Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 4)
Setibanya di depan studio musik semua teman Huda kaget sebab dia mengajak seorang remaja putri.
"Siapa dia Bro?" Edo keheranan.
"Cewekku... Kenalin namanya Yuna.." Huda mempersilahkan.
Mereka semua berkenalan.
"Huda baru ini kutahu bisa kenal cewe, untung lah... Manis cewemu nih!" Komen Heiki.
"Aku ga selera cewe seksi apalagi kecentilan.." Huda berlalu masuk studio.
"Udah berapa lama kenal Huda, Mbak?" tanya Edo.
"Eh.." Yuna bingung.
"Sejak kecil..." Senyum Huda sambil membenahi kunci gitar listrik yang akan dia pakai.
"Hahaha!" Edo peka, dia tidak mau terlalu kepo dan mendekat ke kawan-kawannya yang bersiap jamming.
Mereka mulai mengarasmen musik dan take berkali-kali sampai lagunya benar-benar jadi. Terlihat mereka sejiwa dalam lagu ini. Selama itu, Huda terlihat berbeda dari sebelumnya, terlihat lebih berwibawa dalam membawa dirinya dan suaranya sangat membius sampai semua teman Huda terlihat seperti sedang teggelam dalam musik.
Yuna memiliki sudut pandang lain. Dan menyadari itu Huda langsung mengoper ke intro lagu Chop Suey, rekannya langsung masuk ke ritme musik milik System of a Down itu. Yuna menyimak dan mengamati mereka semua. Pandangannya memang lain, mereka ini sedang mabuk musik, itu di benak Yuna. Terlihat Huda sangat menjiwai lagu ini bersama rekannya yang seperti terus merasuk masuk ke dalam dimensi alunan.
Lirik demi lirik memperlihatkan isi hati Huda lewat ekspresi wajahnya saat melantunkan ayat lagu itu, "kau sangat kesepian dan sangat sakit... Kau memperkenalkan dirimu kepadaku kan sekarang?" Komen Yuna lirih.
Lagu selanjutnya membawa mereka ke Bring me the Horizon dan bukan main liriknya sangat menggambarkan kesedihan dibalik distorsinya yang keras. Sedikit demi sedikit Yuna jadi mengerti arti tangisan Huda yang ingin memiliki teman dekat sebagai pelipur laranya. Dan itu terlihat gamblang dari cara Huda berteriak seperti kesakitan dan sudah muak dengan itu semua. Yuna tersenyum tipis lalu mengangguk-angguk kecil.
Sesi latihan mereka usai sudah dan mereka memutuskan berkemas pulang, Huda berpamitan dan megantar Yuna pulang yang ternyata rumahnya lumayan jauh dari kota sebab rumahnya ada di desa modern di pinggir kota.
Setelah Huda pulang, Yuna masuk kamar dan menguncinya, dia membanting dirinya ke kasur yang ada di kamarnya yang dikelilingi gorden merah gelap.
"Huda... Cowo introver kayaknya dia ini..." Yuna bukan lah gadis biasa, matanya yang tajam sangat pandai menilai orang sebab dia adalah komikus muda.
Meski dia tidak punya teman bermain karena semua orang menjauhinya akibat dia yang peka dengan dimensi lain tapi dia mulai yakin bahwa Huda bisa dipercaya.
"Kamu tadi diantar siapa? Pacaran lagi?" Kata ayahnya dari luar kamar.
"Temen doank itu.. anak baik kok..." Yuna melepas seragamnya.
"Laki-laki itu ga ada yang baik, mereka maunya ambil untung dari perempuan dan lalu membekasinya saja," mawas ayah Yuna.
"Iya tahu!" Yuna kini sudah berganti dengan baju jualan dari distro ala band metalcore.
Yuna keluar kamar lalu duduk di sofa dengan buku bacaannya yang tebal, cewe tomboy berambut panjang dengan poni itu membaca lembaran bukunya dengan muka datar.
"Jaga kesucianmu, kamu itu perempuan!" Pesan ayah Yuna yang sedang memakai kacamata sambil membaca buku berisi daftar kasus korupsi tokoh politik.
"Tenang aja! Aku ini bukan tipe cewe yang jaman sekarang rusak, Yah!" Cuek Yuna sambil membaca buku fisika kesukaannya.
Huda tidak mengganggu kesibukan Yuna setelah pertemuan tadi karena Huda fokus megurus obat haramnya dan menambah circle lebih luas lagi sampai ke Surabaya berkat tangan Ricky yang dia modali obat gratis, sekilogram!. Dan dengan labanya Ricky mengembangkan bisnis itu dengan membeli pasokan selanjutnya dari Huda. Penggelontoran barang itu sangat mulus sampai ke tangan aparat dan sipir sampai ke pejabat, dalam hitungan bulanan diperkirakan akan sampai ke Malang dan Lamongan.
Huda sekarang sangat kaya, musiknya pun terjual hingga sampai ke telinga Illuminati Music Co. Dalam hubungannya yang hanya lewat SMS dan telepon selular kini Huda merasa pencapaiannya sudah melebihi target. Jadi sekarang dia ingin bertemu dengan Yuna.
Dan pertemuan setelah Isya itu membawa Yuna ke perkumpulan genk motor, Huda membawanya ke sebuah gor di tengah simpang lima di seberang sungai yang membagi Kediri menjadi dua bagian. Tidak hanya anak buah manusia kini Huda semakin mumpuni dengan berbagai jenis setan yang sudah dia kumpulkan menjadi khodamnya dan sekarang hobi sampingannya adalah balapan liar saat jenuh akibat circle yang liar.
"Sayang, aku taruhan sepuluh juta malam ini dengan anak sini..." Huda memeluk Yuna yang duduk di jok depan motor dari belakang.
"Kenapa segede itu?" Heran Yuna.
"Karena aku tidak pernah jatuh di permainan ini dan mungkin ada rencana busuk untuk menjatuhkanku malam ini..." Bisik Huda sambil mencium telinganya.
"Sekalinya kamu sibuk dan mengajakku ketemu malah kaya' gini ya..." Yuna melahap batagor kesukaannya di plastik yang dibelikan oleh Huda tadi sebelum sampai di gor.
"Maaf aku juga sibuk banget, lagian jadwalmu juga padat Sayang..." Huda membelai rambut Yuna yang halus dan harum.
"Mas!" Seru Grandong, salah satu anak buah kepercayaan Huda yang dikenalkan oleh Ricky, dia adalah pemilik bengkel tempat Huda merombak motor sport-nya menjadi motor balap liar yang garang.
"Ada apa Mas?" Huda melepas pelukannya dari pinggang Yuna.
"Benar katamu Mas, mereka mau menghabisi sampeyan malam ini... Mereka pergi ke dukun untuk menjampi motor peyan dan itu akan fatal banget, mungkin mereka itu juga bandar yang kalah pasar sama sampeyan.." Grandong berkata lirik namun semua orang yang parkir motor di situ cukup mampu menangkap suaranya termasuk Yuna.
Mata Yuna melotot, dia bukan gadis lugu yang polos, dia selalu menjadi trendsetter di sekolahnya. Jadi mana mungkin istilah tadi tidak dia pahami semua. Yuna memjamkan mata dan tidak menghiraukan percakapan Huda dengan genk-nya. Dan mulai mata batinnya menerawang, dia begitu terkejut dan langsung membuka mata.
