Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 3)

 


Daftar Isi:

BAB 3
Menemukan Putri Harimau Bersuara Emas

 "Tidak ada Huda.." Karim memegang kedua bahu anak itu dan meyakinkan namun Huda menepi dan berlalu masuk kamar.

Melihat Huda sudah tidak di ruangan itu, Mariam memeluk suaminya, "mafkan aku Bang.." katanya.

"Kamu itu tidak punya salah apa-apa, justru aku berterima kasih punya anak seperti Huda... Allah itu kasih aku anugerah!" Ucap Karim yang mengingat untuk lebih bersyukur.

"Andaikan saja dia masih bujangan belum punya istri sah... Aku pasti sudah bersamanya sekarang..." Komen Mariam.

"Apa kau masih mencintainya?" Karim tiba-tiba bernada naik.

"Apa yang kau cemburui dari dia? Dia bangkrut sejak kecil, bahkan dia anak yatim piatu... dan lebih kaya engkau..." Mariam.

"Apa lah gunanya hidup kaya jika orang yang kita nikahi masih memikirkan orang lain padahal kita selalu seranjang dengannya?" Karim berlalu dengan kesal.

Mariam terdiam dan tidak mengetahui jika Huda sedari tadi menguping di balik tembok.

"Jadi benar bukan? Aku ini bukan anaknya Karim?" Mendengar itu Mariam terbelalak, itu Huda di balik tembok di depan sana, di belokan koridor kamar.

"Ayah kamu memang..." Mariam melangkah pelan dan menghampiri tikungan koridor itu, benar di sana Huda berdiri mematung sedari tadi.

"Dia ada di Jawa Timur tapi dia hidup bersama istrinya yang pertama dan juga bersama anak-anaknya..." Mariam lirih.

"Siapa namanya?" Huda bertanya dengan nada datar.

"Herman." Singkat Mariam.

Huda meninggalkan Mariam dan masuk ke kamarnya dengan cepat.

Huda tidak mempedulikan dirinya sendiri, dia sedang krisis kepercayaan.

"Aku akan memperkuat diriku dan memperbanyak ilmuku!" Tekat Huda.

Hari-hari Huda penuh dengan determinasi yang membara! Dia melangkah menuju perguruan bela diri, tempat dia menemukan kekuatan dan disiplin. Di sana, dia juga menemukan cahaya spiritual melalui pengajian yang diadakan oleh pemuka agama setempat. Namun, ambisinya tidak berhenti di situ. Dengan gigih, dia menaklukkan dunia komputer, mencari kesempatan untuk mengukir prestasi unggul di sekolahnya. Setiap langkahnya dipenuhi dengan semangat tak tergoyahkan. Aktivitas kurir yang dia jalani berjalan lancar, dan simpanan uang di bawah kasurnya terus bertambah. Hingga tiba momen puncak: hari kelulusan SD. Dengan penuh kebanggaan, Huda berdiri di atas panggung, menerima ijazah kelulusan dengan nilai terbaik. Setelah upacara selesai, dia berlari menemui ibunya, tubuhnya yang tinggi dan kurus menjadi saksi bisu akan dedikasi dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah.

"Bu, aku sudah hampir hapal seluruh isi Al-qur'an, sudah bisa lah untuk ke Jawa Timur, mondok pesantren di sana." Tegas Huda yang kini berekspresi wajah lebih dingin.

"Kamu ini kenapa begitu berambisi untuk ke sana? Kamu sebenarnya ingin menemui ayahmu bukan?" Mariam menepis permintaan anaknya.

"Kalau Ibu tidak meridhoi keberangkatanku artinya Ibu lebih senang aku pulang sebagai mayat?" Huda sudah di puncak kesabarannya.

"Baik lah baik, Ibu meridhoi kamu ke sana tapi Ibu tidak bisa ikut karena Ibu tidak punya uang dan jika Ibu ikut, Ayah mengancam akan menceraikan Ibu!" Keluh Mariam.

"Tinggalkan saja... Aku bisa memberimu makan Bu, jangan risaukan masa depan meski aku di dalam pondok pesantren, pekerjaanku tetap berjalan." Huda tegas.

"Pekerjaan? Perkerjaan apa?" Mariam terheran.

Huda malas berdebat, dia menuju kamarnya dan menyiapkan busananya untuk pergi.

"Huda kamu gila ya Nak?" Mariam memasuki kamar tanpa punya ide apa-apa untuk membujuk anak itu.

"Ibu itu orang dewasa satu-satunya tempat Huda bergantung saat ini karena Huda masih kecil. Tapi Huda akan ingat semua perlakuan Ibu sampai Huda tua jika Ibu tidak membantu Huda sekarang yang masih kecil ini." Huda berbicara benar-benar seperti orang dewasa.

"Huda... Tidak ada uangnya! Ibu tahu Ibu lah satu-satunya orang yang bisa membelikanmu tiket pesawat dan mendaftar ke pondok pesantren tapi itu semua harus memakai uang, Huda. Dan Ibu ini tidak punya banyak uang untuk itu semua, untuk Huda..." Mariam memelas.

Karena geram, Huda menyibakkan kasurnya dan betapa ternganga mulut Mariam dengan matanya yang membulat ketika melihat tumpukan lembaran merah  uang asli tersusun rapi di bawah kasur Huda seperti gugusan batu bata yang menopang kasur itu supaya nyaman ditiduri.

"Ayo kita berangkat sekarang!" Huda memberi segepok uang merah ke Ibunya.

