Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 2)
Hari ini, Huda berjalan kaki sambil menuntun sepedanya, memilih jalan pintas melalui gang sempit yang sunyi. Di tengah perjalanan, dia tertegun melihat seorang lelaki tua berjualan es serut, dagangannya sepi dan sunyi. Dengan rasa iba, Huda menghampiri penjual itu dan membeli es serut yang dingin. Sambil menunggu es serutnya jadi, Huda duduk di sebelah penjual tua yang wajahnya penuh dengan kerutan waktu.
"Pak, apakah anak SD seperti saya tidak boleh menabung di bank?" Huda bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar, suaranya menggema di gang yang sunyi.
Penjual tua itu menatapnya dengan mata yang dalam, seolah-olah ada cerita yang belum terungkap di balik pertanyaan sederhana itu.
"Ya boleh lah Bang..." Tukang es mempersilahkan dagangannya yang sudah dibuat untuk Huda.
"Tapi gimana caranya Pak?" Huda kepo.
"Ya, ada KK ada orang tua... Ada buku raport sekolah gitu Nak... Nanti diarahkan sama petugasnya.." kata penjual es yang mengenakan topi usang itu.
"Wah harus bawa orang tua ya Pak?" Di situ sayangnya Huda merasa tidak bisa.
"Ya kalau tidak mau ya simpan aja di bawah kasur kamar pasti aman..." Jawaban bapak itu lah yang selama ini Huda lakukan.
Namun terasa aneh bagi Huda, rasa minuman itu seperti sesuatu yang pernah ia rasakan namun entah di mana, rasanya aneh.
"Es rasa apa ini Pak?" Huda melihat es berwarna merah di wadah cup yang ia beli.
"Itu rasa anggur campur stroberi Bang? Kenapa?" Bapak itu menjawab santai.
"Rasanya pernah deh tahu rasa ini tapi dimana ya?" Huda merasakan lagi es itu.
"Ya dihabisin aja Bang terlanjur dibeli, kalau ga enak ya uangnya saya kembalikan ga masalah..." Ramah bapak itu dengan raut wajah rendah hati.
"Enak kok Pak, cuma rasa penasaran aja pernah tahu tapi dimana gitu..." Huda bangkit dari duduknya lalu menaiki sepedanya yang dia parkir tepat di depannya.
Huda mengayuh sepeda sambil menikmati es itu, bapak penjual es melihatinya sambil tersenyum mengangguk-angguk pelan.
Di tengah perjalanan Huda melihat ada anak kecil terjatuh dari sepeda.
"Astaghfirullah al adzim!" Kejut Huda lalu mengayuh sepeda lebih cepat untuk menghampiri anak kecil itu.
"Adek ga apa?" Huda turun dari sepeda dan membantu anak itu berdiri.
"Aduh lututku sakit!" Rengek anak kecil itu sambil menangis.
"Tenang ya!" Huda menyedot darah di lutut anak itu lalu melepehnya.
"?! Eh rasa ini!" Huda melihat cup yang dibuangnya barusan sebelum menghampiri anak kecil itu.
"Minuman itu dicampur dengan darah?" Huda tercengang.
Anak kecil itu masih menangis tidak peduli.
"Adek langsung pulang ya! Banyak penculik anak kecil di sekitar sini, cepat! Jangan lewat tempat sepi!" Seru Huda sembari berdiri menghampiri sepedanya.
Anak kecil itu memandangi Huda yang tidak peduli, mengayuh sepeda sampai jauh dari pandangan anak kecil tadi.
Sementara itu di tempat lain si bapak penjual es itu mengambil gawai yang berdering dari saku celananya.
"Dia sudah meminum darah itu" jawabnya ke penelpon.
"Iya, sekarang dia tidak bisa lepas dari kendali kita Bos" kata penjual es misterius itu.
Huda mengayuh sepedanya terus dan mulai merasa aneh dengan dirinya, matahari terasa lebih terik padahal sebelumnya Huda merasa baik-baik saja.
Setelah memasuki rumah dan menuju kamar, Huda membanting dirinya ke kasur dan terlelap. Dalam tidurnya ia bermimpi.