Yuna merasakan ada asap hitam pekat kebiruan tua yang menyelimuti tubuh Huda. Terasa sangat sangar dan mengerikan, hawanya membawa kematian dan wajah dingin Huda yang menawan membuatnya seperti raja maut yang mempesona.
Setelah Grandong pergi untuk menjalankan siasat yang Huda berikan, semua orang berhamburan mengikuti Grandong untuk menjalankan strategi yang tadi tidak Yuna simak.
Jam tangan Yuna menunjukkan pukul sembilan malam, "sudah malam.." nada dingin Yuna.
Huda mengulurkan tangan agar Yuna turun dari motor dengan bantuannya. Kemudian Huda memeluk Yuna yang telah turun dari kendaraan miliknya yang berwarna hitam.
"Aku mencintaimu, aku minta ampun atas segala kesalahanku... Aku tidak memberimu makan uang haram, aku juga memiliki butik, kos-kosan, bahkan rumah makan yang dikelola semua oleh ibuku... Aku ingin tetap menjadi milikmu... Aku sudah terlalu dalam bergantung jiwa kepadamu..." Huda merengkuh kepala Yuna tenggelam ke dadanya yang berdebar-debar.
"Aku tidak membencimu... Aku hanya takut polisi menangkapmu..." Alih Yuna.
"Polisi bahkan tunduk di bawah kakiku Sayang..." Huda mengangkat wajah Yuna dan mengecup bibirnya lembut.
Baru ini mereka berciuman bibir, mata Yuna datar melihat mata Huda yang terpejam.
"Kau belum mencintaiku bukan..." Huda melepas bibirnya.
Yuna mengerjap mata pelan dan menatap kedua mata Huda, tangannya meraih kepala Huda agar tertunduk ke bawah. yuna mencium bibir Huda dengan basah.
Huda tercengang, pipinya memerah.
"Bantai mereka sampai habis." Perintah Yuna melepas kecupannya.
Huda tesenyum tipis, "aku akan melaksanakannya Sayang... Aku bersumpah..." Huda bertekuk lutut dan mencium tangan Yuna.
"Tunggu lah aku di rumah dengan ibuku... Aku akan lari ke Pare, semua anakku sekarang tidak di Kediri, mereka menjaga jalan antara Kediri dengan Pare, setelah melakukan pembantaian; aku akan ke Pare bersembunyi... Kau akan diantar pulang oleh anakku, namanya Viki... Tapi jangan pulang sekarang... Aku ingin kau bicara dengan ibuku..." Huda memohon dengan masih bertekuk lutut.
"Baik lah..." Yuna mengabulkan.
"...." Huda tersenyum lega, dia berdiri.
Viki kebetulan datang, "nah ini dia Viki, Sayang!"
Viki mendekati mereka berdua, "mbak!" Dia menunduk sebentar, menyalam Yuna.
Yuna tersenyum tipis.
"Mari Mbak saya antar ke rumahnya Mas Huda..." Ajak Viki.
Yuna diam saja lalu naik ke motor sport Viki.
"Jagain majikanku ini Brad!" Pesan Huda.
"Siap Bosku!" Viki menunggu Huda menaiki motor andalannya lalu pergi dengan kencang meninggalkan gor.
Baru lah Viki tancap gas meninggalkan tempat remang dan bersuasana wingit itu.
"Mbak aku boleh tanya?" Viki melaju melewati perumahan.
"Apa Mas?" Jawab Yuna.
"Kenal orang seperti Mas Keceng dari mana sih?" Viki kepo.
"Oh julukannya Keceng ya? Kenal dari dia sendiri nyari kenalan..." Jawab Yuna.
"Mbak tahu ga kalau dia itu hebat banget, mafia Kediri ini di bawah dia semua sampai yang tua-tua dan yang lama-lama semua patuh sama kebijakan dia... Klub malam sini apa lagi..." Kata Viki.
"Tahu... Tapi aku ga mau ikut campur yang penting di perutku halal makanannya..." Yuna.
"Ya iya lah Mba, uang dia itu diputar ke bisnis ini doank!" Aku Viki.
"Emang dia ga ada musuh gitu?" Yuna asal tanya supaya suasana cair, mereka kini tiba melewati jembatan sungai yang membelah Kediri jadi dua bagian.
"Ada... Bandar baru yang datang ke Kediri kaget melihat Kediri berubah makanya mereka mau menyingkirkan dia, dia itu berkali-kali di santet, markas kami ada aja kejadian aneh tapi dia tangani semua dan banyak yang mati mendadak setelah itu... Makanya aku kagum sama pegangan dia." Heran Viki yang meluncurkan roda motornya ke perumahan tempat kediaman Huda.
"Rumah Mas Huda itu sederhana Mbak di komplek.." Viki membawa Yuna ke gang semut.
Mereka kini tiba di rumah Huda, "assalamu alaikum, Bu!" Viki mengetuk pintu.
"Waalaikum salam!" Jawab Mariam kemudian tak lama kemudian dia membuka pintu.
"Bu ini ceweknya Mas Huda tadi dititip ke saya buat diantar ke sini... Nanti saya juga yang antar pulang..." Kata Viki setelah ibunya Huda keluar.
Mariam memandang penampilan Yuna yang tomboy dengan hoody dan sepatu sport, bercelana jeans hitam panjang dengan rambut emonya, tapi kulitnya bersih putih dan terlihat sopan mengangguk dengan senyuman.
"Siapa namamu Nak?" Ramah Mariam berusaha menerima cewe selera anak semata wayangnya dari Herman, dia bahkan tidak ingat dengan anak tiri dari Karim lagi.
"Saya Yuna, Bu..." Yuna mengulurkan tangan.
"Masuk Nak..." Mariam mengulurkan tangan yang ternyata dicium oleh Yuna.
"Iya Bu, makasi Mas Viki..." Yuna melepas tangan Mariam.
"Iya Mba, sama-sama, tunggu ya! Bu saya pergi dulu disuruh Mas Huda bantu-bantu..." Pamit Viki.
"Iya... Makasi ya, titip Huda ya..." Cemas Mariam kemudian merangkul Yuna masuk rumah dan lekas mengunci pintu.
"Maaf jadi merepotkan tadi Mas Huda tiba-tiba ada urusan tambahan jadi terpaksa malah minta Mas Viki yang anterin saya pulang tapi saya disuruh di sini dulu..." Papar Yuna.
"Iya saya paham... Pasti karena Kediri lagi ga aman di sepanjang jalan... Pasti sekarang dia menghadapi masalah sangat besar..." Wajah Mariam lemas, dia duduk di sofa tamu.
"Sini Nak..." Mariam mengajak duduk.
"Ibu tahu soal masalahnya Mas Huda?" Yuna duduk di samping ibu Huda.
"Iya... Orang dia anakku semata wayang Nak... Gimana hubungan kamu sama Huda?" Mariam mengambil buah jeruk yang di pajang di meja tamu lalu mengupasnya.
"Alhamdulillah baik, saya sama dia baru ketemu tadi, soalnya beberapa bulan ini kami sibuk masing-masing, saya ngejar pelajaran dan dia sibuk dengan urusannya..." Jawab Yuna menghela nafas.
"Oh, kamu suka belajar ya?" Senyum Mariam.
"Iya Bu, alhamdulillah posisi pertama matematika di sekolah..." Jawab Yuna.
"Oh pantas kamu dipilih Huda... Kamu juga tomboy.. teman Huda itu semuanya cowo ga ada yang cewe..." Mariam memberikan jeruk yang telah dikupas ke Yuna.
Yuna kaget melihat reaksi Mariam yang begitu humble.
"Makasi Bu, kalau boleh tahu siapa nama Ibu ya?" Yuna mengambil jeruk itu.
"Mariam," ramah ibu Huda.
"Bu Mariam orang Arab kah? Putih, mancung, keren banget... Anaknya ganteng banget..." Puji Yuna.
"Ibu tuh orang Yahudi dari Israel tapi keluarga Ibu tinggal di Jerman semua, karena diusir dari Jerman keluarga Ibu ke Medan terus ke Kediri sini, dulu Ibu merantau.. ketemu sama ayahnya Huda... makanya jadi mualaf. Tapi karena ternyata Ayahnya sudah punya istri, jadi Ibu meninggalkannya... Ibu nikah siri dengan diijab qabul oleh kyai di pondok pesantren ayahnya Huda dulu Nak..." Entah kenapa Mariam sangat terbuka kepada Yuna.
"Loh? Terus?" Yuna pun kaget dan tidak menyangka jadi seakrab itu dengan Mariam dalam waktu singkat.
"Ibu dalam kondisi hamil curhat sama teman di warung malah diajak nikah dan dibawa dia pulang kampung ke Aceh... Kalau ingat itu sedih banget..." Ingat Mariam sambil mengelap matanya.
"Maaf Bu, jadi ingat..." Yuna mengusap bahu Mariam.
"Tapi meski begitu Ibu tuh ga dendam ke dia karena paham... Lewat dia aku menemukan Islam dan aku bisa memiliki anak yang sangat berbakti seperti Huda.. Huda itu sangat penurut, hatinya juga lembut... Meski dia berurusan seperti itu tapi sholatnya tertib.. dia bahkan sholat malam Nak... Tahajud... Sedekah makai uang hasil uang halalnya, banyak... Masih kecil udah mikirin nasib susah banyak orang .. dia itu imannya kuat... Sering disantet orang... Batuk darah tapi ga tumbang..." Mariam menangis.
"Ibu yang optimis yah... Saya yakin Mas Huda kuat..." Yuna memeluk Mariam.
"Iya, kalau bukan keturunan bapaknya, ga mungkin dia mewarisi kekuatan ini semua, Ibu kadang mikir sampai segitunya.. makanya Huda meyakinkanku untuk mau lagi ke Kediri... Dia bilang mau mondok dulu biar punya pondasi ilmu sebelum mencari bapaknya lagi..." Mariam memeluk Yuna.
"Saya mau bantu Bu, siapa nama ayahnya?" Yuna mengusap rambut hitam Mariam yang lebat.
"Herman... Orang Ngasem..." Jawab Mariam.
"Kebetulan nama ayahku juga Herman dan rumahnya di Ngasem..." Yuna melepas pelukan Mariam.
Mariam melotot kaget.
"Serius kamu?" Mariam syok.
"Ibuku namanya Devi dan punya empat anak..." Kata Yuna.
"Oh, bukan... Anak Herman cuma dua... Cewek dan cowo..." Ingat Mariam.
"Oh... Iya Bu... Tenang aja ya..." Yuna mengelap pipi Mariam.
Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam di jalanan angker gunung Klotok di dekat perumahan elite dan peternakan kuda.
Huda menggeber knalpot motornya beriringan dengan Bajing yang jadi lawannya. Aba-aba dari kru balapan menandakan start mereka berdua pun berlomba mendapatkan urutan balapan duo spin.
Huda melesat di belakang lawannya sambil mengamati gerakannya, berkali-kali musuhnya menghalangi celah Huda di tikungan dan di belokan ke empat di tengah sawah di jalur kosong panjang Huda mau menyalip tapi musuhnya mengeluarkan golok sambil melaju memepet Huda.
Huda yang ada di kanan si rival langsung ke belakang dan berusaha mengimbangi laju lawannya tanpa banyak komentar. Keduanya sengit di jalan masiv, hingga ada belokan ke kiri dan Huda menyalip dari kiri, lawan mengimbanginya hingga mereka di satu sisi. Dengan gesit dia menghujam golok tapi kaki kanan Huda menendang motor sang lawan. Entah dari mana kekuatan mengerikan datang, tendangan itu membuat
si musuh dan motornya jatuh. Tubuhnya tertindih motor dan menghantam batu padas trotoar sampai kepalanya pecah remuk beserta tulang belulang tengkoraknya.
"Selesai!" Umpat Huda sinis sambil terus melaju menuju garis Finish.
Sejak awal ada yang aneh, Huda datang sendirian tanpa kawalan genk. Anak-anak Bajing baru menyadari keanehan itu.
"Jangan-jangan!" Umpat salah satu ketua tangan kanan Bajing si bandar lawan Huda.
Semua orang yang sadar dengan keanehan itu akhirnya melaju menyisir jalan yang jadi ladang balapan.
Huda tidak mempedulikan uang sepuluh juta yang sudah di-panjer di taruhan, dia terus memutar gasnya dengan kecepatan tinggi, berbelok ke jalan pintas menuju jembatan dan mengincar simpang lima Gumul yang akan membawanya melewati Girah untuk ke Pare.
Anehnya tidak ada lampu merah yang menyala ketika Huda melaju, salah satu anak buah Huda menunggu di perempatan sebelum simpang Lima, jaga-jaga jika Huda di kejar namun ternyata ketuanya itu melesat sendirian menembus perempatan itu.
Anak buah itu melambai hormat dan dijawab lambaian oleh Huda sambil melaju ke simpang lima Gumul. Maka anak buahnya itu melesat bersama Huda. Mereka terus memacu adrenalinnya melewati Girah dan di perempatan Girah ada lagi satu anak buah Huda memarkir motor di trotoar.
Huda memencet bel motornya sebelum melewati perempatan itu sehingga anak buah itu menyalakan motornya dan melesat bersama si Keceng.
Mereka bertiga tanpa banyak bicara menuju Pare dan saat tiba di gerbang selamat datang, ada anak buah Keceng lagi yang menunggu. Dan hal sama terjadi, mereka menuju pusat Pare.
"Ke tempat abangku Mas!" Seru si anak buah yang tadi menunggu di gerbang selamat datang, Huda mengangguk.
Mereka pun menuju tempat yang dimaksud tadi. Setelah tiba di lokasi aman tempat abang anak buahnya yang bernama Richard, Huda menelpon Viki.
"Aku sudah selesai, kamu kontak yang lain suruh mantau jalan kalau aman ya antar pulang kalau ga aman jangan antar, bahaya kalau kamu dihadang!" Intruksi Huda.
"Siap Mas, sedari acara belum mulai aja anak buah Bajing udah pada nongkrong di mana-mana, mungkin mau ngepung, bener kata Mas!" Sontak Viki tegang.
"Makanya aku curiga kenapa senyap banget sebelum acara, biasanya ngumpul dulu ngopi bareng... Mereka sudah di jalanan sejak jam tujuh!" Lontar Huda.
"Itu bodohnya jadi Mas Grandong jadi denger!" Puas Viki.
"Yaudah, Bajing udah mati, sekarang kita sembunyi dulu liat respon mereka! Kalau habis ini ada gangguan mistik jangan ragu telpon, bilang sama yang lain. Pegangan dariku jangan lupa diamalkan!" Huda menutup panggilannya.
Viki mengantongi HP-nya ke celana dan mengendap-endap celingukan di jalan, dia berjaga di jalan tak jauh dari rumah Mariam di dalam rumah temannya yang jualan bensin di tepi jalan.
Viki masuk rumah temannya lagi sambil menutup pintu, "gimana Mas?" Tanya Rudi teman Viki.
"Barusan ada yang lewat, mereka lagi sisir jalan ini." Jawab Viki.
"Jancuk, ada lagi!" Rudi mengintip dari jendela.
"Perang besar ini! Mereka ke rumah Keceng!" Viki mondar-mandir panik.
Viki mengirim kabar ke Huda lewat SMS tapi Huda tidak membalas.
Huda menelpon Yuna untuk sembunyi di kamarnya, mendengar suara Huda, Mariam mematikan lampu dan menarik tangan Yuna ke kamar Huda.
"Kamu yang tenang ya!" Bisik Mariam.
"Iya Bu!" Jawab Yuna dengan Huda masih menelpon.
"Assalamu alaikum!" Yang benar saja ada suara dari luar.
Mariam meninggalkan Yuna dan menuju pintu depan.
"Mereka datang," bisik Yuna ke telepon.
"Diam Sayang!..." Lembut Huda.
Mariam pura-pura mengantuk sambil membuka pintu.
"Bu, Mas Kecengnya ada?" Tanya seorang pemuda bertindik di bibirnya.
"Loh, bukannya sama kalian?" Bingung Mariam.
"Oh yaudah Bu kami cari dulu... Makasih Bu!" Pemuda itu berbalik kembali ke motornya sambil menggeleng kepala ke dua rekannya.
Mariam menutup pintunya dengan pelan lalu mengintip dari jendela. Tak lama kemudian ada seorang pemuda lain datang membuang tanah di depan rumah Mariam. Mariam tercengang dan mulutnya ternganga, dia terus mengamati pemuda itu berjalan menjauhi rumahnya.
Merasa aman, Mariam kembali ke kamar Huda dan meminta HP Yuna, Yuna menyerahkan HP itu ke Mariam, dan ibu Huda itu berbisik ke ponsel Yuna, "ada yang naruh tanah di depan.."
Yuna tercengang, namun Huda dengan tenang menjawab "nanti mati dia, tenang aja."
Mariam mengembalikan HP ke Yuna dan keluar kamar untuk mengambil wudhu untuk sholat hajat meminta perlindungan kepada Allah. Dia berlalu dengan wajah cemas tanpa memikirkan sepatah kata apa pun untuk Yuna.
Yuna terduduk di ranjang Huda, "aku ini terus dipulangin ngga?" Cemasnya.
"Tenang Sayang, kalau aman aku suruh Viki antar, kalau ga aman ya maafkan aku... Dari pada kamu dibuntuti dan mereka menculik kamu.. soalnya mereka udah di jalan sejak jam tujuh sebelum balapan.." jelas Huda.
"Oh... Makanya kamu suruh aku ke sini ya?" Yuna maklum.
"Iya, anak buahku kan tadi laporan, mata-mataku di kelompok musuh juga ada... Dan dia sekarang sama aku, kalau dia hianat aku bunuh dia..." Huda.
"Gak lah Mas, aku ini wong-mu!" Terdengar sahutan di belakang suara Huda.
"Yaudah, kamu di situ hati-hati Sayang... Aku kangen..." Lirih Yuna.
Hati Huda berdesir mendengarnya, "kamu sekarang di kamarku tapi aku jauh... Humh... Aku belum bisa ke sana... Aku juga bakalan bolos sekolah kalau gini... Nanti kamu main ke Pare ya... Hari minggu... Nih kukasih nomor telponnya Viki, kamu suruh aja dia antar ke Pare... Kamu tanya bisa pulang ga sekarang gitu... Jangan matiin telponnya... Bentar aku lagi buka HP-ku yang satunya... Jangan matiin telponnya!" Huda kemudian sibuk sendiri, Yuna menyimak sambil tiduran di kasur Huda yang wangi khas tubuh Huda.
Terlihat banyak kitab-kitab di rak, kamar Huda yang dihiasi gitar listrik, skateboard, koleksi senapan dan pedang. Bahkan Huda memajang beberapa keris juga di kamarnya, "cowo paket komplit!" Komen Yuna.
"Sayang!" Suara Huda.
"Emh?" Yuna bangun, dia ketiduran, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Kamu mau pulang? Sudah aman, ada kawanku polisi berjaga di jalan memantau kondisi... Dia akan mantau Viki kalau lewat biar kamu aman, ntar kalau anak buah Bajing di situ lewat aku suruh Viki bawa kamu ke Pare sini..." Ucap Huda.
"Pulang! Ayahku bisa coret aku dari KK nanti kalau aku ga pulang..." Yuna mengusap matanya lalu bangun dari ranjang dan membuka pintu kamar Huda.
"Viki di depan gang, Sayang..." Jawab Huda.
"Bu... Bu Mariam..." Yuna memanggil pelan.
"Iya..." Mariam memakai mukena keluar dari kamar sholat.
"Bu, saya pamit dulu mau pulang..." Yuna mencium tangan Mariam.
"Maafin Huda ya..." Pinta Mariam lembut.
"Ga apa Bu... Sabar ya Bu.." Yuna menuju pintu depan, Mariam mengantarnya.
Yuna sengaja menginjak tanah kuburan yang di buang di depan rumah Huda. Mariam heran melihatnya karena Yuna justru tidak takut bahkan Yuna meludah ke kiri ke atas tanah itu.
"Kembali mati kepada yang zalim samamu, wahai tanah makam!" Ucap pelan Yuna sampai terdengar ke telinga Mariam sampai ia merinding.
Mariam, dia begitu paham kekuatan penyihir hitam di Indonesia, dia pernah menerima serangan ilmu hitam dulu dan Herman menyembuhkannya dari pelet yang sempat membuatnya jadi kembang amben atau mayat hidup di atas kasur, sebelum akhirnya masuk Islam untuk menerima ruqyah dari Herman.
Viki melihat Yuna datang, dia menyalakan mesin motor dan setelah Yuna menaiki kendaraannya, dia melaju lesat ke jalan raya besar.
Di setiap perempatan ada mobil polisi terparkir, Viki dengan tenang membonceng Yuna dengan pura-pura tidak kenal, Kediri senyap sepi, di jalanan tidak ada satu pun kendaraan lewat.
"Jalan menuju rumahku melewati simpang lima Gumul... Masuk desa Jeruk." Kata Yuna mengaba-aba.
"Iya Mbak, tadi Mas Keceng ngasih tahu, depan patung selamat datang kan?!" Viki memastikan.
"Iya..." Yuna dibonceng Viki melewati simpang lima yang di jaga polisi terakhir.
Kini mereka melewati jalan aspal gelap di tengah sawah yang tidak punya lampu penerangan.
"Mulai dari sini sudah aman Mba, tenang aja..." Hibur Viki yang berbadan kurus, berhidung mancung minimalis, wajahnya imut dengan rambut cepak.
Mereka melewati lima desa dan tiba lah di patung selamat datang desa Ngasem, Viki menurunkan Yuna di depan rumah.
"Saya dipesenin buat pamit ke ayahnya Mbak.." sopan Viki.
"Iya Mas.." Yuna mengetuk pintu.
"Dua rumah ini milik orang tuaku, ayahku tidur di rumah besar ini, aku di rumah kecil itu.." tunjuk Yuna.
"Oh jadi minggu besok kujemput di rumah kecil itu ya Mba.." tanya Viki, Yuna mengangguk.
Ayah Yuna membuka pintu dan matanya merah, mengernyitkan jidat ke Viki.
"Pak, dia mau pamit, dia yang antar aku pulang, soalnya di Kediri tadi geger Pak, ada tawuran, jadi ga bisa pulang cepat... Banyak polisi... Banyak razia..." Jelas Yuna.
"Maaf ya Pak, saya tadi ga bisa antar jam sembilan pas..." Viki mencium tangan ayah Yuna.
"Iya ga apa. Jangan diulangin!" Ketus ayah Yuna.
"Yowis, makasih Mas, ati-ati di jalan.. aku masuk dulu..." Yuna berjalan ke rumah kecil di samping dan membuka pintu dengan kunci, dia serumah dengan ibu dan adiknya di situ.
"Yauda Pak saya pamit dulu.. saya bukan pacarnya Mba Yuna kok, cuma temen sekolahnya aja.." cengir Viki.
"Dulu rumah ini selalu didatangi minimal dua puluh pemuda sepertimu saat anakku yang sulung masih sekolah sampai aku gelar karpet di lantai.." ayah Yuna bernada datar.
"Loh kok gitu? Mereka semua ngapelin anak Bapak?" Viki angkat dua alis.
"Iya, anakku itu kembang desa di sini... Aku cuma heran aja sama anak-anakku semoga mereka semua terjaga dari bala dan aib." Tegas ayah Yuna.
"Oh, pasti Pak! Saya sangat segan sama Mba Yuna udah saya anggap kakak saya sendiri, orang Mba Yuna di luar sana juga santun... Yaudah makasih Pak, assalamu alaikum..." Viki cium tangan lagi ke ayah Yuna sambil membungkuk pamit.
"Waalaikumsalam" singkat ayah Yuna lalu menutup pintu rumah.
"Pantes aja manis, orang kakaknya aja kembang desa..." Gumam Viki menaiki motornya lalu melaju ke arah Pare.
Hari minggu pun tiba, Yuna diantar Viki ke Pare menemui Huda yang menyewa dua rumah kos-kosan berdampingan. Satu rumah kosan untuknya sendiri dan satu lagi untuk anak buahnya yang datang untuk bertemu Huda untuk urusan dan menjaga keamanan Huda.
Yuna sekarang di dalam kamar kos dengan Huda. Huda memeluk Yuna dengan manja sambil berbaring dengannya.
"Yang" panggil Huda.
"Apa Yang?" Yuna memainkan game di HP Huda yang lebih bagus dari HP-nya.
"Minggu depan aku dikontrak Illuminati Music Co. Dan dibawa keluar negeri untuk manggung dengan band-ku... Kamu mau ikutan ngga? Keliling dunia... Itung-itung diemin kasusnya yang tewas kubunuh..." Huda menciumi pipi lembut Yuna.
"Berapa lama itu?" Yuna tidak ambil pusing karena mustahil juga untuk ikut.
"Sebulan doank... Bilang aja study banding keluar negeri dari sekolah... Aku buatin surat palsu deh..." bujuk Huda.
"Gila kamu Yang!" Yuna seru dengan game luar angkasanya.
"Kamu kan pinter bahasa Inggris jadi buat apa?" Huda merayu dan meraba manja perut Yuna, dia menghindari bagian sensitif seperti dada atau kemaluan karena sudah bersumpah menjaga kesucian Yuna.
"Yang!" Yuna yang kepalanya tidur di lengan Huda mematikan game.
"Ada apa Sayang?" Huda mengambil HP itu dan meletakkannya di meja dekat kasur lantai.
"Kamu tuh kalau sama aku begini terasa anu gak sih?" Yuna duduk.
"Ya, aku tahan... Aku ga mau menodai kamu Sayang, kenapa? Kamu mau kah?" Lirih Huda.
"Oh, kirain ga anu..." Yuna mengambil HP di atas meja dan memainkan game lagi sambil meletakkan kepala di dada Huda.
Huda dengan pelan meletakkan tangannya ke dada Yuna, "turunin!" Yuna berkata pelan tapi ketus.
"Mau digedein gak Yang?" Goda Huda.
"Ga suka! Ga mau... Ga keren... Turunin Yang!.." pinta Yuna sebal dengan nada manja sambil main game.
Huda menggiring tangan ke kepala Yuna dan mengusap-usap rambut kekasihnya itu.
"Kalau aku cuma cium-ciumin kamu ga apa kan?" Polos Huda.
"Ya asal jangan cium sana sini sampe buka-buka, aku ga bisa!" jawab Yuna sedikit ketus.
"Iya, janji.. aku nikahin kamu dulu baru aku mau..." Huda meremas bahu Yuna gemas.
"Kasihan banget kamu..." Yuna mendongak ke cowonya itu.
"Kenapa?" Huda mengambil alih HP dan meneruskan game.
"Kamu kasih aku segalanya tapi aku ga kasih kamu apa-apa" jawab Yuna memindahkan kepala ke bahu Huda dan mendekapnya sambil menonton game.
"Kamu tuh kasih kepercayaan kamu ke aku, kasih ketulusan kamu ke aku, kamu jagain cintaku bener-bener, kamu semangatin aku, itu gede banget Yang, kamu sabar banget orangnya.." Huda fokus ke Game.
Yuna memasukkan tangannya ke dalam celana jeans Huda pelan-pelan, membuat Huda jantungan, matanya melotot dan tangannya berhenti bermain karena kaku mendadak.
"Cek dulu barangnya sebelum nikah kalo kecil aku balikin!" Yuna nyengir.
"B... B.. boleh... Cek aja..." Huda gugup sambil menelan ludah karena ini baru pertama kali seumur hidupnya.
"Yakin?" Tangan Yuna masih di depan celana dalam Huda dibalik jeans yang masih terkancing sempurna.
"Astaghfirullah," Huda memucat.
Setelah puas ngetes cowo mavia muda itu, Yuna mengeluarkan lagi tangannya dari celana jeans Huda.
"K.. kenapa Yang?" Huda mendadak culun.
"Mana ketahuan kalau masih mengkerut gitu..." Yuna membuka kancing dan restleting jeans Huda.
Pipi Huda merona hebat, "Sayang?" Huda tidak yakin.
Yuna membuka pakaian dalam Huda, dan pemuda itu langsung mengambil bantal menutupi mukanya, Yuna terkekeh.
"Kamu lihat donk nih?" Yuna menarik bantal itu.
Huda mengigit bibirnya lemas, dilihatnya tangan putih lentik itu sedang meraba bagian sensitif yang selalu disembunyikannya dari siapa pun.
"Bagus banget.." puji Yuna.
Pipi Huda tegang karena malu, "be benar kah?" Huda tersipu.
"Iya bagus banget malah..." Yuna mendekatkan kepalanya ke situ dan melakukan hal baru yang membuat Huda tidak bisa menahan getaran di batinnya.
"Sayang, ampun Sayang, maafin aku Sayang, astaghfirullah!" Huda menutup kepalanya dengan bantal lagi.
Yuna menarik bantal itu dan melemparnya, "kamu lihat ntar kamu kangen samaku!" Suruh Yuna.
"Aku selalu kangen sama kamu Yang tanpa kamu kasih aku ini semua..." Huda menurunkan alisnya sambil mendesah, seluruh tubuhnya menjadi hangat.
Benda tabu itu semakin kebas dan merekah, Huda menahan tekanan di perutnya sampai puncaknya meledak tanpa kendali.
"Ah... Sayang..." Huda terlihat begitu lega.
Yuna mengelap bibirnya dengan kaos hitam yang Huda kenakan.
"Aku takluk olehmu Sayang, ampun... Aku kalah sama kamu... Ampuni aku..." Lemas Huda.
Yuna terkekeh, "dasar!"
"Aku bisa gila kalau kamu buang aku Yang! Aku makin mabuk sama perasaanku ini Yang!" Huda memejamkan mata dan mulai menangis.
Yuna menutup kembali celana dalam Huda lalu memeluk cowonya itu.
"Karena kamu mencintaiku sungguh-sungguh... Aku juga sudah menyukai kamu..."
"Aku sungguh-sungguh Yang! Aku capek hidup dan tidak ada yang aku percaya bahkan anak buahku sendiri... Aku capek Yang, sama ini semua, tapi aku belum boleh berhenti!" Tangis Huda.
Yuna mengecup bibir Huda yang bergetar, "I love you..." Bisiknya setelah itu.
Huda memeluk Yuna dengan masih meneteskan air mata, "perjakaku ilang samamu, anjir..."
"Hahahaha!" Tertawa Yuna renyah.
"Wanita nomor satu di dunia ini..." Huda mengelap pipinya.
"Kau itu aneh? Alim sebenernya kamu ini" Yuna mengusap rambut Huda.
Huda membenarkan celana jeansnya.
"Sayang dengerin aku... Aku akan membuat organisasi gembong narkoba ini hancur setelah aku masuk ke pusat pemasoknya, itu misiku makanya aku harus jadi orang nomor satu dulu di Asia tenggara ini..." Bisik Huda.
Yuna melotot. "Gila kamu!" Bisik Yuna balik.
"Tenang kamu di situ Sayang... Aku akan menerangkan segalanya kepadamu... Aku akan keluar negeri... Dan aku akan pulang dua tahun lagi... Kamu jangan ke lain hati ya..." Mohon Huda.
"Aku kan sudah bilang aku itu susah dibikin terkesan sama cowo..." Yuna meyakinkan.
"Aku percaya kamu Sayang.." Huda berdiri ke lemari dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Huda menunjukkan sebuah cincin berpermata.
"Ini berlian asli, dan ini dariku untukmu... Selama aku pergi.." Huda memasangkannya ke jari manis kanan Yuna.
Yuna melepas ikat rambut hitamnya yang lucu dengan bulu, "simpan ini dariku..." Hibur Yuna sebagai rasa terima kasih.
"Aku ga akan potong rambut, akan aku pakai setiap manggung..." Senyum Huda.
Yuna merona mendengarnya. Huda memeluknya dan menjatuhkan diri ke kasur lantai berguling-guling gemas.
"Jadi aku sore ini pulang ya..." Yuna ceria tapi Huda cemberut langsung.
"Iya deh.. aku anterin... Pinjem motor orang aku makai masker sama helm biasa aja... Nyamar... Makai motor matic..." Huda memasang jari peace.
"Nah gitu donk!" Yuna senyum manis.
"Siap, Cintaku!" Huda hormat.
"Ih apaan sih! Noraknya..." Yuna menarik tangan Huda agar turun dari keningnya.
"Kamu tujuan ku di masa depan, kamu ga paham juga betapa berharganya kamu bagiku..." Huda trenyuh.
"Aku sangat paham, semua pria butuh wanita di belakangnya sebagai kekuatan dan aku itu kuat!" Yuna berpose layaknya wonder woman.
"Hahaha.... My super hero!" Bangga Huda kepada Yuna.
Dua tahun berlalu, kini Yuna sudah menginjak kelas tiga. Kediri sekarang benar-benar berbeda. Kondisinya sangat berbeda jika Ricky yang memegang kendali, lebih bar-bar. Polisi lebih sibuk sekarang karena para pendatang sering ke Kediri mencari masalah.
Sosok Keceng sekarang seperti urband legend keberadaan namanya membuat lahir kepercayaan baru bahwa jika ingin menjadi orang hebat maka harus menemuinya. Itu membuat orang baru terus berdatangan ke Kediri namun nihil. Ricky tidak tinggal diam. Dia terus mengerahkan peninggalan Huda semaksimal mungkin bahkan anak buah Keceng sebagian harus masuk ke penjara untuk berlindung sebab kekerasan di luar tidak bisa diatasi lagi. Penjara bukan lagi sel penyiksaan tapi seolah menjadi rumah kedua agar bisa aman dan mengawetkan umur.
Semua yakin setelah dua tahun berlalu Keceng akan kembali ke Kediri untuk itu semua orang merayap di sistem bawah tanah agar selamat karena backingan dari Keceng belum ada yang bisa menandingi.
Hari ini Huda benar-benar akan pulang sebab sudah ada kenaikan kelas tiga yang harus ditanggung Huda secara terpaksa. Kepala sekolah tidak mampu membantu alpha Huda dari sekolah. Karena ujian nasional itu langsung dari pemerintah pusat.
Di saat itu, Yuna dijemput lagi oleh Viki, dia diminta ke markas Keceng dan setibanya di sana. Betapa kaget Yuna melihat sosok Huda yang berambut hitam panjang sepinggang semampai. Mengikat rambut dengan kuncir miliknya.
"Astaga Yang!" Yuna berlari memeluk Huda yang duduk santai dengan penuh rindu.
"Aku sudah cantik kan sekarang?" Gagah suara Huda, suaranya semakin berat dan serak karena sering scream lagu deathmetal.
"Astaga Yang! Keren banget kamu sekarang! Tapi harus dipotong rambutnya kan sekolah... Ya ampun Yang badanmu berisi... Bahumu gempal hahaha!" Yuna memegangi kedua bahu cowonya itu.
"Iya gimana kalau kecil di-bully di sana.. Dan ga ada yang tahu lho aku ini anak sekolah!" Kekeh Huda.
"Kamu makin berwibawa Yang! Beda banget! Auramu berubah!" Yuna masih tak habis pikir.
Huda membuka kaosnya dan menunjuk ke dada kiri atasnya, ada nama lengkap Yuna tertato di situ.
Yuna menutup mulut dengan dua tangannya, "ya ampun Yang!"
"Efek kangen kamu Yang, aku minum terus, stres aku jauh darimu!" Huda yang wangi berdiri dari duduknya memeluk Yuna.
Semua rekan Huda di ruang itu senyum trenyuh salut dengan kesetiaan bos mereka ke cewenya begitu pula cewenya.
"Aku mau kamu yang mangkas rambutku..." Pinta Huda disambut anggukan Yuna.
"Nanti aku akan menemui orang-orang... Bang Ricky bilang semenjak aku di luar, banyak pendatang mau bertemu aku... Ga tahu mereka mau ngapain..." Huda.
"Kamu ga takut gitu?" Cemas Yuna.
"Ngapain takut?" Huda angkat satu alis.
"Mereka mau berguru ke mas Keceng katanya" jelas Viki yang nyebat di sofa.
"Ooh..." Huda dan Yuna berbarengan.
"Ada-ada aja ya?" Huda kekeh.
Dan malam itu pun tiba, mereka berkumpul di sebuah gedung tua di tengah kota.
"Assalamu alaikum sedulur semua" Ricky mengawali pertemuan.
"Waalaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh" jawab para tamu undangan yang semua berbaju hitam di gedung itu.
"Mari kita sambut tanpa basa-basi, Mas Keceng..." Ricky membuka tangan, datanglah Huda dengan anak buah kepercayaannya yang setia selama dia merantau.
"Assalamu alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh..." Ketika Huda memperlihatkan diri dan wajahnya, semua orang tertegun dan terpana.
"Waalaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh" hormat sekitar tiga puluh tiga pria itu.
"Maaf, saya baru pulang ke Kediri... Dan langsung saja tanpa basa-basi, tanpa menguranginrasa hormat dan terima kasih saya kepada para pengunjung yang datang ke sini jauh-jauh dan mencari saya selama dua tahun... Untuk memberikan informasi tujuannya kepada saya mulai dari paling belakang sisi kiri silahkan... Sebutkan nama dan asal daerah!" Padat Huda yang menahan lelah dengan tegap.
Yuna berdiri di kejauhan di samping Viki si manis dengan gusar karena orang yang di hadapan Huda rata-rata berbadan gempal dan umurnya di atas Huda semua.
"Yono dari Blitar. Saya ingin jadi mavia hebat!"
"Agung dari Brebes. Ajari saya cara aman transaksi!"
"Fendy dari Probolinggo. Bina saya jadi bandar paling kuat!"
"Januar dari Madiun. Saya mau sukses tanpa bangkrut dalam bisnis judi!"
Rata-rata semua permintaan ini pasti ditolak santa claus. Satu persatu dari mereka semua mengabsen.
"Kalian yakin bisa setia kepada saya?" Tes Huda.
"Yakin!"
"Yakin!"
"Kalian semua ini punya pegangan ghaib. Coba bunuh saya sekarang pakai ilmu kalian!" Tantang Huda.
Semua orang saling berpandangan dengan penuh tanda tanya.
"Maaf, sampeyan yakin Mas?" Hormat salah satu dari barisan yang berdiri.
"Ya... Saya suruh ini, perintah guru kalian!" Huda bergantian memandangi mereka satu persatu.
"Satu satu?" tanya yang lain.
"Bersamaan! Keroyokan!" Aba Huda.
Mereka pun bersiap pasang kuda-kuda dan menghantam kekuatan supranatural kepada Huda namun justru terpelanting bersamaan seluruhnya.
Viki melongo, Ricky yang bediri di samping Huda mengangguk-angguk. Yuna menelan ludah pelan. Ank buah Huda di belakang Yuna mulai berbisik ghibah.
"Berdiri! Kalian tahu kenapa saya bisa jatuhkan kalian sekaligus?" Mendengar Huda, mereka semua berhenti mengaduh dan berdiri semampunya secepatnya kembali atur barisan.
Mereka menggeleng, "tidak tahu Mas, tolong jelaskan!"
"Saya sudah sekuat tenaga tadi Mas, sudah minum darah ayam cemani sebelum ke sini..."
"Saya sudah menggunakan level tinggi dan puasa Mas tapi gagal..."
Satu-satu mulai mengakui.
"Karena kalian bersatu tujuan dan saling berdekatan. Jadi kalian harus berpencar jauh dari saya jika ingin bunuh saya. Dan tujuan kalian harus berbeda-beda. Itu lah penjahat sejati. Menjauh dari keluarga dan kawan dan punya tujuan berbeda dari orang lain." Didik Huda.
Mereka semua mengangguk disusul anak buah Huda.
"Jika kalian ingin mengikutiku, akui aku sebagai panutan kalian dan apa pun perintahku maka itu kebutuhan kalian, kalian wajib langsung nurut meski pun itu melepaskan semua harta kekayaan kalian dari hasil haram ini. Jika tidak, jangankan nyawa kalian. Keturunan kalian bahkan orang sekampung kalian akan terkena akibatnya. Paham?!" Bentak Huda dengan suara mengerikan karena dia kini sebagai penyanyi deathmetal.
"Betul, resikonya besar sekali." Ingat Ricky.
"Mungkin setelah seminggu atau sebulan kalian akan jadi milyader. Tapi setelah itu kalian harus berhenti mendadak jika aku katakan berhenti. Apa kalian sanggup? Yang gak sanggup silahkan pulang!" Bentak Huda lagi.
"Tidak ada yang namanya kekayaan abadi dalam urusan ini, ingat!" Ricky mengingatkan ulang dengan lantang.
"Wah mas masa' baru icip-icip enaknya jadi orang kaya malah langsung disuruh berhenti ya mana mau kita.." salah satunya protes.
"Bodoh kalian ini! Jangan jadi kesetnya iblis! kalau kalian punya modal ya kalian putar duit kalian jadi halal kan bisa! Goblok!" Bentak Huda.
"Mana bisa Mas ga ada yang laris semua sepi" keluh yang lain di belakang.
"Aku bilang kalian harus jauh dari keluarga artinya harus merantau kalau mau sukses di urusan ini, apa kalian siap?!" Bentak Huda.
Satu persatu dari mereka pulang.
"Cara menolak yang bagus" gumam Yuna.
"Bagi kalian yang masih berdiri di sini.. aku ingatkan... Jika aku perintahkan kau berhenti apa kau siap?!" Tunjuk Huda ke tujuh orang yang berdiri di hadapannya.
"Siap! Saya siap merantau!"
"Ya! Saya siap merantau juga Mas!"
Jawaban mereka rata-rata sama.
"Baik, tinggalkan nomor telpon kalian ke pengikut saya dan pulang lah!" Perintah Huda.
Mereka mendekati Huda dan mencium tangan Huda satu persatu lalu bersalam pulang setelah memberi nomor telepon mereka ke anak buah Ricky.
"Tujuh orang ini mau kita apain Mas?" Bisik Ricky.
"Mereka semua akan jadi peghianat... Kita mainkan aja... Kita jebak polisi.." bisik Huda.
Ricky mengangguk sambil tersenyum sinis dengan gagasan Huda. Dia merasa sangat terhibur dengan segala sikap Huda dalam memimpin serigala di Kediri seolah dia memang orang Kediri asli.
Huda melambai ke semua orang untuk mendekat ke depannya dan anak buahnya yang ada di barisan kelas atas, mereka berbaris di depannya kecuali Yuna.
"Silahkan duduk semua dan panggil yang lain ke sini!" titah Huda.
Semua orang menelpon rekan untuk merapat, Huda melambai ke Yuna untuk duduk di sisinya.
"Sekalian lha kalian titip makanan sama mereka bawa minuman.. nanti kuganti..." Kata Huda lagi, dan sekitar dua puluh menitan kemudian datanglah sekitar lima puluhan pemuda Kediri ke gedung itu dengan motor-motor besarnya.
Gedung tua tanpa pintu itu adalah bangunan mogok pembangunan dan memang terletak diantara gedung mall, dia ada di tengah kota, dia berlantai dua dan hanya berupa pondasi terbuka, dia dipagari seng sehingga tidak ada yang melihat banyak motor parkir di lantai satunya.
Semua pemuda itu duduk menikmati semilir angin malam yang berbulan purnama itu, suara mereka tidak terlalu terdengar karena kendaraan lalu lalang di jalan.
"Kalian sudah semua ini ya? Uang aku ganti nanti buat makan.." Huda.
"Jangan Mas, jangan dipikirin!..." Jawab salah satu yang duduk di tengah.
"Bisa ketemu Mas lagi udah seneng bukan main!.." seru yang lain.
"Ya sudah, assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, alhamdulillah kita masih bisa hidup sampai sekarang dengan anggota lengkap.. saya mau kasih pengumuman sekarang.." Semua orang menjawab salam Huda dan diam menyimak.
"Aku memutuskan untuk membebaskan rekan kita yang mengamankan diri di sel... Kemudian aku akan pergi lagi setelah lulus sekolah... Jadi aku ingin mencari penerusku untuk megang wilayah kota ini.." jelas Huda.
"Mas, maaf kalau aku jangan ditunjuk ya.." Ricky yang berbadan besar gempal bertato juga gondrong megintrupsi.
"Lho, kenapa Mas?" Heran Huda.
"Benar kata Mas Keceng tadi itu, kita akan menemukan titik pemberhentian Mas dan aku ingin istirahat dari kesibukanku ini... Selama sampeyan tidak di sini aku urus semuanya sama kawan-kawan tapi aku kualahan karena lawan juga makai black magic. Bukan aku malas atau takut Mas... Aku sudah kenyang Mas... Dan aku mau bikin usaha... Ga masalah sepi yang penting berkah... Aku pengen berkeluarga normal... Aku sekarang ini sudah kepala empat Mas..." Sopan Ricky.
"Kalau Mas Ricky berhenti aku ikut berhenti..." Respon yang lain.
"Alhamdulillah kalau kalian ada yang semangat untuk lebih baik... Baik sekarang dengarkan aku..." Huda menyambung dengan baik.
"Aku ini sebenarnya mendirikan gerakan ini semua punya tujuan..." Huda menoleh ke Yuna.
Yuna mengangguk pelan dan itu membuat Huda berani.
"Apa itu Mas jangan sungkan bercerita, aku setia kepadamu..." Ricky menepuk bahu kiri Huda.
"Aku sebelum menghadapi ujian nasional mau menemukan ayah kandungku di Girah namanya Suherman... Dan setelah aku lulus aku akan sibuk karena aku di luar negeri punya kenalan orang Freemason, aku akan masuk golongan itu dan akan aku hancurkan mereka. Karena mereka yang memodali bandar narkoba yang sudah bikin kita semua jadi budaknya." Jelas Huda.
Semua orang saling memandang dengan tanda tanya.
"Sebelum aku direkrut mereka, aku memang harus jadi orang nomor satu di Asia tenggara makanya aku perluas wilayah kita sejatim... Bahkan kini sepulau Jawa dan sudah sampai Kalimantan... Sampai orang Australi ga berani edar ke Indonesia. Tapi kita ngirim barang ke Vietnam bahkan Thailand dan Singapura... Itu semua dari arahanku... Sementara ini aku orang nomor tiga setelah Bob dan orang nomor satu itu bukan orang Freemason, aku ga kenal siapa dia." Tutu Huda, semua orang mengangguk.
"Sekarang aku sudah direkrut mereka, jadi tujuanku lewat dukungan kalian semua sudah tercapai dan jika kalian ingin bubar lalu mendirikan usaha halal aku persilahkan, aku dukung... Dan aku doakan sukses..." Sambung Huda.
Entah kenapa semua pemuda itu justru menunduk dan menitikkan air mata.
"Aku jamin tidak ada polisi memenjarakan kalian... Tapi kalian harus bantu polisi menangkap semua musuh kita dan bersihkan negara ini dari obat haram!" Perintah Huda.
Mereka mengangguk-angguk, bahkan mereka saja tidak mengonsumsi obat haram itu, mereka hanya menjual. Sebagian bahkan sudah berhenti memakainya, Huda sangat tahu perasaan mereka yang merasa bersalah sudah merusak moral anak-anak remaja.
"Kami akan bantu Mas, kami tetap setia... Kelompok kita ini tidak bubar... Kita tetap keluarga... Mas tetap nomor satu tidak tergeser siapa pun Mas.." Ricky mengusap pipinya.
"Sudah banyak hal bahaya kita lalui bersama, ada yang tewas itu karna aku ga ngerti caranya hadapi musuh yang makai black magic selama Mas ga ada.." keluh Ricky.
"Itu bukan salahmu Mas... Itu cara matinya mereka... Harus diiklaskan, udah tulisannya begitu..." Hibur Huda menepuk-nepuk bahu kanan Ricky yang mengangguk.
"Ya sudah besok aku mau ke Polres... Ditemeni calon istriku ini... Kalian boleh kemana saja bebas..." Huda.
"Aku minta restumu Mas aku mau merantau... Aku di sini udah ga aman..."
"Ya Mas, sama..."
Jawab sebagian mereka.
"Itu solusi terbaik... Kalau sudah punya keluarga di rantauan pasti aman... Musuh juga mikir butuh nikah... Mereka ga akan selamanya berambisi di dunia hitam ini..." Tatah Huda.
Mereka pun berlanjut ke obrolan ringan dan Huda mengantar Yuna pulang pukul sepuluh malam.
Di jalan, "mendingan yang motong rambutmu ini ayahmu aja... Kalau ayahmu ketemu... Suherman kan?" Tanya Yuna yang memeluknya dari belakang.
"Iya Yang..." Jawab Huda dengan suara berat.
"Aku bawa kamu ke dia Yang... Sekarang..." Jawab Yuna.
"Maksudmu?" Huda menghentikan motornya di tengah sawah gelap menuju desa Yuna.
"Ga masalah Yang kalau kita ga bisa nikah..." Yuna turun dari motor.
Huda heran betul, "harus nikah meski amit-amit kamu bunting sama orang lain orang aku ini cinta sama kamu, aku maafin kamu!" Protes Huda sambil melepas helmnya.
"Amit-amit! Aku ini saudarimu, satu ayah!" Pecah suara Yuna, dia menangis.
Jadi ini yang menyebabkan Yuna sedari tadi diam saja selama pertemuan.
Jantung Huda tidak karuan, mendadak kepalanya pusing.
"Gak mungkin Yang!" Huda membenturkan kepalanya ke helm yang di atas tangki bensin.
"Iya! Suherman itu nama ayahku! Ibumu bilang semuanya ke aku udahan tapi aku diam... setelah kamu lahir aku nyusul lahir. Abangku meninggal dunia lalu aku lahir kemudian adik laki-lakiku, nama Suherman itu ayahku!" Yuna meyakinkan.
"Sama namanya Yang!" Huda mendebat.
"Kita buktikan ya! Dan kalau iya gimana!" Yuna terduduk jongkok memeluk lututnya.
"Jika kamu benar... Aku... Aku... Aku hancur! Argh!" Huda memukuli kepalanya.
Yuna berdiri memeluk Huda.
"Ujian apa lagi ini ya Allah... Naik Yang!" Kata Huda.
Yuna kembali naik ke jok belakang dan Huda menyetir lemas motornya ke rumah Yuna.
Setibanya di depan pintu rumah besar tempat ayahnya tidur, rumah itu masih terang, pintu depan terbuka diganjal batu.
"Yah, assalamu alaikum... Aku kembali..." Yuna masuk rumah.
Ternyata ayahnya masih di atas sejadah berzikir sirri.
"Pak ada tamu..." Pelan Yuna yang membuka pintu tempat sholat.
Yuna kemudian kembali ke teras, melihat Huda yang duduk di kursi dengan muka lesu.
"Sabar, dia masih berzikir..." Ucapan Yuna dijawab dengan anggukan pelan, Huda melihat ke depan dengan pandangan kosong.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar