pulih dengan kukunya yang kembali mengkerut menjadi kuku biasa.

Alexis  yang kini seperti Rapunzel yang disamperin pangerannya itu menerima gandengan sang hero dan berjalan bersama Huda menyusuri terowongan, mereka berjalan mengikuti Zanum yang terus tertawa terbahak-bahak karena mengonsumsi energi aura kebencian dan dendam yang menguap dari jiwa Huda sampai kekenyangan bukan main.

"Hahahaha! Hahahaha! Hahaha!" Tawa itu sampai berangsur-angsur membuat Alexis  bangun dari tidurnya.

Alexis  membuka mata dan terkaget, dia langsung mencari sosok Huda. Huda masih memejamkan mata, pria barat itu langsung memeluk Huda, membuat pemuda yang sebenarnya bukan orang asli Aceh itu membuka mata terkaget.

"Huda kau okay?"

"Eh? Aku? Ya aku baik saja!" Gagap Huda sembari melirik Yuna yang pasang muka masam.

Menyadari mereka ada di mobil, Alexis  langsung melepas si ganteng blasteran itu dan nyengir kuda melihat Yuna yang lagi pasang muka jutek.

"Dasar tukang ambil kesempatan!"

"Maaf Yuna, aku reflek alami aja tadi he!"

"Awas kau!" Childish Yuna sambil mengepal tangan.

"Jadi sebenarnya itu tadi apa yang kamu alami?" Huda meraih sebuah botol air mineral yang diberi oleh Yuna.

Alexis  meraih botol mineral yang juga diulurkan oleh Yuna, "hantu dari villa di Bandung mengukutiku" kata si bule setelah meneguk mineral.

Merasa aman, supir kembali menjalankan mobilnya.

"Si vampir Inggris?

"Benar!"

"Kenapa dia mengikutimu?"

"Dia berkata takut jika kalian akan tahu rahasia sektenya"

"Jadi katakan lah rahasia tentang apa itu?"

Karena mereka berbicara memakai bahasa Inggris, Darmanto si sopir hanya bisa mencep karena sudah merasa tak seru lagi.

"Jadi.. mungkin karena kita akan melewati sebuah tempat... Itu ada di Jawa tengah, aku tidak tahu persisnya... Di pabrik kain sutra..."

"Pabrik kain sutra?"

"Mereka membangun itu dengan hutang emas ke kerajaan di situ dulunya namun tidak pernah membayarnya kembali... Mereka bahkan menumbalkan orang pribumi kalian untuk ritual pesugihannya"

"Jadi?"

"Naskah hutang itu masih ada di bawah tanah bangunan pabrik itu..."

"Woah, Bingo!"

"Mau ke sana kah?" Huda melotot.

"Kenapa tidak!" Mata Yuna berbinar-binar.

"Ah, shit! Yang"

"Why not! Kali ini aku yang urus kalau soal di pabrik itu! Soalnya ga berurusan sama kekuatan manusia, khusus soal murni per-jin-jin-an aku maju tapi soal dukun, kalian aja para pejantan!"

Huda mengusap muka sambil membuang nafas cemas.

"Tapi gimana caranya biar aku bisa cepat fasih bahasa Indonesia ya?" Alexis  bertanya ke Yuna.

"Oh my! Alexis  kamu kan punya pelayan spiritthat is khodam! jadi kamu panggil saja dia biar kamu langsung paham bahasa kami, kenapa ga dari kemarin!"

"Oh astaga! Hahaha!"

"Aku saja mahir kunci gitar juga dari khodam" Huda nyengir sambil lihat pemandangan di balik jendela.


 

Mobil kini keluar dari gerbang tol dan mereka mulai menuju jalan raya umum bercampur dengan kendaraan roda dua. Supir melaju dengan stabil sampai akhirnya berhenti di sebuah pertigaan.

"Ini yakin pada mau ke kampung kuntilanak?"

"Iya Om, gas!" Lirih Yuna melihat fokus ke depan dengan pandangan waspada.

"Tapi kapan Neng mau memasukkan khodam saya?"

"Aih, lupa..." Yuna mengehela nafas sambil memutar bola mata dia sekarang merasa seperti ibu-ibu yang mengurus banyak anak laki-laki bawel.

Harun nyengir, "hehe."

Yuna turun dari mobil disusul Huda yang kemudian membuka jok duduknya agar Harun bisa keluar.  Alexis  keluar mobil dan menepi bersama mereka.

"Kita ngapain turun?" Bingung Alexis .

"Masukkan saja khodammu sekarang!" Saran Huda serius, Alexis  hanya memandang si blasteran karena bingung tapi kemudian menurut, "okay!" Jawabnya.

Alexis  memejamkan mata, tangan kanan memeluk depan dadanya dan tangan kirinya mengurut kening diantara alis. Dia fokus dengan urusannya sendiri.

Sementara tangan Yuna menyentuh dada Harun yang berdiri memejamkan mata.

Harun mulai menggeram, Huda berdiri di kiri Yuna dengan jaga-jaga.

"Hiargh!! Aaargh!!" Harun mulai melawan sosok yang mulai masuk, dia berusaha tetap sadar supaya badannya tidak bergerak sendiri menyerang Yuna.

"Baca istighfar terus!" Arah Yuna.

"Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah!"

Harun menahan pedih panas yang memercik di dalam dirinya, seolah jantungnya disulut knalpot roket nebula, nafasnya juga hampir putus namun dia berusaha bertahan dengan lehernya yang terasa terjerat belenggu panas, dia sekuat mungkin ber-istighfar hingga akhirnya lolos dari efek samping itu.

"Ah...." Harun membanting kedua lututnya ke tanah karena lemas.

Dia bernafas seolah baru kembali dari ruang hampa udara, sekuat mungkin dia menghisap oksigen ke dalam dirinya dan kedua tangannya akhirnya terantuk ke tanah karena badannya pun ikut melemas sekarang.

"Gimana? Kamu masih sanggup tidak?" Yuna memasang muka dingin.

Harun mengangguk pelan.

"Kamu sudah ga bisa memasang perasaan sombong lagi, jadi kendalikan naluri jahatmu, jika tidak kamu akan terbakar lagi karena di sekujur tubuhmu sekarang aku pasang rajah ghaib Asmaul Husna..." Yuna mengangkat tangan kanannya dan memandangi telapak tangannya lekat-lekat.

"Ada apa?" Huda mendekat.

"Cakra di tanganku ini... Aku pikir sudah kotor karena aku berbuat dosa terkutuk." Lirih Yuna.

"Kita dikasih kesempatan terakhir untuk memperbaiki segalanya sekarang! Jangan sia-siakan pertolongan habib yang kita lihat kemarin di restoran! Karena bantuan dia kita bisa menerima kesempatan kedua ini!" Huda menyentuh bahu kanan Yuna.

"Seistimewa itu kah derajatnya sebagai kekasihnya Allah sampai sang maha kuasa pun mendengar dan langsung mengijabah doanya... Begitu mulia sekali para waliyullah itu...

Aku harus dapatkan identitas maha guru dukun-dukun biadab itu!" Tekat Yuna.

"Ayo!" Huda merangkul Yuna ke mobil.

"Halo, apa.. kebar?" Gagap Alexis .

Yuna ternganga, bule yang buta bahasa Indonesia barusan ngomong bahasa pribumi Indonesia tanpa belajar dari siapa pun.

"Serius kamu sudah bisa bahasa Indonesia?" Tunjuk Yuna dengan mata berseri.

Alexis  mengangguk pelan sambil berpikir, "mungkin... sidikit... bisa ya... tapi... kelau... den-gar...kamu... Bicara...aku...sedah... bisa...nggerti... Sesah... Jewab.. legat.. beru..." Mata Alexis  seperti membayangkan sesuatu dan seolah Alexis  ini melafalkan apa yang otaknya dengar.

"Berarti kalau aku ngomong gini kamu paham maknanya cuma susah ngucapinnya karena kamu selalu berbahasa Inggris di sini gitu ya?" Huda menepuk bahu Alexis .

"Oh.. aku... Berusan... Ngerti... Kamu... Gumong apa!"

"Hahaha!" Yuna menepuk-nepuk dada Alexis  terkekeh.

"Oke lah kalau gitu mulai sekarang bahasa Indonesia aja biar kamu makin pinter! Hahaha!" Yuna terpingkal masuk mobil.

"Hihihi!" Huda pun akhirnya tertular tawa Yuna setelah Harun masuk mobil dengan mati rasa humornya.

"Uhm?" Alexis  mengangkat bahu sambil masuk mobil.

Darmanto kemudian membawa mobil itu ke sebuah perjalanan horor sesuai pesanan pelanggan.

Mereka melewati perdusunan padat perumahan dan peradaban namun beberapa lama kemudian mereka mulai melewati jalanan penuh dengan pepohonan dan sawah tanpa perumhan satu pun, dan makin lama makin jarang ada ladang perkebunan lalu melintasi rute penuh lubang aspal.

Tak terasa mereka kini berada di perjalanan menyusuri hutan dan tersadar hawanya sangat wingit. banyak rimbunan bambu tumbuh dan semakin pekat menyusuri jalan gelap sebab pepohonan semakin besar dan tinggi mejulang seperti membuat terowongan berbayang.

Mereka mulai melintasi area berkabut dan aspal mulai parah tergerus oleh lubang hingga akhirnya mobil berbelok ke jalanan kecil yang tidak memungkinkan dua kendaraan roda empat untuk bisa perpas-pasan. Ada jurang di sisi kanan jalan dan semakin menanjak.

Banyak Jalanan hancur oleh lubang hujan. Mereka semakin menemukan jalan kecil ekstrem dengan bukit menempel di sisi jalan membuat jurang di sisi kanan semakin mengancam.

Perjalanan itu kembali membawa mereka ke terowongan rimbun pepohonan dan akhirnya cukup lama perjalanan itu berlalu membawa mereka ke scene baru lebih seram. Juntaian baris pohon bambu mulai menyalami selamat datang dan hari sudah sempurna gelap, di sela-sela bambu itu terlihat ada kuburan-kuburan tua yang nisan-nisannya dibungkus kain mori yang semakin usang oleh musim.

Yuna merinding melihat kuburan-kuburan itu. Huda tidak ingin melihat ke sekitar, dia fokus ke depan. Darmanto melirik Huda yang mengawasi jalur depan turut fokus tanpa bersuara karena mobil juga sudah diisi dengan bahasa diam. Sepanjang jalan itu sepi tanpa ada satu pun tanda kehidupan ikut lewat.

Semua orang dalam mobil semakin berdebar-debar. Alexis  mulai merasa aneh dengan perjalanan mereka.

"Aura ini?" Lirih Alexis  yang mendadak lancar berbahasa Indonesia karena terbawa suasana magis area itu yang memiliki udara mengandung energi sihir yang amat pekat.

"Hihihi!" Terdengar tawa seorang perempuan masuk ke dalam mobil dengan jelas terdengar oleh semua penumpang dan supir.

"Kita semakin dekat!" Huda pelan.

"Kalian ke tempat satanis ya?" Tebak si bule.

"Ya.." jawab Harun bernafas sudah lebih baik dan berusaha tetap sadar.

"Tempat ini sangat berbahaya, banyak perasaan kematian! Ini bukan dimensi manusia, kita ada di alam lain sekarang!" Alexis  terbelalak.

