Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 1)

  

Sinopsis:

Huda, seorang pemuda yang sejak kecil terjebak dalam jaringan satanis yang memaksanya menjual narkoba. Namun, takdir membawanya pada kebenaran pahit: ayah yang selama ini dikenalnya ternyata bukan ayah kandungnya. Pertemuan dengan ayah kandungnya membuka jalan baru bagi Huda untuk menumpas atasan satanis dunia demi membebaskan negaranya dari kejahatan. Namun, di tengah perjuangannya, Huda terjebak dalam intrik asmara dengan seorang perempuan misterius yang ternyata berasal dari keturunan kerajaan dimensi lain, menambah kompleksitas dalam hidupnya. Dengan keberanian dan tekad kuat, Huda berjuang melawan dua musuh: satanis dan dirinya sendiri.


Daftar Isi:


BAB 1
Mavia Kecil Pemburu Jarum Kompas Masa Depan


Huda bermimpi mendaki gunung yang terjal dan sulit, setiap langkahnya terasa berat dan penuh tantangan. Namun, dia tidak menyerah, dia terus mendaki dengan tekad yang kuat. Setelah mencapai puncak, dia terkejut melihat lautan yang terbentang luas di balik gunung. Namun, lautan itu tidaklah tenang, airnya mendidih dan bergejolak, sementara di sepanjang pantainya api kemerahan berkobar-kobar, menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan dan menakutkan. Mimpi itu memberinya perasaan yang campur aduk, antara kekaguman dan ketakutan.

Ketika Huda menatap lautan yang mendidih itu, dia melihat air laut menguap menjadi awan putih yang tebal dan berarak menuju ke arahnya. Dalam sekejap, awan-awan itu memenuhi ruang di depannya, dan tiba-tiba dia berdiri di atas lautan awan yang luas dan lembut. Cahaya senja yang hangat menyinari awan-awan itu, menciptakan pemandangan yang sangat indah dan damai. Huda merasa seperti sedang melayang di atas langit, dengan awan-awan yang lembut di bawah kakinya. Keindahan itu membuatnya lupa akan kekacauan yang ada di gunung sebelumnya, dan dia merasa tenteram sejenak dalam mimpi itu.

***

Huda membuka matanya perlahan, seperti bunga yang mekar di pagi hari. Anak laki-laki tampan dengan hidung mancung itu mengucek matanya yang masih berat untuk dibuka. Suara lembut ibunya seperti melodi yang menyentuh hati, "Huda, ayo bangun Nak! Waktunya sekolah." Huda menjawab dengan suara lirih, "Iya Ibu, maaf Huda kesiangan."

Ibunya tersenyum hangat, "Tidak masalah Sayang, jangan pernah putus asa. Setiap kemarin sudah berlalu, hari ini jadilah lebih baik." Sentuhan lembut di pipinya membuat Huda merasa hangat di dalam hati. Dia mengangguk paham, lalu menuju ruang sholat untuk menunaikan sembahyang subuh.


Tanpa sarapan, Huda berangkat berjalan kaki ke sekolah. Pagi itu, kampung halaman yang biasanya ramai dengan aktivitas pagi, terlihat sepi. Ilalang tumbuh liar di antara rumah-rumah yang berjarak jauh, seolah kampung ini menjadi tak berpenghuni. Namun, Huda tidak memperdulikan itu, dia fokus pada hari ini, hari yang baru, kesempatan untuk membuat sesuatu yang lebih baik.


Tiba-tiba, dari kejauhan muncul se-unit mobil Jeep warna hitam, melaju perlahan di jalan yang berliku. Huda awalnya mengamati mobil itu dengan rasa penasaran, namun firasatnya mulai mengkhawatirkan. Dia ingin bersembunyi di balik semak-semak, tapi pesan kakeknya terngiang di telinganya: "Jangan takut kepada manusia, hanya takutlah kepada Allah." Dengan hati yang mantap, Huda mengurungkan niatnya untuk bersembunyi.


