Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 7)

 
PERHATIAN, TULISAN DI BAWAH INI TIDAK UNTUK ANAK 
DI BAWAH UMUR DEWASA!
Catatan : Kisah ini sebagian ada diambil dari kisah nyata pasien dari penulis dan dikombinasikan dengan plot lebih menarik.

Daftar tautan bab lain, silahkan klik link di bawah ini:







Bab 7 Dewi Satanis


 Kondisi Huda keesokan harinya semakin membaik, mereka kembali ke hotel dan membicarakan rencana pelan-pelan.Sambil sarapan di balkoni kamar, mereka berbicara ringan tentang komunitas satanis di Jakarta.

"Mereka mungkin tahu alamat sekte di Bandung itu makanya kita tanya ke mereka... Memangnya Alexis  tidak tahu kontak mereka kah?" Yuna menyuapi Huda makan.

"Komunitas satanis level tinggi seperti itu sangat rahasia mana mungkin ada yang mau kasih tahu" komen Alexis .

Huda hanya diam sambil mengunyah manja menikmati perawatan Yuna sambil mengelus-elus tangan Yuna yang digenggamnya.

"Astaga kau ini petinggi mereka!" Yuna memutar bola matanya, komandan di antara dua pria itu kini mendominasi dan semua keinginan Yuna pasti akan diikuti Huda, demi Huda akhirnya Alexis  menurut.

"Aku hubungi dulu temanku sebab aku ini bukan orang Illuminati..." Alexis  memeriksa gawainya dan mencari kontak, setelah menemukan nomor yang dia simpan, dia memanggil pemilik akun kontak itu.

"Halo... James... Apa kabar, aku Alexis  ..."

"Hei, baik, saudaraku... Kamu di Indonesia?"

"Ya, aku di Jakarta sekarang"

"Wow, ngapain?"

"Aku mencari kelompok Illuminati di Jakarta yang terdekat dari Hotel Mitra Cahaya nih.."

"Kelompok yang mana ya? Kelompok donatur, musik atau pesta?"

"Pesta" bisik Yuna.

"Pesta... Aku mau berpesta di Jakarta"

"Aku ada banyak kelompok pilihan untukmu, ada kelompok permainan milik para wanita haus, ada kelompok khusus pria juga.. mereka semua elite Jakarta... Dan sangat steril..."

Yuna melotot kaget, Alexis  melirik gadis itu agar segera memilih.

"Permainan para wanita haus" bisik Yuna.

"Aku ingin bersenang-senang dengan para wanita" nada Alexis  terdengar tertarik.

"Haha! Cocok untukmu! Aku kirim nomor kontak official-nya!"

"Bagus, terima kasih ya, aku lanjut kerja dulu.."

"Sama-sama, selamat bersenang-senang, hubungi aku jika butuh hal lain dan jangan lupa mampir ke tempatku untuk ngopi bareng.."

"Iya, Saudara... Sampai jumpa..." Alexis  menutup panggilan.

Yuna menghembus nafas panjang karena percakapan itu akhirnya berakhir.

Huda melihati wajah Yuna dengan manja, Yuna kembali menyuapi Huda. Huda tidak berkata-kata, dia mengunyah seperti anak kecil dengan ibunya.

"Jadi aku akan datang ke sana dengan kalian dan Keceng jadi pria-ku?" Yuna angkat satu alis tak habis pikir.

"Aku juga mau jadi pria kamu malam ini" goda Alexis  nakal sambil mengedipkan satu mata.

"Ah... Astaga..." Yuna mengelap muka.

"Aku sudah menerima pesan dari adminnya, daftarnya tujuh juta untuk kelas standar dan pemesanan pria adalah tujuh puluh juta, boleh bawa pria sendiri... Acaranya adalah setiap hari rabu malam pukul sepuluh... Hm..." Alexis  membaca pesan di gawainya.

"Malam ini?" Yuna tercengang.

Huda hanya diam mengunyah makanan dan mencium tangan Yuna sekali lagi kode menurut, mengambil gelas jus jeruk dan meminumnya dengan damai.

"Astaga.." Yuna mengurut jidatnya.

Malamnya mereka benar-benar datang ke tempat itu, Yuna mengenakan gaun mahal yang dibelikan Alexis  di butik dengan sepatu berwarna silver dengan hak tinggi, make up natural yang menjadikannya terlihat seperti boneka hidup, kulit putihnya memukau mata yang meliriknya.

"Alexis Alexis " kata si mata biru berambut pirang dengan sedikit angkat dagu ke admin resepsionis yang seksi.

"Siapa mereka?" Tunjuk wanita berambut anggun dengan pulpennya.

"Ini lah ratuku malam ini bersama rekanku... Aku ingin menghiburnya malam ini dengan pesta kelompok sosialita di Jakarta sebelum kami kembali ke Paris.." kelit Alexis.

"Oh, silahkan... Ada banyak atraksi yang akan dipertunjukkan.. dan semua pertunjukan itu berbayar... Misalkan saja pertunjukan jam sebelas, maka pertunjukan jam dua belas harus bayar jika ingin lanjut menikmati... Begitu juga pertunjukan jam satu malam harus bayar... Puncaknya sampai jam empat pagi... Dan di sesi itu kalian bisa bertemu dengan para founder jika ingin bernegosiasi bisnis... Mereka tidak akan datang sejak awal... Jadi kalian harus bertahan di pesta ini jika ingin naik level member..." Prosedur ini baru dijelaskan sekarang.

"Enam kali pertunjukan? Berapa biaya semuanya?" Yuna bertanya tak kalah fasih dengan bahasa Inggrisnya.

"Lima puluh juta sekalian denganp endaftaran V.I.P kami sedang ada promo untuk member baru... Di level member ke dua kalian bisa ikut arisan..." Jelas si admin beraura memikat itu.

"Ah, Alexis  tolong transfer uangnya..." Yuna angkat alis.

"Fu..." Siul si admin dengan senyum berbunga-bunga mulai bermain dengan pikirannya yang menganalisis tentang siapa sih gadis berambut lurus panjang sepinggang ini.

Alexis mengambil gawainya dan mentransfer jumlah uang ke nomor rekening di kartu yang baru saja admin sodorkan.

Mereka kemudian dipersilahkan masuk, setiap orang yang datang terpana melihat si boneka bergaun sutra merah darah menggandeng dua pria bertuxedo hitam branded yang mengawalnya dengan penuh karisma.

Alexis mempersilahkan Yuna untuk duduk di sebuah sofa mewah panjang dekat panggung, ukurannya sangat pas untuk mereka bertiga, di meja kosongnya itu segera diisi pelayan dengan camilan mewah dan minuman mahal.

"Jangan pasang wajah syok karena pertunjukan akan mempertontonkan banyak penyiksaan kepada para pria... Ini pesta Slave and Master para masokis.." bisik Alexis , Yuna menelan ludah sambil mengangguk pelan.

"Aku mau donk disiksa.." Huda mengecup punggung tangan Yuna mesra membuat iri ibu-ibu sosialita di sampingnya.

"..." Yuna menoleh ke Huda sambil senyum cringe.

"Di sini aku terpaksa akan terlihat sangat bergairah kepadamu karena ini pesta grup pecinta ..." Alexis  mendekati leher Yuna pelan dan mengecupnya pelan.

Yuna melirik Huda yang memasang muka masam ke Alexis .

"Pok!" Huda menampar pelan dengan tangan di belakang kepala Yuna.

"Dia milikku!" Sinis Huda.

Alexis  melet meledek.

"Hahaha!" Ibu-ibu bergaun mewah di sebelah sofa mereka tertawa.

Yuna tersenyum kecil.

"Nona memang mengagumkan... Selamat menikmati pesta ini, jangan sampai pria-pria kamu berantem yah!" Katanya lagi sambil mengipas-ngipas sementara berondong di sampingnya senyum sopan ke Yuna yang hanya melirik.

Host naik ke panggung dan senyum kepada Yuna yang terlihat sangat cerdik sebab tidak mendaftarkan dirinya ke buku tamu melainkan menggunakan identitas Alexis , admin di belakang acara berpikir Yuna itu orang berpengaruh yang misterius. Taktik Alexis  jitu tepat sasaran dan itu semua menjadikan misi mereka berjalan mulus sementara ini.

Sambutan istimewa kepada Yuna diluncurkan manis dan kemudian ada pertunjukan erotis tarian sensual seorang pria menawan bertubuh seksi di atas panggung yang kemudian disusul oleh pria lain dan mereka menari selayaknya pasangan yang penuh birahi diiringi musik.

"Kamu jangan minat sama mereka ya Sayang" bisik Huda.

"Gak lah" bisik Yuna sambil tersenyum tipis.

"Hm..." Bisik Alexis  tak mau kalah.

"Jadi kalian berdua nanti seperti itu di depanku huh?" Sindir sinis Yuna.

Huda langsung mengambil tangan Yuna dan menciuminya berkali-kali kode minta maaf begitu pula Alexis  mengambil pelan tangan kiri Yuna dan mengecupnya lama dengan pesan yang sama dari Huda.

Ternyata jumlah pria semakin bertambah, mereka megedarkan diri ke sisi sofa-sofa tamu dan mempertunjukkan tarian erotis.

"Oh waw!" Yuna menepuk tangan terkesan dengan pandangan mata berkelas disusul tamu lain.

Alexis  melirik Yuna menilai cara akting Yuna yang baik, dia memang pantas menjadi seorang bangsawan.

Pria-pria itu kemudian beratraksi ektrem dengan api dan rantai juga cambuk. Ternyata jam sudah pukul dua belas tepat, mereka sebagian dicambuki dan menerimanya dengan wajah-wajah memohon ampun manja.

Yuna memicingkan matanya, bibirnya tersenyum sinis.

"Ah.. aku mau.." Huda menelan ludah sembari meremas manja tangan Yuna.

Pertunjukan selanjutnya mempertunjukkan mereka sebagian pria yang disayat-sayat pedang dan pisau, ruangan itu kini dipenuhi suara musik dan erangan.

"Oh..." Yuna terkerjab.

"Ugh..." Alexis  menganga.

Pertunjukan menjadi sadis ketika datang para wanita yang berpakaian ketat dan menonjolkan bagian tubuhnya menyiksa pria-pria yang mulai diikat tali dan dikenakan rantai belenggu di tubuhnya.

"Ugh..." Yuna menelan ludah dan menahan mentalnya yang loncat-loncat.

Jam semakin berlalu dan pertunjukan semakin gila, dipertunjukkan ketika seorang pria akhirnya tewas mengerikan dan darahnya diminum manja oleh para wanita algojo yang berbusana menggairahkan di atas panggung yang bertirai penuh percikan merah.

Yuna mengambil rokok di tasnya dan mulai menyebat karena stres harus menyaksikan kekejian ini. Sementara

Huda mengemut jari tengah Yuna tanpa sadar karena mentalnya mulai berguncang menyaksikan apa yang ada di depannya. Melihat dua orang itu sedang menahan tegang, Alexis  membelai-belai bahu Yuna agar gadis muda itu tenang melanjutkan acara ini.

Jam bergulir ke angka empat dan disitu musik trance mulai diperdengarkan, orang-orang di ruang mulai mabuk dan mengonsumsi obat-obatan terlarang.

"Kamu harus pura-pura mabuk" bisik Alexis  kepada Yuna sambil menyodorkan segelas minuman aggur.

Huda mengambil gelas itu dan meminum airnya, " Nona masih dalam pengobatan dokter... Jangan..." Belanya.

Yuna justru mengambil gelas Alexis  dan meneguk airnya cepat.

"Sayang?" Huda melotot.

"Segelas aja.." senyum Yuna menenangkan.

Alexis  mengambil dua botol anggur dan meneguk semua isi botol itu tanpa jeda. Yuna bertepuk-tepuk menyemangati Alexis  yang kuat minum.

"Ah..." Huda tidak ingin mabuk agar bisa mengawasi kekasihnya, dia lebih memilih mengecup leher Yuna dan memeluknya manja.

Orang-orang mulai menari di sisi kosong samping sofa mereka dengan pria-pria baru yang datang. Sementara mayat di panggung dibereskan dan darah dipel dengan air alkohol.

Alexis  berdiri sempoyongan menggandeng Yuna untuk berdiri dan gadis itu menari mengikuti ritme musik. Huda meneguk segelas anggur lagi lalu berdiri menari memeluk Yuna sambil menciumi pipi gadis itu.

Kemudian pukul lima musik itu memelan dan para founder muncul dari balik panggung dan memperkenalkan diri.

Orang-orang duduk dan melakukan tanya jawab dengan mereka. Dalam kondisi mabuk justru obrolan berat tentang event selanjutnya dirundingkan, taktik bisnis yang mujarab memang.

Yuna melambai pelan dengan anggun ke seorang wanita bernama Alexa itu dengan muka sedikit tablo. Wanita beraura mistis itu mendekati Yuna dan seorang pria datang membawakan kursi untuknya agar bisa duduk di hadapan Yuna dengan nyaman.

"Aku ada pertanyaan kepadamu..." Tutur Yuna dengan senyum berat.

"Apa pun Nona" sambut Alexa yang mancung seperti bule dengan ramah.

"Aku mau ke Bandung.. aku dengar ada komunitas yang sering ritual di sana dengan media pohon besar... Pasti unik banget..." Pancing Yuna.

"Boleh lihat kartu keanggotaanmu?" Alexa tersenyum sopan.

Alexis  merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cincin berpermata biru dengan logo busur dan jangka emas di dalam permata tembus pandang itu, dia mengenakan cincin itu di jari manis kanannya dan meletakkan tangan itu di paha kiri Yuna yang seputih susu tersibak dari belahan rok gaun sutranya yang mahal.

Alexa megangkat kedua alisnya dan sedikit menyembunyikan wajahnya yang terkejut.


"Woah, kamu pasti dewi Minerva!" Alexa menepuk-nepuk tangannya dengan wajah bangga.

"Sebuah kehormatan untuk kami bisa menyambut... Kenapa tidak daftar sebagai tamu premium tadi?" Alexa menunjukkan liontin permata merah yang di dalamnya ada logo satu mata.

"Aku kan mau lihat dulu... Lagian aku dadakan aja mampir ke Jakarta... Dan pertunjukan tombak tadi bagus juga... Dia tidak sia-sia mempersembahkan jiwanya..." Yuna melirik Huda yang tersenyum kecut.

"Yah, dia sudah menyerah di tengah jalan dan sudah berada di puncak tujuannya... Dia bodoh tidak menandatangani kontrak dengan permohonan yang bagus... Kenapa cuma tujuh milyar... Setelah dia dapat... Tamat kan!" Alexa mengangkat bahu.

"Hahahha!" Yuna tertawa keras terbahak-bahak, wajahnya berubah. Semua tamu di ruangan sampai seluruhnya memperhatikan.

"Uw..." Alexa sampai merinding melihat wajah Yuna yang bengis.

Huda tercengang melihat Yuna yang tidak pernah seperti itu, "ssst jangan menarik perhatian banyak orang Nona!" Bisik Huda.

"Ah tidak apa... Biasa..." Alexa menenangkan.

"Hahaha... Manusia tidak punya otak seperti setan sok sok an ingin jadi satanis!" Yuna memasang mata picik menusuk kedua mata Alexa yang tiba-tiba saja ketakutan.

"Aduh, panas!" Alexa merasa badannya seperti dibakar api ketika Yuna memandang matanya, dia langsung memalingkan muka dari gadis itu.

"Berikan alamat itu!" Alexis  merasakan ada yang gawat, sebelum khodam Alexa sadar siapa Yuna dia langsung memberi perintah.

"Di belakang gedung sekolah SMA tiga! Cari lah... Ada orang namanya Heru Johnson... Dia ketuanya.." Alexa berdiri cepat dan langsung kabur sambil mengusap-usap kulitnya yang kepanasan.

"Yuna!" Bisik Alexis  tegas.

"Apa?" Yuna bingung.

"Kamu itu punya mata bercahaya seperti malaikat! Jangan pakai itu atau kita akan ketahuan!" Alexis  panik sambil menggandeng Yuna, di bangkit dan berjalan keluar.

Yuna menggandeng Huda yang mulai linglung agar tidak tertinggal di tempat itu.

Sesampainya mereka di luar gedung itu, Alexis  memanggil taxi dan mereka langsung bergegas meninggalkan zona itu.

"Ah... Astaga... Leganya..." Alexis  menggigit bibir dan cepat merogoh sakunya untuk megambil ponselnya dan menelpon James.

"Halo, Saudara... Bagaimana acaranya?"

"Fantastis Saudara, tapi aku punya permintaan urgent"

"Ah? Ada masalah kah?"

"Bilang sama mereka untuk jangan membicarakan keberadaan kami ke siapa pun atau kami akan memindahkan mereka!"

"Ah, iya... Apa kau membawa orang lain?"

"Ya, keluarga elite... Elite khusus... Kelas tiga puluh tiga!"

"Oh, Lucifer! Baik lah!"

Dan panggilan itu ditutup begitu saja oleh James yang terdengar sedikit syok.

"Memangnya ada apa sih?" Yuna penasaran.

Huda merangkul bahu Yuna dan mencolek memberi kode supaya jangan bahas dalam taxi.

"Ah oh ya, em.. Ayo kita makan, aku lapar!" Yuna membuang nafas kesal.

Mereka menuju sebuah restoran di dekat hotel dan mulai berbincang lagi setelah sang pelayan yang menyuguhkan makanan pergi.

"Kamu harus memakai kacamata nanti jika ke sana..." Alexis .

"Ah konyol! Aku punya kartu V.I.P dari iblis!" Yuna menyilang kaki dan bersandar.

"Cahaya dari aura matamu bisa membakar mahluk di tubuh mereka!" Alexis  memperingatkan.

"Iya kah!" Yuna melotot kepada pria bule itu dan Alexis  langsung berpaling.

"Aku sudah katakan!" Bule itu menutup matanya dengan satu tangan.

"Hum!" Yuna melotot ke Huda tapi dia justru tertawa seperti orang stres.

"Nah, Keceng ketawa tuh!" Tunjuk Yuna sambil tertawa kecil ikut stres.

"Hahaha"

"Hahaha"

"Kalian gila! Kalian ini muslim!" Alexis  kembali mengingatkan jati diri mereka.

"Oh iya aku lupa!" Yuna menutup mulut dengan jemarinya yang indah.

Mereka kemudian menyantap makanan pagi itu seolah belum pernah melihat makanan, mereka memesan makanan lagi dan akhirnya berakhir dengan perut kenyang.

"Ah, tadi malam itu..." Yuna mulai teringat.

"Hoelk!" Tiba-tiba Huda mual.

"Kok kamu yang mual Yang!" Ejek Yuna.

"Entah lah! Menjijikan!" Huda bangkit dan lari panik mencari toilet.

"Dikeluarkan lagi itu makanan mewah!" Yuna sinis.

"Yuna, kau ini sebenarnya orang yang sadis ya?" Alexis  mulai kepo dengan kepribadian Yuna.

"Aku sejak kecil dibuli temanku... Mereka semua memperlakukanku kasar karena aku dulu dekil, berkulit hitam dan bajuku jelek-jelek!" Yuna tersenyum sinis.

"Oh..."

"Ya. Dan saat SMP mereka hampir saja melemparku dengan plastik yang diisi kencing! Mereka bersatu untuk menyingkirkanku! Bahkan guru pun bermain drama supaya aku yang dihukum kepala sekolah!

Sampai suatu hari aku pulang sekolah dan dalam kondisi masih telanjang belum ganti baju seragam, ayahku masuk kamar karena aku menangis histeris. Ayahku bertanya aku kenapa dan aku jawab guruku mendendaku lima puluh ribu karena aku buang sampah sembarangan!

Padahal yang membuang sampah itu adalah teman sekelasku!

Bahkan belum ada se-jam sampah itu di lantai!

Kau tahu itu sampah apa? Rautan pensilku! Dia meniupnya ke lantai!

Lalu ayahku ke sekolah dan mengatakan ke kepala sekolah bahwa dia mulai hari itu melarangku sekolah di sana, mogok masuk sekolah... Akhirnya guru BP ke rumah dan memohon supaya aku diijinkan ayah kembali sekolah lagi dengan mengantar surat panggilan untukku... Hahaha!"

"Loh, unik! Hahhaa!"

"Yah, itu kisah nyata! Belum lagi pembulian di SMA... Temanku yang menjual diri tapi teriaki aku... Dan... Aku akhirnya... Hahaha aku minta Huda menjual obat ke teman-temanku dan aku melaporkan mereka!" Yuna terlihat tidak menyesal.

"Ternyata masalalumu bersama Huda sudah cukup jauh juga ya?" Alexis  melihat Huda kembali dengan wajah pucat.

"Kamu tahu tidak aku akan muntah juga jika mencium parfum... Karena sebelumnya terus-terusan mencium darah dan alkohol!" Kata Yuna menyambut Huda yang duduk di kursinya kembali.

"Nah! Benar! Aku tadi mencium parfum.. bukan karena bermajinasi.." Huda berbisik cukup keras.

Huda, Yuna dan Alexis  menoleh ke belakang dan ternyata di kejauhan ada sekumpulan orang Arab duduk makan bersantai dengan kolega mereka.

"Ah, pantas lah! Habaib!" Komen Yuna.

"Habaib?" Alexis  melirik ke kumpulan orang Arab itu lagi.

"Para keturunan nabi Muhammad, salah satunya aku kenal... Dia sering muncul di TV..." Komen Yuna.

"Hoelk!" Alexis  berdiri dan lari ke belakang.

"Hahaha, hoelk!" Yuna menyusul berdiri dan lari ke toilet tunggang langgang.

"Astaghfirullah!" Kepala Huda terasa berat dan rasanya hampir pingsan.

Tanpa di duga gelagatnya di lihat seorang pria berusia sedikit senja di meja yang tadi. Pria Arab itu berjalan ke Huda dengan tertatih, seluruh orang di meja itu berdiri menyusul.

"Allahuma shali alaa Muhammad... Bismillahirahmani rahiim" pria bersorban itu mengusap tangan kanannya ke wajah Huda yang memejamkan mata dan seolah menarik sesuatu keluar dari kepalanya.

Dia berbicara dengan bahasa Arab dan berpikir Huda tidak akan mampu menterjemahkannya namun ternyata Huda paham maksudnya karena pernah mondok pesantren yang mewajibkan berbahasa Arab dan Inggris.

"Pemuda ini sedang mencari jati dirinya dan sedang berusaha melawan takdirnya yang malang... Namun dia dikelilingi oleh jin dan terus menekan dia supaya tersesat... Kita harus mendoakannya semoga dia meninggal dengan baik dan tetap dalam keimanan..."

"Baik syeh..."

Mereka kemudian kembali ke mejanya, Huda memejamkan mata dan pura-pura tidak sadar diri sambil merenungi ucapan imam tadi.

Ketika Yuna dan Alexis  kembali, baru lah Huda membuka mata.

"Kamu kenapa?" Yuna memegang wajah Huda yang pucat pasi.

"Tidak... Aku rasa ke Bandungnya sekarang aja..." Simpul Huda.

"Aku pesan mobil yang nyaman biar kamu bisa beristirahat di dalam mobil..." Alexis  mulai menekan-nekan nomor kontak rekannya yang di Jakarta.

Huda mengajak Yuna bicara dengan bahasa Indonesia, "aku tadi hampir mati, jiwaku mau dibawa seekor jin ifrit..."

"Lalu?"

"Habib di belakang itu datang dan menolongku dengan ruqyah"

"Lalu?" Cemas Yuna.

"Aku tidak tahu tapi aku ingin sholat sebelum ke Bandung"

"Yaudah, ayo!" Yuna cemas.

"Alexis ! Aku mau sholat dulu!" Huda kembali menggunakan bahasa Inggris.

"Oh, iya... Aku carikan mobilnya dulu, pergilah!" Alexis  fokus dengan gawainya.

Yuna dan Huda keluar ruang makan restoran itu dan mencari mushola restoran.

Orang-orang di mushola cukup kaget melihat Yuna dengan pakaiannya namun Yuna tidak bergeming, dia tetap mengambil wudhu dan mencari mukena mushola untuk menjadi makmum Huda dalam sholat taubat.

Setelah sholat taubat mereka duduk berzikir sedikit lama dan mengakhirinya dengan Yuna mencium tangan Huda.

"Istriku.." bisik Huda sambil menunduk serendah mungkin.

"...." Yuna terdiam.

"Maaf... Aku tidak bisa bertanggung jawab malah semakin meracunimu dengan duniaku"

Mendengar Huda, Yuna membanting kepalanya ke pangkuan pemuda itu.

"Sejujurnya aku capek kaya gini! Tapi kamu harus meneruskan! Aku kadang ingin kamu iklas dan berhenti! Tapi kamu berjanji akan memasukkan mereka semua ke Islam!" Yuna menangis iba.

"Iya! Jika memang ini caranya! Aku bersumpah tidak akan melakukan hal itu lagi kepadamu dan Alexis !" Huda memeluk Yuna yang menjawabnya dengan anggukan.

Mereka kemudian bangkit dan menuju restoran lagi, sang habib itu ternyata masih di sana dengan anggotanya. Dia melihati Huda dan tersenyum lembut.

Huda memandang wajah mulia itu dengan tertunduk malu, habib itu mengangguk pelan dan mengangkat satu tangan kanannya, Huda menjawab degan anggukan santun.

Yuna mengamati itu dan memalingkan muka bersembunyi di balik sisi Huda dan berjalan mengiringi abangnya itu dengan canggung.

"Dia benar-benar seorang waliyullah" bisik Yuna.

"Iya dia membawa hidayah kepadaku, Yang.." bisik Huda menghampiri Alexis .

"Aku sudah memesan dan kita bisa ke hotel dulu buat siap-siap..." Sambut si pangeran Denmark yang masih duduk di tempat hidangan.

"Baik ayo!" Sahut Huda terlihat lebih hidup sampai membuat Alexis  terheran.

Mereka kemudian keluar dari tempat itu menuju hotel untuk membersihkan badan dan berganti baju. Beberapa jam kemudian mobil mewah pesanan Alexis  datang untuk mengantar mereka ke Bandung. Itu adalah mobil Illuminati Co. Yang biasanya diperuntukkan antar-jemput para artis papan atas.

Setiba di Bandung mereka menginap di sebuah villa dekat dengan alamat SMA tiga yang disebut Alexa.

"Heru Johnson..." Alexis  duduk lega di sofa ruang tamu villa.

"Sraat!"

Sekelebat hitam muncul di bawah plafon mewah villa.

"Apa itu?" Yuna juga melihat sosok misterius itu.

"Jin!" Huda tak ragu.

"Ini villa orang satanis kah?" Tegas Yuna bertanya.

"Iya.. gratis..." Jawab Alexis .

Yuna megusap wajah dengan tangan.

"Kalau sebut nama itu kayaknya penunggu tempat ini merespon!" Yuna membuang muka.

"Ga seru donk setiap malam tidur ketindihan Yang!" Keluh Yuna ke Huda.

"Sst, aku peluk kamu nanti tenang!" Huda menenangkan.

"Tapi... Jika kalian tidak capek... Kita bisa kok langsung cari..." Hibur Alexis .

"Capek donk... Saudara... Mau tidur dulu..." Yuna naik ke anak tangga yang memutar.

"Sayang!" Huda berlari menyusul adiknya itu.

Yuna melihat-lihat isi gedung villa itu untuk menyelami suasana malam nanti.

"Astaga ini namanya istana vampir, anyir semua baunya!" Hidung Yuna sensitif.

"Awh... Sayang mau cari tempat lain kah?" Cemas Huda.

"Gausah deh... Aku gak lemah juga kok.." Yuna membuka pintu sebuah kamar yang ada balkoni besarnya.

"Di sini aja aku..." Yuna membanting diri ke kasur kuno besar yang empuk.

"Yaudah aku juga tidur di sini sama kamu... Bentar aku angkat koper dari bawah..." Huda keluar kamar.

Yuna bangkit dari rebahannya dan melihat ke kaca besar meja rias, lalu melihat ke lantai keramik yang punya flek bercak merah.

"Sampai jadi flek ya... Sedendam itu kah pemilik darah itu..." Pikir Yuna.

"Aku jadi penasaran karena ini kamar paling angker di sini..." Yuna mulai mencium aroma kopi, sepertinya Alexis  di dapur membuat minuman kopi panas.



Malam semakin menjelang dengan cepat karena mereka tiba sore tadi. Dan ketika malam benar-benar pekat, Huda mandi di kamar mandi dalam kamar luas yang sama dengan Yuna. Sementara Yuna sudah tertidur pulas pukul tujuh itu akibat terlalu kelelahan dengan perjalanan.

Dalam mimpinya dia melihat sosok putih pucat pasi mengenakan baju tidur ala Inggris. Sosok itu pria berambut pirang keriting panjang dengan darah mengalir dari bibirnya.

Tubuh Yuna tidak bisa bergerak dan dia sadar dia dalam mimpi, Yuna merasa jiwanya terjebak dalam jasadnya sehingga berat sekali baginya bangun dari tidur.

Pria itu menunjuk ke sebuah dinding dengan jari yang beruku hitam panjang. Yuna melirik ke dinding itu dan ternyata ada pentagram di sana, dinding itu menjadi berlubang seolah menjadi gerbang teleportasi dan pria hantu bule bermuka pucat seperti vampir itu memasuki lubang itu, setibanya di balik lubang bersinar itu dia berteriak sekencang-kencangnya.

"Lucifer!!!" Sampai memekik lengking dan serak, suara itu terdengar jelas di telinga Yuna.

"Hah?" Yuna membuka mata, mukanya terasa basah oleh air.

Ternyata Huda mengusap wajah Yuna dengan air.

"Ketindihan ya Sayang?" Mesra Huda sambil senyum tenang.

Yuna mengangguk pelan.

"Maaf mandiku lama ya... Yuk bobo..."

Huda merebahkan diri di kanan Yuna dan memeluknya kemudian membisikan ayat kursi dan sholawat berkali-kali sampai jatuh kesadarannya.

Sementara mata Yuna ces pleng melek lebar tanpa kantuk akibat pengalaman barusan.

Yuna mengangkat lengan Huda yang memeluknya lalu berdiri di hadapan dinding di samping pintu kamar, di dinding itu ada lukisan kuda hitam gagah berani sedang menerjang angin di tengah lautan.

Yuna mengintip dinding di balik lukisan itu sambil mengangkat sedikit lukisan itu.

"Hah?" Yuna terkaget sampai termundur.

"Uhm?" Telinga Huda sangat sensitif jika mendengar suara Yuna, dia membuka kelopak matanya sedikit.

"Kamu ngapain Yang?" Lirih pria yang tidur dengan kemeja putih itu.

Yuna yang sedang menggunakan daster putih sutra itu menunjuk ke lukisan besar dinding dan sigap Huda bangkit dari rebahnya.

Huda mendekati lukisan itu tapi hal aneh terjadi.

"Woash!"

"Buk!" Tubuh Huda terpelanting jauh ke lantai.

"Hah? Kok bisa?" Yuna tercengang.

Yuna sangat kepo, dia mendekat ke dinding itu lagi dan berhasil menyetuh bingkai lukisan itu. Tangannya berusaha mengangkat sedikit lukisan itu dan lagi-lagi tubuhnya terdorong ke belakang. Seperti ada gelombang elektromagnetik menyentuh dirinya namun Yuna terus melawan karena penasaran, dia juga ingin tahu apa yang akan dia alami dan terjadi jika memberontak kepada jin di rumah mewah ini sebab selama ini Yuna tidak pernah melihat jin selain di mimpi, dia ingin sesekali merasakan pengalaman ghaib yang nyata.

Namun gelombang itu seperti mengalah kepada tekat Yuna, dia tidak merasa terdorong lagi seperti di awal meyentuh.

"Yang! Angkat!" Yuna tetap memegang lukisan itu.

Huda bangkit dan lari kecil mendekati Yuna lalu mengangkat lukisan itu. Huda meletakkannya ke lantai dan betapa tercengangnya mereka.

Mata Huda terbelalak bukan main.

Di tembok itu ada pentagram dalam lingkaran auroboros. Di dalamnya ada foto-foto orang alim yang dipaku-paku kecil, di foto itu ada bercak darah yang disilangkan. Ada kertas-kertas rajah terpaku di situ juga.

"Alexis !" Pekik Yuna.

"Alexis !" Teriak Yuna lebih keras.

Huda membuka pintu kamar,

"Ya! Aku di sini! Ada apa!" Alexis  kelabakan tepat saat Huda membuka jalan masuk kamar.

"Shit!" Alexis  masuk kamar dan melihati foto-foto orang muslim di dinding itu.

"Mereka ulama berpengaruh di negeri ini. Apa maksudnya ini?! Bisa kau jelaskan!" Tunjuk Huda.

"Apakah mereka semua sudah tidak ada?" Alexis  pun heran.

"Yang ini pernah jadi presiden dan sudah tiada..." Tunjuk Yuna panik.

"Yang lain?" Alexis  ikut panik tidak paham.

"Masih hidup!" Tegas Huda.

Alexis  menghela nafas, "mereka diincar satanis! Ini satanisme! Beda dengan grupku!"

"Serumpun kan?"

"Tidak! Kami lebih ke masalah sosial dan bankir keuangan global... Ini... Ah... Ini bahkan lepas dari kendali kami"

"Baik lah tapi jika aku sudah di posisimu, aku bisa bantai habis sekte ini kan?" Huda tegas.

"Yah, seharusnya bisa hanya jika kamu masuk ke golongan inti organisasi muslim yang kuat..."

"Maksud kamu?" Huda bingung.

"Seharusnya dalam golongan muslim ada organisasi yang berkekuatan supernatural yang mengatasi masalah seperti ini" Alexis  mengusulkan.

"Iya sih ada, tapi ini bukan santet!" Tegas Yuna.

"Tidak ada santet dalam satanisme!" Alexis  menegaskan.

"Lalu ini apa?" Yuna geram menghentakkan satu kakinya kesal.

"Ok ok... Mereka itu... Menumbalkan banyak jiwa dan darah... Supaya bisa mematikan orang-orang di foto ini... Tanpa melakukan santet... Ini hanya sumpah... Seperti aku akan membunuh enam ratus orang supaya bisa membunuh seseorang... Maka orang itu akan mati... Itu sumpahnya... Dan terjadi" Alexis  megakui.

"Ya, tapi sumpah kepada siapa?!" Yuna meraih kerah kemeja Alexis .

"Aku tidak bisa menjawab!" Alexis  angkat dua tangan.

"Jangan-jangan.." Bibir Yuna bergetar.

"Ya... Kau betul..." Alexis  menduga-duga isi kepala Yuna.

Yuna menoleh kuat ke Huda.

"Apakah benar memang begitu?" Huda terlihat gupuh.

"Kita ke bumi ini memang diperintahkan untuk saling melawan, dan kita semua digolong-golongkan juga atas perintah dari sumber yang sama... Sampai iblis pun harus menerima perannya sebagai tokoh antagonis... Sumpah ini memang bukan kepada iblis atau pun dajjal... Begitu lah caranya... Dan tidak ada satu pun agama yang membuka tabir ini... Karena manusia akan saling bunuh... Begitu pula saat utusan sudah menebas sejuta kepala orang zalim maka... Diganjar lah dengan kekayaan negeri mereka... Kalian lihat kan negeri-ngeri itu sekarang? Bergelimang harta... Dan begitu pun rival mereka... Membuat perang untuk membantai.. Akhirnya mereka menjadi elite global..."

"Tidak! Bohong!" Teriak Yuna.

"Hahahahaa!" Suara tawa menggelegar terdengar memenuhi langit-langit villa.

"Setan" lirih Yuna melihat Huda.

"Aku tidak bisa melihatnya" singkat Huda.

Yuna menggeleng juga.

"Kebohongan apa?" Kata suara mengerikan tanpa wujud itu.

"Zanum..." Bisik Huda memanggil.

"Dia raja jin di rumah ini" bisik Zanum di hati Huda.

"Hai raja jin! Apa kau tahu dimana Heru Johnson?!" Seru Huda.

"Raja jin?" Alexis  mendongak mencari sosok itu.

"Untuk apa kamu mencari cucuku?"

"Aku ingin bertemu Lucifer..."

"Hahaha, kalau kau sudah bisa melihatku maka akan aku antar kau ke sana!"

"Ah, tidak... Itu level kasyaf tinggi, kau jangan coba-coba!" Tegur Yuna.

"Aku harus!"

Huda kemudian melantunkan doa yang diajarkan Herman dan menutup mata dengan penuh kerendahan hati kepada Tuhannya.

Dalam batinnya yang gelap, Huda melihat sosok yang tengah menempel di pojok bawahnya plafon kamar. Kepalanya seperti singa berbulu hitam dengan tubuh mirip manusia tapi tangannya mirip tangan tokek dengan cakar panjang dan gigi runcing bermata merah menyala dan berlidah panjang seperti kadal.

"Kau ada di situ!" Huda menunjuk ke pojok atas di bawah plafon kamar.

Alexis  mengucek matanya beberapa kali karena tidak bisa melihatnya. Yuna menghela nafas melihat tingkah Huda.

"Hahaha... Kemari lah ikuti aku jika kau bisa melihatku!" Sosok itu melompat dan berlari keluar kamar, dia melompat-lompat seperti katak, dia memiliki ekor seperti singa dan kakinya memang seperti bentuk kaki katak.

Huda mengambil dasinya yang di atas meja dekat ranjang, mengikat matanya sampai tertutup rapat lalu berlari.

"Awas tangga!" Yuna mengambil jaket kemudian menyusuri tangga disusul Alexis .

Huda terus berlari sampai ke belakang villa, menembus semak belukar malam-malam tanpa alas kaki begitu pula Yuna dan Alexis  yang bergandengan tangan karena Yuna takut jatuh terpeleset.

Tanah berumput liar basah berlumpur membuat kaki sedikit gatal, mereka menerjang banyak rintangan bahkan tumpukan sampah dan sampai lompat-lompat ke tembok dan pagar.

"Awas paku!" Kata Yuna kepada Huda.

Di hadapan Huda, dia hanya melihat seekor jin seukuran anak sapi itu bergerak lincah kesana kemari kadang seperti tingkah monyet, setan bertanduk runcing itu melompat cepat kemudian menghilang sambil tertawa.

"Ah, kemana dia larinya!" Huda melepas ikatan dasi dari matanya.

"Kita sudah sampai!" Alexis  meggendong Yuna di punggungnya sambil terengah-engah.

"Lah!" Huda kaget karena Yuna digendong oleh Alexis .

Dia menoleh ke depan dan ternyata sudah tiba di hadapan para satanis yang sedang mengenakan jubah bertudung hitam. Mereka membuat lingkaran dan di tengahnya ada mayat perempuan hamil yang dibakar di depan sebuah pohon raksasa.

Baunya menyengat sekali.

"Siapa kalian?!" Bentak ketua kelompok yang mengenakan kalung panjang berpermata merah.

Yuna turun dari punggung Alexis  dan pria bule itu memperlihatkan jarinya yang bercincin.

Pria yang mengenakan topeng di balik jubahnya itu menundukkan muka tanda hormat yang santun.

"Apakah gerbang gaib sudah terbuka?" Tanya Alexis .

"Sudah, yang mulia!" Jawab pria itu.

"Masuk lah!" Yuna menegur Huda.

Huda melihat Yuna dan Alexis  lekat.

"Tenang! Jangan pikirkan yang lain! Masuk lah! Lakukan tugasmu!" Hibur Alexis .

Huda mengangguk.

Dia berjalan ke pohon beringin besar itu dan merasakan tubuhnya tertarik. Semua orang menyaksikan tubuh Huda dihisap masuk ke pohon itu dan lenyap. Sontak saja api yang membakar mayat perempuan hamil itu padam mendadak dan menunjukkan gosongan mayat yang teronggok.

"Ma mati?" Pemimpin upacara bingung dengan api yang berkobar besar tadi tiba-tiba tanpa ditiup angin dan disiram air langsung hilang tanpa menyisakan asap sedikit pun.


"Kalian bisa memakan dagingnya dan akan naik level kesaktian, selamat menikmati..." Ujar Yuna asal-asalan.

"Te... Terima kasih.." kelompok itu kemudian mengangkat mayat itu dan memotong-motong mayat tak berdaya itu.

"Jiwa wanita itu sedang ditawan di istana api dan teriak kesakitan, jiwanya akan bebas jika pembunuhnya memakan dagingnya... Karena wanita hamil ini sangat dendam..." Bisik Yuna ke Alexis  yang kemudian mengangguk paham.

"Lalu bagaimana dengan kekuatan yang tadi kamu bilang?" Bisik Alexis .

"Mereka sering membual sampai aku buali saja menurut" Yuna memutar bola matanya.

"Paduka ini istrinya Lucifer kah? Saya Heru Johnson" ketua grup mendekat.

Yuna membuka jaketnya, menyibakan kain yang menutup lengan atasnya di sana tumbuh rambut putih sepanjang sepuluh senti.

"Tanda apa itu?" Heru heran.

Mata Alexis  tercengang karena baru ini dia melihatnya, pria itu langsung meraih jaket Yuna dan menutupinya.

Heru melihat Alexis  berekasi menjadi terdiam. Dia mengeluarkan sebilah pisau dan Yuna melotot melihat benda tajam tipis itu.

"Siapa kamu sebenarnya?!" Heru membuka telapak tangannya seperti mempersilahkan Yuna mengambilnya.

Yuna mengambil pisau itu, Heru mengangkat tangan kirinya dan semua orang di sana berhenti beraktivitas lalu menyaksikan Yuna.

Yuna mengambil pisau itu kemudian menoleh ke Alexis  yang terbelalak takut. Yuna menarik nafas dalam pelan lalu menusukkan pisau itu ke lehernya.

"Crak!"

"Kamu?!" Alexis  panik.

Yuna menggores lehernya sampai mengeluarkan darah dan membuka lehernya agar Heru menghisap darahnya.

Heru memegang dua bahu Yuna dan meghisap darah Yuna dengan mulutnya. Sedikit lama sampai Yuna lemas jatuh ke dekapan Alexis  yang terlihat seperti masih tiga puluh tahun padahal sudah kepala empat itu.

Heru megangkat kepalanya dan mendongak memperlihatkan perubaha wajahnya yang menjadi vampir, dia memiliki taring persis seperti drakula dan semua orang menyaksikan proses kerasukan khodam dalam jasad Heru itu.

Dengan pelan tapi pasti, semua darah Yuna mengucur keluar dari mulut Heru yang kini memiliki lidah runcing.

"Darah pahit...." Serak suara Heru terdengar.

"Wah darah pahit!" Semua anggota saling bertukar pandangan.

Yuna memejamkan mata, dia memfokuskan perhatiannya ke mahluk di diri Heru sambil membayangkan iblis sedang memberikan kartu bersimbol segitiga terbalik ke bawah kepada Yuna.

Menerima telepati itu dari Yuna maka membuat sosok di badan Heru sujud ke tanah, dan semua anggota tanpa tanda tanya menjalankan hal yang sama.

Alexis  masih mendekap Yuna yang lemas lalu membopongnya duduk ke singgasana kursi milik Heru di atas altar.

"Dewi Minerva!" Seru Heru mengikuti arah di mana Yuna berada sambil tetap membungkukkan kepala ke tanah.

"Jadi kalian sudah tahu siapa sejatinya gadis ini?!" Alexis  berdiri di sisi Yuna yang duduk lemas.

"Dia adalah juru kunci gerbang di mana Dajjal berada.. dia tahu segalanya tentang semua setan di muka bumi ini hanya dengan menerawang dengan mata batinnya dan mampu beromunikasi langsung dengan iblis hanya dengan menggunakan ikatan batin saja..." Jelas jin drakula yang menguasai tubuh Heru.

"...." Alexis  pun terkejut mendengar itu.

"Namun seperti yang kamu ketahui, dia bukan berasal dari keturunan keluargamu juga bukan bagian dari kami... Jadi dia ini siapa?" Mahluk itu justru berbalik bertanya.

"Yuna?!" Alexis  melihat Yuna tidak sadarkan diri karena tertidur lemas.

Sementara di tempat lain, kini Huda dikelilingi oleh dinding api yang panas. Suhunya sangat membuat tubuh Huda merasa panas sampai putus asa. Dia berjalan dengan sesak nafas dan sempoyongan.

"Jangan sampai aku terkena ilusi fatamorgana lagi..." Huda terus berjalan lesu mengikuti jalan yang kosong dari api.

"Huda..." Panggil suara mengerikan yang menggaung-gaung dari jauh di depan sana.

"Iblis..." Lirih Huda.

"Ya, aku di sini, datang lah!" Panggil suara itu parau dengan lirih namun terdengar jelas.

Akhirnya Huda menemukan kursi yang kini di sana duduk sosok bertanduk besar dengan jubah hitamnya. Wajah merah tanpa kulit penuh darah itu sangat anyir dan menyengat. Kukunya hitam runcing dan giginya bergerigi, dengan jenggot jarang-jarang di dagu lancipnya. Matanya menyala kuning keemasan dan hidungnya sangat mancung.

"Aku sudah lama... Mengawasimu dari kejauhan sejak kau masih kecil... Tahu kah kau akan hal itu?" Katanya.

"Ya... Aku tahu..." Lemas Huda.

"Lalu sekarang apa yang kau minta dariku?" Kata iblis laknatullah.

"Aku ingin masuk golongan itu, kau tahu bukan?"

"Aku akan menghancurkanmu jika kau berani mengusikku!"

"Kau tahu aku begitu dendam kepadamu karena kau mereka memperlakukanku seperti ini!"

"Anak kecil, kau bahkan tidak bisa mendebatku dengan ilmumu yang masih seujung kuku lalu bagaimana kau akan melawanku saat ini?"

"Apa kau takut jika aku memasuki lingkunganmu?"

"Tentu akan aku biarkan kau masuk agar kau menemukan sebetapa hebat kekutanku dan pengikutku sehingga kau akan jera!"

"Allah menurunkan dajjal dan kau untuk memecah belah golongan muslim lalu kenapa aku tidak boleh memecah golonganmu?"

"Bagaimana kau bisa memecah golonganku? Apa kau lupa selama ini telah dilayani keturunanku agar aman di pekerjaanmu, bukan kah itu menyekutukan Allah?

Kau bahkan tidak punya rasa iklas di lubuk hatimu!

Dan kau munafik di depan ayahmu sendiri!"

"Hah, itu juga karena Allah yang meridlainya bukan? Aku lahir untuk mengusikmu, iblis!" Tunjuk Huda.

"Oh, jika itu anggapanmu maka aku akan membiarkanmu masuk sesukamu namun kau tidak akan pernah menemukan jalan keluar dari sana!

Aku akan membuat Alexis  memenggal kepalamu!

Dan aku akan mengusik kehidupan adikmu itu!"

"Kau iblis, kau tidak pernah ingkar janji maka tepati lah ucapanmu!"

"Akan aku tepati ucapanku ini dan akan aku pastikan kau habiskan umur pendekmu dalam kesia-siaan dan keputus asaan!"

"Hahaha! Sombong kau iblis, jangan gunakan jubah Allah di hadapanku! Ancamanmu itu hanya gertakan yang sebenarnya lemah!"

"Apa? Apa kau menjebakku?!"

"Bagaimana caraku menjebakmu sementara kau lebih alim dariku?!"

"Jangan memujiku, katakan rencana apa yang kau pakai?!"

"Iblis, selama ayahku masih hidup. Kau tahu bukan!"

"Terkutuk kau cucu Adam!"

"Ya... Aku akan berguru kepadanya..."

"Maka aku akan utus jin dan setan yang hafiz Qur'an kepadanya! Agar dia sesat!"

"Coba lah, wahai Iblis... Coba lah semampumu..." Huda berpaling muka dan berjalan menyusuri setapak yang panas itu lagi.

"Kau lihat saja nanti Huda aku akan membuatmu melihat sebenarnya siapa itu ayahmu Suherman!"

"Kau tidak akan menggangguku selama aku di lingkunganmu, itu kau ucapkan barusan wahai Iblis... Kau tidak akan mengingkarinya karena kau diciptakan sebagai mahluk yang iklas hahaaha!" Pekik Huda.

"Aku masih bisa ingkar janji dan aku ini munafik! Aku akan menipu semua orang untuk hancurkan kau Hudaa!!"

Huda pun keluar dari pohon beringin itu dengan banyak asap mengepul keluar dari bajunya.

"Huda? Kau kembali?" Alexis  terlihat cerah.

"Yuna?" Huda syok melihat Yuna yang tak sadarkan diri dan lehernya ada bekas gorokan.

"Apa yang terjadi?" Huda mendekat.

"Dia baik-baik saja, tenang lah... Tadi ada sesuatu yang terjadi dan tidak ada yang menyakitinya..." Jelas Alexis.


Huda mengangkat Yuna dan melewati semua satanis yang masih membungkuk kepada Yuna.

"Tunggu.." bisik Yuna yang tidak sadarkan diri, dia berbicara dalam tidurnya.

"Aku..." Yuna langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan di antara kelompok itu.

Heru mengangkat kepalanya dan cukup kaget dengan aura Yuna yang berubah.

"Siapa yang membunuh wanita hamil tadi? Berdiri!" Bentaknya.

"Yuna, ini bukan ranah kekuasaanmu?" Hadang Alexis  memperingatkan dengan memegang bahu Yuna.

Orang itu berdiri dengan mengangkat wajahnya dengan ekspresi dingin.

"Aku" jawabnya.

"Kau harus memakan bangkainya sekarang juga!" Yuna mendekati mayat itu dan merogoh dadanya yang sudah terbuka, dia menarik jantung dari mayat itu dan melempar ke pria itu.

Pria itu menangkap jantung bakar itu dan menggigitnya dengan ekspresi mata dingin.

"Habiskan!" Utus Yuna.

Pria itu terus menyantapnya dan melahapnya tanpa rasa jijik dengan aroma gosong busuk mayat itu.

Namun sebelum habis menelan segalanya dia terbatuk lalu muntah-muntah, isi perutnya terurai ke tanah, banyak belatung keluar dari mulut kotor pria itu.

Aroma muntahan itu sangat menyengat busuk. Pria itu terus terbatuk sampai radang dan memuntahkan banyak darah sampai mimisan.

"Ugh..." Pria itu membanting dirinya ke tanah dan berguling-guling.

"Aargh!" Seperti ada yang menggeliat di dalam tubuh itu.

Dia membuka mulutnya lebar-lebar sampai melotot dan dari mata kanannya keluar ular kecil berwarna hitam.

Semua orang menyaksikan kejadian itu dengan rasa ngeri. Ular kecil panjang itu melata pelan keluar dari sela mata pria itu.

Dan pria itu kemudian pingsan.

"Bawa dia bersama kita..." Kata Yuna pelan.

"Kenapa?" Alexis  tak habis pikir.

Huda tanpa pikir panjang mengangkat pria itu dan menggendongnya.

"Kami pulang dulu..." Yuna menoleh ke Heru.

Heru mengangguk pelan dan membiarkan mereka keluar dari tempat itu.

Mereka berjalan keluar dari pintu dan ketika menoleh, gedung itu berubah menjadi bangunan sepi dan terlihat angker.

"Kita pulang..." Yuna berjalan memimpin jalan.

Mereka akhirnya sampai ke villa itu dan Alexis  membuka pintu. Huda meletakkan pria itu di sofa.

Yuna menunjuk dada pria yang tak sadar itu lalu tiba-tiba pria itu terbatuk sadar dan langsung menjatuhkan diri ke lantai bersimpun, "ampun... Ampuun.." rintihnya.

"Kau mau taubat?" Yuna lirih.

Pria itu mengangguk-angguk kuat sambil menangis, mata kanannya memerah karena luka.

"Bimbing dia syahadat..." Yuna melirik ke Huda dengan tatapan tegas.

"Asyhadu an laa ilaha illallah... Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu..." Bimbing Huda pelan ke telinga pria itu dan dia mengucapkan hal yang sama degan lirih.

"Aku sudah mencabut sumpahnya dari illuminati ditandai dengan keluarnya ular dari mata kanannya tadi, jadi dia sudah bebas sekarang... Jin di tubuhnya juga sudah keluar..." Yuna berjalan ke sofa dan membanting dirinya dengan penat.

"Ugh... Yuna itu tadi sangat berbahya, mereka bisa menangkapmu dan menyiksamu sampai mati... Lalu membakarmu seperti wanita hamil itu..." Alexis  terduduk lemas.

"Apa yang terjadi selama aku pergi?" Huda mendekati Yuna dan pria itu masih menunduk di lantai dalam simpuhnya yang penuh sesal, di terus beristighfar lirih dalam rasa ketakutan.

"Heru menghisap darah Yuna dan memuntahkannya, katanya darah Yuna pahit! Dan dia membuka identitas Yuna yang sebenarnya... Bahwa dia orang yang tahu di mana penjara dajjal sebenarnya." Jelas Alexis .

"Tapi bagaimana bisa kamu tahu?" Huda merasa aneh.

"Saat umurku masih delapan tahun, aku bermimpi iblis membawaku terbang ke langit dan memperlihatkanku pemandangan malam bumi dari atas... Aku bisa melihat seluruh negara dari atas sana tanpa terhalang apa pun... Pemandangan sempurna bagaimana kondisi semua tempat malam yang berdampingan dengan siang itu... Dan lalu dia menunjukkan tempat itu kepadaku dengan jarinya..." Yuna berkisah.

"Bagaimana bisa kau seakrab itu dengan iblis?" Huda tidak terima sebab tadi iblis begitu memusuhinya.

"Bukan... Iblis sedang merayunya agar bergabung ke sisinya... Yuna masih lugu waktu itu..." Paham Alexis .

"Iblis hanya kesepian dan butuh teman bicara ketika dia lelah..." Yuna memandang kedua pria tampan itu bergantian.

"Siapa namamu?" Tanya Yuna ke pria jangkung berbahu lebar dengan wajah khas Sundanese itu.

"Harun..." Jawab pria yang tadi menyimak.

"Apa profesimu?" Yuna dingin.

"Polisi... Di bagian hukum IT..." Jawabnya rendah hati.

Yuna mengangkat satu alis dan menoleh ke Huda.

"Ada apa?" Huda tertegun.

"Aku ingin membuat gerakan di medsos, kau harus melindungi akunku, bagaimana?" Tatar Yuna.

"Baik, aku bersedia..." Pria itu masih gugup dengan Yuna yang ternyata bukan orang biasa.

"Kamu rumahnya dimana?" Huda singkat.

"Di komplek polisi dekat sini Bang..."

"Gimana? Kita di sini berapa lama rencananya?" Huda menoleh ke Alexis .

"Sesuai kebutuhan kalian... Aku bisa kerja kok di sini.. kita dapat tinggal gratis di sini..." ujar Alexis .

"Yaudah kamu tinggal di sini saja, siapa namamu?" Huda menoleh lagi ke polisi itu.

"Harun Bang.." pria berusia tiga puluh lima tahun itu menjawab.

"Oke Bang Harun stay aja sama kami di sini bantu-bantu awasin Nona Yuna yah... Tapi jangan undang siapa-siapa ke sini..."

"Iya Bang... Saya siap mengabdi karena sudah dibebaskan dari mereka... Tapi saya takut mereka akan mencelakai saya di jalan dan mereka kan belum tahu kalau saya sudah keluar..." Lirih Harun melirik ke luar pintu villa.

"Mereka sudah tahu lah, mereka punya kepekaan batin kuat kepada semua membernya..." Jawab Huda.

"Kamu bisa berbahasa Inggris kan, sementara memakai itu dulu karena Tuan Alexis  ga bisa bahasa kita"

"Iya aku bisa" Harun mulai berbahasa Inggris.

"Baik lah kalau begitu... Lakukan sesukamu malam ini kami mau tidur..." Kata Huda sambil menggandeng Yuna agar ke kamar.

Harun berdiri, "ikuti aku" kata Alexis .

Alexis  memilihkan kamar untuk Harun, polisi itu terkagum dengan ruangan mewah kuno tempat itu lalu membersihka diri ke kamar mandi.

Mereka bristirahat dengan tenang di villa itu sampai keesokan paginya di meja makan, Yuna mengoprasikan laptop Huda sambil menemani Alexis  yang pulang berbelanja dari pasar tadi bersama Harun, mereka memasak sarapan.

Yuna membuat forum diskusi dan mengirimkan banyak artikel membahas tentang konspirasi. Yuna terlihat sangat serius sampai Huda menghampirinya.

"Bagaimana hasilnya?" Huda duduk di samping Yuna dengan tenang.

"Banyak anak indigo yang merespon dan mereka semua mau bergabung ke dalam forumku... Sebagian adalah paku bumi nusantara yang mau ikut menyimak pembahsanku... Nih aku mau live... Gimana?" Yuna mempertimbangkan.

"Saranku jangan terlalu mempublikasi dirimu..." Usul Huda.

"Oh ya benar juga.." Yuna mengurungkan niatnya.

Alexis  menata makanan ke meja dibantu oleh Harun, "ayo makan dulu..."

"Iya makan lah dulu guys aku masih menyiapkan materi untuk mengumpulkan mereka agar berminat join komunitas online ku" Yuna masih fokus mengconvert data.

Huda mengambil makanan dan menyuap Yuna. Gadis itu mengunyah dengan muka cuek karena sibuk.

""Nah ini ada yang chat aku katanya ada pondok pesantren sesat di Bandung juga nih... Mereka mendonasikan uang sesuai angka umur mereka... Dan perkumpulannya justru menyanyi-nyanyi sambil bergandengan tangan... Guru spiritualnya mengaku bisa meraga sukma menembus Sidratul Muntaha... Itu bukannya langit ke tujuh ya dan ga ada manusia bisa mencapainya?" Tanya Yuna.

"Kamu mau ke sana cross check?" Huda melotot karena itu hal yang ga perlu.

"Engga lha... Aku mau praktek cabut ilmu ghaib gurunya dari jarak jauh dan culik khodamnya..." Sinis Yuna.

"Caranya?" Huda penasaran.

"Nanti kuajarin" kata Yuna sambil menjauhkan laptop Huda darinya kemudian menarik piring dan menyantap lahap makanan yang diambilkan tadi oleh Huda.

"Asal kalian mau bergabung ke kelompok gerakan muslim yang ayahku ada di dalamnya kalian akan tahu semuanya..." Spill up Yuna.

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 8)

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 1)

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 3)