"Pesan kan mobil pribadi, Bu!" Huda mengambil semua uang itu dan memasukkannya ke tas besar miliknya kemudian menutupinya dengan baju.

"Tok tok tok!" Suara pintu rumah diketok kuat.

"Siapa?" Huda tidak basa-basi.

"Bob!"

"Apa?!" Huda tercengang mendengar jawaban itu.

Huda berlari menuju pintu rumah, orang itu semenjak menculiknya dua tahun lalu, dia tidak pernah muncul lagi dan baru muncul sekarang setelah Huda memutuskan akan meninggalkan Aceh.

"Masuk!" Jawab Huda tanpa ekspresi namun matanya tajam sambil membuka pintu.

"Hm?!" Bob masuk ke rumah dan duduk di sofa tamu sebelum dipersilahkan.

Mariam yang heran dengan orang itu akhirnya diam saja menyimak dan duduk di salah satu sofa tamu.

"Bicara lah sebelum ayahku pulang!" Huda tegas sambil duduk di samping ibunya.

Mariam keheranan dengan sikap Huda yang terlihat seperti seusia tamunya yang bahkan terlihat di atas usia Mariam.

"Aku dengar kau akan keluar dari Aceh? Lalu bagaimana dengan semua barang di sini? Siapa yang antar?" Bob tidak terima.

"Kamu bayar aku di muka dan akan aku suruh anak buah penggantiku mengurusnya." Tawar Huda.

"Anak buah?! Hahaha... Kau pikir akan sama hasilnya jika bukan kau yang mengirimkannya?" Bob tak habis pikir.

"Ya, aku tahu itu tapi sekarang semua khodamku ada di tubuh para anak buahku!" Huda mengangkat bola matanya ke depan sementara dagunya menunduk.

"Jadi maksudmu sekarang kau benar-benar naik kelas dari SD ke SMP ya? Luar biasa, Hahaha!" Bob tertawa terbahak-bahak.

"Jadi kau akan kemana setelah ini?" Bob bertanya lagi setelah melihat Huda dan Ibunya hanya diam saja.

"Kemana Bu? Dimana Herman?" Huda terasa menjadi orang lain sekarang.

"Di Kediri" jawab Mariam.

"Nah, kalau begitu kau bercocok tanam lah di sana, dan aku akan biayai keberangkatanmu sekarang sampai tempat tinggalmu di Kediri, semuanya aman dan gratis!" Tawar Bob.

Mariam mendengarnya menjadi syok dan memegangi mulutnya tidak percaya.

"Baik lah, padahal aku pikir aku akan mengeluarkan uangku sendiri, tapi karena kau memaksa baik lah, dan aku akan membawa beberapa anak buahku yang sudah aku latih!" Sepakat Huda.

"Itu lain jika kau bawa pengikut maka itu tanggung jawabmu!" Bob terlihat membuka gawainya dan memesan sesuatu.

Sepertinya Bob membicarakan tentang taksi, tiket pesawat dan tempat tinggal untuk Huda dengan orang di saluran panggiian itu.

Huda terlihat tenang sementara hati Mariam berkecamuk.

Singkat cerita setelah itu Mariam memutuskan ikut Huda dan meskipun Karim mengancam akan menceraikan Mariam tapi ibunya Huda itu lebih memilih dekat dengan anak laki-lakinya itu.


Mariam terjebak dalam permainan gelap demi ikut dengan Huda, karena Karim percaya bahwa istrinya akan kembali kepada Herman yang memang tidak pernah menceraikannya, meski mereka menikah siri, maka pria Aceh itu menceraikan Mariam.

Sementara Huda menimba ilmu di pondok pesantren, Mariam tinggal di rumah mewah yang dibeli Huda setelah tiba di Kediri, sebuah tempat yang tidak jauh dari hiruk pikuk kota. Huda kini sudah kelas tiga di MTs, dan dia tetap menjalankan urusan gelapnya dengan lebih banyak anak buah, sebuah langkah yang dia ambil demi cita-cita besarnya untuk memasuki organisasi terkutuk itu. Dia terpaksa melakukan semua ini demi ambisinya yang tak terbatas. 


Setelah lulus MTs, Huda memutuskan untuk tidak melanjutkan ke MA, melainkan mendaftarkan diri ke SMK, sebuah pilihan yang memberinya kebebasan lebih untuk menjalankan aksinya. Di sana, dia semakin bebas menjalankan kegiatan gelapnya. 


Hingga suatu saat, dia kurang kerjaan di rumah dan menjadi uring-uringan karena tidak bisa keluar rumah, setelah polisi yang jadi anak buahnya memperingatkan agar dia tidak keluar rumah. Namun, ada yang menarik perhatian Huda pada saat itu, Mariam memainkan radio kecil di meja makan sambil memasak. Huda mendekati radio itu dan mulai mendengarkan lagu-lagu yang dimainkan oleh penyiarnya. Lagu-lagu metal itu menarik perhatian Huda karena terdengar unik dan berbeda dari apa yang biasa dia dengar.

"Huda... Udah selesai acara kesukaan Ibu, ganti channel-nya Nak.." Mariam sambil menghadap wajan penuh dengan masakan yang belum matang.

"Bentar Bu, aku suka lagunya..." Huda mengangguk-angguk pelan sambil memejamkan mata mendengarkan lagu berjudul Tears Don't Fall milik Bullet for My Valentine.

Di saat itu ada break time, penyiar mempersilahkan orang menelpon ke admin channel untuk berkaraoke live di acara itu. Dan terdengar suara seorang gadis menelpon.