Mobil itu melewati Huda yang berjalan menunduk, tapi suara mesinnya tidak menjauh. Huda mempercepat langkahnya, namun suara mobil itu justru semakin dekat. Ternyata, mobil itu berjalan mundur karena jalur jalan yang terlalu sempit. Seorang pria berkacamata hitam dan topi cowboy menurunkan jendela mobil, menatap Huda dengan tatapan yang sulit ditebak. "Bisa kau antar kami ke jalan besar?" tanyanya dengan suara yang dalam. "Dari tadi mobil kami hanya berputar-putar saja di kampung ini, dan jalurnya tidak enak untuk balik arah." Huda ragu sejenak, tapi ada sesuatu yang tidak beres dengan permintaan itu...

Huda yang berhenti melangkah dan melihati ada  dua orang pria dewasa di dalam mobil itu diam, kemudian melihat sekelilingnya.

"Maaf ini jalan buntu, Om harus putar balik!" kata Huda.

Seorang pria yang duduk di samping sopir membuka pintu dan kemudian turun.

"Kantor polisi terdekat mana ya?" Katanya sambil mendekati Huda.

Huda menghembuskan nafas lega telah lepas dari kegelisahan.

"Di sana..." Tunjuk Huda ke sebuah arah balik.

"Mau gak kamu bantu tunjukin arah ke sana, ini pelik kali!" Mohon pria berjaket kulit hitam dan berkacamata hitam itu.

Huda mengangguk, pria itu merangkulnya namun lekas membekap mulut anak kecil usia sembilan tahun itu dengan kain putih beraroma bius sampai dia pingsan terkulai.

Pria itu membopongnya ke dalam mobil dan mereka menghilang dari desa itu.

Beberapa waktu yang lama akhirnya Huda sadar juga. Namun posisi tubuhnya sudah terikat. Tangannya terikat dengan digantung dari atap sementara kakinya dibelenggu dengan besi dan mulutnya diikat dengan kain.

"Ya Allah..." Huda merasa sesak dan jiwanya hendak berontak dengan mental yang terpukul dengan pengalaman ini, dia berusaha membunuh rasa takutnya akan kematian karena hanya Allah lah tujuan ia pantas mati.

Tapi dua pria yang tadi datang dengan Jeeb muncul lagi.  Kali ini mereka tersenyum bengis. Salah satunya membawa kayu panjang dan yang lain membawa cambuk. Mata Huda terbelalak bukan kepalang.

"Astaghfirullah!" Pekik mulut Huda dari balik kain yang membungkam mulutnya.

Pria yang memakai jaket kulit mendekati Huda dan melepaskan mulut anak yang lemas tak berdaya dengan perut keroncongan itu.

"Hahaha! Kau lapar ya? Atau haus? Hahaha!" Gelak pria berjaket kulit hitam setelah mendengar rontaan suara perut si Huda kecil.

"Mau apa kalian dariku?!" Seru Huda.

"Prak!" Cemeti si pria berjaket kulit dengan cambuknya ke kaki Huda.

"Allah!" Teriak Huda menderita tanpa mengetahui apa kesalahannya kepada dua orang asing itu.

"Jangan macam-macam kau ya atau kujual kau ke bule kanibal! Hahaha!" Gertak pria dengan topi cowboy.

Linangan air mata deras menguyupi pipi Huda yang menirus akibat pingsan dua puluh empat jam dan sekarang harus memakan hidangan pedih berupa ancaman demi ancaman dari dua orang pembawa petaka itu.

"Aku mau kau jual barangku ke kawan-kawanmu!" Gahar si bertopi.

"Barang apa?!" Huda tak habis pikir.

"Obat setan... Hahaha!" Bisik si bertopi kemudian terbahak-bahak mentertawakan si kecil itu.

"Allahu akbar! Haram!" Kelak Huda.

"Jrat!" Cambukan dari si berjaket kulit lagi dihujam ke kaki lain milik Huda.

"Aku akan bunuh kau dan dagingmu aku jual ke bule di luar sana dan ibumu tidak akan pernah tahu di mana keberadaanmu sampai ajal menjemputnya, apakah itu kemauanmu?!" Kecam pria bertopi.

"..." Huda menundukkan kepalanya sambil menahan sakitnya tidak ingin berpikir takut mati tapi bingung dengan dirinya apakah dia ini termasuk hamba yang akan diselamatkan atau kah tidak.

"Jika kau tidak menjawab juga akan aku pecahkan kepalamu dengan kayu ini hingga tengkorakmu hancur berkeping-keping!" Ancam pria bertopi.

Huda dengan ringkih dan lemas mengangkat kepalanya dan menatap dengan tajam kedua mata pria itu bergantian.

"Hanya menjual barang jahanam itu kan?!" Katanya sambil meyembunyikan degup kencang jantungnya yang berpacu dengan rasa lapar yang amat pedih.

"Dan kau akan kukasih banyak uang tanpa banyak omong!" Pria bertopi itu menyeringai.

"Baik lah..." Huda mengangkat wajahnya ke lagit sambil memejamkan mata dengan lemas.

"Hiahahaha!"

"Hahahahargh!" Dua pria biadab itu menggelegarkan tawanya di ruangan luas yang kosong itu.

Segera si pria berjaket kulit mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan menodongkannya ke Huda.

"Jika kau berhianat maka akan aku buat kau seperti tikus yang dikejar banyak anjing dari berbagai arah mata angin!" Ancam pria itu.

Huda membuka matanya sedikit dan mengintip selongsong yang kini menghadap batang hitungnya.

"Dar!" Pria itu menembak tali yang menggantung Huda.

"Bak!" Tubuh Huda terbanting ke lantai.

"Aargh..." Rintih anak kecil yang semakin kurus itu.

"Dar!" Pria itu menembak gembok yang membelenggu kaki Huda.

"Secepat laju peluru ini lah semua anak buahku akan bergerak memburumu jika aku mau dan secepat laju peluru ini pula kau bisa kaya raya tanpa tamat sekolah dan kerja jadi keset orang, paham kau!" Tatar pria yang berjaket kulit.

"Jangan sentuh ibuku..." Lemas Huda.

Kemudian kaki Huda diseret oleh pria berjaket itu. Anak itu begitu pasrah, dia diseret jauh hingga diangkat tubuhnya dan dibanting masuk Jeeb yang sama tadi.

Sepertinya mereka akan mengantar Huda pulang, anak itu di bagian belakang Jeeb merenungi nasibnya jika berontak maka kali ini dia memutuskan untuk pasrah kepada Allah.

Dia merasa sangat bersalah karena telah banyak melanggar norma agama yang diajarkan oleh kakeknya namun dia terpaksa melakukannya demi keselamatan nyawa ibunya dan masa depan keluarga mereka.

Akhirnya sesampainya di depan rumah Huda, dua pria itu membuka pintu belakang Jeeb dan menggendongnya ke hadapan sang bunda yang tengah menangisi kepergian anaknya selama tiga hari tanpa kabar.

"Putraku!" Histeris ibu Huda yang sudah merasakan pengap yang amat sangat ditambah mengetahui fisik Huda sekarang, ia semakin merasa terlumpuhkan.

"Kami menemukannya di tengah ladang, kami sarankan untuk berhati-hati dengan para mavia di sekitar sini..." Tutur pria berjaket.

"Terima kasih Pak Polisi telah menyelamatkan nyawa anak saya, saya banyak berhutang budi luhur kepada Anda..." Jabat tangan ayah Huda kepada dua orang yang kemudian berlalu setelah berpamitan.

"Cih." Guman Huda.

"Anakku!" Rengkuh sang ayah sembari kemudian membopong Huda ke rumah.

"Ibu sudah khawatir banget Nak, ya Allah!" Rintih sang ibunda tercinta.

"Aku akan jual nyawaku jika boleh ditukar dengan keselamatanmu Ibu, tapi aku tahu kau tidak bisa menikmati hidup jika aku mati, maka aku pulang untukmu..." Ucap lirih Huda kemudian jatuh dalam lelapnya yang menyedihkan.

"Argh...." Sang ibu menangis sejadi-jadinya.

"Sabar istriku..." Hibur sang suami yang tegar.

"Apa yang sebenarnya dialami Huda barusan? Kenapa dia berkata demikian?" Peluk sang bidadari rumah mereka.

"Mungkin Huda menerima ancaman dengan menyebutmu sebagai jaminannya..." Karim mengusap kepala istrinya.

"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan, Suamiku?" Keluh Hanah.

"Jangan keluar rumah sembarangan tanpa pengawasan... Ajak lah siapa pun dimana pun kamu ingin menuju... Dan aku akan meneliti kenapa Huda ini..." Karim berusaha berpikir dengan tenang dalam kondisi segenting ini.

Sementara itu di dalam mobil Jeeb dua orang bengis tadi.

"Bos, yakin dia akan mau kita rekrut masuk satanis?" Kata pria berjaket kulit.

"Aku melihatnya dalam mimpiku dan auranya sangat bagus." Pria bertopi mengangguk.

"Kalau begitu kita harus bikin dia meresapi nikmatnya jadi satanis. Hah! Hahahaha!" Gelagak tawa si pria berjaket merah.


"Huda..." Wanita berhidung mancung dan berkulit putih itu membelai kepala putranya yang lemas.

Huda secara perlahan membuka matanya dan menarik nafas berat.

"Ibu?.." panggil Huda lirih.

"Ibu di sini Nak..." Sayu ibu Huda yang bernama Mariam.

"Ibu jangan pergi keluar rumah" tangan Huda meraih belaian ibunya dan memegangnya erat-erat.

"Iya Nak, ibu berjanji..." Ternyata benar dugaan suaminya bahwa pasti Huda sudah menerima ancaman atas nama Mariam.

Namun siapa sangka setelah kejadian itu justru kehidupan Huda berangsur-angsur pulih. Para pria itu tidak pernah kembali.

Terkadang Huda berpikir apakah mereka sudah ditangkap pihak berwenang. Namun nafasnya masih berhembus was-was. Seolah ada yang mengikat nyalinya agar tidak pernah jauh dari ibunya. Huda setelah sekolah langsung pulang ke rumah dan mengantar ibunya kemana pun ia mau.

Hingga enam bulan kemudian ketika dia pulang sekolah. Ada seorang pria menabraknya dan memberikannya sekantong kresek berisi bungkus jajanan.

Huda berlari menepi dari keramaian dan memasukkan kantong kresek itu ke tasnya.

Dia membawanya pulang dengan langkah kaki terburu-buru, sepanjang jalan nafasnya berburu dengan tujuan bayang-bayang kamarnya yang seolah memanggilnya agar segera dia berdiam di sana sebab di luar sini tidak aman baginya.

Firasat Huda memburu, mungkin ini sesuai perjanjian dengan pria-pria itu karena dia tidak pernah mengalami teguran dengan orang dewasa asing. Dan lagi yang Huda ingat, pria itu jelas dengan sengaja menabraknya sambil memberikannya secara sengaja.

Setiba di rumah tanpa basa-basi, kebetulan rumah sedang kosong. Huda langsung lari ke kamar dan mengunci pintunya.

Dia membongkar isi tasnya. Di dalam kantong kresek itu ada banyak sekali jajan snack buatan pabrik. Terbungkus masih rapi dan kemasannya masih tersegel. Namun ada kertas bertuliskan 'serahkan paket ini ke kepala desa'.

Betapa terkejutnya Huda bahwa aparat tempat tinggalnya ternyata gembong mavia. Huda sudah tidak berpikir lain lagi selain memastikan bahwa ini ulah antek yang sama dengan penculiknya kemarin.

Huda segera membuka pintu lemari bajunya dan berganti pakaian. Dia bergegas menaiki sepedanya ke kantor kepala desa dengan mengenakan tas sekolahnya yang menyembunyikan barang beracun itu.

Dalam pikirannya semakin cepat maka semakin baik. Huda pun setibanya di rumah kepala desa langsung mencari kepala desa dan memberikan paket itu, "ini jajan yang anak Bapak titipkan ke saya buat beli tadi, maaf ga ketemu sama dia jadi saya kasih ke Bapak aja.. saya mau kerja kelompok sama teman, saya sudah terlambat!" Huda tanpa basa-basi menyerahkan bingkisan kantong kresek hitam itu ke kepala desa yang tengah menyambut kedatangan pejabat di atasnya.

"Oh iya iya makasih ya..." Ramah pak kepala desa sedikit gelagapan namun kemudian berusaha bersikap wajar.

"Wah warga sini terpuji sekali ya ahlaknya, sangat amanah.. pasti mencontoh dari sikap pemimpinnya nih!" Puji petinggi itu kepada kepala desa dengan senyum mengembang.

"Hehe.. maklum Pak, kami ini warga kampung jadi etika kami masih sangat berpegang pada hukum moral... Seolah moral adalah CCTV yang mengawasi kita... Kita percaya bahwa Tuhan itu maha melihat..." Ucapan kepala desa itu membuat Huda berhenti melangkah dan berpaling menoleh kepada wajah kepala desa itu dengan tatapan kecewa.

Huda tanpa banyak protes kembali meraih sepedanya dan mengayuhnya secepat mungkin. Dia hanya ingin hari-harinya seperti ini cepat berlalu.

"Huda!" Seorang remaja berkalung rantai tiba-tiba menghadangnya dari balik pondok kosong.

"Hah! Abang?! Ada apa! Terkejut aku!" Kaget Huda.

"Hehe..." Remaja sekolah menengah atas itu mencolek ujung hidung Huda yang runcing tajam.

"Bagus kau ya! Bos kecil!" Mendengar ucapan remaja itu membuat Huda tercengang.

Huda berpikir apakah remaja itu sudah tahu tentang apa yang baru saja Huda perbuat.

Tidak lama kemudian Huda melihat beberapa pemuda lain berdiri di balik pondok lalu mereka bersembunyi.

"Abang ada apa ini Bang?" Muka Huda memucat, dia khawatir akan pulang bonyok dengan tulang berpatahan.

"Kata Bang Guber, kau ini tukang pos barunya... Nih aku kasih tahu ya... Besok aku sama kawan-kawan akan ngumpul di atas bukit itu... Kau lihat bukit yang ada pohonnya itu?!" Tunjuk remaja itu, Huda mengangguk.

"Kau ke sana jam dua siang habis sholat Jumat ya, aku tunggu, oke?" Remaja itu menepuk bahu kiri Huda dua kali lalu berlari menuju rombongan kawannya yang bersembunyi.

Huda segera paham maksudnya lalu dia segera menaiki sepedanya lagi dan sekuat tenaga kembali ke rumah seperti kucing yang dikejar anjing.

Setibanya magrib menjelang, Huda duduk di meja makan menyantap hidangan dengan sangat lahap seolah takut akan kelaparan berhari-hari setelah kakinya menginjak tanah di luar rumah.

"Huda? Kamu lapar banget ya Nak?" Mariam mengelus kepala Huda.

"Ya Bu!" Huda meneruskan terus makanannya sampai tersedak-sedak.

"Pelan Sayang, ga ada yang minta, ga usah seperti balapan gitu makannya, ini bukan lomba makan..." Senyum Mariam, namun ia merasa aneh, wajah Huda seperti menyembunyikan kepanikan dan ketakutan, dia tidak terlihat sedang menikmati santapannya.

"..." Huda sadar sedang diawasi oleh ibunya, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum ke ibunya.

"Enak banget Bu, masakannya!" Hibur Huda.

Mata Mariam berkaca-kaca, dia bisa melihat anaknya menyembunyikan ketakutan yang amat dan itu demi melindunginya, Mariam sangat terharu dengan anak yang kelak akan tumbuh menjadi seorang pria ini. Pasti kelak dia akan tumbuh menjadi seorang kepala keluarga yang rela mempertaruhkan segenap jiwa dan raganya untuk seluruh anggota keluarganya.

Keesokan harinya...

Huda keluar dari gerbang sekolah, dia sengaja lekas menepi dari keramaian dan benar saja seorang pria menabraknya lagi dengan menyerahkan dua kantong kresek hitam.

Huda melihat sekeliling saat pria itu berlari menjauhinya. Sambil santai menenteng tas kresek itu ke tempat sepi seolah isi di dalamnya tidak berharga. Kemudian ketika tiada mata mengintai, Huda memasukkannya ke dalam tas dan berlari sekuat tenaga ke rumah karena takut akan bertemu polisi.

Sekarang adalah pukul sebelas di hari Jumat. Ayah Huda belum pulang apa lagi ibunya yang bekerja di pasar. Dengan sigap Huda masuk kamar dan mengunci pintu.

Dia mengeluarkan dua kantong kresek itu. Satu kresek hitam berisi segepok uang ratusan ribu dengan tulisan nama 'Huda' sementara di kresek hitam lain berisi sekotak paket berat berbalut kertas tebal yang diselotip dan ditempelkan kertas bertuliskan 'Rahmat'.

"Masa sih ini duit buat aku sebanyak ini?" Huda panik, dia merapikan lagi kresek hitam itu kemudian menyimpannya ke bawah kasur tempat tidur.

Sehingga setelah itu dia mandi dan bersiap ke masjid untuk sholat Jumat berjamaah dengan berangkat bersama ayahnya.

Setelah dari masjid dan tiba di rumah, Huda mengambil tasnya dan naik sepeda ke bukit perjanjian.

Di sana remaja yang kemarin menemui Huda ternyata sudah menunggu. Dia menerima bungkusan itu dari Huda dan kemudian menyerahkan lima lembar uang merah kepada Huda.

Huda terbengong sambil menerimanya.

"Ambil! Itu upahmu!" Kata remaja yang ternyata bernama Rahmat itu.

Tanpa basa basi Huda mengangguk lalu mengayuh sepeda untuk pulang ke rumah.

"Ibu..." Di sana Mariam menangis, dia memeluk seorang wanita tua renta yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah.

"Nenek?!" Huda berlari menaiki tangga rumah dan menuju ruang tengah di mana di sana sudah berdiri paman dan bibinya.

"Kamu lihat itu ibu kamu?! Makanya kamu rawat! Gantian! Jangan cuma aku aja yang ngeluarin duit!

Habis-habisan aku merawat dia dan istriku ngurus dia dari pagi ketemu pagi sampai aku sendiri terbengkalai." Protes sang paman ke ibu Huda.

"Masa sih duit sepeser pun ga ada, keterlaluan kau ini pelitnya!" Nyinyir istri si paman yang merupakan adik kandung Mariam.



"Nenek kenapa, Bu?" Huda mendekati nenek yang duduk di sofa, sepertinya baru diantar oleh paman dan bibinya.

"Nenekmu harus segera dibawa ke rumah sakit hari ini Huda, jika tidak maka nenek tidak akan panjang lagi hidupnya...." Mariam meletakkan kepalanya di pangkuan sang nenek sambil terisak-isak.

Sementara sang nenek menangis tanpa suara sambil memegang kepala Mariam yang bersimpuh di pahanya.

Huda menelan ludah sambil menatap wajah paman dan bibinya dengan tajam. Dan paman Huda menatap balik mata Huda dengan tatapan sinis.

Huda merasa tidak terima dengan bagaimana cara mata pamannya itu memandangnya.

"Paman sudah tidak punya kekuatan untuk bantu Nenek?" Huda membuka omongan.

"Tahu apa kamu anak kecil! Jangan ikut campur! Uang Paman sudah habis ke Nenek semua!" Pening si paman.

"Hh apakah sekarang Paman jadi miskin gara-gara Nenek sampai sepeser pun sudah tidak punya?" Ejek Huda dengan mata tajam.

"Kau pikir cari uang itu gampang hah? Kau belum tentu setelah tamat kuliah bisa kerja dan menghidupi keluargamu camkan itu!" Pamannya menunjuk-nunjuk.

Huda dengan egois menghentakkan kaki, pamannya keheranan melihat si keponakan yang kemudian berjalan masuk ke kamarnya. Namun ternyata Huda kembali dengan menenteng sekantong kresek hitam.

"Ibu cepat bersiap bawa Nenek ke rumah sakit!" Sorak Huda.

"Huda?!" Mariam mengangkat kepalanya dari pangkuan ibu mertuanya kemudian menoleh ke Huda tak habis pikir.

"Kenapa Bu?!" Huda masih menenteng tas kresek hitam dengan wajah datar.

"Ibu tidak punya uang Huda..." Mariam menggeleng.

"Jangan hiraukan ucapan Paman, ayo kita ke rumah sakit! Cepat lah!" Ucap Huda.

Si paman keheranan melihat Huda. Dia kemudian tertarik dengan apa yang dibawa oleh keponakannya itu.

"Apa itu Huda?!" Tunjuk si paman.

"Ini hasil keringatku bekerja! Mau apa Paman?" Mata Huda tajam.

"Eh?! Kerja apa? Mana boleh anak SD kerja!" Paman Huda tergagap.

"Ini tabunganku selama bertahun-tahun membantu Ibu bekerja di pasar. Jangan coba-coba untuk memanfaatkannya. Jangan coba-coba baik kepadaku setelah tahu aku bisa cari uang! Aku benci dimanfaatkan!" Siapa sangka kalimat itu keluar dari seorang bocah yang polos.

Seolah Huda benar-benar telah belajar bagaimana otak orang dewasa yang licik bekerja, tidak mungkin kalimat itu bisa terlontar kepada pamannya sendiri. Si paman tertegun dan memandang istrinya.

Mariam mengusap air matanya dan menahan rasa iba, dia membopong mertuanya ke mobil Kijang lama milik suaminya.

"Abang belum pulang dari ladang... Aku akan mengantar Ibu ke rumah sakit..." Kata Mariam setelah memasukkan mertuanya ke mobil.

"Ba baik Kak semoga selamat sampai tujuan," jawab si pamannya Huda dan berlalu pulang dengan istrinya.

"Huda kunci rumahnya! Ayo berangkat sebelum sore!" Mariam ke kamar mengambil jaket kemudian membawa termos berisi air panas dan terlihat mengemas dua bungkus mie instan untuk berjaga-jaga di jalan.

Setelah melihat ibunya masuk mobil di kursi kemudi, Huda menutup pintu rumah dan meletakkan kuncinya di bawah pot.

Mereka bergegas menuju rumah sakit, setiba di tengah perjalanan Mariam mulai membuka percakapan.

"Dari mana kamu dapat uang itu Huda? Ibu tidak pernah menyuruhmu membantu Ibu di pasar bukan? Huda tahu persis bagaimana Ibu lebih menginginkan agar Huda fokus belajar dari pada bekerja bukan?" Mariam tetap berkata santun kepada puteranya yang mencurigakan itu.

"Aku memang punya penghasilan sendiri Bu meski tidak tetap..." Jawab Huda.

"Berapa jumlah uang kamu Huda? Kita masih bisa pulang jika kurang... Ibu melakukan ini juga agar membuat paman kamu diam dan tidak terlalu menghina ayahmu..." Ungkap Mariam.

"Kita tetap ke rumah sakit Bu, ada sekitar sepuluh juta di tanganku sekarang,"

"Ciit!" Mariam menginjak rem mobil jadul milik suaminya karena syok dengan pengakuan putranya.

"Sepuluh juta?!" Mariam terperangah.

"Iya" Huda mengeluarkan segepok lembaran merah dari kantong kresek hitamnya.

"MaasyaaAllah, Huda! Kerja apa kamu nak? Abang kamu di kota belum tentu bisa dapat uang sebanyak ini dengan bekerja sangat keras sampai pulang malam!" Mariam tak habis pikir.

"Aku tidak perlu memberitahukannya kepadamu Bu," mata Huda tajam melihat wajah Mariam yang terpucat.

Sambil menitikkan air mata Mariam kembali melajukan mobilnya dan memikirkan keselamatan anaknya.

"Di luar sana sekarang ini banyak orang jahat Nak.. dan jika terjadi sesuatu dengan tubuhmu... Beri tahu lah Ibu, sebab aku adalah orang pertama yang tidak akan terima jika tubuhmu terzalimi oleh orang akhir jaman!" Mata Mariam berembun hingga meneteskan air hangat ke pipi.

"Tidak ada satu pun orang yang menyentuh tubuhku yang masih suci ini Ibu, dan tidak akan ada... Aku lebih baik mati jika kualami itu, aku berjanji..." Huda bertekat.

"Besok Ibu ingin Huda masuk sekolah bela diri milik sahabat Ibu, biar Huda bisa ilmu berlindung dari orang jahat, dan bisa melawan kemungkaran di mana pun Huda berada tanpa Ibu..." Mariam mengusap air matanya dan tegas menatap ke depan.

"Iya Ibu" jawab Huda dengan nada polos.

Sesampainya di rumah sakit, nenek diperiksa oleh dokter dan didiagnosa memiliki gejala sakit tumor payudara namun masih bisa diselamatkan dengan operasi pengangkatan biang tumor namun biayanya mahal sekitar delapan juta untuk operasi kecil. Dan Mariam mengiyakan untuk dilaksanakan sesegera mungkin.

Sementara itu di rumah, Karim kebingungan sebab istri dan anaknya tidak ada. Namun dia menemukan sebuah kertas bertuliskan 'aku ke rumah sakit Amanah, mengantar ibumu berobat menggunakan uang milik Huda' itu membuatnya lekas bergegas ke rumah sakit tersebut.

Setibanya di rumah sakit, Karim mendapati Huda yang berjaket sedang duduk di lobi.

"Huda?!" Pria berjenggot dan berhidung mancung khas orang Aceh itu menghampiri anak kesayangannya yang penurut.

"Ayah?" Huda yang menunduk mengangkat wajahnya.

"Huda, anakku..." Karim memeluknya lekat-lekat.

"Kamu dapat uang dari mana Nak?" Suara Karim parau menahan batin yang sesak.

"Aku bekerja, Yah" jawaban Huda tetap.

"Apa pekerjaanmu, Nak?" Karim terisak-isak.

Namun, demi keselamatan nyawa Mariam yang terancam, Huda terpaksa mengorbankan kejujurannya, memutar kata-kata menjadi kebohongan yang pahit. Kini, dia tahu bahwa setiap langkahnya akan diawasi ketat oleh keluarganya, terutama setelah pamannya mengetahui rahasia pekerjaannya. Dan ayahnya, Karim, pasti akan penasaran.


"Aku mengantar hasil panen dari kebun orang ke pasar, Yah... Kadang menyalurkannya petani ke kota..." Huda meniru gaya bicara orang tua teman sebangkunya, berharap bisa meyakinkan ayahnya. Karim menghembuskan napas lega, senyum bangga menghiasi wajahnya. 


"Ternyata kamu anak yang rajin dan pandai... Terima kasih sudah jadi anak yang penurut, baik, bijak, dan pemberani... Kamu memang anak laki-laki sejatinya Ayah..." Karim menepuk-nepuk bahu Huda, tapi Huda tetap diam, tanpa senyum. Matanya menatap ayahnya, mencoba membaca makna di balik raut wajah itu. Dia tidak ingin menjadi boneka bagi siapa pun. 

Mentalnya dipacu melewati batas usia anak SD kelas lima, karena dia tahu posisinya sekarang adalah sebagai penjahat cilik yang terpaksa hidup dalam kepalsuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 8)

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 3)