"Jadi begitu ya.." gagas Yuna mulai paham.

"Berarti tempat ini tidak ada dalam peta!" Darmanto mulai paham.

Mobil mulai berbelok kanan ke sebuah jalan yang beriringan dengan aliran sungai berbatu lebar di pinggir bukit yang dipenuhi tumbuhan menjalar dan bambu. Akhirnya mereka melewati jembatan besi kuno yang anehnya masih kokoh. Jembatan itu penuh dengan karat namun anehnya jembatan tanpa beton itu masih berdiri. Dan lebih aneh lagi, di ujungnya terdapat sumur.

Setelah melewati sumur itu, Yuna melihat spion dan di sana matanya mendapati seorang perempuan berambut panjang dengan gaun putih duduk di atas bibir sumur itu sambil menggoyangkan kaki tanpa menoleh ke mobil yang melaju.

"Kita sudah sampai..." Bisik Darmanto sambil belok kanan ke sebuah rumah reyot di bawah lindungan pohon bambu yang merengkuh mengitarinya seolah membayanginya dari sinar matahari dan bulan.



 

"Itu kampung disebut pabriknya kuntilanak"

"Ada pabrik yang banyak kuntinya?"

"Bukan... Orang sana itu pesugihan membunuh perempuan dan diritualin sampai korbannya jadi kuntilanak gitu... Buat dikasih ke raja jin di sana... Dijadikan istri jin"

"Serius Pak?" Yuna keselek, buru-buru dia ambil air mineral di botol yang disimpan di tas.

"Iya Mbak, jadi ceritanya kemarin mobil ini ngantar keluarga ada istri ada suami, ada anak perempuan sama suaminya itu... Mereka nyuruh saya antar dari Bandung ke sebuah desa terpencil di Jawa tengah gitu... Sampai sana itu malam..."

"Trus?"

"Iya, jadi sesampainya di sana saya kan maunya langsung pulang karena jalanan ke sana saja melewati hutan sama kuburan angker aneh ya saya mendingan cabut lah.. saya buka pintu mobil buat mengeluarkan barang mereka aja sudah mencium bau-bau aneh yang bunga kantil lah yang menyan lah yang anyir bahkan baunya kadang ada yang lewat busuk banget kaya' bau bangkai!"

"Nah trus gimana Bang?" Harun penasaran.

"Ya saya akhirnya pamit kan karena ngeri sendiri di situ eh malah dilarang sama si ibunya yaudah saya tungguin sambil ngopi di depan rumah tua yang mereka tuju itu... Katanya mau langsung pulang habis sowan dari sana malah sampai pagi saya disuruh di situ menginap..."

"Jadi itu rumahnya siapa?" Huda menopang dagu di pembatas jendela mobil.

"Seorang kakek tua Mas, saya disuruh tidur di kamar khusus tamu.. rumahnya itu dari ghedek... Tahu ghedek ga? Anyaman bambu lawas itu lho... Ya ala-ala pedesaan gitu, temboknya semua dari anyaman bambu atapnya dari klaras.... Itu klaras tahu ga? Daun kelapa kering yang disusun-susun gitu."

"Ceritakan semuanya Pak, seru nih!" Pinta Harun antusias.

"Nah, jadi ceritanya saya malam itu ingin tidur karena sudah capek Bang, tapi baru saja kesadaran saya mau lelap malah saya dengar suara tawa perempuan serem banget, kedengarannya sih dari jauh. Tapi karena saya ingat kata teman saya kalau ada suara perempuan jauh banget itu sebenarnya dia lagi dekat banget ya saya langsung merinding donk!"

"Iya sih bener itu"

"Karena saya kepo ya akhirnya saya coba bangun tidur meski pun capek banget kondisi saya waktu itu... Tanpa pikir apa-apa Bang, saya buka dikit pintu kamar, saya ngintip dan di rumah itu udah sepi, semua orang udah ga ada di sana... Wah kesempatan saya mau kabur malah pas saya buka... Aduh! Di depan pintu itu ada perempuan bajunya merah mirip daster gitu tapi lengan panjang..."

"Baju merah?"

"Iya Mbak, rambutnya panjang hitam lurus sepinggang, itu lagi berdiri tepat pas di depan pintu waktu saya buka!

"Padahal tadinya ga ada orang?"

"Lha iya itu saya heran juga padahal tadinya itu pas saya ngintip ga ada orang sama sekali di ruangan itu gitu lho!"

"Lha trus? Om ngapain?!"

"Itu perempuan ya, posisinya lagi berdiri membelakangi saya! Serem ga tuh?! Ya saya tegur, punten, maaf saya ngga ganggu, mohon maaf, saya minta ijin lewat Mbak Ayu, saya bilang gitu!"

"Haha, trus?"

"Dia jawab Mas, iya silahkan gitu suaranya lembut banget! MaasyaaAllah, ada perempuan secantik alus banget suaranya seperti itu pas waktu itu saya batin gitu... Saya bilang, permisi nggih... Dia lalu jalan menjauhi pintu sambil balik badan ke arah saya!"

"Nah, jadi gimana mukanya?!"

"Cantik banget Mbak, glowing! Putih mirip artis Korea!"

"Nah loh!"

"Sangat cantik Mbak, hidungnya mancung persis mukanya Park Bom-Two And E One, pokoknya!"

"Wuaduh!"

"Nah... Saya bilang, maaf Mbak Ayu saya ijin pulang dulu nggih... Nah malah dia jawab sambil lihat mata saya Mbak, dia bilang ngapain pulang, di sini saja ayo ikut saya kalau kamu mau tahu mereka lagi ngapain..."

"Omak!" Huda mengangkat satu alis mendengarnya.

"Nah ya abis itu saya bilang oh nggih Mbak Ayu... Lah dia jalan donk pelan-pelan di depan saya, ya saya ikutin! Kami jalan ke belakang rumah, di situ aja jalan, lawong awalnya saya sampai aja tadi itu kalau ga salah saya ya.. di belakang rumah itu mepet rimbunan pohon bambu tinggi... Lha kok saat itu berubah jadi jalan.. wah ini kacau ini masuk dimensi ghaib udahan saya... Entah bisa pulang apa nggak ini.. batin saya gitu juga waktu itu"

"Jadi Om sadar ya? Ga terhipnotis sama sugesti dia ya?"

"Sadar Mbak! Tapi karena saya mikir saya juga kepo sama para penumpang saya tadi, akhirnya saya ngikut aja!"

"Berani juga Bapak ini, trus gimana?" Huda jadi penasaran.

"Ketika waktu itu udah agak lama jalan kaki, saya mulai melihat ada terang, ada api besar di depan... Perempuan itu berhenti, jadi saya juga ikut berhenti... Anehnya kok saya ga merinding sama sekali ya di tempat sehoror itu gitu...

Saya tuh melihat, pokoknya mengerikan, ya!

Nih..

Itu di sana itu ternyata mbah lanang yang tadi saya bilang itu, ternyata dia itu dukun Mbak!"

"Trus?"

"Kalian tahu ga anak perempuan yang mereka bawa itu? Dia dibunuh, dadanya itu di tusuk pisau. Tapi dihidupkan lagi... Sama si kakek itu!"

"Yang bunuh siapa?"

"Suaminya! Semuanya saya lihat kejadian itu mulai si anak perempuan itu lari ditahan sama ayahnya sendiri kakinya dipegang sama ibu kandungnya sendiri bayangin! Terus suaminya itu nancapin itu pisau astaghfirullah sadis banget!"

"Terus cewe itu mati?"

"Ya mati! Gimana ga mati coba di gituin!

Langsung mati seketika di situ juga.

Nah mereka terus membaringkannya di depan dukun itu. Dan itu kakek memang bukan manusia kayaknya ga ada nuraninya... Dijampi-jampi si mayit itu trus dipaku kepalanya makai pasak.."

"Astaghfirullah!"

"Dijampi lagi itu diritualin saya bingung jelasinnya intinya kaya ada alat-alatnya gitu... Saya ga paham.."

"Trus?"

"Muncul mahluk Mbak, dia tinggi gedhe... Makai jubah hitam, botak gitu ada tanduknya... Wih naudzubillah min dzalik ya Allah! Serem... Itu jin lanang itu!"

"Ngapain dia?"

"Itu mayit dikangkangi, disetubuhi di depan ayah, ibu sama suaminya padahal ya udah mayit! Lah kok hidup abis itu!"

"Hidup?"

"Iya hidup lagi!

Pas mayit perempuan itu duduk bangkit, si perempuan daster merah ini tadi balik badan dan mukanya berubah jadi sangat mengerikan Mbak, Mas, Bang!"

"Hih!"

"Kaget banget saya lihat dia, dia langsung mendorong saya dan saya terpelanting kuat sampai mental jauh itu Mas, lah saya posisi jatuh itu ke tanah ternyata udah ada di depannya rumah si mbah lanang itu tadi!

Wah langsung masuk mobil tancap gas, keluar dari desa itu udah pagi, saya langsung balapan balik kandang saya!"

"Untung Bapak selamat!"

"Ya karna Mbak Ayu itu tadi!"

Yuna menoleh ke Huda sampai bangkit dari jok.

"Yang?"

Huda mengangguk pelan melihat Yuna.

"Om, kalau boleh tahu itu kapan pengalaman Om alamin?"

"Sebulan kemarin!"

"Berani ga kalau Om ke sana lagi?"

"Hmh... Sejujurnya ya, saya itu masih penasaran sama tujuan Mbak Ayu kenapa memperlihatkan itu semua kepada saya gitu...

Tapi ngapain saya cari tahu alasannya orang saya ini lemah!"

"Karena dia yakin Om bakalan menceritakan kejadian ini ke orang yang tepat!"

"Nah! Saya juga baru sadar tumben-tumbennya mau buka aib ini ke orang asing!" Darmanto menepuk jidatnya.

"Nanti mampir ke sana dulu Pak!" Pinta Huda.

"Mas yakin mau ke sana? Itu berbahaya lho!"

"Orang itu punya guru Om, dan kami harus menelusuri gurunya itu. Karena gurunya itu biang kerok menyebarnya semua aliran ilmu hitam jahat di pertiwi ini. Orang seperti dia harus kita tumpas!" Jelas Yuna.

"Serius Mbak?"

"Saya yakin itu, karena orang seperti mereka itu menganggap orang Muslim seperti para waliyullah, habaib itu semuanya pendatang. Orang asing yang merusak kebudayaan di nusantara dan bahkan mereka itu berniat membumi hanguskan para kyai, ulama, habaib dari negeri ini. Mereka itu tidak tahu kalau hadirnya para orang alim itu menjadi pemberat pulau nusantara biar tidak terbalik ditelan laut!"

Huda dan Harun baru mendengar fakta ini keluar dari bibir Yuna dan membuat mereka sadar bahwa ini semua rantai berantai.

"Wah ternyata ada banyak hal di dunia ini yang saya tidak pernah lihat ya... Tapi jika memang saya takdirnya mati dalam urusan ini ya saya niatkan bismillah jihad fi sabilillah Mbak, kalau gitu..."

"Sayang, tapi ini bukan tugasmu, kamu itu kan perempuan, jadi ga punya kewajiban mengurusi hal begituan, kalau pun kamu cuma duduk di dalam mobil ga akan aman, kalau kita sudah di sana maka ga ada namanya tempat aman!"

