Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 5)
Yuna ke dalam rumah melepas sepatu dan berganti baju, ke dapur membuat dua gelas kopi hitam.
"Siapa?" Ayah Yuna ke dapur.
"Coba temui lah, Yah.." kata Yuna sambil mengaduk kopi dengan air panas dan gula.
Ayah Yuna pun ke teras, "gimana? Oh ... Ada apa, Nak?" Ayah Yuna duduk di teras dengan masih mengenakan sarung, baju koko dan peci hitam untuk sholatnya. Dia melihat motor mahal berparkir di halamannya.
"Pak.." Huda meraih tangan pria senja kurus itu lalu mencium tangannya.
Huda teringat ucapan Yuna saat pertama kali bertemu dengannya tentang bibirnya yang mirip ayah Yuna dan ternyata benar.
"Pak saya Huda, teman Yuna.." pemuda itu memperkenalkan diri.
"Iya.. aku Suherman ketua RT di sini... Ada perlu apa Nak?" Pria itu menaikkan satu kakinya ke kursi sambil melihati Huda.
"Saya nyari ayah kandung saya namanya... Suherman... Ibu saya namanya Mariam yang dulunya Yahudi terus mualaf..." Huda tertunduk muka serendah-rendahnya.
"Oh ... Kamu.. ya.. aku bapakmu" santai ayah Yuna.
Mendengar itu Yuna dari balik pintu ruang tamu menelan ludah lalu maju meletakkan kopi ke meja di teras.
Huda melotot panik, dia tertunduk bukan kepalang.
"Sudah sehebat apa kamu sekarang Nak?" Kalimat itu tidak terduga benar-benar terlontar dari mulut ayah Huda.
"A... Aku... Aku kemarin lulus MTs Kulon Kali Pak... Aku punya rumah makan, butik sama kos-kosan sendiri..." Jawab singkat Huda.
"Alhamdulillah, tapi bukan itu maksudku... Nduk ambil rokok sama korekku di meja ruang tamu!" Ayah Yuna menyeruput kopi dan Yuna mematuhi lalu duduk di kursi teras yang kosong setelah menyerahkan barang yang diminta ayah Yuna.
Dengan santai Suherman menyebat, "Yuna ini di belakangnya ada sosok hitam mengerikan dan masih banyak lagi orang bermukena hitam di belakangnya. Kulihat pasukanmu ngeri semua dan jumlahnya bukan main. Untuk apa itu Nak?"
"Anu... Untuk kuislamkan Pak, mau kuajak perang melawan orang kafir..." Jawab lirih Huda yang tertunduk.
"Buat apa? Kamu ngajar sana di pondok pesantren jadi ustadz, islamkan aja orang kafir itu semua, tarik masuk Islam!" Titah sang panutan Huda.
Huda mengangguk-angguk pelan.
"Kamu amalkan ini doa.. biar bisa islamkan mereka semua.. Nduk, tulis doanya di kertas putih, kamu wudhu dulu sana!" Ajak Ayah Yuna.
Yuna ke belakang untuk wudhu dan mencari kertas juga ballpoint.
"Aku akan ajari semua ilmuku padamu dan kamu akan aman dimana pun kamu berjalan tapi satu pesanku... Jangan tinggalkan sholat." Tuturnya lagi.
Huda mengangguk-angguk manut tanpa kata.
"Aku mau lihat wajah ganteng anakku, coba mana!" Datar ucap Herman.
Huda pelan-pelan mengangkat wajahnya.
"Potong rambutmu! Cukur.." dan mendengar itu Yuna menyahut sambil keluar ke teras membawa kertas dan pena lalu meletakkan ke meja.
"Ayah potong lha... Itu lah hajat dia..." lanjut Yuna.
"Ambil guntingnya!" Singkat Herman dengan santai seperti tanpa beban, matanya sayu tapi tajam, tegas dan sagar tapi lembut sekaligus.
Yuna ke kamarnya dan mengambil gunting.
Melihat Yuna datang dengan gunting, Huda bertekuk lutut ke depan Herman dan membelakanginya.
"Bismillahi rahmani rahiim..." Herman menerima gunting itu dan memotong rambut Huda.