Ada seekor mahluk aneh yang belum pernah dia temui sebelumnya. Mahluk itu berwarna hitam sekujur tubuhnya seperti melepuh dibakar oleh api dan aromanya seperti kayu yang telah menjadi arang. Dia memiliki tanduk runcing melegkung dan giginya kecil-kecil panjang lancip-lancip rangkap, matanya menyala kuning bagai lampu namun di tengah menyala bundar merah dan pupilnya seperti pupil mata katak. Mahluk itu tidak berambut namun memiliki jenggot tipis tumbuh jarang-jarang sedikit panjang. Kukunya hitam runcing dengan jari-jari panjang berkulit seolah lengket dengan tulang.
"Huda..." Panggilnya pelan dengan suara parau berat dan serak.
"Siapa kamu?" Jawab Huda yang terkapar di tempat tidur memucat didekati oleh mahluk yang merangkak ke atasnya.
"Aku adalah penjagamu mulai sekarang" katanya menunjukan lidahnya yang lancip dan panjang seperti ukuran dagunya yang lancip ke depan.
"Aku hanya dijaga malaikat dari Allah dan aku tidak kenal siapa kamu." Tegas Huda.
"Malaikat Allah? Hahaha! Kau bahkan takut bukan karena Allah lagi tapi kau menuruti kemunafikanmu yang ingin menyelamatkan nyawa ibumu yang diatur Allah, kau menentang Allah dan memilih menyelamatkan ibumu bukan?" Kacau setan itu.
"Munafik?" Jawab gagap si bocah lugu yang patuh dengan ajaran kakeknya yang ulama di Aceh itu.
"Malaikat Allah hanya mencatat amalmu dan termasuk kemunafikanmu selama ini," ejek mahluk yang dikutuk itu.
Huda menghela nafas panjang dan merasa kini nasibnya sudah dicatat sebagai manusia durhaka dan masuk ke dalam golongan ahli neraka, dia menyerah dengan ini semua.
"Dan Allah itu menggiringmu untuk mengalami ini semua namun kamu sudah tidak punya kesabaran, kau bahkan melawan keangkuhan pamanmu dengan uang haram... Kau membuat nenekmu hidup kembali dengan uang dari Dajjal!" Tunjuk setan itu ke depan muka Huda.
"Astaghfirullah..." Huda menutup matanya dengan jantung yang berdegup kencang membayangkan panas api yang akan dia rasakan di hari penghukuman.
"Jika kau ikhlas dengan pengalamanmu ini semua dengan sabar dan menjalaninya saja sesuai kehendak Allah meski kau di jalan hitam maka pasti kau akan menemukan hikmahnya..." Bijak setan itu merayu.
"Mengikhlaskan ini semua?" Huda membuka matanya kembali, namun betapa kagetnya dia bahwa mahluk menyeramkan itu kini sudah tidak ada lagi di kamarnya.
"Mimpi kah aku tadi?" Huda mencoba menggerakan kedua tangannya dan kemudian bangkit dari baringnya.
"Tapi terasa begitu nyata bagiku..." Huda mengusap wajahnya dengan tangan kanan dan menarik nafas dalam-dalam.
Huda berusaha tidak meghiraukan pengalaman itu tadi, "Huda..." Terdengar suara lembut Mariam.
Ibu yang telah melahirkan Huda itu membuka pintu kamar Huda pelan, "sudah Maghrib Huda, bangun lah untuk sholat!" Panggilnya ramah dengan senyum.
"Ibu..." Huda merangkak menuruni tempat tidur.
Mariam melihatinya dengan seksama gerak-gerik Huda yang terlihat begitu letih.
"Ibu..." Huda berjalan pelan menuju Mariam dan memeluknya dengan lemah dan terisak-isak.
"Ada apa Nak?" Mariam membalas pelukan Huda dengan cemas.
"Maafkan aku Ibu..." Huda mengalirkan banyak air mata dengan hati remuk yang penuh hantaman dari segala arah.
"Aku Ibumu dan aku yang melahirkanmu... Aku merawatmu sejak engkau tidak bisa apa-apa hingga bisa berbicara dan berjalan... Aku akan terus memaafkanmu Huda..." Mariam mengusap kedua pipi Huda dengan menitikkan air mata haru sambil menyembunyikan kecemasan dan tanda tanya amat besar atas apa yang disembunyikan Huda di belakangnya.
Dengan sabar Mariam menunggu kesiapan Huda untuk membuka semua tabirnya dan senantiasa berdoa semoga ia tidak terlambat mengetahuinya.
Keesokan harinya ada keramaian terjadi, terjadi penemuan mayat kawan sekolah Huda di jalan yang berada di tengah kebun sawit.
Siang itu awalnya Huda berangkat sekolah seperti biasa namun di tengah perjalanannya dia sangat kaget karena ada banyak warga berkerumun di depan rumah kawannya.
"Di sini pasti sudah banyak penjahat yang menculik anak-anak... Namun tujuannya untuk apa ya?" Adu seorang ibu-ibu kepada kawannya untuk berghibah.
"Kurang jelas, mungkin untuk dijual tapi Hasan mampu melarikan diri..." Jawab temannya.
Huda tercengang mendengar itu dan langsung terburu-buru melanjutkan langkahnya ke sekolah.
"Hasan kah itu yang meninggal?" Gumam Huda tak habis pikir.
Huda berjalan dengan pandangan kosong karena memikirkan nasibnya sendiri.
Dan di tengah perjalanan tiba-tiba ada yang memanggilnya, "Huda!" Katanya dengan suara yang sangat pasti Huda kenal.
Mata Huda terbelalak hingga bulat sempurna.
"Hasan?!" Huda merinding melihat tubuh kawan sekolahnya yang sering bermain layang-layang dan sepak bola dulu kini memucat dengan lubang berdarah terpajang jelas di kepalanya yang menjadi retak karenanya.
Sosok yang dia maksud adalah Hasan itu mengangguk pelan dengan mata tajam ke depan tanpa berkedip, wajahnya menghadap ke arah Huda namun sorot mata Hasan terasa meneropong jauh.
"Aku akan segera ikut rombongan orang-orang berbaju putih itu" kata anak itu sambil menunjuk ke arah timur.
Huda menoleh ke arah itu namun ia tidak mendapati apa pun sehingga dia melihat Hasan lagi.
"Dan mungkin jika kamu menyusulku, kita tidak akan bertemu karena kamu sangat hitam." Kata Hasan tanpa berkedip.
Hati Huda seketika merasa takut dan jantungnya berdegup keras dan cemas.
"Hasan!" Panggil Huda kepada kawannya yang melambai-lambai lalu lenyap.
"Hasan?!" Huda melihat ke segala arah namun tidak di dapatinya sosok Hasan.
"Hasan aku takut!" Cemas Huda yang kini merasa ketakutan.
"Hahahahaha!" Suara dari jauh terdengar, seperti familiar, itu seperti suara jin yang tadi malam mendatanginya.
"Ya Allah tolong aku!" Pekik Huda sambil berlari ke sekolah.
Huda menjalani harinya di kelas dengan was-was, dia terbayang-bayang dengan Hasan yang mengatakan bahwa ia akan tidak ikut dengan rombongan orang-orang berbusana putih.
Namun saat dia pulang sekolah, lamunannya dan suasana hatinya berubah drastis saat dia melihat temannya yang berseragam kusam dan bersepatu kusam diejek oleh teman-temannya. Dengan wajah sedih anak itu tertuntuk, sementara teman-teman laki-lakinya yang berambut cepak rapi dengan kemeja putih bersih menyilaukan mata dan celana merah cerah juga bersepatu hitam mengkilat, mereka sedang menunjuk-nunjuk sepatu si kawan malang itu sambil tertawa gelak.
"Jebol! Hahaha!" Timpal si cowo kelas lima yang berperut tambun namun tidak menggemaskan sama sekali sebab rautnya congkak.
"Iya dia kan tadi jalan kaki eh terus mangap sepatunya! Hahaha!" Tambah kawan satunya yang lebih kurusan menahan sakit perut dengan tertawa lebar.
"Ahahaha! Kaos kakinya juga bolong! Seperti kena laser itu sepatu jebol tembus ke kaos kakinya juga hahaha!" Si berkacamata yang lebih tinggi dari yang lain ikut terpingkal-pingkal.
Huda yang menyaksikannya dari kejauhan dengan muka merengus mulai berjalan angkuh mendekati kerumunan itu lalu berdiri memperlihatkan mata singanya yang dingin ke muka genk itu.
"Hahahahup!" Si tambun berukuran sepatu tiga puluh itu diam.
"Ada apa Huda kok kamu yang baper?" Si berkacamata membenahi mata tambahannya.
"Kalian pulang!" Huda merangkul temannya yang rapuh itu menjauhi mereka.
"Hahaha kupikir suhu ternyata culun! Huu dasar Huda sok pahlawan! Udah kesiangan ini udah jam satu kali!" Seru si tambun.
"Sudah ga usah didengerin! Mereka itu cuma makan numpang orang tuanya ga bisa cari makan sendiri!" Hibur Huda dengan nada tegas.
Kawannya itu berjalan dibawah rangkulan Huda dengan masih menunduk malu. Huda membawanya ke tempat sepi.
"Besok kamu kubelikan seragam dan sepatu baru!" Huda tahu persis bahwa kawannya yang bernama Ruli itu sebenarnya anak yatim piatu jadi tidak ada yang merawatnya selama ini kecuali neneknya yang hidup sebatang kara tanpa sanak keluarga.
"Uang dari siapa Huda?" Kawannya itu mulai melepaskan kekesalannya, dia mulai terisak-isak merasakan perih di sanubarinya.
"Aku kerja sendiri Ruli!" Jawab Huda percaya diri.
"Kau kerja dimana kok bisa dapat banyak uang? Ajak aku lah! Aku butuh biaya berobat buat nenek! Kemarin dia jualan daun pisang jalan kaki ke pasar dan pas melewati perkebunan dia kehujanan dan sekarang badannya meriang... Makanya aku kelaparan karena kami tidak ada uang buat makan..." Rengek Ruli.
"Nih!" Huda mengeluarkan dua lembar uang merah dari tasnya.
"Dua ratus ribu? Serius kamu Huda?" Kaget Ruli.
"Iya dan ini untuk biaya kamu dan nenek kamu cukup untuk dua hari, besok aku kasih lagi jadi jangan sedih! Jangan sampai uang ini melayang dirampas orang, cepat simpan! Banyak orang mata duitan di sini." Huda langsung berlalu mengambil sepedanya dan mengayuh cepat meninggalkan Ruli yang tercengang sambil membuka tasnya untuk menyembunyikan uang itu.
Sementara Huda di kejauhan dia menanti sesuatu di depan kios kosong, dia yakin akan ada yang menghampirinya untuk meminta dikurirkan paketnya.
Dan benar saja, ada seorang pria memakai penutup muka dan berjaket tudung kepala datang sambil membuang sebungkus kantong kresek ke pangkuan Huda.
Huda menyimpannya ke tas lalu segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia langsung ke rumahnya dan memasuki kamarnya. Huda mengunci kamar itu dan membuka isi tas.
"Polisi Akbar?" Baca Huda dari tulisan di dalam kantong kresek berisi jajanan-jajanan pabrik.
Huda sekarang bingung mencari dimana orang bernama polisi Akbar. Akhirnya dia berpikir dan tak lama kemudian dia mendapatkan ide untuk bertanya ke ibunya.
"Ibu!" Huda membuka kunci pintu kamarnya dan bergegas menuju dapur, menghampiri ibunya.
"Ya, ada apa Huda?" Jawab ibunya sambil mengaduk lodeh bersantan kental.
"Polisi Akbar itu siapa?" Huda duduk di kursi dekat meja makan.
"Itu warga RT sebelah... RT tujuh belas ada polisi di situ namanyak Pak Akbar, orang pindahan dari Jakarta... Ada apa?" Ibunya Huda berbalik badan sambil mengecilkan api kompor.
"Ga apa, aku mau ke rumahnya sebentar Bu..." Huda beranjak dari duduknya dan bersiap pergi.
Namun tiba-tiba tangannya dipegang erat oleh ibunya. Mariam menggeleng berkali-kali dengan mata melas.
"Ada apa Bu?" Huda heran melihat tangan ibunya kuat mencengkram.
"Kamu mau apa ke sana? Emang kamu punya hubungan apa dengan kejadian yang Hasan alami?" Ibunya cemas.
"Hasan?" Huda tak paham.
Melihat gelagat respon Huda yang polos, Mariam percaya bahwa Huda ternyata tidak ada hubungan apa-apa dengan kejadian naas yang dialami oleh Hasan. Sehingga dia melepaskan tangan Huda pelan-pelan.
"Pak Akbar itu adalah polisi yang menangani kasusnya Hasan.." singkat Mariam.
"Apa?!" Mata Huda terbelalak bulat.
Huda kini jadi paham dengan apa yang dialami Hasan, kurang lebihnya Huda berpikir mungkin Hasan menolak mengirim barang. Wajar jika terbunuh, sebab Huda hampir mengalaminya. Dan Huda yakin Akbar mungkin pelaku pembunuhan Hasan dengan pistolnya dan karena ini kasus yang dibebankan kepadanya maka pasti Hasan dikira mati biasa. Pasti Akbar menutupinya.
Namun bukannya takut, Huda justru semakin penasaran. Dia berlari ke kamarnya dan mengambil tasnya. Tanpa mempedulikan ibunya yang terus memanggil untuk melarangnya pergi, Huda melesat bersama sepedanya.
Setibanya di rumah Akbar, "tok tok tok!" Huda mengetok pintu rumah polisi Akbar pelan.
Dengan pelan Akbar membuka pintunya, "siapa?" Katanya.
"Huda" jawab anak itu singkat.
Huda melirik ke bawah, melihat Akbar memegang pistolnya.
"Bapak polisi Akbar?" Huda memastikan.
"Ya, aku sendiri!" Tegas polisi berusia sekitar empat puluh tahun itu.
Huda membuka tasnya dan mengeluarkan sekantong plastik kresek berisi jajanan pabrik. Polisi Akbar melihatnya dan menyuruhnya masuk rumah.
Dengan menghirup dalam-dalam oksigen ke relung dadanya, Huda memberanikan diri memasuki rumah polisi yang masih menggunakan baju dinasnya itu.
"Ini ongkosmu!" Siapa sangka, Akbar mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
"Terima kasih" jawab Huda sambil mengulurkan bingkisannya.
"Kau begitu pemberani, aku heran bagaimana caranya Bob bisa mendapatkan pegawai yang kerjanya on time seperti kamu ini!" puji Akbar.
"Hehe" Huda menerima amplop itu sambil pasang muka cengar-cering kemudian berlalu keluar rumah si Akbar dengan berpikir masak-masak.
"Oh, jadi pria yang menyiksa aku itu mungkin salah satunya adalah bos seperti Akbar yang sekarang dia mencari anak buah! Bob! Pantas lah jika Akbar mencari anak buah, dia orang pindahan dari Jakarta pasti bingung mau melakukan apa agar bisa jualan itu!" Tukas Huda sambil mengendarai sepedanya dengan laju untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Huda menyimpan amplop itu di bawah kasurnya. Kemudian dia menjatuhkan diri ke kasur itu sambil menerawang langit-langit kamarnya.
"Jika bukan karena aku, seluruh gerak-gerikmu akan dilihat orang lain!" Ada bisikan terdengar di telinga kiri Huda.
"Hah?!" Huda terkaget sampai berdiri di lantai dengan spontan, dia tidak ingin dikerjai oleh mahluk asing kemarin.
"Aku membuat orang tidak mengawasimu meski mereka sedang lewat di depanmu saat kamu mengantar barang itu!" Bisiknya lagi ke telinga Huda.
"Siapa namamu?" Huda mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya namun hanya kosong...
"Namaku adalah ..."
"Namaku adalah Zanum" kata mahluk itu menyeringai.
"Zanum?" Huda tertegun.
"Dan jangan pernah panggil namaku sembarangan kecuali jika kau terdesak." Lanjut mahluk itu.
"Kau selama ini menyembunyikan aku dari penglihatan orang-orang saat aku mengirimkan barang ini?" Tegas Huda ingin memperjelas pengetahuannya.
"Aku tidak meminta imbalan apa-apa darimu namun aku akan menawan jiwamu ketika kau mati, dan kau akan ikut aku selamanya di dalam api neraka.." bisik Zanum ke telinga kiri Huda yang tidak bisa melihat wujudnya.
"Kenapa ini semua terjadi kepadaku?" Huda sedikit protes.
"Sesungguhnya engkau bukan orang biasa dan apakah engkau tahu bahwa ayahmu itu bukan ayah kandungmu?" Zanum singkat.
"Apa?" Huda terbelalak syok.
"Ya! Karena sesungguhnya ayah kandungmu ada di Jawa Timur sedang tinggal bersama istrinya dan anak-anaknya!" Bisik Zanum.
"Hah? Dari mana kau tahu itu?" Huda keheranan.
"Sesungguhnya sejak kecil aku ini sudah mengawasimu dan waktu itu ada orang licik ingin memanfaatkanmu, namun mereka melakukan itu sesungguhnya tidak sembarangan... Ada alasan lain... Dan tidak semua orang seperti mereka..." Zanum menjelaskan sepenggal-penggal sehingga Huda bingung memahaminya.
"Maksudmu bagaimana aku tidak mengerti!" Tukas Huda.
"Akan aku jelaskan pelan-pelan kepadamu agar kau paham sekarang... Bahwa pengedar narkoba yang mendatangimu sebenarnya tidak sama dengan pengedar narkoba lain... Mereka itu satanis... Dan mereka yang sudah menculikmu telah melihat wujudku yang mengawasimu..." Zanum.
"Lalu?" Huda penasaran.
"Ya, karena mereka melihatmu dekat denganku maka mereka menculikmu dan merekrutmu, berharap kau akan menerima tawaran untuk bersama dengan Lucifer dan menjadi mavia gembong narkoba besar ketika kau sudah dewasa untuk meruntuhkan sistem kepemerintahan negara ini!" Zanum bersuara tegas.
"Lantas apa yang akan terjadi jika aku menolaknya?" Huda.
"Kau tidak akan pernah sanggup untuk menolaknya sebab mereka akan benar-benar mengecam ibumu!" Zanum.
Huda menelan ludah.
"Tahu kah kau bahwa sesungguhnya aku ini sudah menyelamatkanmu?" Zanum lagi.
"Kenapa? Apa maksudmu?" Huda bingung.
"Sesungguhnya aku ini sudah dikontrak oleh ayahmu sebagai khodammu bahkan sebelum kamu ada!" Zanum.
"Dikontrak?" Huda.
"Ya, kami mengadakan perjanjian. Ayahmu sesungguhnya sudah banyak sekali menangkap jin dari golongan orang kafir, namun tidak ada tempat tepat untuk memenjarakan mereka selain ke tubuh anaknya sendiri yang dia yakini akan tumbuh besar menjadi mujahid di jalan Allah, dan ayahmu berharap anak-anaknya akan bisa membawa semua jin itu masuk islam. Namun kau kini masih dalam ujian Allah di usiamu sekarang belum ketahuan kemana takdir akan membawamu sebelum ajal menjemput akhir hayatmu!" Bisik Zanum.
"Jadi sebenarnya siapa ayahku sebenarnya, kenapa dia mewariskan kau kepadaku?" Huda heran.
"Cerdas, kau benar anak kecil! Ayahmu mewariskanku menjadi khodammu!" Zanum menyeringai.
"Lalu apa yang akan terjadi kepadaku setelah meminum darah itu? Darah di es itu kan?" Huda memastikan.
"Sekarang mata batinmu sudah terbuka, kau akan dapat melihat alam dunia lain. Tahu kah kau darah siapa yang kau minum itu?" Zanum memberi teka-teki sekali lagi.
Huda menggeleng pelan dengan jatung berdebar-debar.
"Darahnya Hasan..." Bisik Zanum.
Huda syok sampai terduduk.
"Karena itu kau bisa melihat arwahnya... Hahaha!" Zanum.
"Jadi selama itu Hasan sudah diculik dan hilang? Pantas saja dia tidak pernah terlihat di sekolah!" Huda lemas.
"Ya, sejahat itu lah manusia.. mereka mengatakan beragama Islam tapi munafik!" Ejek Zanum.
"Aku tidak bisa memaafkan orang itu!" Huda meneteskan air mata, hatinya sangat terpukul mengingat Hasan yang pasti diperlakukan lebih keji darinya ketika dulu diculik.
"Jadi lah lebih besar dari sekarang dan balas lah dendam-dendammu kepada mereka setelah kau dewasa! Perbanyak lah khodammu agar bisa melawan satanis ketika kau sudah dewasa bahkan jika perlu berdebat lah dengan Lucifer!" Bisik Zanum.
"Apakah aku akan bisa melakukannya?" Huda mengelap air matanya.
"Apa yang bisa kau lakukan pasti akan sangat luar biasa dan bisa menghancurkan masa depan mereka! Perbagus lah kemampuan fisik dan pikiranmu!" Suara Zanum terdengar menjauh.
Huda mulai termakan oleh bujuk rayuan Zanum, dia kadang berpikir ini pasti salah jika mengikuti omongan mahluk itu sebab dia itu setan. Namun kadang kala ucapannya itu bisa dibenarkan juga.
Huda bertekat saat itu akan tumbuh dewasa dan menjadi malaikat pencabut nyawa yang akan memporak porandakan organisasi terkutuk itu.
Dengan yakin Huda bangun dari kasurnya dan menuju tempat wudhu.
"Sholat lah sebelum disholatkan! Ingat, aku bukan satanis tapi aku ini setan! Kau tidak perlu menjadi seperti ku, aku akan tetap ada di dekatmu..." Suara Zanum terdengar dari kejauhan.
Huda tidak menghiraukan dan dia mengambil air untuk membasuh tubuhnya, dan kemudian menegakkan sholat magrib.
Selesainya Huda melakukan sembahyang, Mariam datang menghampirinya, "kamu makan gih, makanan sudah matang Huda..." Ajaknya.
"Ibu, nanti kalau aku sudah lulus kelas enam, aku ingin dimasukkan ke pondok pesantren yang ada di Jawa Timur..." Kata Huda dengan wajah polos.
Namun kalimatnya itu membuat mata Mariam terbelalak sampai memegangi dadanya sendiri seolah tidak kuat menahan genderang jantungnya
"Ada apa Ibu?" Huda mengamati raut wajah ibunya.
"Itu kan jauh, Huda!" Kata Mariam.
"Iya tapi aku mau latihan menjadi calon imam yang baik untuk Ibu dan aku mau tumbuh besar menjadi seorang pembela agama Islam seperti kakek!" Jawab Huda mantap.
"Tapi Ibu tidak bisa bebas jumpa sama Huda, biaya berangkat dan pulangnya mahal Nak... Dan Ibu bisa kangen sama Huda... Takutnya Ibu jatuh sakit karena menahan rindu..." Bujuk Mariam.
"Ibu?! Ibu ini kan seorang muslimah, seharusnya saat Allah menginginkan anak Ibu berangkat ke medan perang, Ibu mengikhlaskan supaya Huda diridlai mati sebagai syuhada..." Huda tak habis pikir.
"Tapi apa alasan sebenarnya kamu mulai berpikiran sekritis ini Huda? Ada apa? Jangan-jangan kamu sudah terdoktrin kelompok ajaran sesat teroris!" Maryam mulai meneteskan air mata dengan suara bergetar.
"Tidak Bu, aku tidak didoktrin siapa-siapa! Aku cuma mau mencari seseorang yang amat penting bagiku, seorang guru yang bisa mewariskanku ilmu hebat agar bisa berdiri menumpas orang-orang zalim!" Tekat Huda.
Mariam mengusap wajahnya terlihat sangat sedih, Karim tiba-tiba datang dan bingung melihat istri tercintanya menangis. Tidak pernah sebelumnya Huda membuat Mariam seperti ini. Ini artinya sedang terjadi masalah besar dalam rumah Karim.
"Ada apa Istriku?" Karim memegang kedua bahu Mariam.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedih, ketika mendengar bahwa ... Huda... Dia ingin ke Jawa Timur... Kalau dia sudah lulus SD... Katanya dia mau mondok pesantren di sana..." Mariam memeluk Karim.
Karim ikut syok mendengarnya.
"Aduh Nak, biaya mondok ke sana mahal... Ayah harus nabung mulai sekarang untuk itu..." Karim mulai terlihat panik.
"Apa kalian menyebunyikan sesuatu dariku?" Huda memasang wajah dingin.


Komentar
Posting Komentar