"Itu lah Yang, tugasmu harus jadi pria sangat kuat karena bebanmu tiga kali lipat, di samping kamu bertarung sama musuh di lokasi itu kamu juga harus melindungi aku dan orang lain di situ!

Itu lah alasanku kenapa mau ajak kamu ke pondok pesantren tempat Bapak dulu belajar karena bisa mendukung perkembangan kekuatan ilmu ghaibmu!"

"Nah, sekarang posisiku kan aku belum punya ilmu itu jadi bahaya kalau kamu ikut!"

"Gak, aku tetap harus ikut sama kalian!

Aku mau kamu juga hadapi masalah ini Yang!

Meski pun sekarang yang kamu pegang cuma ilmu hitam tapi dengan pertarunganmu nanti, kamu jadi bisa mengukur dan menilai sudah sejauh mana kamu bisa ber-duel dengan mereka jika makai ilmu hitam saja!"

"Ya juga sih... Tapi apa kamu yakin?"

"Neng, aku kan ga bisa apa-apa malahan! Gimana sama nasibku nanti, apa lagi khodam dari sekte kemarin sudah Neng ambil?"

"Bang Harun, kamu kan mantan satanist, jin ifrit yang diutus Iblis mengawasi jiwamu itu ya tetap masih ada ngawasin kamu dari jauh tapi sudah ga tinggal di badan kamu lagi, kan kamu mengadakan perjanjian sama Iblis bakalan ngasih jiwa kamu ikut sama dia ke neraka kalau kamu mati. Ya berarti kamu masih punya khodam lah! Kalian itu dikontrak akan saling bergandengan tangan sampai Bang Harun bener-bener sudah the end..." Cerocos Yuna mengomel supaya Harun tidak bawel dan benar-benar paham.

"Udah ga nurut lagi dia sama aku Neng, udah ga bisa kukendalikan karena aku berhianat"

"Bisa. Aku bisa memaksa dia masuk ke badan kamu dan mengurung dia, dan dia akan menurut sama kamu, tapi ada efek sampingnya. Karena kamu sudah taubat maka dia akan kepanasan terbakar jika tinggal di badanmu dan apa yang dia rasakan akan kamu rasakan juga termasuk rasa terbakar di sekujur tubuhmu.

Namun tetap ada caranya supaya kamu bisa mengendalikan rasa panas itu, yaitu dengan terus beristighfar tanpa henti."

Harun menelan ludah.

"Apa kau bersedia?"

"Aku tahu sih kalau udah join sekte tuh, santet lah pocong lah kunti lah wewe... Ga bakalan ngaruh.. tapi... Kayaknya dukun lawan kita ini levelnya di atas khodamku Neng.."

"Yaudah, kalau gitu ga usah ikut, di mobil aja sama Om Darmanto..."

"Eh eh ya engga gitu Mbak, maksudku aku bisa sambil berlatih kesaktian biar bisa lawan sendiri para sekte kalau aku tanpa kalian, boleh lah.. ga ada salahnya dicoba dulu..."

"Hm..."

"Itu ngomong-ngomong Alexis  tidur terus dari tadi sudah kaya' pingsan aja!" Huda mengalihkan obrolan biar Yuna tidak makin me-reog.

"Lah, periksa dia lah Yang!"

Huda menempelkan tangan ke ujung hidung mancung si Bule yang pulas di sampingnya.

"Kok ga berhembus!"

"Lah, Mister Bule kenapa, Bang?" Darmanto meminggirkan mobil karena panik.

"Coba kamu terawang Yang! Apa dia meraga sukma, siapa tahu dia sedang mbolang jiwanya!"

"Aku belum bisa Yang! Ilmu hitamku cuma silat ghaib!"

"Astaga, ya pake kekuatan khodam kamu lah Yang! Ih!" Gemas Yuna.

"Hehe..." Huda menggoda karena lebih senang jika melihat Yuna beraktivitas paranormal namun umpannya gagal menlandai karena Yuna juga lagi mager.

Huda memejamkan mata dengan fokus dan melihat bayangan Zanum di penglihatannya, "tuntun aku!" Lirih Huda.

Zanum membuka sayap kelelawar di punggungnya dan terbang ke atas Huda, mencengkram bahu Huda untuk terbang melintasi gerbang terowongan antar dimensi. Jauh ke depan sana dia akhirnya mendapati Alexis  sedang berdiri di hadapan setan bule yang tempo malam Yuna lihat di villa.

Alexis  memunggungi Huda yang datang sampai akhirnya dia menoleh ketika dipanggil, "Alexis !"

"Huda?" Lirih bule tinggi besar itu sambil menoleh, tatapan kalem matanya penuh kerinduan, rasanya Alexis  sudah lama sekali di situ terjebak seolah berbulan-bulan.

"Sedang apa kamu di sini?" Huda melihat sosok vampir pucat berambut keriting putih itu menatapnya dengan bola mata kuning seperti mata harimau dengan kebencian.

"Dia tidak mau melepaskanku pergi..." Kalem Alexis .

"Kenapa?"

"Dia tidak ingin rahasia kelompokku terbongkar"

"Rahasia apa?" Heran Huda.

Namun vampir tanpa jubah tu langsung terbang melayang ke Huda dan tangan berkuku runcing hitamnya mencengkram leher Huda sekuat tenaga.

Huda meraih dua lengan mahluk bengis yang mulai muncul dan tumbuh dua tanduk runcing panjang di atas kepalanya.

Ternyata dia menghisap hawa energi sukma Huda, pemuda tampan itu melemas dan auranya seperti terhisap ke vampir energi itu. Semakin banyak aura keluar dari tubuh Huda maka semakin tumbuh besar pula tanduk di kepala mahluk itu sampai memutar ke belakang mirip tanduk domba.

Siluman grandong dari Eropa itu menyeringai penuh nafsu, Huda merasa semakin lemas, matanya melirik ke wajah sedih Alexis  yang tak berkutik lalu ia bertekat memejamkan mata.

Di pikirannya terbayang wajah ayahnya, Suherman. Huda membaca al-Fatihah lalu membaca doa yang diwariskan oleh ayahnya itu, seketika jin ganas itu merasakan kedua telapak tangannya terbakar dan terjengkat lompat ke belakang. Tangannya mengeluarkan asap karena melepuh dan anehnya aura Huda yang tadi terhisap habis seperti ter-carge kembali.

"Di alam ini sihir saja yang bekerja, kau harus melawan dia dengan sihir tapi apa kau punya kekuatan ajaib dari jiwamu, Huda?" Kata Zanum berdiri jauh di belakang.

"Kekuatan ajaib dari jiwa?" Huda fokus melihat si vampir yang terlihat pasang kuda-kuda. Dia mengangkat tangannya dengan jari membentuk logo metal.

Kemudian menyemburkan api dari mulutnya ke Huda.

"Bruass!"

"Argh!" Huda menyilangkan lengannya membetuk huruf X dengan jari membentuk logo metal, di depan lengan Huda seperti ada perisai gelombang membuat semburan api itu tidak menyentuh dirinya.

Huda memejamkan mata fokus dan mulai membayangkan setiap detile distorsi musik metal dan lirik lagu yang dia ciptakan menggunakan segenap emosi kemungkaran dalam setiap baitnya.

"Setan aku tunjukkan kepadamu jalanku agar kau tahu siapa aku. Aku tuntun jati dirimu menuju surga versi ciptaanku. Aku tuntun kau berdarah agar bisa menyucikan dosamu. Kucuci semua kesalahanmu dengan setiap tetes dendam yang kumiliki kepadamu, Iblis!" Huda meneriakan mantra lirik lagu death metal ciptaannya sambil mendorong lengannya yang melawan tekanan energi dari si vampir.

Semburan api itu melemah-kalah oleh gelombang kekuatan yang meledak dari amarah di jiwa Huda. Si vampir terpelanting ke tanah.

"Huda..." Alexis  melihati orang yang dia kasihi itu degan cemas.

"Aku racuni duniamu dengan sifatku. Aku hidangkan rasa malumu kepada seluruh ambisiku. Aku hujam dan kutuk kau dengan jeruji besi masa laluku dan aku tak kan memberikan pengampunan atas setiap arang terbakar dari kalimat bohongmu! Haargh!" Huda seperti kesetanan, dadanya sangat terbakar oleh api dendam dan kebencian.

Huda melompat tinggi entah datang dari mana kekuatan itu namun yang pasti itu dari isi hati Huda sendiri. Kini Huda memiliki kuku merah yang tumbuh dari jemarinya dan mulai mencabik-cabik tubuh vampir itu.

Vampir itu tidak mau kalah, dia turut mencabik-cabik diri Huda namun anehnya kulit Huda pulih lagi bak roh di alam baka yang akan kembali seperti semula setelah mengalami azab kubur.

"Hahaha!" Zanum tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang mengerikan menyaksikan perkelahian itu.

"Kau masih hutang satu nyawa kepadaku Setan!" Huda menusukkan sepuluh kukunya ke wajah vampir itu dan mencabut kulit wajahnya dengan bringas.

Huda berdiri sambil melempar jauh kulit jin yang tewas itu sambil terengah-engah, matanya masih mengawasi mahluk itu. Lama kelamaan mahluk itu terbakar oleh api yang muncul dari tanah, Huda melangkah menjauhinya.

Darah yang bercipratan di baju Huda mengerak dan akhirnya terbakar oleh hawa panas di tempat itu sampai musnah, membersihkannya sendiri dari busana Huda.

"Huda... Kamu baik saja?" Alexis  berlari ke pujaan hatinya.

"Ayo kita pulang..." Huda mengulurkan tangannya yang berangsur-angsur pulih dengan kukunya yang kembali mengkerut menjadi kuku biasa.

Alexis  yang kini seperti Rapunzel yang disamperin pangerannya itu menerima gandengan sang hero dan berjalan bersama Huda menyusuri terowongan, mereka berjalan mengikuti Zanum yang terus tertawa terbahak-bahak karena mengonsumsi energi aura kebencian dan dendam yang menguap dari jiwa Huda sampai kekenyangan bukan main.

"Hahahaha! Hahahaha! Hahaha!" Tawa itu sampai berangsur-angsur membuat Alexis  bangun dari tidurnya.

Alexis  membuka mata dan terkaget, dia langsung mencari sosok Huda. Huda masih memejamkan mata, pria barat itu langsung memeluk Huda, membuat pemuda yang sebenarnya bukan orang asli Aceh itu membuka mata terkaget.

"Huda kau okay?"

"Eh? Aku? Ya aku baik saja!" Gagap Huda sembari melirik Yuna yang pasang muka masam.

Menyadari mereka ada di mobil, Alexis  langsung melepas si ganteng blasteran itu dan nyengir kuda melihat Yuna yang lagi pasang muka jutek.

"Dasar tukang ambil kesempatan!"

"Maaf Yuna, aku reflek alami aja tadi he!"

"Awas kau!" Childish Yuna sambil mengepal tangan.

"Jadi sebenarnya itu tadi apa yang kamu alami?" Huda meraih sebuah botol air mineral yang diberi oleh Yuna.

Alexis  meraih botol mineral yang juga diulurkan oleh Yuna, "hantu dari villa di Bandung mengukutiku" kata si bule setelah meneguk mineral.

Merasa aman, supir kembali menjalankan mobilnya.

"Si vampir Inggris?

"Benar!"

"Kenapa dia mengikutimu?"

"Dia berkata takut jika kalian akan tahu rahasia sektenya"

"Jadi katakan lah rahasia tentang apa itu?"

Karena mereka berbicara memakai bahasa Inggris, Darmanto si sopir hanya bisa mencep karena sudah merasa tak seru lagi.

"Jadi.. mungkin karena kita akan melewati sebuah tempat... Itu ada di Jawa tengah, aku tidak tahu persisnya... Di pabrik kain sutra..."

"Pabrik kain sutra?"

"Mereka membangun itu dengan hutang emas ke kerajaan di situ dulunya namun tidak pernah membayarnya kembali... Mereka bahkan menumbalkan orang pribumi kalian untuk ritual pesugihannya"

"Jadi?"

"Naskah hutang itu masih ada di bawah tanah bangunan pabrik itu..."

"Woah, Bingo!"

"Mau ke sana kah?" Huda melotot.

"Kenapa tidak!" Mata Yuna berbinar-binar.

"Ah, shit! Yang"

"Why not! Kali ini aku yang urus kalau soal di pabrik itu! Soalnya ga berurusan sama kekuatan manusia, khusus soal murni per-jin-jin-an aku maju tapi soal dukun, kalian aja para pejantan!"

Huda mengusap muka sambil membuang nafas cemas.

"Tapi gimana caranya biar aku bisa cepat fasih bahasa Indonesia ya?" Alexis  bertanya ke Yuna.

"Oh my! Alexis  kamu kan punya pelayan spiritthat is khodam! jadi kamu panggil saja dia biar kamu langsung paham bahasa kami, kenapa ga dari kemarin!"

"Oh astaga! Hahaha!"

"Aku saja mahir kunci gitar juga dari khodam" Huda nyengir sambil lihat pemandangan di balik jendela.

 


 

"Darmantoo.." Yuna tersenyum manis sekali kepada pria itu.

"Em... Em... Mbak..." Muka Darmanto pucat.

"Darmanto... Kamu itu suaminya kunti itu kan?..." Senyum Yuna dengan mata memicing.

"Hiiihihihihi"

"Mbak Ayu itu binimu kan!" Bentak Yuna garang.

"Iya..." Darmanto menjatuhkan tasbih Yuna ke tanah.

Yuna melihat tasbihnya dan marah, dia berjalan dengan kuat menghentak tanah lalu menyabet tasbih itu kembali ke tangannya.

"Kamu sengaja menceritakan itu semua supaya kami ke sini kan? Kamu selama ini yang mencari mangsa bukan, kau ceritakan ke penumpangmu agar mereka tertarik kan!" Tunjuk Yuna ke hidung pria itu.

"Bukan Mbak!" Tangan gemetar Darmato menyatu mohon ampun dengan muka melas.

"Hihihihihihi"

"Malam itu saya tergoda degan tubuh indah beliau... Lalu saya tiduri..... Kemudian di antar ke belakang rumah... Dan saya disuruh cari banyak tumbal untuk dia... Namun saya ingin Mbak dan yang lain bantu saya lepas dari dia sekarang... Saya capek seperti ini terus..." Mohon Darmanto.

"Plash!"

Yuna menampar pipi supir itu.

"Muka mesum! Kanibal!" Umpat Yuna geram.

Darmanto memegangi pipinya yang di tampar lalu sorot matanya berubah. Dia meraih tangan Yuna dan mengangkatnya ke atas.

"Diam kamu! Kamu juga akan menyusul mereka!" Darmanto berteriak dengan khas bau mulutnya.

"Ugh! Sial!" Keluh Yuna soal bau jigong Darmanto.

Darmanto mengangkat dua tangan Yuna ke atas dan mendorongnya ke mobil, memepet dengan perut tambunnya.

"Bau ketek lu, bangsat!" Bentak Yuna.

"Ugh! Ugh!" Darmanto ingin membungkam mulut bawel Yuna dengan menyosornya namun Yuna mengelak sekuat tenaga.

Yuna ingin menendang tapi pria tambun itu menindihnya, Alexis  berbalik badan melihat Yuna, dia berdiri diam saja.

"Neng!" Harun berusaha berdiri tapi terjatuh lagi.

"Bang Huda! Neng Yuna dalam bahaya, Bang!" Pekik Harun sekuat tenaga.

Yuna sekuat tenaga ingin menurunkan tangannya sementara Darmanto tertawa terbahak-bahak sambil melotot. Yuna membaca al-Fatihah untuk Huda.

Huda sontak membuka mata dan langsung sadar, dia berdiri dan melihat posisi Yuna sedang dalam peruda-an.

"Yuna!

Audzubillahi mina syaitoni rajiim, bismillahi rahmani rahiim, Allahu akbar, Allahu akbar! Allahu akbar Allahu akbar, asyhadu anlaa ilaha illa llaah! Asyhadu anlaa ilaha illa llah.. asyhadu anna muhammada rasulullah! Asyhadu anna muhammada rasulullah!"

Huda melantunkan adzan ketika sudah mampu berdiri menggunakan langgam yang sangat merdu.

Mendengarnya Alexis  menutup telinga sambil berteriak kesakitan, begitu pula dengan mahluk penghuni sumur yang masih ada di sana berdiri dengan mengerang menutup telinga. Si kunti merah jatuh ke tanah dan menggeliat berguling-guling di atas tanah merasa tersiksa dan anehnya begitu pula dengan Darmanto.

Angin entah dari arah mana berhembus dasyat membuat rimbun pohon bambu tersibak membuka langit yang ternyata sudah dipenuhi awan pekat.

Petir menyambar ketika Huda melantunkan azan kedua, turun gerimis beserta badai sampai gubuk itu rubuh oleh angin kuatnya.

Tak lama kemudian gempa bumi terjadi, bumi berguncang.

"Ampun! Ampun! Ampun!" Wesi Gheni bersujud ke tanah.

"Aaarghh! Tuhan tolong!" Pekik Alexis  memegangi kedua telinganya menghalangi supaya tidak mendengar suara adzan Huda.

Harun keheranan menyaksikan ini semua sambil bertahan di atas tanah merasakan guncangan gempa.

Darmanto jatuh ke tanah karena pingsan sementara si kunti berteriak kesakitan terutama ketika pohonan bambu rimbun patah semua dan membiarkan tempat itu menjadi padang tebangan bambu.

Gempa bumi merasa puas sudah menumbangkan banyak pohon bambu di sana sehingga bumi diam kembali.

"Barusan itu?" Yuna menoleh ke Huda sambil merayap  berdiri dengan berpegangan body mobil hitam.

"Ratu jin! Bebaskan semua jiwa kuntilanak itu! Bebaskan mereka!" Yuna tak menyerah, sambil bersandar ke mobil.

Satu persatu para kuntilanak muncul dari bawah reruntuhan pohon bambu yang sudah patah dan ambruk saling bertindih di tanah.

Mereka melotot, tidak ada yang tertawa, mereka diam saja duduk menyaksikan ratunya yang bangkit duduk dengan lemas.

"Aku tak akan membebaskan mereka, mereka adalah pelayanku dan sudah dijual kepadaku oleh keluarga mereka!"

"Kau ini hantu bukan? Kau ini dulunya adalah seorang manusia kan!" Harun.

"Hihihihihi" kunti merah itu mengangguk sambil tertawa.

"Kau pasti meninggal karena human traficcing... Pasti kau dijual oleh keluargamu dan..."

Kunti merah itu mengangguk terus mendengarnya.

"Kau dendam sehingga ingin supaya orang lain juga merasakan hal sama?" Lanjut Harun dan kunti itu mengangguk keras.

"Katakan siapa pelakunya!" Huda mendekati Yuna dan membopongnya.

Kunti itu menunjuk si kakek dukun yang sudah menjadi mayat terkubur gubuk.

Alexis  bangkit dan berdiri sementara si grandong Wesi Gheni duduk lemas dan masih berdebar-debar.

"Bukan kah dia sudah dibunuh! Sudah mati. Lalu apa tujuanmu lagi? Ikut lah aku!" Yuna.

"Yang?" Huda syok.

Kunti itu menggeleng pelan.

"Ikut aku berjuang di jalan Allah aja! Biar kalian bisa menebus dosa kalian lalu dijemput malaikat ke alam baka yang lebih baik!" Usul Yuna sambil merangkul Huda.

"Aku dan Darmanto punya anak."

"Apa?!"

"Hah?"

"Shit?"

"Aku dan Darmanto punya anak, yang aku lahirkan... Manusia setengah kuntilanak.. dan Darmanto menyimpannya di Bandung..."

"Astaga!" Harun menepuk jidat.

"Kamu mau ikut anak itu?" Tanya Yuna dan kunti itu pun megangguk pelan.

"Kau mau bawa semua pasukanmu ini?"

Kunti itu mengangguk lagi.

Namun ada yang aneh, muka kunti itu berubah hancur lebur seperti daging terburai oleh ledakan api. Begitu juga dengan para kunti yang lain.

Muka mereka menunjukkan tulang gigi dan bola mata telanjang tanpa kulit.

"Apa yang terjadi?"

"Hahahahaha!" Suara besar dan kuat terdengar menggema di langit.

"Jin kelas atas yang ada di tubuh kunti ini sudah pergi, dia yang membuat mayat menjadi hidup sebagai mahluk setengah jin!" Alexis  pelan.

"Wesi Gheni? Kau kenal dia?!" Tanya Yuna.

Mahluk ghaib itu mengangguk.

"Siapa dia?!"

"Khodam orang pertapa dari gunung Merbabu! Yang suka bunuh para kyai yang kamu cari!" Jawab Wesi Gheni.

"Hahahahahaha!" Suara itu langsung lenyap ditelan suara angin malam.

"Ayo... Kita tinggalkan tempat kekuasaan mereka ini! Kita bebaskan diri kita sendiri!" Ajak Yuna kepada pada Kuntilanak.

"Aku akan berangkat ke anakku di Bandung... Aku ingin melindunginya" kata kunti itu kemudian lenyap disusul para kuntilanak lain yang jumlahnya sangat banyak.

"Wesi Gheni tunjukkan kami rumah pemilik jin tadi!" Pinta Yuna.

Mahluk itu memilih lari tapi Alexis  dengan cepat melakukan atraksi sulap, dia mengeluarkan rantai belenggu ke kaki jin itu.

"Jangan lari!"

"Aku takut leluhurku marah!"

"Aku leluhurmu! Aku lebih tua dari moyangmu!" Cakap Alexis .

"Huh... Baik lah..." Wesi Gheni kemudian menghilang dan berubah wujud menjadi keris kecil berkelok tiga.

Alexis  mengambil keris itu. Yuna dengan geram berjalan semampunya ke Alexis  yang sedang memasukkan pusaka itu ke kantongnya lalu menamparnya.

"Plas!"

"Yuna? Apa salahku?"

"Ya kau salah Alexis ! Seharusnya aku tahu sejak awal! Kau itu... Memesan mobil, villa, semuanya pasti unjung-ujungnya satanis!

Kau sudah tahu kan Darmanto itu gimana sejak awal tapi kau tetap memesannya!

Kau mau aku mati biar bisa cepat bawa Huda kan!"

Alexis  terdiam.

"Jawab!" Bentak Huda yang terkaget dengan itu semua.

Alexis  masih diam, Harun berusaha bangkit.

"Kita ini sekarang gimana nasibnya? Mau pulang lewat mana?" Keluh Harun.

"Hah!" Yuna mengumbar senyum sinis.

"Yuna kadang aku... Kehilangan kendali..." Alexis  lirih.

"Basi, alasan klasik!" Yuna berjalan menuju mobil di jok supir dia duduk.

"Neng! Jangan kamu yang nyupir aduh!" Harun berjalan tertatih, Huda mendekat dan merangkulnya.

Alexis  berjalan pelan lalu membuka pintu untuk Harun agar duduk di sisi Huda sementara Alexis  di samping Yuna.

"Alexis  hidup itu bukan mainan, jangan main-main dengan hidupmu atau kau akan mati konyol!" Yuna atrek mundur lalu berputar ke jalan sebelum tikungan.

Darmanto sadar oleh suara mobil yang hidup namun terlambat dia sudah ditinggalkan.

"Tunggu!!! Tungguh saya!! Tidaaak!!!" Teriak Darmanto dengan perasaan berkecamuk karena terbengkalai di tempat seperti itu.

"Percaya lah kepadaku Yuna, iblis dalam diriku itu... Ah... Aku bingung sekarang!" Pelik Alexis .

"Yang! Aku belum cerita kepadamu tentang apa yang Iblis ucapkan kepadaku bukan?" Huda sambil mengobati Harun dengan bahan sekedarnya yang dia bawa.

"Apa itu?"

"Dia ingin membuat Alexis  memenggal kepalaku"

"Begitu kah?"

"Alexis , bilang sama iblis di badanmu. Tunggu lah, bukan sekarang waktu yang tepat memenggal kepala Huda." Gemas Yuna tak mau ambil pusing.

"Huh!" Alexis  menghembus nafas sampai habis karena jengah.

"Sekarang kita pergi dari sini, kita makan! Tapi... Mending Huda deh yang bawa... Soalnya mau lewat jurang!" Yuna megerem lalu membuka pintu.

Huda langsung mengikuti dan keluar dari mobil, bertukar posisi dengan Yuna. Huda menginjak gas dan mereka mulai melewati jembatan namun ada kuntilanak sumur menghadang. Dia berdiri di tengah jalan sebelum jembatan itu.

"Tin!" Huda mengklakson tanpa takut.

"Kayaknya dia mau ikut" Alexis  menebak.

"Bilang naik atas mobil aja kalau mau ikut!" Yuna sudah mager meladeni.

Kuntilanak itu terbang dan duduk di atas mobil, mereka kemudian melaju kembali.

"Dia bilang jembatan ini adalah gerbang dimensi sebenarnya dan dia tidak bisa melintasi jembatan ini karena sudah di tanam pagar ghaib... Dulu banyak tumbal untuk jembatan ini sehingga tidak ada satu kuntilanak pun bisa melarikan diri...." Alexis  menjelaskan.

Mobil akhirnya sudah sampai di seberang sungai, dan anehnya jembatan itu menghilang begitu saja.

"Jadi kenapa dia tidak kabur bareng kunti merah?" Harun kepo.

"Dia bukan korban, dia kuntilanak asli tempat itu dulu sebelum tempat itu dijadikan pabrik kuntilanak oleh si dukun tadi... Dukun tadi itu lah orang gila yang berguru dengan mahluk di situ supaya bisa bikin pabrik kuntilanak..." Alexis  menjawab sesuai kata kunti yang lagi nongkrong di atas mobil.

"Jadi kenapa dia keluar dari sana bareng kita?"

"Dia merasa tidak aman... Sumur itu adalah rumahnya sejak dulu... Karena itu dia selalu di situ... Tapi... Aku rasa karena dimensi itu sekarang tertutup selamanya, dimensi itu menunggu kita keluar sebelum menutup diri... Artinya kunti itu tidak mau terpenjara dalam dimensi itu... Karena tempat itu tidak akan pernah bisa menyatu ke dimensi manusia lagi..."

"Anehnya tadi itu sampai ada gempa bumi!"

"Karena tempat itu tidak pernah menerima suara adzan, dan di situ ada gerbang menuju penjara dajjal entah di tanah bagian mana. Jadi tanah itu bereaksi..." Alexis  terbelalak kaget juga saat menjelaskan.

"Kau tau kan Alexis  kita mau ke pabrik sutera itu..." Yuna.

"Ya?"

"Ya sudah... Tunjukkan saja jalannya!.."

"Aku tidak tahu!"

"Aih!" Yuna meh face.

"Eh, tunggu, kunti nanya pabrik sutera mana" Alexis  menunjuk ke atap mobil.

"Itu pabrik yang mana Alexis  kan kamu yang tahu!" Gemas Yuna.

"Pabrik jaman penjajahan Belanda..."

"Hm!" Mayun Yuna.

"Ya kunti itu tahu! Dia bisa tunjuk jalan!"

"Aih!" Yuna memutar bola mata.

Mobil kini memasuki jalan utama yang penuh lubang.

"Yuna, Wesi Gheni ngajak ngobrol!"

"Ada apa?"

"Dia bilang kalau kamu mau bertarung melawan khodam tadi, kamu harus punya khodam Leak Nirwana yang tak jauh berumah di sini!"

Sontak Huda menginjak rem.

"Aduh!"

"Huda!"

"Dimana?" Serius Huda.

"Di rimbunan bambu di depan, tempat kuburan-kuburan tadi..." Lirih Alexis .

"Oh shit!" Huda melanjutkan perjalanan.

"Kata si kunti, hati-hati di situ banyak harta karun menggiurkan, jika mereka muncul dari alam ghaib jangan diambil atau jika tidak... Kita tidak bisa kembali selamanya" Alexis  menoleh ke Huda.

"Palingan emas, akik, keris, payung.. perabotan sihir!" Ekspresi muka Huda datar saja sambil serius menyupir.

 

Kini mereka sudah sampai di jalan yang dipenuhi pohon bambu di pinggirnya dan di dalam rimbunannya ada kuburan-kuburan.

"Masih malam, jam dua lewat lima..." Yuna melihat arlojinya.

"Trus?" Huda gantian bete.

"Yaudah ayo, Harun mau ikut?"

"Ikut lah! Ntar aku ketinggalan ingpo kan ga seru kalau kudet!" Harun membuka pintu.

Huda menyusul lalu merangkulnya. Alexis  membuka pintu kemudian Yuna.

Mereka berjalan mendekati hutan bambu menggunakan senter ponsel Huda. Sementara si kunti duduk di atas mobil untuk menunggu.

Alexis  yang mengantongi keris Wesi Gheni memimpin jalan. Kuburan di antara bambu itu terasa mengawasi mereka padahal mereka hanyalah makam tua berlumut tak terurus.

"Di sini, di balik rimbunan bambu ini ada rumahnya" tunjuk Alexis  pelan.

"Kulonuwun..." Lirih Yuna.

"Namanya..." Alexis  mendekatkan diri ke telinga Yuna sambil berbisik lembut.

"Sura Nirwana"

"Kulonuwun.... Mbah Kakung Sura Nirwana..." Bisik Yuna.

"Siapa?!" Suara buas ngebas berbahasa Jawa muncul dari balik bambu.

"Saya Yuna dari Kediri"

"Kediri?"

"Iya.."

"Masuk!"

Yuna menoleh ke Huda, dan pemuda itu menggeleng cemas.

"Aku harus!" Tekat Yuna.

Huda memasang mata penuh kekhawatiran.

Yuna berjalan memejamkan mata mendekati bambu dan lenyap di telan rimbunan bambu itu. Yuna kemudian membuka mata dan dia melihat kini dia berada di dalam sebuah rumah berdinding anyaman bambu. Di sana banyak kertas-kertas koran bertumpuk di meja dan tertempel di dinding-dinding.

Ada bejana berisi air yang menampakkan berita di TV.

"Hah???" Yuna mengucek-ngucek mata keheranan dan kagum.

Di sana kemudian muncul mahluk ghaib yang membuat Yuna bengong.

Sosok itu bersisik warnanya nila dan ungu, sisiknya bukan sisik ular tapi sisik ikan dan ukuran setiap sisiknya besar. Wajahnya malah hampir mirip Barongsai saat pesta Imlek. Namun tentu tidak selucu itu, wajahnya mirip leak dalam tarian Bali berikut lidah panjang dan taring, mata lebarnya merah dengan kuku hitam.

"Mbah Sura Nirwana?"

"Ya..."

"Saya mau menemui orang jahat yang suka bunuh para kyai, apa Mbah mau mendampingi saya?"

"Kekuatanmu belum cukup besar untuk mengimbanginya"

"Saya tahu"

"Tapi aku bisa membantumu mengalahkan lawanku yang jadi pelayannya"

"Terima kasih... Ngomong-ngomong, kenapa di sini ada banyak koran bahkan Mbah juga nonton TV"

"Dulu aku diburu oleh manusia untuk dijadikan pelayan. Dan aku bersembunyi di sini. Salah satu orang yang memburuku adalah presiden kedua... Dan aku memantau para pejabat yang sekarang duduk di atas kekuasaan... Ternyata pikirannya sesuai dugaanku... Aku memang merasa tepat untuk bersembunyi... Banyak yang mempermalukan aku karena aku tidak mau duduk bersama pejabat mengatur dunia... Tapi lihat apa ini?" Leak itu mengambil secarik koran.

"Ratu Kidul mendampingi sembilan naga dari tanah Cina yang mau tanam modal usaha tambang di Indonesia? Hah koran apa ini?"

"Ini koran ghaib!"

"Jadi ini TV ghaib?"

"Menurut elite mata satu, ada beberapa wacana yang akan dilaksanakan setelah ini yaitu memperbanyak pelegalan aborsi untuk mendukung keseimbangan umat manusia dan kita!" Kata reporter wanita di TV.

"Astaga! Serem!"

"Yuna namamu kan?"

"Ya?"

"Kau dari Kediri?"

"Iya..."

"Kediri mana?"

"Girah..."

"Bagus... Mungkin sudah takdirku harus ikut denganmu... Aku bisa kembali pulang..."

"Wah, syukur lah..."

"Dulu presiden pertama juga datang mencariku tapi aku pergi karena ratu pantai selatan menandatangani perjanjian bagi hasil pajak dengan suku asing pendatang..."

"Oh begitu...."

"Ya... Aku bersembunyi di sini, mengawasi musuh bebuyutanku yang mulai menyebarkan ajaran manunggal ing kawula gusti di Merbabu!"

"Loh?"

"Orang itu sekarang sudah tidak ada di sini"

"Dimana dia?"

"Kydos Brengos, dia ada di Banyuwangi!"

"Kaydos Brengos?"

"Dia orang kaya dan punya museum di negara asing, dia mencuri lontar Calon Arang, dia mencuri kitab Atlantis dan sekarang menjadi guru besar sekte satanis terbesar dan terkuat di dunia."

"Kaydos Brengos? Orang Indonesia?"

Sura Nirwana mengangguk pelan.

"Berarti sakti betul itu orang kalau bisa jadi guru para satanis di seluruh dunia"

"Aku akan membantumu, aku lihat kau itu juga ada bakat dari cucu generasiku..."

"Iya kah?"

"Mungkin Dayu Datu adalah leluhurmu, aku akan mengajarimu ilmu meraga sukma dan kau harus mengolahnya sendiri untuk mencari dukungan lebih dari para pembantu leluhur"

"Baik..." Yuna mengangguk.

"Aku akan bersemayam dalam akik ini..." Sura Nirwana memberi cincin berbatu akik hitam.

"Baik..." Yuna mengenakan cincin itu dan kemudian memejamkan mata.

Yuna kemudian membuka mata saat merasakan semilir angin.

"Hey!" Yuna kini berdiri di belakang para pria yang mengamati rimbunan bambu.

"Yuna!" Alexis  kaget karena gadis boneka itu sudah berdiri di belakang mereka.

"Ayo kita pergi..." Ajak Yuna sambil mendekati mereka.

Mereka kemudian berjalan dan menuju mobil, melanjutkan perjalanan keluar dari jalur itu.

"Gimana?" Huda penasaran sambil menyupir.

"Dia sudah jadi khodamku sekarang dan... Aku ini kayaknya memang ada trah dari keluarganya"

"Benar kah?"

"Entah lah..." Yuna merasa sangat letih.

Perjalanan mereka mengantarkan surya menyingsing menerangi jalan menuju jalur ke Semarang.

Huda meghentikan mobil di depan sebuah rumah makan kemudian memejamkan mata karena kantuk.

Mereka semua pulas dalam mobil itu sampai dua jam kemudian seseorang mengetuk jendela depan mobil.

Huda terbangun dan membuka kaca jendela.

"Maaf, permisi, kalian ga mkakan? Pasti kelelahan ya Mas? Saya lihat kalian parkir langsung tidur tadi jadi saya biarin..." Kata seorang laki-laki ramah.

"Iya Pak, maaf yah... Mau makan tadi maksudnya tapi malah bablas ketiduran" lemas Huda.

"Ga masalah Mas, memang sengaja lahan parkirnya diluasin biar bisa buat istirahat.. mau makan di sini apa dibungkusin?"

"Uhmm... Nunggu yang lain bangun dulu ya Pak..."

"Oh iya Mas, silahkan..." Pria itu pergi.

"Kalian mau makan ga?" Lemas Huda.

"Ey!" Huda memencet hidung Alexis .

"Umh?"

"Mau makan ga?"

"Mau..."

"Sayang..?"

"Iyaa..."

"Bang Harun..."

"Iyaa Bang..."

Semua orang turun dengan lesu dan berjalan ke rumah makan sederhana dengan masih setengah sadar.

Namun saat masuk rumah makan itu, kondisi ramai restoran saat dilihat dari luar berubah berbeda menjadi tempat kosong kotor penuh daun kering seperti tempat terbengkalai sudah lama.

"Aih!" Huda menghela nafas tak habis pikir.

"Ck! Ga bisa bedain lagi udah mana ghaib mana nyata! Ah!" Yuna balik badan ke mobil dan langsung naik menutup pintu mobil balik molor.

Harun menyusul di iringi Huda dan Alexis .

Huda mau tak mau tancap gas lagi dan meyusuri jalan yang setahunya tadi sudah banyak perumahan namun ternyata justru jalan yang di kelilingi rumput liar tinggi.

"Masuk alam ghaib lagi kah?" Lemas Yuna sambil merem.

"Ga tahu..." lelah Huda.

"Belok kanan kata si kunti" Alexis  lesu.

Huda membelok ke kanan lalu menemukan jalan tol dan masuk ke sana.

"Kalian dari mana?" Sambut si petugas tol yang menerima kartu tol dari Alexis .

"Dari sana Pak, ada apa?" tanya Yuna sambil menurunkan kaca jendela karena kepo mendadak.

"Sana itu jalan buntu, jurang!"

"Loh? Ada kok tadi jalan bahkan ada rumah makan juga, ada kampungnya juga..."

"Mereka semua kena tanah longsor, ambles itu jadi jurang udah lama..." Petugas mengenbalikan kartu ke Alexis .

"Huh!" Yuna mengehela nafas sambil menaikkan kaca jendela.

"Ntar abis ini apa nih, tol ghaib juga!" Yuna melipat lengan menutup mata.

"Engga, kunti bilang, sudah aman... Memang lebih dekat lewat situ ke Semarang..."

"Oh my!"

"Hoahm..." Huda meguap lebar.

"Sini aku supir...." Alexis  membuka pintu dan keluar, disusul Huda, mereka bertukar tempat.

Mobil melaju dan Alexis  membawa mereka ke restoran tempat istirahat para pemudik jalan tol. Semua orang turun dan memesan makanan di sana.

"Jadi kita ke Semarang dulu apa ke pabrik sutera itu dulu?" Huda menyantap makananya kurang berselera.

"Ke tempat kawanku aja dulu deh istirahat, capek banget asli..." Yuna mengunyah.

"Benar-benar habis semua tenaga dalam, pikiran, kekuras semua..." Harun hati-hati memakan pesanannya.

"Nah, sambil mengobati Bang Harun!" Usul Yuna, Huda mengangguk-angguk.

Akhirnya setelah menghabiskan makanan, mereka kembali ke jalur benar menuju kediaman teman Yuna yang dikenalnya lewat sosmed di komunitas online buatannya.

"Kamu dimana Mas?" Telpon Yuna.

"Mbak sudah sampai mana?"

"Di jalan Asem..."

"Oh terus aja nanti ada pertigaan ke empat belok kiri ya Mbak, saya tunggu di pertigaan itu..."

"Oh, oke Mas!"

Mereka pun setelah melalui segala titik alamat akhirnya bertemu dengan laki-laki gemoy di pertigaan.

"Mas Amartha?"

"Iya saya Mbak, ini Mbak Yuna kah?"

"Iya, ini saya.." Yuna menjabat tangan.

Amartha mengendarai motor matic-nya menuntun mereka ke kediaman bergaya arsitektur kuno khas Jawa Tengah. Dia menjamu dan mempersilahkan tamunya beristirahat, membiarkan mereka mandi dan berganti busana, juga mengobati Harun.

Ketika mereka sudah santai dan mengisi tenaga, mereka ngopi dan nyebat bareng di halaman belakang yang teduh dengan gajebo antik dari kayu jati beratap genting merah.

"Jadi tadi perjalanannya gimana?" Amartha membuka obrolan kepada para tamu yang sedang duduk santai lesehan bersamanya untuk ngadem.

"Aduh capek Mas, mampir ke pabrik kuntilanak dulu, mampir ke jurang yang sebelum tol dulu... Aduh... Udah ga bisa bedain mana ghaib mana nyata!" Yuna menghela nafas.

"Ke pabrik kuntilanak? Itu kan berbahaya Mbak!"

"Mau gimana lagi Mas, karena guruny dukun itu pasti sumber masalah dari semua dukun yang membunuh para kyai..."

"Lha trus? Sudah ketemu sama gurunya dia?"

"Dia di Banyuwangi sekarang, Kaydos Brengos!"

"Kaydos Brengos?"

"Kaydos Brengos?"

"Banyuwangi, Yang?"

"Iya..." Yuna meletakkan cincin akik hitam ke karpet bambu di lantai.

"Akik ini bukan akik sembarangan" komen Amartha yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu setelah mengambil dan mengamati akik Yuna.

"Isinya leak putih!"

"Leak putih?"

"Leak yang kemampuannya meraga sukma sampai nirwana untuk semadi menghadap yang maha kuasa... Dan... Sepertinya leak jahat yang berkeliaran di Nusatara ini adalah hasil oplosan ilmu lontang Calon Arang dengan satanis jahat..."

"Saya yakin sejarah Calon Arang itu tidak seburuk itu!"

"Dari mana Mas tahu?" Huda menyambung tanya.

"Buktinya Indonesia terkenal dan terangkat derajatnya ke dunia lewat tari kecak... Harum nama Indonesia ini, dan jangankan sejarah Calon Arang... Sejarah Syeh Siti Jenar dan lain-lain saja dipercampur adukkan... Dan yang paling parah... Ajaran manunggal ing kawulo gusti dari Merbabu... Sebenarnya para dukun itu memang anti dengan kyai karena memeluk kepercayaan itu."

"Mereka yang membantai kyai?"

"Iya, memang! Dan kemudian sunan Kali Jaga meluruskan pemahaman itu menjadi konsep spiritual lebih baik... Dan masyarakat mulai menerima..."

"Lantas, kenapa Mas mengundang saya mampir?"

 

Bab selanjutnya hilang!

 

Lompat!

 

"Sebagian anggota kerajaan sini sudah menikahi jin laut selatan Mbak, dan mengadakan perjanjian... Perjanjian itu merusak kemurnian pagar alam paku tanah Jawa ini... Dengan perjanjian itu jika terlaksana maka Jawa ini bisa terbelah jadi dua..."

"Asli terbelah pulaunya?"

"Betul!"

"Perjanjian apa itu?"

"Menjadikan ratu laut selatan sebagai junjungan seluruh satanis di muka bumi ini da sudah hampir terlaksana sembilan puluh persen, caranya ya itu... Menyingkirkan orang alim dari tanah Jawa... Itu syaratnya..."

"Nah loh! Trus?"

Amartha diam sejenak dalam kemasyghulannya.

"Saya berpikir kita harus mulai mengumpulkan keturunan para leluhur yang masih punya hati nurani menjaga tanah air ini agar kebajikan masih berdiri di sini..."

"Maksudnya makai forum buatan saya?"

"Benar... Namun saya juga bingung..."

"Bingung kenapa?"

"Mereka bisa ditemukan dengan mudah lewat alamat akun.."

"Lalu?"

"Mereka bisa dibunuh Mbak!"

"Kita coba dulu! Tapi jangan makai jalur sosmed aja... Maka kinerja para khodam!"

"Caranya?"

"Pelan-pelan nanti kita pikirkan!"

"Baik, jadi setelah ini kalian mau kemana?" Amartha mengembalikan cincin ke Yuna.

"Ke pabrik sutera, di sana ada naskah hutang di bawah tanah yang dikubur... Kita bisa serahkan ke pemerintah..."

"Jangan!" Larang Amartha.

"Kenapa?"

"Badan orang di kepemerintahan yang sudah pada diduduki jin akan melakukan hal jahat dengan naskah itu!"

"Sebagian dari mereka adalah budayawan kuno dan membenci kyai dan menuntut orang muslim dan kristen kembali ke agama leluhur juga ada..." Lanjut Amartha yang sepertinya juga bekerja di kepemerintahan.

"Jadi kita harus bagaimana sekarang Yang?" Bingung Huda.

"Ya sudah kita pegang aja dulu lalu nanya Bapak..."

"Benar juga..."

"Kapan kalian mau berangkat ke pabrik itu? Saya pinjemin cangkulnya"

"Sekarang aja juga ga masalah, takutnya ketemu malam kan serem..." Usul Yuna.

"Yaudah ayo Mbak, Mas!"

"Saya butuh banyak sekali garam! Banyak sekali garam!" Alexis .

"Baik, kita bawa garam yang banyak." Angguk Amartha.

Mereka kemudian bangkit dan bergegas ke pabrik sutera itu menggunakan motor yang banyak terparkir dingarasi Amartha. Motor-motor itu milik anggota keluarga Amartha. Ternyata pabrik sutera itu tidak jauh dari rumah Amartha. Alexis  memberi tahu dimana naskah itu dikubur dan dia mulai menggali dibantu Huda dan Amartha.

Agak dalam mereka menggali, mereka menemukan tengkorak dan kerangka tulang manusia, mereka mengusap tanah dan menemukan sebuah peti di peluk oleh belulang itu.

"Kurasa itu si vampir di villa Bandung!" Yuna kaget membuka peti dan mengambil bendelan kertas tua dari peti itu dan memasukkannya ke tas.

Alexis  mengangguk.

"Mas, kita apa kan ini?" Amartha cemas.

"Dibakar kah?" Tanya Huda ke Alexis .

Alexis  menghela nafas. Dia mengeluarkan dan membopong tangkaian tulang itu.

Alexis  menabur garam membentuk lingkaran pentagram diantara kerangka tulang dan peti itu kemudian membaca mantra lalu menyalakan api dengan korek. Anehnya garam itu terbakar dengan nyala api besar dan seketika tulang itu hangus dalam hitungan detik menjadi abu hitam.

"Kaya' sulapan" kagum Amartha.

"Ayo kita pulang!" Ajak Huda buru-buru sebelum Ashar menyambut.

Mereka pun pergi dari pabrik itu dan kembali ke kediaman Amartha untuk membaca naskah berbahasa Inggris itu.

Betapa terkejutnya mereka ketika membaca isi bendelan kertas itu bahwa itu berisi bukan hanya perjanjian bisnis dan hutang emas tapi juga ada data projek dan protokol yang memiliki jadwal agenda sampai tahun 2030.

"Semua agenda ini sungguh jahat..."

"Membuat agenda imunisasi adhrenochrome?" Baca Huda.

"Membuat pandemi?" Yuna terbelalak.

"Menyabotase hukum pidana dan korupsi?" Harun terbelalak.

"Yang ini lebih parah... Mengganti pusat kepemerintahan dan memindahkan ibu kota negara!" Tunjuk Huda.

"Yang benar aja ini!" Yuna melotot.

"Kalian jagan panik dan jangan takut! Semua itu hanya rencana jahat dan kalau pun terlaksana, sesungguhnya mereka tidak bisa melawan kehendak Tuhan... Itu yang aku pelajari dari apa yang kita alami di pabrik kuntilanak..." Alexis .

"Benar kah?"

"Ya... Aku merasakannya saat kamu adzan itu..."

"Apa yang terjadi?"

"Di penglihatanku... Aku melihat langit jatuh ke bumi..."

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un!" Iling Huda.

"Dan itu lah yang akan terjadi sesungguhnya dan ketika itu seluruh jiwa jahat di bumi ini tidak akan mampu melarikan diri dan kekuatannya tidak akan berguna..." Alexis  terdasar.

"Apa kamu mau masuk Islam?" Ucapan Yuna membuat Amartha syok tentang siapa Alexis .

"Ya... Aku mau... Bahkan iblis dalam diriku pun sekarang menjinak..."

"Subhanallah..." Amartha kagum dengan apa yang dia simak.

"Dia itu... Anggota sekte..." Singkat Yuna.

"Oh...."

"Bukan satanisnya... Tapi meski aku bukan satanis... Memang kami ini diikat perjanjian persaudaraan kepada spirit pengantar cahaya petunjuk... Dan itu memang Lucifer..."

"Oh....."

"Karena bagi kami, ilmu sejati itu lebih dahulu dan tua itu...dibawa oleh dia..."

"Saya paham... Tapi Anda bukan satanis"

"Saya Lux Vanisher... Saya itu... Ah..."

"Ahli kitab yang disebutkan dalam al-Qur'an" singkat Yuna.

Alexis  membuang muka.

"Alhamdulillah jika bisa masuk Islam saya ikut senang... Kapan mau di-baiat?"

"Nanti saja sama mursyid-nya ayahku..."

"Oh... Iya Mbak... Mbak... Tunggu sebentar di sini..." Amartha bangkit berdiri dan berlalu.

"Yang?..." Huda menoleh ke Yuna.

"Ya?"

"Apa kamu yakin aku akan sanggup melindungimu?"

"Ya harus!"

"Bismillah!"

Amartha kembali dan duduk di hadapan Yuna membawa kotak.

Dia membuka kotak itu dan di dalamnya ada daun aneh yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

"Daun apa itu Mas?"

"Sebenarnya saya adalah salah satu cucu juru kunci gunung Merapi..."

"MaasyaaAllah... Lalu?"

"Daun ini Mbak, jatuh dari sebuah pohon yang tumbuh di kahyangan saat saya semadi di gunung Merapi supaya dia tidak marah, karena kalau sampai dia meletus, itu membuat gerbang ghaib terbuka dan mahluk-mahluk jahat yang dipenjarakan leluhur di sana bisa-bisa lepas melarikan diri..."

"Kemudian apa yang terjadi Mas?"

"Saat dia jatuh di hadapan saya, daun ini mengkilat dan berkerlip-kerlip... Ada tulisan yang kadang ada kadang hilang saat dia berkilat-kilat..."

"Tulisan apa itu?"

"Namanya Mbak Yuna..."

"Hah?" Harun tersedak diikuti Huda yang syok.

"Kok bisa?!" Yuna berdebar gugup.

"Mbah eyang Semar saya menemukan Mbak Yuna dan sekarang sudah ketemu... Ini saya serahkan..." Amartha menyerahkan selembar uang seratus lawas bergambar perahu.

"Apa ini Mas?" Yuna mengambilnya.

"Tanda Mbak Yuna terhubung komunikasi sudah sama Mbah Eyang Semar... Setiap lembar uang seratus perahu yang dicetak itu adalah surat hutang nilai emas bangsa dunia kepada kerajaan kuno kita... Makanya sekarang uang kita terus berganti bentuk..."

"Lah???" Yuna mengerjap mata.

Singkat cerita keesokan paginya mereka berpamitan dan mereka pulang menuju Kediri, mereka langsung ke rumah Yuna.

Setelah beristirahat dan Huda memberi makanan untuk semua orang termasuk untuk ibu dan adiknya Yuna. Mereka kemudian berbicara serius dengan Suherman. Karena Huda tidak ingin ayahnya cemas maka dia meminta Yuna untuk stay dalam kamar tidurnya. Dia tidak akan menyebutkan sepatah kata apa pun tentang Yuna kepada si ayah mereka.

"Pak, saya nemu ini..." Huda memberikan bendelan naskah ke Suherman.

Pria berusia lima enam puluh tahun itu mengenakan kacamatanya dan mulai membaca. Dia diam sejenak meletakkan bendelan itu ke lantai, Alexis  dan Huda bertukar pandangan heran apalagi Harun.

Suherman menelpon seseorang dengan HP tulalitnya lalu kembali diam, tidak lama kemudian seorang pria seusia Suherman datang uluk salam.

"Assalamu alaikum!"

"Waalaikum salam"

"Waalaikum salam wa rahmatullah"

"Pak Santri, silahkan duduk..." Suherman mempersilahkan.

"Ada apa Pak RT?"

Suherman menyodorkan bendelan naskah dari Huda, semua pria di sana mengamati respon apa yang akan diberikan orang bernama Santri ini.

"Saya adalah seorang wartawan... Ini kartu saya..." Santri mengeluarkan sebuah kartu nama dari kantong kemejanya.

"Dan saya adalah salah satu anggota RI satu... Ini tanda pengenal saya..." Santri merogoh kantong kemeja lagi dan menunjukkan lecananya lalu mengantonginya lagi.

"Iya Pak.." jawab Huda singkat serius.

Yuna menguping dari balik kamar tidur.

"Kalian sebaiknya masuk jadi anggota RI satu kecuali kamu karena kamu bule... Dan saya tidak bisa bahas karena ada orang asing..." Jelas Santri ke Alexis .

"Dia bukan mata-mata CIA, cuma bule biasa Pak..."

"Tetap aja bisa bocor, dia orang Freemasonry." Santri menunjuk cincin yang lupa Alexis  lepas dari jarinya.

"Saya keluar dulu..." Alexis  berdiri dari kursi lalu masuk mobil dengan cemas, berharap takkan lama, dia menyetel musik supaya tenang.

Sementara itu di dalam rumah, "Yuna.." panggil Suherman dan membuat Yuna datang duduk di samping si ayah.

"Mas ini namanya siapa?" Tanya Santri.

"Saya Huda, ini teman saya dari Bandung namanya Harun.

"Mas kerja sebagai apa?"

"Saya masih jalankan bisnis rumah makan dan Bang Harun kerja sebagai polisi di bagian IT..."

"Bagus lah..."

"Huda itu anakku Bung..."

"Anakmu?"

"Iya"

"Mancung gini, anakmu dari mana?"

"Aku dulu waktu masih jadi santri pondok Tebu Ireng dulu diutus mbah Yai untuk membantu seorang perempuan yang lumpuh karena diguna-guna... Rupanya dia itu anggota Freemason yang melarikan diri ke sini..."

"Hmm?"

"Dia kuislamkan dengan kunikahi... Tapi aku lepas karena aku nganggur, aku ga mau diajak dia pulang ke negaranya.. Terus ya gitu... Dia pulang ke negaranya.."

"Nah sekarang dia sudah sukses gini"

"Ya alhamdulillah rejekinya ada karena karmaku"

"Hahaha... Dasar Pak Herman.."

"Hehe.." Huda terkekeh.

 


 

 

"Trus bule itu siapamu Mas?"

"Itu teman saya, dia orang Freemason yang mau masuk Islam.."

"Oh..."

"Iya dia mau masuk Islam... Mungkin mau di Indonesia ikut saya..."

"Bagus bagus.."

"Saya sarankan kamu masuk RI satu..."

"Apa itu Pak?"

"Kalian harus tahu, dulu Bung Karno berpesan untuk menulis namanya jangan Soekarno tapi Sukarno namun karena Pak Harto tidak mengabulkan maka sampai sekarang semua naskah menggunakan Soekarno... Dari situ akhirnya Bung Karno mencium hal aneh... Dia membuat RI Satu untuk melindungi misinya yang membuat Pak Harto mengasingkannya..."

"Hoh.."

"Sebenarnya, di gunung-gunung Indonesia itu ada salah satunya yang memiliki brankas bawah tanah yang sengaja dibuat untuk menyimpan emasnya negara Ini dan di negara ini sesungguhnya ada penguasanya, bukan kerajaan Jawa Tengah atau Kerajaan Sunda... Tahta tertinggi yang menunjuk presiden..."

"Ratu laut kidul kah?"

"Hahaha ya bukan lah!"

"Jadi?"

"Semuanya itu diatur lewat sistem sejak sejarah berdirinya Indonesia merdeka..."

"Dan sistem itu hadir karena adanya kesepakatan hutang piutang emas Indonesia yang memodali seluruh pengusaha di bumi ini."

"Hah? Serius?" Harun tercengo mendengarnya.

"Ya! Semua pengusaha itu kini sukses menjajah bumi ini dengan menciptakan perserikatan bangsa dan mendirikan sekolah-sekolah tinggi... Mereka mendirikan perusahaan bank dunia dan mereka menciptakan undang-undang baru.. siapa yang bisa mengerem kekejaman agenda mereka ini? Bangsa kita!" Santri menunjuk arsip kuno itu.

"Agenda ini kan hanya sampai tahun dua ribu tiga puluh, itu masih akan berlanjut sampai dua ribu empat puluh lima... Dan Bung Karno punya misi!

Setelah dunia perang besar... Perang besar dunia ke tiga dimana dunia menjalani sistem baru.... Bab baru... Normalisasi baru... Maka garuda Indonesia sudah harus menghadap kepala ke depan! Bung Karno ingin di lembar uang Indonesia ada gambar kepala haruda hadap ke depan! Dan itu artinya Indonesia harus menjalankan sistem baru dari nol... Semuanya baru!"

"Masih lama kah itu?"

"Tidak! Tidak lama lagi, mungkin setelah Pak Suherman meninggal..."

Ayah Yuna terdiam.

Yuna dan Huda saling berpandangan.

"Karena itu aku berpesan kepadamu Huda, bergabung lah!"

"Baik!" Mantap Huda.

"Jika memang dia anakmu, aku tidak meragukan kualitasnya Bung, apa lagi Yuna... Bakatnya sejak kecil memang sudah menonjol sangat tertarik dengan dunia politik. Namun Yuna, kau jangan ikut politik.. jadi lah bayang-bayang negara ini!"

"Jangan! Aku tidak ingin Yuna terjun lebih dalam. Tidak ada yang dia cari. Di dunia ini dia harus hidup tenang!"

"Pak Herman, biarkan dia meneropong langkah Huda... Biarkan dia jadi kompas!"

Suherman mengangguk.

"Sementara Huda terjun ke medan perang garis depan sebelum kita semua di sini sudah nyusul Pak Sukarno..."

Suherman mengangguk paham.

"Baik... Sebelum aku mati, akan aku bekali semua ilmuku kepada Huda... Yuna... Pegang lah rantai dari langit... Jangan lepaskan!"

"Iya Pak..."

"Huda... Ada organisasi Islam yang mengandalkan amalan dzikir sirri atau dzikir dalam batin yang diucapakan oleh sekujur tubuhmu mulai dari rambut sampai kaki... Dan efeknya bisa mengalahkan pengaruh kekuatan ilmu tergelap apa pun... Itu ada di ajaran pondok pesantren tempat ku belajar... Ajak lah bule itu juga ke sana..."

"Baik Pak..."

Santri mengangguk, "salah satu anak Bung Karno juga ada di desa sebelah mengasingkan diri... Dia yang akan memasukkanmu ke RI satu..."

"Anaknya yang mana?" Yuna heran.

"Rahasia, besok Huda ikut aku..."

"Siap..."

Percakapan pun berlalu, Huda memutuskan membawa Harun dan Alexis  ke rumahnya untuk menginap.

Dan keesokan harinya Huda ke rumah Suherman menunggu kedatangan Santri, dia menggunakan motor gedenya membonceng pria itu ke sebuah desa terpencil dekat desa Yuna dan di sana dia di sumpah di atas kertas.

Huda menuliskan namanya dan disana nama Huda distempel lilin merah dan putih dengan materai emas asli berlogo RI satu.

"Sekarang kamu sudah resmi menjadi anggota langsung di bawah pengawasan Bung Karno... Selamat!"

"Apakah Pak Sukarno sebenarnya masih hidup?"

Pria berusia enam puluh tahun yang berbadan tegap namun kurus dan tadi memberi tanda tangan ke surat kontrak perjanjian Huda dengan RI satu tadi mengangguk.

"Ada di mana beliau?"

"Yang pasti di Jawa..."

"Baik..."

Singkat kata setelah Huda menyerahkan naskah itu ke anak Pak Sukarno, dia diajak berdiskusi dan kemudian mereka berpamitan dan menuju rumah Suherman kembali.

Alexis , Harun sudah tiba dengan mobil hitam milik si supir terbuang. Yuna sudah menunggu di teras bersama Suherman.

Huda melepas kepulangan Santri yang mendoakan keberuntungan mereka lalu masuk mobil dan menyupir ke alamat pondok pesantren tempat ayah Yuna dulu belajar.

Di sana mereka menghadap seorang Mursyid yang ternyata masih muda berusia tiga puluh lima tahun karena ayahanda meninggal, sehingga beliau meneruskan posisi sebagai pemegang rantai waris ilmu.

Pembaiatan karena berjumlah tujuh kali, maka mereka harus mondok di sana selama seminggu.

Dan setiap proses perjanjian itu berisi acara pengisian rantai gaib cahaya ke titik cakra latifah dalam diri mereka.

Rasanya saat Alexis , Huda, Harun dan Yuna menerima itu, ada seperti kail gaib masuk ke tubuh mereka. Di titik cakra latifah dalam tubuh mereka berada rasanya seperti berkedut memiliki kehidupan.

Setelah acara itu berlalu sebelum sang Mursyid melepas mereka, beliau berpesan untuk mengisi tubuh mereka setiap harinya dengan lima ribu cc energi cahaya dengan berdzikir sirri sebanyak lima ribu kali.

Supaya lima ribu cc darah di badan mereka bersih dan bisa melakukan segala hal dengan berkah.

Dalam ajaran pondok pesantren itu setiap harinya hanya membahas tata cara kutbah jumat dan tata cara bacaan sholat yang benar sesuai syariat Islam. Selebihnya membahas mengenai amalan untuk setiap orang yang sudah haji agar tidak melenceng dari amanah hikmah haji itu sendiri.

Karena itu rata-rata yang masuk ke sana adalah santri lansia yang hampir menutup usia.

Namun karena memang kini tubuh Huda dan kawan-kawan sudah diikat rantai dari langit, kini jika mereka berbohong pun, ada rasa panas di dalam dada mereka.

Dalam kajian selama seminggu itu, ada sebuah ilmu yang Huda garis bawahi itu mungkin adalah yang dimaksud oleh ayahnya.

Yaitu pembahasan ilmu Ihsan dan cara mempraktekannya. Dimana ketika membaca doa dengan sepenuh jiwa pasrah kepada Allah seperti sadar bahwa Dia sedang menyaksikan kita dari Kursi-Nya maka saat itu lah Allah akan mengalirkan kekuatannya masuk menjadi cahaya dalam diri yang menerangi dan menyingkirkan kegelapan.

Cahaya itu lah yang bisa menandingi Lux Vanisher atau cahaya ilmu yang iblis bawa dan ajarkan kepada pengikutnya.

Tak salah lagi, bahwa pondok pesantren tadi adalah lawan terberatnya grup elite yang Alexis  ikuti, dan dengan ini Huda siap untuk memasuki organisasi itu.

Hari kepulangan mereka berlalu dengan cepat, Alexis  yang sudah mualaf menelpon Illuminati Co. Crew untuk mengembalikan mobil mereka.

Anggota dari yang Alexis  telepon pun datang ke rumah Huda untuk menjemput mobil hitam itu.

Keesokan harinya Huda menelpon Yuna, "Yang? Terus gimana sekarang? Hatiku sudah damai banget rasanya.. dari tadi Alexis  nangis terus setelah sholat... Dia kelihatan lebih bahagia juga sekarang"

"Kamu mau batalin masuk Freemason?"

"Aku sudah ikhlas sekarang..."

"Alhamdulillah, berarti ya ga usah masuk Freemason..."

"Misinya?"

"Kan bisa melawan mereka cukup dengan meruqyah dari jarak jauh... Ambil aja khodam-khodam mereka... Nanti kita temui lagi Pak Santri biar kamu tahu harus ambil khodam siapa aja sih..."

"Oh, iya... Berarti sekarang aku harus belajar meruqyah ya..."

"Nah, bener..."

"Ke siapa?"

"Nih aku nonton di internet ada seorang raqi keren banget... Syeh ini di Paris..."

"Di Paris??"

"Huum..."

"Kita ke Paris?"

"Why not Darling!"

"Woh! Oke... Assalamu alaikum!"

"Waalaikum salam..."

Tidak lama kemudian Huda datang dengan mobil miliknya sendiri bersama Alexis  dan Harun ke rumah Yuna.

"Assalamu alaikum"

"Waalaikum salam.." jawab Suherman yang sedang membaca kitab kuning di teras sambil ngopi.

"Pak" Huda mencium tangan pria panutannya itu.

"Aku dulu saat masih kecil karena ayahku berkelana tidak pulang dan ibuku meninggal setelah melahirkanku, makanya aku mungut ketela mentah di kebun orang buat makan... Waktu itu sebelum sholat jumat..." Suherman langsung mendongeng ketika Huda duduk di kursi.

"Ya?"

"Aku ketemu sama seorang kakek tua membawa tongkat, kuajak dia duduk dan ku kasih ketela mentah... Kami makan bersama.. dan dia berkata... Nak... Kalau kelak kamu sudah besar... Jangan pernah mencoblos partai politik yang di belakangnya ada huruf I nya..."

"Wah kenapa?"

"Ga tahu, habis itu orang itu pergi meninggalkanku..."

"Subhanallah!"

"Umurku dan umurmu itu berdekatan akhirnya Nak... Aku bisa merasakannya itu... Jangan kau bermain-main lagi sekarang... Bertanya lah selagi aku hidup..."

"Baik Pak, kalau gitu... Saya ada pertanyaan bagaimana caranya supaya saya bisa berdiri dengan kekuatan saya sendiri tanpa bantuan khodam lagi..."

"Amalkan saja Ihsan, rendah hati dan pasrah hidup dan mati kepada Allah saja... Jangan merasa selalu ingin menang... Ingat itu..."

"Baik Pak, saya akan selalu berusaha memaafkan dan merelakan apa yang saya alami..."

"Bapak bukan meninggalkanmu, aku tahu sia-sia saja aku bersama ibumu..."

"Aku paham... sungguh..."

"Aku ada tugas lain..."

"Aku paham Pak..."

"Nah, sudah datang! Mas Huda! Bang Harun! Mister!" Yuna membawa tiga cangkir kopi di nampan.

"Makasi Neng!" Hangat Harun yang wajahnya cerah karena aura positif mengamalkan ajaran sang Mursyid.

"Selama di dunia ini masih ada yang mengamalkan dzikir sirri itu... Sebuah daerah akan diamankan dari bencana alam... Bahkan tsunami... Namun jika mereka sudah semuanya dicabut ke langit oleh Allah... Bumi akan berguncang..." Lanjut Suherman.

"Kalian tahu masjid yang utuh setelah kena tsunami Aceh kan?"

"Iya tahu Neng"

"Nah itu salah satu bukti kalau energi null dzikir sirri itu nyata" Yuna ramah.

"Alhamdulillah..."

Mendengar itu Huda dan Alexis  berpandangan.

"Lalu soal syeh di Paris itu?"

"Oh iya, bentar" Yuna bangkit dan berjalan ke kamar mengambil laptop Huda.

"Eh.. aku tidur siang dulu yah... Dinikmati kopinya..." Suherman bangkit meringkasi kitab dan kacamatanya lalu berjalan masuk rumah.

"Iya Pak..." Huda mengangguk santun.

Yuna kembali, dia menunjukkan video di laptop Huda. Di monitor itu nampak seorang Syeh sedang meruqyah jin satanis yang merasuki tubuh mitranya, dia mengaku bekerja di gedung perkumpulan bangsa-bangsa dunia.

Tiga pria itu terus menyimaknya dan mulai mengangguk mengerti metode tepat untuk misi selanjutnya.

"Dan kita setelah bisa melakukan ini, kita ruqyah itu jin-jin kafir di badan para pejabat.. termasuk si Kaydos Brengos!"

"Kaya'nya kalau Kaydos Brengos itu bukan jinnya tapi memang dia yang sesat secara pribadi punya dendam tersendiri" Huda menganalisa.

"Dendam kepada umat Islam kah?"

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 1)

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 3)