"Jadi anak sholeh ya Nak, aku tahu tujuanmu ke sini. Kamu gantiin aku untuk nafkahi ibumu itu mulia sekali... Aku tidak berkutik saat mbah Yai menyuruhku mengislamkan ibumu.. makanya aku nikahi dia... Semoga kau jadi keturunanku yang membawa manfaat untuk golongan kita.." Herman mengecup kepala atas Huda.
Huda menangis sesenggukan, berputar badan dan memeluk Herman dalam sungkemnya.
"Udah jangan nangis nanti ibu tirimu bangun..." Kata ayah dua remaja yang kini jiwanya tidak karuan itu.
"Sini Mas aku rapikan rambutmu!" Yuna duduk di kursi, Huda duduk di lantai di depan Yuna dan Yuna merapikan rambut Huda menjadi lebih pendek, ternyata dia pandai menggunting rambut.
"Aku akan buka juga mata batinmu biar kamu bisa melihat siapa musuhmu.." kata Herman alias Suherman.
"Iya Pak.." jawab Huda kalem.
Selesai menggunting malam itu, Yuna mencatatkan amalan doa dan zikir yang wajib Huda amalkan.
Kemudian setelah menerima itu, Huda pamit pulang.
Keesokan harinya setelah sekolah Huda menjemput Yuna dan membawanya ke sebuah kos kosong milik temannya yang pergi keluar kota.
Huda membuka kunci pintu kos itu dan masuk ke dalamnya di susul Yuna.
"Kamu pasti mau bahas masalah Ayah.." Yuna lemas.
"Yang! Aku sayang banget sama kamu Yang! Aku gila lama-lama kalau begini..." Huda membaringkan diri lesu.
"Yaudah, aku mau berbuat dosa terakhir sama kamu," Yuna melepas jilbabnya.
"Apa lagi?" Huda pening menghela nafas panjang.
"Bikin impas yuk, aku hutang kan sama kamu." Yuna membuka seragamnya.
"Yang, jangan gila beneran!" Huda bangkit.
"Aku mau melepas cinta kita selamanya, Yang! Biar aku iklas lepasin kamu! Aku bisa mati penasaran sama rasanya karena kita ga akan pernah bisa nikah!" Yuna mulai membuka roknya.
"..." Huda tanpa ba bi bu be bo juga melepas seragam sekolahnya.
Hari itu Huda mendapatkan apa yang seharusnya di masa depan dia dapat dari Yuna. Dan keduanya merasa tidak penasaran lagi.
Setelah hal itu terjadi...
"Maafin aku..." Lirik Huda.
"Aku tahu... Kan ga di dalam tadi.. insyaAllah sih aman.. semua orang pernah berbuat dosa... Tapi ini ga bisa Yang! Aku bisa mati penasaran ntar... Makanya aku mau kasih.." Yuna geregetan.
"Boleh lagi ga nanti Yang... Aku ga bisa Yang aku ga iklas Yang..." Huda menangis lagi.
"Aku tahu, aku tahu, iya boleh lah..." Yuna mengambil rokok di tas Huda dan menyebat.
"Kamu stres banget ya, Yang? Maafin aku, Yang!" Huda memeluk Yuna yang masih bugil.
"Kamu tahu ga! Aku baru ini ya dapat cowo bener-bener aku suka dan aku berusaha suka dan akhirnya suka gitu... Tapi... Ga boleh sama dia gitu... Nunggu lama... Taruhannya nyawa... Reputasi... Udah sabar kudukung sabar aku temenin... Eh... Prank!" Keluh Yuna.
"Sama aja, Yang! Aku begini karna diculik sama bandar kelompok illuminati tahu. Terus makanya aku sejauh ini pengen balas dendam... Kesepian banget aku di jalan sesat ini... Kamu datang dan aku kaya' lahir lagi tapi sekarang rasanya mati tapi bernafas..." Huda pun menyebat sedih.
Yuna menoleh ke Huda, "islamkan aja temen Freemasonmu itu..."
"Mau kok mau..." Huda nurut dengan mata sembab.
"Kita puas-puasin hari ini ya, tapi pulang dari sini ga boleh lagi..." Jawab Yuna yang menahan sakit di alatnya yang tadi pertama kali mengalami pengoyakan.
"Emang ga sakit apa, Yang! Berdarah kaya gitu... Aku kasian sama kamu!" Huda memukul kepalanya.
"Sakitnya bukan di situ lagi, di sini..." Yuna menunjuk tengah dadanya.