"Moshi-moshi, aku Yuna... Mau karaoke lagu Out of Control dari Hoobastank donk!" Terdengar suaranya ngebas tapi serak.

"Oke guys, kita sudah kedatangan Yuna yang selalu amazing dengan pilihan lagunya yang hip banget.. Alright, Lady metal yuk kita nikmati lagunya... Set on fire in one two three!" Dan penyiar menyiarkan musik pengiring.

Huda menyimak suara gadis itu. Suara gadis itu memikat indera pendengarannya, membuatnya tak sadar bahwa jantungnya berdebar kencang, seolah-olah ada dua kekuatan yang saling bertarung: kagum dan jatuh hati. Senyum tak terkendali muncul di wajahnya, dan tanpa sadar, dia menyembunyikan kepala di antara lengan yang terlipat di atas meja, seakan-akan ingin menyembunyikan perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya.

"Yuna, manis banget suaranya, aku suka..." Huda jadi ingin bisa menguasai lagu metal.

Dengan gerakan tiba-tiba, Huda bangkit dari duduknya, membuat kursi terdorong keras ke belakang dan suaranya memecah kesunyian, membuat Mariam terkejut dan terkaget, seolah-olah dia terbangun dari lamunan.

"Bu aku keluar dulu ya, aku stres!" Kata Huda yang kini tumbuh jadi pemuda tinggi di kelas satu SMK jurusan mesin itu.

Dengan dentuman keras, pemuda itu memacu motor gede-nya, melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, menuju rumah teman sekolahnya yang terkenal dengan band-nya. 

Padahal, Huda adalah seorang introvert yang biasanya lebih suka menyendiri, namun suara Yuna telah membangunkan sesuatu di dalam dirinya, membuatnya memiliki obsesi baru. Di sepanjang jalan, senyum tak terkendali menghiasi wajahnya, seolah-olah dia sedang menari di atas awan. Hingga akhirnya, dia tiba di rumah teman sekolahnya yang sebenarnya tidak terlalu dikenalnya, namun bagi Huda, tempat itu kini menjadi penting karena ada sesuatu yang membuatnya ingin kembali.

"Assalamu alaikum, Edo?" Huda bahkan tahu rumah temannya itu akibat pernah meminjam alat saat MOS namun mereka berpisah karena temannya itu memilih jurusan kelas yang beda.

"Eh? Huda? Anak teknik mesin?" Seorang pemuda manis  berkumis tipis membuka pintu.

"Iya aku Huda, kamu Edo anak teknik komputer kan?" Tebak Edo.

"Iya, aku ada perlu samamu!" Sahut Huda.

"Ada apa?" Edo penasaran karena Huda itu pendiam dan tidak banyak bergaul.

"Ajari aku main gitar, aku baru ini tertarik sama lagu rock..." Kata Huda angkat satu alis.

"Wah boleh!" Edo antusias.

Huda masuk rumah dan ke kamar mengambil gitar akustiknya dan kemudian mengajak Huda duduk di teras untuk berlatih.

"Hoobastank itu band aliran apa?" Huda ambisius sambil menyimak posisi tangan Edo.

"Alternatif metal itu bukan rock..." Edo menggenjreng senar.

"Out of control bagus banget, ajari aku!" Huda.

"Ok ini dasarnya," Edo mulai mengajarkan dasar-dasar kunci gitar.

Sejak saat itu, mereka menjadi tak terpisahkan. Edo sangat terkesan dengan dedikasi Huda yang belajar gitar akustik bersamanya selama seminggu penuh, bahkan membeli gitar akustik sendiri untuk memanjakan jari-jarinya. Dalam waktu yang singkat, Huda berhasil menghapal kunci-kunci gitar dengan bantuan Zanum, seolah-olah dia terhipnotis oleh suara manis gitar. 


Dan ketika saatnya tiba untuk beralih ke gitar melodi listrik, Huda langsung menunjukkan bakatnya, dengan cepat menguasai kunci-kunci melodik yang rumit. Keesokan harinya, Edo memperkenalkannya pada dunia nyanyian alternatif metal, dan Huda langsung terobsesi, siap untuk menaklukkan panggung dengan suara yang keras dan penuh semangat.


Vokal Huda ternyata memiliki kekuatan magis, mampu menggetarkan jiwa dan memukau Edo. Dengan tak sabar, Edo mengajaknya untuk jamming bersama teman-teman band di sekolah, mencoba menghidupkan lagu "Out of Control" dari Hoobastank. Saat mereka mulai bermain, suara Huda mengalun, berpadu sempurna dengan irama musik, menciptakan harmoni yang luar biasa. Hasilnya sungguh spektakuler, melebihi ekspektasi siapa pun. Mereka semua terkesima, dan Edo tahu bahwa Huda telah menemukan tempatnya di antara mereka. Dia merasa band mereka akan menjadi tak terkalahkan dengan tambahan vokal Huda yang luar biasa.


Edo membawa Huda ke dalam dunia scream yang gelap dan intens, memperkenalkannya pada berbagai teknik vokal yang brutal dan memukau. Mereka menuju ke kios tattoo milik Ricky, seorang master scream metal yang legendaris. Dengan metode yang tepat dan bimbingan yang intensif, Ricky membentuk kemampuan Huda menjadi luar biasa dalam waktu dua minggu. 


Sekarang, Huda telah memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi vokalis metal yang tangguh, hanya perlu mematangkan jenis vokalnya. Dengan semangat baru, Huda mulai menghafal lagu-lagu metal yang lebih keras dan kompleks, sambil menanti saat yang tepat untuk bertemu kembali dengan Yuna, gadis yang telah mencuri hatinya. Bagi Huda, Yuna adalah yang pertama dan satu-satunya yang mampu membuatnya jatuh cinta. Namun, di balik kesibukannya dengan musik, Huda juga melihat peluang baru dalam pergaulan barunya di kalangan anak metal dan tattoo. Ladang jualan barang haramnya kini semakin luas, membuka pintu bagi ambisi dan kekuasaan yang lebih besar. Dunia Huda kini dipenuhi dengan dua obsesi: musik dan kekuasaan.

Tiba lah suatu hari sabtu, Huda bersiap di depan radio ibunya dan menunggu acara musik keras dimulai.

"Halo halo halo selamat sore guys, malming ini guys, kalian kemana guys? Dan buat yang jomblo tenang aja ini masih jam empat sore, sempat lah kalian share to share nomor hape kalian biar dapat kenalan! Dan kalian bisa share nomor kalian dengan kirim sms aja ke sini ya..." Dan penyiar mulai menyebutkan nomor official  admin channel.

Huda mengambil ponselnya dan mantengin itu radio lagi, berharap sesuatu akan terjadi.

Beberapa musik metal sudah dimainkan, banyak orang juga sudah menyebarkan nomornya agar dicatat pendengar untuk dapat teman atau kenalan. Hingga tiba lah saatnya ada sebuah panggilan yang diharapkan Huda yang sudah lemas.

"Yunaa! Halo lady metal, selamat sore!" Sambut penyiar radio.

"Halo kak, ga ada karaoke ya sabtu gini? Request lagu spesial buat seseorang yang lagi galau sepertiku deh... Judulnya In the End by Linkin Park ya!" Tuturnya.

"Oke beibzbut anyway! Kamu ga minat share no hape gitu, siapa tahu ada fans kamu yang pengen berteman sama kamu?!" Goda penyiar.

"Boleh!" Yuna kemudian menyebutkan nomor kontaknya dan Huda antusias menyimpan nomor itu dengan berdebar-debar.

Setelah sore itu, perasaan Huda bergolak seperti badai, bergantian antara euforia dan keputusasaan. Dia terus menatap layar ponselnya, tak berani mengambil langkah pertama untuk menghubungi nomor Yuna. Malam pun tiba, tapi Huda tetap terjaga, pikirannya dipenuhi dengan bayangan Yuna. 


Akhirnya, kelelahan emosi membuatnya terlelap, dengan ponsel masih tergenggam erat di tangannya. Keesokan paginya, Huda bangun dengan perasaan yang sama, malas untuk menghadapi dunia luar. Matanya masih terpaku pada layar ponselnya, nomor Yuna terukir jelas di sana. Dia memilih untuk menyendiri di kamarnya, terbaring di atas kasur tanpa semangat untuk melakukan apa pun. Ibunya mencoba menawari makanan, tapi Huda tidak menghiraukannya. Dengan hati yang pedih, ibunya hanya bisa berdoa agar Huda segera keluar dari kegelapan emosi yang menyelimutinya.

"Aku... Sakit banget kangen suaramu..." Huda memilih menu untuk menulis pesan singkat ke Yuna.

'Assalamu alaikum...' Dan itu terkirim.

Tidak lama kemudian masuk sms ke ponsel Huda, 'Waalaikum salam, ini siapa?' Balas Yuna.

Huda meneteskan air mata tanpa tahu alasannya, 'namaku Huda.. aku boleh jadi temanmu kah? Maaf kalau tidak sopan.. aku dapat dari radio,' balas Huda kepada Yuna.

'Iya, aku memang nyari teman tapi tidak ada yang sms aku sama sekali setelah aku share nomorku, haha,' balas Yuna.

'Ya iya lah mereka minder,' balas Huda.

'Aku bukan artis, aku cuma suka lagu metal,' jawab Yuna.

'Boleh ketemu sama kamu ngga?' Balas Huda.

'Boleh, kapan? Di depan sekolahanku ya...' Balas Yuna.

'Baik lah..' Huda tersenyum tanpa mengusap pipinya yang basah.

'Aku jelek, pendek, gendut dan ga seksi,' balas Yuna, membuat Huda tertawa kecil.

'Aku tidak peduli... Aku cuma mau berteman samamu dengan tulus... Hehe,' balas Huda.

'Besok kalau aku pulang aku telpon buat temuin aku..' balas Yuna.

'Huum..' balas Huda.

Malam itu, mereka berdua terhubung dalam sebuah percakapan yang mengalir seperti sungai, membagikan pikiran dan perasaan tentang hobi, musik, dan band kesukaan. Keesokan harinya pasti akan menjadi hari yang penuh kejutan, tapi Huda tidak bisa melepaskan pikirannya dari Yuna. Ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang membuatnya merasa sangat perih dan penasaran. Siapa sebenarnya Yuna ini? Apa yang membuatnya begitu terobsesi? Huda merasa seperti sedang memecahkan teka-teki yang rumit, dan dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan jawabannya. Dengan rasa penasaran yang semakin membara, Huda menunggu dengan sabar saatnya untuk mengetahui lebih banyak tentang Yuna, dan mungkin, menemukan rahasia di balik perasaannya yang tak terkendali.

"Wajar saja jika kau seperti ini sebab dia sama sepertimu," bisik Zanum ke telinga kiri Huda.

"Apa? Kau kenal dia?" Huda kaget jantungnya semakin berpacu.


"Aku tidak bisa menerawang siapa dia karena itu aku mengatakannya, sebenarnya satanis itu juga bisa menerawang dari jauh tentang siapa saja yang bisa mereka manfaatkan, seperti Ricky, dia itu diikuti mahluk ghaib buas dan dia bisa jadi tangan kananmu setelah ini," saran Zanum.

"Ricky?" Huda memutar bola matanya ke atas.

"Ya, buat lah dia jadi bandar, dan aku menerawang ada aura hitam akan mendatangimu, mungkin orang illuminati akan segera mendatangimu jika kau membuat lagu ciptaanmu sendiri, aku akan membantumu.." bisik Zanum lagi.

Huda mengambil rokoknya di meja dekat tempat tidur kemudian ke meja belajarnya untuk menulis lagu dengan bantuan Zanum.

"Brad, aku menciptakan lagu, kapan kita bisa bertemu," ucap Huda sambil mengetik SMS ke  Edo.

Huda terus menulis lagunya, jari-jarinya bergerak dengan lihai di atas senar gitar listrik yang baru dibelinya kemarin saat latihan dengan Ricky. Melodi yang indah mengalir dari tangannya, seperti air yang mengalir dari sumber yang tak pernah kering. Saat jam tiga malam tiba, pukul sebelas, Huda memutuskan untuk beristirahat, tapi pikirannya masih dipenuhi dengan Yuna. Beberapa jam kemudian, tepat jam tiga pagi, Huda bangun dari tidurnya dan mengambil wudhu untuk sholat tahajud. Dalam keheningan malam, dia berbicara kepada Sang Pencipta, memohon petunjuk dan kekuatan untuk menghadapi perasaan yang membara di dalam hatinya. Dan dalam doanya, Huda tidak pernah berpikir untuk melepaskan Yuna dari pikirannya, sosok yang tiba-tiba menjadi sosok yang dia cintai dan hargai. Yuna telah menjadi bagian dari dirinya, dan dia tidak bisa membayangkan hidup tanpanya meski pun belum mengetahui parasnya.


Dalam sujudnya Huda mengalirkan banyak air mata kesedihan, kehampaan dalam hidupnya yang lelah tiada henti dia berjuang untuk meguasai banyak hal agar bisa membalaskan dendamnya sejak kecil atas perlakuan zalim yang kini harus dia terima. Huda adalah sosok yang tidak pernah putus asa meski pun dia bahkan sering kehilangan akal kenapa hidupnya begitu dipermainkan. Dia berkecukupan dan bahkan meghidupi teman-teman miskinnya di Aceh, kini dengan menjadikan mereka semua sebagai bandar narkoba dan dia kini harus melakukannya kepada teman-temannya di Kediri. Rasanya seperti jahat sekali ketika menjalankan bujuk rayuan kepada mereka supaya mereka menurut. Namun hanya itu yang harus Huda lakukan demi masa depan negeri ini, itu lah dalam pikiran pemuda itu dan dia harus bertemu Herman secepatnya tahun ini itu tekatnya. Dan Huda tahu bahwa Herman pasti lah orang yang dekat dengan Tuhan karena itu jangan sampai Huda melenceng agar dia dipertemukan Allah-nya kepada sang ayah.

Keesokan paginya Huda bersiap untuk berangkat sekolah, dia menyemprotkan parfumnya yang mahal kali ini.

"Tumben minyak wanginya lain," puji Mariam saat menyiapkan makan untuk Huda.

"Aku mau olah raga sama teman-teman Bu, jadi aku akan sangat berkeringat." Alasan Huda.

"Oh, gitu yaudah bawa buah nih! Ibu tadi ke pasar beli buah..." Mariam memasukkan apel dan jeruk ke tas Huda.

"Bu, ayahku itu orangnya seperti apa? Aku ingin mencarinya tahun ini." Tegas Huda.

Mariam menarik nafas dalam, "dia itu badannya kecil ramping tidak terlalu tinggi, wajahnya tampan dan dia itu sangat bijaksana dan sopan, kawan dia banyak sekali dan dihormati... Ibu kagum dengan pemikiran dia tentang siksa kubur dan hari kiamat, dia selalu menceritakan kepadaku kehidupan orang-orang yang sudah meninggal dunia di alam baka..." Mengingatnya membuat Mariam tersenyum sendiri.

"Begitu kah?" Huda tercengang.

"Ada apa Nak?" Mariam melihat wajah Huda yang terpelongo.

Huda teringat dengan ucapan Hasan saat ia masih kecil dulu.

"Aku jadi ingin bertemu dengannya sekarang. Aku berangkat Bu!" Kata Huda sambil mencium tangan ibunya dan kemudian berlalu menuju motoe gedhe-nya untuk dipanasi dan pergi ke sekolah.

Saat jam istirahat, Huda mengajak Edo ke ruang latihan band, membicarakan tentang lagu barunya yang penuh semangat dan energi. Namun, karena lagu tersebut terlalu keras untuk dimainkan di sekolah, Edo mengusulkan untuk keluar sekolah sebentar dengan izin dari guru BP. Mereka berdua, bersama Jimmy yang dijuluki Jimmy Sulivan junior sebagai drummer dan Heiki sebagai bassis, menuju ke studio jamming terdekat. 


Di sana, Huda memainkan lagunya dengan gitar melodinya, dan Edo sangat terkejut dengan bakat luar biasa yang dimiliki Huda. Semua teman di ruangan itu terkesan dan bersemangat untuk menggarap lagu tersebut lebih lanjut setelah jam sekolah selesai. Namun, Huda memiliki komitmen lain yang tidak bisa ditinggalkan, yaitu bertemu dengan Yuna, sehingga dia meminta untuk latihan sore saja. Mereka semua setuju dan berencana untuk bertemu lagi di studio setelah pulang sekolah. Dengan semangat baru dan kolaborasi yang solid, mereka siap untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Sepulang sekolah, Yuna menelpon Huda. Huda mengangkatnya antusias.

"Assalamu alaikum, aku di depan sekolah SMK-ku Singasari, sini lah!" Kata Yuna.

"Waalaikumsalam. Segera, aku tidak lama aku janji." Sahut Huda.

"Iya, hati-hati ya.." Yuna menutup panggilannya.

Huda segera mengambil HP-nya dan berlari ke parkiran, dia melesat ke lokasi dengan kecepatan yang luar biasa, jantungnya berdegup kencang karena tak sabar ingin bertemu dengan Yuna. Saat dia tiba di depan kafe yang dekat dengan sekolah itu, Huda berhenti sejenak, matanya memandang ke seberang jalan. Tapi, apa ini? SMK khusus anak perempuan itu dipenuhi dengan pemudi berseragam hijau yang ramai menyebrang jalan dan mengantri untuk naik angkot. Huda kebingungan, dia tidak tahu harus berbuat apa, apakah Yuna ada di antara mereka? Dia memindai kerumunan dengan mata yang tajam, mencari sosok yang paling dia cintai. Dan kemudian, dia melihat...

Huda mengambil ponselnya dari balik kantong jaket, "halo, kamu dimana?" Huda mengedarkan pandangannya dibalik helm teropongnya.

"Aku makai jilbab, tas selempang hitam dan bersepatu pantofel, di depan tembok lapangan." Jawab Yuna setelah mengangkat panggilan Huda.

Huda langsung menoleh ke seberang jalan, "aku naik motor laki makai helm teropong dan jaket hitam, tasku merah," sambung Huda.

"Aku melambai!" Seru Yuna.

Huda tersenyum, "kamu itu? Tunggu aku datang!" Kata Huda lalu menutup panggilan dan memasukkan HP-nya ke kantong jaket.

Dia menyebrang bersama motornya dengan hati-hati dan menghampiri Yuna yang berdiri menanti di trotoar.

"Yuna?" Tanya Huda sambil membuka helmnya.

"Iya.." Yuna memandangi penampilan Huda.

"Huda.." pemuda itu melepas sarung tangannya kemudian mengulurkan tangan.

"Yuna" gadis berkulit sangat putih bermuka bulat dengan tahi lalat di samping bibir kirinya itu menjabat tangan Huda.

"...." Huda memandangi wajah Yuna yang seolah bersinar bagai bulan, bulu matanya yang lentik seperti boneka dengan eyeliner mengitari matanya sepert boneka emo dengan hidungnya yang kecil itu membuatnya terpana.

"Aku jelek kan?" Senyum Yuna memperlihatkan gigi gingsulnya.

"Cantik banget, aku sampai naksir..." Kata Huda blak-blakan.

"Ah gombal!" Yuna menarik tangannya.

Huda melihat tangannya yang kini kosong lalu menariknya.

"Makan yuk!" Huda tersenyum.

"Kamu orang Arab ya?" Penasaran Yuna melihat hidung kenalannya yang mancung, kulitnya putih dan rambutnya hitam pekat ikal dan lurus dengan bibir tipis mirip ayah Yuna.

"Aku... Aku orang Aceh..." Jawab Huda ramah.

"Oh.." Yuna.

"Jangan di sini kaya cabe-cabean, ayo kita kemana gitu makan... Naik!" Huda mengulurkan tangannya lagi, berharap bisa menyentuh tangan Yuna yang lembut.

"Iya iya bawel.." Yuna memegang tangan Huda dan naik ke jok belakang dengan susah payah karena memakai rok panjang semata kaki.

"Pegangan biar ga jatuh!" Huda meraih tangan Yuna yang lain dan meletakkannya di pinggangya, jantungnya berdebar sangat keras dan terasa hangat.

Huda merasa seperti melayang di atas awan, jantungnya berdebar kencang saat dia berjalan bersama Yuna. Baru ini seumur hidupnya dia merasakan kedekatan seperti ini dengan lawan jenis, karena selama ini temannya selalu laki-laki dan di kelasnya tidak pernah ada siswi. Mereka melaju pelan ke tengah kota, menikmati suasana sore yang hangat. Huda berbelok ke sebuah rumah makan lesehan mewah yang jarang dikunjungi anak sekolahan. Tempat itu tampak elegan dan romantis, dengan pencahayaan yang lembut dan aroma makanan yang lezat. Huda merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, dan dia tidak ingin terbangun dari keindahan ini. Dia menatap Yuna dengan mata yang penuh kasih, berharap bisa menikmati momen ini selamanya.

"Serius di sini?" Tanya Yuna saat Huda memarkirkan motornya.

"Kenapa?" Huda takut Yuna kecewa.

"Mahal!" Bisik Yuna.

"Hahaha! Turun lah..." Huda mengulurkan tangannya lagi dan Yuna memegangnya untuk melompat turun.

Huda melepas helmnya dan turun dari motor yang sudah dia tata rapi mengikuti susunan kendaraan lain, "kalau jalan sama aku jangan berpikir kamu akan keluar uang!" Huda mencolek hidung Yuna dan langsung menggandeng Yuna masuk, dia tidak ingin melepaskan tangan Yuna sedetik pun.

Huda memesan makanan ke kasir lalu menggandeng Yuna untuk memilih tempat makan, mereka lalu duduk di lesehan yang menghadap sungai kota.

Huda menggandeng Yuna agar duduk di sampingnya, "bentar aku copot sepatuku dulu!" Seru Yuna.

"Eh iya lupa..." Huda melepas tangan Yuna lalu melepas sepatu sportinya.

Yuna melepas sepatunya namun Huda langsung menggandengnya untuk duduk dekat dengan dia.

"Ada apa sih?" Yuna duduk di sisi Huda yang menghadapnya.

Huda terlihat senyum sedari tadi. Yuna memandangi wajah Huda dengan mengerjab.

"Kamu ga tipe cowo genit kan?" Yuna menelengkan kepalanya sambil bertopang dagu ke meja.

"Ah, aku genit ya... Maaf!" Huda mengusap wajahnya lalu tertunduk.

"Enggak... Cuma kaya'..."  Yuna mencoba memberikan jawaban yang tepat.

"Cuman apa? Kaya' apa? Om om genit kah? Aku ga genit kok... Aku menghormati kamu.." jawab Huda memasang mata menyesal.

"Ga apa... Kamu kaya'... Padahal baru aja ketemu aku gitu.." jawab Yuna.

"Oh.... Iya... Mungkin ini namanya jatuh cinta pandangan pertama..." Huda tidak ingin buang-buang waktu, dia meraih tangan Yuna dan megecupnya lama.

"..." Yuna melihati wajah Huda, terlihat begitu tulus.

Terlihat Huda menitikkan air matanya. Melihatnya Yuna melepaskan tangan kanannya dari genggaman Huda yang lembut dan mengusap rambut Huda yang halus.

"Mantanmu mirip aku kah?" Tanya Yuna lembut, Huda menggeleng-geleng keras.

"Lalu..?" Yuna melepas tangan kirinya dari Huda dan mengusap pipi Huda yang basah oleh derasnya air mata.

Yuna sedikit kaget karena pipi Huda benar-benar basah.

"Kamu cewe pertama yang aku dekati seumur hidupku, aku benar-benar jatuh cinta kepadamu saat pertama kali mendengarkanmu di radio dan saat bertemu hatiku semakin perih..." Huda melihat mata Yuna yang juga beradu pandangan dengannya.

"Jatuh cinta?" Yuna mengangkat alisnya pelan.

"Aku ingin menjadi milikmu, Yuna..." Huda terlihat begitu menyedihkan.

Yuna memeluk pemuda itu dan pemuda tinggi itu menangis pecah memeluknya tidak bisa menahan guncangan perasaan kesepiannya selama ini menjalani hidup yang sangat menyiksa batin.

Pelayan yang datang mengantar makanan terlihat tidak mau mengganggu mereka, dia meletakkan makanan ke meja tanpa suara dan Huda tidak peduli dengan itu, pelayan itu pergi dan Yuna yang menyadari itu, mereka pun melanjutkan pembahasan pribadinya.

"Maaf ya... Aku bukan cuek dan sombong, aku ini sudah banyak bertemu dengan cowo narsis, bajingan, gila seks dan aku ini ga bisa dengan cowo seperti mereka.. aku ini anaknya seorang imam masjid, aku mau aja sih pacaran sama kamu tapi aku ga bisa kasih lebih sebagai bentuk kasih sayang dan cowo ga akan ngerti..." Keluh Yuna.

"Aku ingin jadi milikmu Yuna, aku ini lulusan pondok pesantren Kulon Kali, mana mungkin aku melakukan zina... Ayahku juga panutan banyak orang, ibuku sudah janda... Aku sangat menghormati wanita... Hanya saja rasanya sangat sakit setelah aku menemukanmu..." Huda mempererat pelukannya.

"Kamu benar-benar jatuh cinta sama aku sepertinya... Mengherankan.." Yuna bingung kenapa itu bisa terjadi.

Huda melepas pelukannya dari Yuna, "mau kah kau memiliki aku dan menjadikan aku satu-satunya? Aku akan meratukanmu... Aku mencintaimu..." Huda meraih kedua pipi Yuna yang dekat dengan wajahnya.

"Kau ga akan menjual aku kan?" Yuna masih heran namun Huda menggeleng cepat.

"Aku ini punyamu, kau berkedudukan di atasku, apa pun keinginanmu akan aku turuti.... Aku bisa gila sekarang karena kamu..." Keluh Huda.

"Baik-baik.. kita pacaran mulai sekarang..." Jawab Yuna sambil menarik nafas dalam.

Huda meletakkan tangan Yuna ke dadanya dan gadis pendiam yang sehari-hari hanya diam di rumah itu merasakan genderang jatung Huda berpacu sangat cepat, Yuna tercengang, Huda benar-benar sedang menghadapi perasaannya sendirian.

Yuna tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelinci putihnya yang manis dengan gingsulnya.

"Kau benar-benar cinta mati sama aku, mengherankan sekali!" Yuna terkekeh, Huda tertawa mengikuti.

"Ya, aku cinta banget sama kamu Sayang! Cinta mati! Jiwaku untukmu selamanya! Ambil lah!" Huda tertawa dengan mata berkaca-kaca lalu mengecup kening Yuna lekat-lekat lalu memeluknya.

"Terima kasih sudah mau memiliki perasaanku ini, sangat hangat kurasakan dadaku ini, bingung aku!" Huda memeluk dengan senyuman terindah.

Yuna tersenyum dengan heran, "akhirnya di dunia ini ada juga orang yang membutuhkan kehadiranku... Setelah sekian lama aku merasakan pembulian sejak kecil apalagi aku selalu difitnah teman sendiri..."

"Mereka iri sama kamu yang pesek tapi cantik gini!" Huda tersenyum di balik leher Yuna yang tertutup kain hijab seragam sekolahnya yang berwarna hijau.

"Humm... Pesek gini manis tahu, mirip boneka.." puji Yuna ke dirinya sendiri yang selalu dibuli.

"Memang! Itu lah pikiranku saat pertama melihatmu, kamu itu boneka emo hidup... Rambutmu tercium meski berkerudung, wangi banget... Aku suka semua darimu..." Puji Huda nyaman.

"Ah kamu nih!" Yuna mendorong dada Huda.

"Aku gak sangek kok! Aku cuma muji cewekku!" Muka Huda mendadak bloon.

"Bukan... Rambutku model emo, trus sebenernya aku tuh ga berhijab.. aku ini sekolah aja makai hijab..." Yuna menghadap meja makan dan mengambil ayam bakar ke piring nasinya.

"Oh, ya ga masalah aku paham kok, kan banyak yang begitu juga di Kediri..." Huda ikut mengambil makanan, menyuap sedikit ayam bakar ke Yuna.

Yuna melihat Huda namun dia membuka mulutnya kemudian.

"Enak ga? Abis ini mau bakso ga?" Huda senyum.

"Ih aku ga mau gendut, aku udah tembem gini..." Sungut Yuna.

"Haha.. biar empuk pipinya!" Huda terkekeh kecil.

Yuna melahap makan siangnya yang gratis dengan bacaan doa terlebih dulu.

"Abis ini temenin aku latihan band ya, aku bikin lagu baru tadi.." undang Huda.

"Iya boleh tapi jangan malam pulangnya, aku ga mau ayahku ngambek, kemarin aku disuruh nemenin mantanku futsal sampai jam dua malam... Ayahku ga ajak aku bicara tiga hari tiga malam gara-gara itu..." Sebal Yuna.

"Tenang Sayang, tenang..." Huda mencium pipi Yuna gemas.

Hal yang tidak pernah terlintas dalam imajinasi Huda selama ini bahkan dia yang tidak berminat punya teman perempuan, dia yang alim dan menjaga kesucian, entah rasa dari mana dorongan untuk selalu inginkan Yuna itu terus hadir.

Yuna hanya diam dan cuek, dia tidak peduli selama pemuda itu tidak berbuat lebih karena masih memaklumi bahwa kenalannya itu benar-benar mabuk kasmaran kepadanya padahal Yuna tidak pasang susuk. Dia hanya seorang pemudi biasa yang bangun tidur jam empat pagi dan langsung membuka buku untuk belajar. Tuntutan belajar di MTs-nya dulu sangat ketat membuat Yuna belajar sampai jam tiga dini hari.

"Sebenarnya setiap hari aku sekolah diantar ayah, biasanya ayah jemput tapi aku ijin dulu... Dan aku ada les setelah sekolah sampai jam enam sore... Jadi hari ini aku bolos les demi kamu..." Yuna mengoyak ayam.

"Maaf! Jadi aku ga akan ganggu kamu lagi Sayang, aku janji," Huda menyatukan dua tangannya memohon.

"Iya, jadi kalau mau ajak main, tunggu aku pulang sampai ke rumah dulu, abis mandi... Abis isya baru kita keluar..." Kata Yuna.

"Siap Sayang, siap... Tapi hari minggu kosong kan, kamu capek ga? Biasanya ngapain?" Huda kepo.

"Aku menggambar komik aja sih di rumah, tapi boleh lah keluar, tapi jangan keliaran di jalan siang-siang bolong ya... Panas..." Komando Yuna.

"Oh siap Sayang, tenang... Tenang... Suamimu ini sangat penurut sama istrinya, hii..." Huda nyengir.

"Hih!!" Yuna mendorong bahu Huda yang setinggi telinganya.

"I love you Sayang..." Huda membungkuk sambil senyum.

"Iya iya iya.. kasih aku waktu buat jatuh cinta ke kamu..." Yuna menelengkan kepalanya sambil angkat alis.

"Oke, aku akan buat kamu juga mencintaiku... Aku perjuangkan kamu sampai matiku!" Huda mengedipkan mata genit.

"Ih norak ih genit!" Yuna memukul lengan atas Huda.

"Hahaha! Namanya juga usaha biar kamu ketawa Yang!" Lontar Huda.

"Haaha ya iya ah percaya!" Yuna lanjut menyantap hidangannya.

Seusai mereka makan dan minum, mereka mengobrol sedikit tentang musik ciptaan Huda kemudian cowo jangkung itu menerima panggilan dari Edo dan mereka akhirnya ke TKP tempat Edo mengajak Huda untuk merapat.

"Death metal? Gila banget musikmu Yang!" Komen Yuna mengingat ucapan Huda saat pasangannya itu mengambil motor di parkiran.

"Death metal death love!" Teriak Huda.

"Hahaha gila!" Sorak Yuna yang naik motor dengan bantuan tangan Huda.

"Hahaha..." Huda tertawa kecil membawa motornya kentempat genknya berkumpul.


Komentar

  1. Guruku❤️❤️😁😁
    Kapan kelanjutannya aku siap membaca your story ahaayy❤️❤️

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 8)

Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 1)