"Aku bukan karna nafsu, Yang.. aku kangen sama kamu, aku butuh kamu, Yang!" Huda membenturkan kepalanya ke tembok.
"Aku capek manggung di luar, banyak bahaya di luar sana, anarki semua orangnya, penyihisannya kasar banget sampai aku bikin tato, stres aku Yang ga ada kamu Yang! Sakit banget aku pengen mati muda aja kalau kaya' gini... Mana bisa aku bertahan tanpamu Yang!" Rintih Huda.
"Minimal kamu bikin anak sama orang Yang sebelum mati muda, nikah dulu..." Logika Yuna masih main.
"Mau kok... Asal kamu setujuin... Tapi aku mau tubuhmu Yang! Hatiku ini nancap matinya ke tubuh kamu sekarang udahan... Raga aku ini udah bergantung sama kamu udahan!" Huda memeluk Yuna erat.
"Sabar, sabar..." Yuna pun bingung harus ngomong apa.
Petang itu, Huda dan Yuna duduk bersisian di tempat tidur, mata mereka saling menatap dengan intensitas yang tak terbendung. Udara di sekitar mereka terasa hangat dan berat, seolah-olah waktu itu sendiri telah berhenti.
Huda secara perlahan-lahan mengangkat tangan Yuna, membiarkannya tergeletak di atas bantal. Ia menatap wajah Yuna dengan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya ia menundukkan kepala dan menyentuh bibir Yuna dengan lembut.
Yuna merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang melayang di atas awan. Ia merasa dirinya hilang dalam keintiman itu, seolah-olah ia telah menemukan tempat yang paling aman di dunia.
Dalam keheningan petang itu, mereka berdua terjalin dalam pertukaran yang hangat, seolah-olah mereka telah menjadi satu-satunya di dunia.
Mereka berdua terus bertautan, dengan kehangatan tubuh mereka yang saling membalas. Suasana di sekitar mereka menjadi semakin hangat dan intim, seolah-olah mereka berdua telah terjebak dalam dunia mereka sendiri.
Huda secara perlahan-lahan mengangkat wajah Yuna, menatap mata yang indah itu dengan penuh kasih sayang. Yuna juga menatap Huda dengan mata yang sama, seolah-olah mereka berdua telah terhubung oleh sesuatu yang lebih dalam.
Mereka berdua kemudian berbagi ciuman penutup yang lembut, seolah-olah mereka berdua telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Ciuman itu menjadi semakin dalam dan intens, seolah-olah mereka berdua telah terjebak dalam keintiman yang tak terbendung. Mereka berdua terjebak dalam keintiman yang tak terbendung, seolah-olah waktu itu sendiri telah berhenti. Sebelum pulang, petang itu mereka melakukannya lagi dan lagi hingga keduanya menyerah.
"Sayang... Aku tidak akan pernah menghapus tato di dadaku ini... Biar di alam baka aku disiksa karena mencintaimu aku terima..." Sumpah Huda.
"Aku begitu kesakitan menjalani hidup ini sejak kecil sampai matiku pun... Aku ditakdirkan lahir dengan penolakan dari siapa pun..." Huda tak berdaya.
"Ssst..." Yuna mencium pipi Huda.
"Kau tetap cinta sejatiku..." Bisik Yuna.
Setelah kelulusan sekolah, Yuna dan Huda berlibur bersama menghabiskan waktu sepanjang hari seperti sepasang kekasih pada umumnya. Saat ini mereka di sebuah taman dekat sungai legendaris di kota mereka.
Hingga datang panggilan nomor luar negeri ke HP Huda.
'I am here in Malang and I will go to Kediri, where are you now (aku lagi di Malang dan mau pergi ke Kediri, kamu di mana sekarang)?' Ucap seorang pria bersuara nge-bass di balik speaker.
"Just meet me in simpang lima Gumul later (temuin aku di simpang lima Gumul abis ini).." Jawab Huda.
"Ok, sampai jumpa Bro!" Dan panggilan berakhir.
"Siapa, Sayang?" Yuna merangkul Huda.
"Orang yang merekrutku masuk Freemason, dia serorang bangsawan dari kerajaan di Eropa... Lagi di Indonesia lihat-lihat lahan bisnis, aku sarankan ke sini.. dia lah yang mau aku mualafkan..." Optimis Huda.
"Coba aja kita bisa menikah ya, Sayang... Aku pasti bangga punya suami sepertimu.." sinis Yuna iba.
"Maafin aku Sayang, aku salah milih calon orang tua sebelum lahir... Hehe... Ke rumah yuk... Bikin adek... Aku kangen, aku ketagihan, Sayang... Aku udah terbudaki nih sama kamu..." Huda menggigit bibir bawahnya.
"Genit ih!" Yuna memukul pelan pipi Huda.
"Serius... Kamu nolak aja aku langsung hancur sedih ga ketolong... Serius... Linglung aku pincang ga bisa berdiri... Lemes.. mau nyoba?" Huda merayu.
"Mulut garangan!" Tambol Yuna.
"Maaf Sayang... Nafsu banget aku sama kamu pengen nyiumin lagi itunya..." Huda memeluk Yuna dari belakang, mereka duduk melihat kuda berlari riang.
"Aku paham kok... Kalau kamu ga cinta ga akan senafsu ini... Aku cuma takut hamil..." Kata Yuna.
"Engga aku ga mau itu sekarang cuma mau nyiumin... Aja... Mau makan siang... Aku suka banget lihat kamu lega puas gitu... Aku merasa kaya jadi pria sejati seutuhnya gitu..." Huda malu sendiri dan menyembunyikan wajahnya di bahu Yuna.
"Ko ngeresss..." Pekik Yuna.
"Aku pelayanmu Sayang... Tenang!" Huda memasang jari peace.
Selesai bercanda-canda di sana Huda membawa Yuna ke hotel dan mereka melakukan bulan madu yang tidak diperlukan. Huda semakin berhasrat kepada Yuna dan benar-benar menjamah setiap detail milik gadis yang kini total terlihat sangat feminim itu.
"Aku memujamu..." Huda mengelapkan lidahnya di bagian tubuh Yuna yang seindah bunga anggrek bulan.
Menghirupnya dalam-dalam dan menikmati setiap inci surga dunia yang selalu dibalut oleh kain penutupnya.
"Emmmh..." Huda mendesah penuh cinta, dia mabuk oleh aromanya dan.. *Sensored* bagian favorit yang diminta Yuna sepenuh hati.
"Emh...*Sensored*..." Yuna meremas rambut Huda gemas.
Huda bangkit dan merayap menuju wajah Yuna dan mengecup bibir Yuna, gadis itu menarik wajah Huda dan *Sensored* Huda yang menggoda.
Kedua orang muda itu mabuk kepayang oleh birahi yang membara, "habis semua *Sensored* *Dosa Dosa* Yang!" Keluh Yuna.
"Itu tanda itu area punyaku, Yang! Jangan diusik!" Manja Huda.
"Astaga kaya anak kecil..." Yuna mendorong Huda dan melepaskan rasa penasarannya.
"Boleh ngga *Sensored* *Dosa Dosa*
"Iiih!" Yuna mencubit pipi Huda.
Bukannya sakit malah Huda tersenyum.
"Aku suka banget sakit yang kamu kasih... Terasa enak banget..." Kepedihan hati Huda mendalam membunuh sakit di raganya.
Yuna mendorong abangnya itu ke kasur dan bangkit mendekati kebanggaan Huda, dia memuaskan dirinya merasakan bagian tubuh Huda yang sensitif dengan *Sensore* yang manja. Huda mengerang dengan desahan syahdu dengan suara berat yang erotis, berharap Yuna senang mendengar kelemahannya.
"Ampun, Sayang... Aku sakit banget di hati... Aku kangen kamu, Sayang..." Huda mengelus rambut Yuna yang panjang.
Gadis itu *Dosa* dan *Sensored* *Dosa Dosa* yang bergumam manja.
"Bunuh aku Sayang, aku mohon dari pada hidup mengambang... Kabur nikah sama kamu juga ga mungkin... Aku ga segila itu..." Huda menikmati tubuhnya yang memanas tapi memang hatinya sangat perih seperti disayat-sayat.
"Aku ingin kamu lebih terbuka kepadaku... Berikan segala isi perasaan dan pikiranmu... Karena kamu sudah tidak memiliki organisasi jadi sekarang aku satu-satunya temanmu..." Bisik Yuna, Huda mengangguk pelan.
"Aku menghamba padamu, Sayang... Belah saja tubuku... Isi hatiku ini hanya namamu..." Isi kepala Huda kini dipenuhi oleh api karena cengkraman tangan imut Yuna mengurut kesadaran uratnya.
Beberapa waktu setelah pergulatan lidah Yuna yang menggemaskan membuat dahaga Huda lepas bersama keletihan yang membebaskan segala kesedihan mendalam dari jiwa senja milik pemuda itu.
"Maafkan aku..." Huda mengangkat Tubuh Yuna dan memeluknya lembut.
Yuna mengangguk pelan dan terlelap dalam penyesalan yang setara. Beberapa jam kemudian teman Huda menelpon lagi. Dia ingin menemui Huda, namun karena Yuna masih terlelap maka Huda meminta agar temannya itu datang ke hotel Teratai itu. Dan pria bule itu mengiyakan.
Huda memakaikan kemeja miliknya ke tubuh Yuna yang kini *Sensored* oleh hasil karya kedua tangannya. Dia menyelimuti baginda ratu di hidupnya itu dengan penuh perhatian. Huda mengambil tangan Yuna dan menciuminya.
"Aku ingin cepat mati, Sayang... Aku akan percepat kematianku dan menderita di neraka lebih baik.... Aku bahkan sudah meninggalkan sholat karena berputus asa... Semua ini karena aku menduakan Tuhan dan menggantikannya denganmu.... Aku sudah gila... Aku benar-benar akan menikahimu dan menjadikanmu istriku suatu saat... Maafkan aku... Aku bukan abang yang baik..." Huda mengecup kening Yuna yang sudah tidak sadarkan diri.
Huda ke kaca dan bercermin, dibacanya tato di dadanya yang berbunyi 'j'adore Yuna' kemudian menuju kamar mandi dan membilas dirinya yang letih secara mental.
"J'adore itu bukan hanya mencintai bahkan menyembah..." Huda tersenyum sinis.
"Hihihi... Aku ini sudah murtad... Yuna tidak boleh tahu ini... Hahaha..." tawa Huda lirih di bawah shower air.
Setelah merasa cukup bersih dengan sabun hotel yang wangi, Huda keluar dari kamar mandi dan mengambil baju di tasnya untuk bersalin busana.
"Aku akan menambah dosaku lebih banyak agar auraku berubah di penglihatan mata batin mereka sehingga mereka tidak akan curiga kepadaku... Selain menyembahmu Yuna..." Huda mendekati tasnya, mengambil sebuah jarum suntik kemudian diam-diam mendekati Yuna lagi.
Huda mencium bibir Yuna dengan sangat mesra dan dalam, sambil menyuntikkan jarum ke nadi gadis yang mengernyitkan alis itu namun karena dicium, dia tidak bangun karena merasa mungkin digigit manja oleh Huda, dia kembali berusaha melelapkan diri karena lelah.
Setelah suntik itu penuh dengan darah Yuna yang Huda pompa keluar, Huda mencium leher Yuna saat menarik jarum itu kemudian mengecup bekas suntikan di tangan Yuna.
Huda membuka mulutnya sambil mendongak, menekan pompa suntik dan mengucurkan semua darah Yuna dalam suntik itu, Huda menikmati setiap tegukan darah milik Yuna sambil memejamkan mata dan sedikit tersenyum seolah sedang menyantap cinta kasih yang mengalir di setiap darah Yuna untuk Huda.
Huda mengelap bibir dengan lidahnya dan kemudian menyembunyikan penyuntik itu kembali ke tasnya.
"Aku sekarang resmi menghamba kepadamu cintaku..." Puja Huda kepada gadis super manis itu.
"Tidur lah dewi pujaanku, aku akan ke sini lagi..." Bisik Huda ke telinga Yuna yang ternyata tidur karena terbius cairan sperma Huda.
Sebelum Huda ke hotel, dia mengonsumsi ganja namun itu tidak mempan untuk menidurkan Yuna, setelah Yuna menelan cairan kental dari keperkasaan Huda efeknya ternyata bekerja meski pun sudah menjadi sari pati, karena itu walau pun lolos setetes saja mungkin zigot milik Huda tidak akan hidup dalam rahim Yuna.
Huda berjalan anggun meninggalkan kamar hotel yang dia kunci dari luar, sambil tersenyum nyaman menyimpan degupan jantung penuh syukur telah menerma cinta terindah Yuna. Dia dengan percaya diri menuju teman bulenya untuk menghadap dan membicarakan mengenai Okultisme.

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar