Anakku Satanis yang Membunuh Ratu Lebah Dunia (Bab 6)
"Hai, lets go to the restaurant to disscuss more about
your invitation.." ajak Huda.
Mereka saling merangkul lalu berjalan gagah ke restoran di
hotel itu, di sana mereka membicarakan segala hal dengan menggunakan bahasa
Inggris yang baik yang kira-kira artinya adalah sebagai berikut.
"Aku sudah menepati janjimu bahwa aku akan mengajakmu
masuk ke Freemason setelah aku ke Kediri.." bujuk bule bernama Alexis itu.
"Aku tidak keberatan, aku sekarang bersama dengan
pujaan hatiku di hotel ini sementara dia sedang terlelap, jadi coba jelaskan
singkat tentang kelompokmu itu!" Antusias terlihat di wajah Huda yang
cerah.
"Itu kelompok elite sosialis yang mendanai segala hal
baik di dunia ini, seperti donatur global dan menjadi grup paling berpengaruh
di dunia karena mereka suaranya akan diutamakan untuk didengar organisasi
pengatur kedamaian di dunia.." jelas Alexis yang berasal dari kerajaan
Denmark itu.
"Lalu apa yang kalian sembah?" Tanya Huda to
the point.
"Kau tahu tidak kitab suci di Kristen, Islam, Budha,
Hindu dan Yahudi itu semuanya hanya lah pecahan dari satu hal yang mana ditulis
oleh manusia meski pun sebagian dari firman asli Tuhan namun sebenarnya ada
yang paling tua dari mereka semua dan dia adalah penulis kitab paling unggul
karena dia maha guru yang membuat semua golongan akhirnya memutuskan untuk
mendirikan agama, semua kitab suci terinspirasi oleh namanya..." Pemaparan
Alexis ini sebenarnya mengarah ke satu hal yang Huda duga kuat adalah kepada
sosok yang berjulukan sebagai the Light Bringer.
Huda mengangguk pelan dan itu membuat Alexis melanjutkan
penjelasannya, "kami tidak menyembahnya namun membaca karyanya dan itu
berisi pelengkap bahkan isinya adalah puncak kesimpulan dari semua pemahaman
dalam semua kitab suci setiap agama dan tulisan itu sudah ada lebih dulu dari
semua kitab suci dan yang menjadi sumber kitab itu adalah sama... Firman Tuhan
yang tidak pernah dipublikasi... Bahkan tulisan karyanya tidak dimasukkan ke
dalam golongan keajaiban firman sebab dia bukan manusia... Tulisan itu untuk
memimpin bangsa yang tidak terlihat namun kamu harus tahu alkemia... Bahwa di
dunia kongret material itu terjadi akibat proses yang ada di dimensi abstak
material" papar Alexis.
"Ya itu ada dalam Islam... Disebutkan Allah meniupkan
ruh maka janin akan bernafas.." sambut Huda dengan fisika quantumnya.
"Spirit itu adalah abstrak material dan embrio adalah
kongret material... Embrio harus mengalami aktifitas transisi energi dari
dimensi abstrak material agar bisa melanjutkan hidupnya di dimensi kongret
material... Artinya kamu setuju dengan penjelasanku tadi... Nah, karya tulisan
panutan kami ini jika dijalankan rumusan alkemianya maka akan mengubah
pola sistem kehidupan yang terjadi di dunia ini..." Alexis memberi
kesimpulan.
"Iblis adalah penulisnya?" Huda menyandarkan
punggungnya.
"The Lux Saturn..." Jawab Alexis.
"Jadi aku meneliti tentang ksatria templar... Dan aku
menemukan sejarah kelamnya bahwa mereka itu sebenarnya penyuka sesamanya apakah
itu betul?" Uji Huda tanpa mempedulikan pelayan restoran yang akhirnya
datang menyusun hidangan ke atas meja mereka.
"Kau tahu?" Bule bermata biru dan berambut pirang
keemasan yang memiliki wajah rupawan itu mendekatkan wajahnya setelah
pelayan itu berlalu kembali ke tempatnya.
"Apa itu?" Huda menyeruakkan rasa penasarannya.
"Karena itu aku tertarik kepadamu, aku ingin kau berada
lebih dekat denganku dan jikalau kita bisa..." Alexis meraih tangan
kiri Huda dan membelainya lembut.
"??" Huda melihat tangan halus bule itu mengusap
mesra punggung tangannya, membuat Alexis menarik jemarinya sedikit jauh dari
jemari Huda.
"Aku akan memperjuangkan posisimu... Karena aku
mendapatkan apa yang aku mau darimu.." kode Alexis.
"Apa itu?" Huda mengangkat satu alisnya.
"Cinta dan pengakuan darimu bahwa aku lah orang
berharga bagimu dalam kelompok itu... Aku akan membawamu ke posisi paling
tinggi dalam kelompok..." Rayu Alexis.
"Sudah berapa banyak orang sepertiku yang kau
dapatkan?" Huda menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Kau lah orang pertamaku dan aku jauh datang demi kamu
dari tempatku seharusnya hanya untuk menjemput kamu..." Alexis memberikan
tatapan penuh kasih ke kedua bola mata Huda dengan nada memohon.
"Apa jaminannya jika kamu bohong dan hanya
memanfaatkanku?" Ketus Huda dingin.
"Aku akan berikan apa yang aku punya untuk
kepentinganmu... Aku bersumpah... Kau bisa meminum darahku jika perlu agar aku
tidak bisa lari darimu..." Alexis meyakinkan.
"Kau jatuh cinta kepadaku?" Huda menebak, dia
seperti melihat dirinya sendiri terhadap Yuna.
"Ya... Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya,
bagiku kau adalah malaikat yang diturunkan Tuhan.." Alexis menyandarkan
dirinya.
Huda memejamkan mata sejenak untuk mempertimbangkan segala
hal.
"Sebelumnya, kau masuk ke grup itu pasti ada seorang
pria yang menidurimu bukan?" Pancing Huda sambil membuka penglihatannya
kembali.
"Itu ayahku, hanya ayahku... Siapa lah ayah bagiku...
Dia bukan kekasihku..." Alexis mengangkat bahu.
"Kalian melakukan hal seperti itu... Padahal kalian
tahu iblis berbohong ketika dia mengatakan tentang itu sekali pun.. iblis
bahkan tidak punya ayah..." Huda teringat sejarah legendaris Sodom.
"Memang tapi Tuhan membuatnya tergila-gila sampai dia
iklas dicampakkan cintanya karena termabuk oleh kepatuhan..." Alexis
agresif dia memajukan kursinya mendekat ke meja.
"Bawa aku ke posisi tertinggi dalam waktu singkat...
Jika tidak aku akan mencampakkan cintamu..." Huda menajamkan pandangannya.
"Aku melihat auramu yang hitam kemerahan... Kau begitu
terlindungi dan spirit penjagamu luar biasa banyak... Mereka semua pembunuh dan
kekuatanmu melebihi kekuatan sihir hitam... Aku yakin kau adalah seorang raja
yang bisa aku banggakan setelah bergabung..." Puji Alexis terkesan.
"Aku ini memiliki seorang wanita yang aku sembah dan
aku akan tetap menyembahnya karena dia menghidupkan nyawaku kembali... Kau
harus tahu itu... Apa kau mau mencintai seseorang yang mencintai orang
lain?" Huda mendekatkan wajahnya ke Alexis dan melepas ikatan lengannya.
"Aku bersedia..." Senyum Alexis tulus.
"Ya... Aku akan ada di sisimu..." Huda menjawab
dan itu memuaskan Alexis.
"Kapan kita bisa memadu kasih?" Alexis berbisik
manja.
"Segera..." Jawab Huda lirih.
Ponsel Huda di atas meja berdering. Pemuda itu langsung
mengangkat sebab nada deringnya spesial khusus untuk panggilan dari satu nomor
yang berharga, ya Yuna.
"Ya Sayang?" Mesra Huda, membuat Alexis
cemberut seketika.
"Aku di restoran dengan temanku yang dari Jerman dia
baru saja sampai... Ke sini donk..." Ajak Huda manja.
"Oh kamu janjian sama temanmu, ambil uangku di tas
sebanyak yang kamu mau Sayang.. jalan ke mall gih... Makan-makan, belanja...
Yah..." Jawab Huda setelah mendengar suara Yuna.
"Love you Sayang... Sampai jumpa besok...
Mmuach.." Huda kemudian meletakkan ponselnya kembali.
"Dia kah?" Sindir Alexis memutar bola mata.
"Kamu cemburu..." Ledek Huda dengan senyum tipis
mempesona.
"Ugh... Senyummu itu.." Alexis menggigit bibirnya.
"Jangan terlalu kenyang..." Huda mengangkat satu
alisnya.
"Ah... Okay.." Alexis mengerti kode itu dan dengan
semangat mengambil sendok dan garpunya untuk menyantap hidangan.
Setelah mereka memenuhi sedikit perut mereka dengan makanan,
Huda mengajak Alexis ke kamarnya.
Huda membuka pintu dan memperlihatkan kamarnya yang
berantakan, baju Yuna masih di sofa dan make up Yuna juga ketinggalan di meja
rias.
"Oh istriku..." Keluh Huda sambil tersenyum
melihat tingkah Yuna yang manja menyuruh Huda berberes.
"Kotor sekali..." Keluh Huda.
"Dia tidak jorok, dia selalu merapikan kamarku.. ini
karena dia ingin aku melayaninya.." tanpa pasang muka kesal, Huda melipat
baju Yuna dan memasukkannya ke dalam tas begitu pula dengan riasan Yuna.
Selepas itu, Alexis memeluk Huda dari belakang,
"bagaimana dengan aku? Aku menu selanjutnya tuan muda..." Alexis yang
berbahu lebar itu menciumi leher Huda dengan manja dan penuh gairah.
"Haha.." Huda terkekeh sambil menghela nafas
panjang.
"Buat lah aku tergoda denganmu... Dan ingat.. aku bukan
perempuan ya!" Alert Huda.
"Aku yang jadi perempuan, Sayang..." Goda Alexis
melepas dekapannya dari Huda dan membuka kancing kemeja bajunya.
Huda berbalik badan dan menyaksikan tubuh atletis pria
kenalannya itu, perut beroti sobek hangat itu terlihat menyenangkan.
Huda mengangkat satu alisnya sambil bersiul nakal. Membuat Alexis
merona namun dia sudah tidak mau menahan diri lagi.
Alexis membuka kancing kemeja Huda dan menciumi leher pemuda
dingin itu sambil *Sensored*. Dia meraba sesuatu milik pemuda yang sebelumnya
hanya dijamah oleh Yuna.
Huda masih berdiri menantang kemampuan Alexis untuk
menggodanya. Dan dengan lembut bule itu membuka kancing celana jeans Huda dan
membuka bungkusan di dalamnya.
Tangan halus pria blonde itu mengelus binatang berleher
panjang itu sampai memperlihatkan ukuran sebenarnya.
*Dosa* .." Huda tak menyangka bahwa itu
membuatnya bereaksi.
*Dosa*..." Alexis mema*DOSA* mulut dan mulai
memaikan perannya dengan penuh kehangatan.
*DOSA*..." Huda tidak menyangka bahwa dia bisa
menerima perlakuan seperti ini dari seorang pria.
Huda mendorong bahu Alexis dan melepas busana dan celananya
dengan sempurna lalu berjalan ke ranjang dan meletakkan tubuhnya.
Dengan senyum manis Alexis pun turut memanjat ranjang itu
dan melanjutkan pelayanannya yang lihai.
"Kamu benar-benar pandai... Uh..." Huda memejamkan
mata merasakan hal yang aneh itu.
Secara alami tubuhnya terus merespon kehangatan yang
tercipta dan saat Alexis *SENSORED* *DOSA* *DOSA*,
Huda akhirnya memuntahkan kepuasannya di tenggorokan Alexis.
Pria berkulit putih seperti artis itu menelan seluruhnya dan
memanjat tubuh Huda, mengecupnya mesra dan semakin dalam ketika Huda pun
memberikan balasan hangat dengan *Sensored* *DOSA*.
"Aku semakin mencintaimu..." Alexis meraih tangan
kiri Huda dan meletakkannya ke bagian bawah belakang tubuhnya.
"Eh??" Huda tak habis pikir dia menerima kode
seperti itu.
"Kamu yang pertama mendapatkannya... Jangan pedulikan
aku..." Bisik Alexis.
"Astaga?" Huda tak habis pikir dengan pria gagah
yang telihat lebih berwibawa darinya itu.
"Aku katakan kepadamu... Jika kau bukan perempuan maka
itu aku... Aku rela..." Manja Alexis.
"Aku ... Tidak bawa minyak apa pun.." jawab Huda.
Alexis bangkit dari ranjang dan membuka tasnya, "ini
masih tersegel... Aku memang menyiapkannya..." Dia mengambil sebuah botol
minyak olive beraroma terapi.
"Astaga..." Huda menerima itu dari uluran tangan Alexis
dan ketika bule itu mulai membungkukkan tubuhnya, Huda mengoles cairan itu ke
seluruh bagian perkasanya dan mencoba melakukan hal aneh.
Erang Alexis manja saat bagian belakang
tubuhnya menerima perlakuan seperti itu untuk kedua kalinya setelah sang ayah
yang hanya melakukan sekali seumur hidup kepadanya dalam upacara hitam.
"*ADEGAN HARAM* *ADEGAN HARAM* *ADEGAN HARAM* *ADEGAN HARAM* *ADEGAN HARAM* *ADEGAN HARAM*..." Huda mulai membunuh sifat alaminya dan memutuskan mendalami perannya yang sekarang.
Alexis mengeluh manja dan sebisa mungkin
membuat Huda nyaman melakukan hal ini semua.
Huda mulai nyaman dan menambah
distorsinya.
Siapa sangka bahwa itu bisa membuat Alexis *DOSA* *Sensored*
"Aku... Aku sudah mau puncaknya *Sensored*" Rintih Alexis sangat feminin.
*DOSA* Suara Huda seperti tertahan panasnya
nafsu.
"*DOSA* Sayang I love you so much..." Alexis
tanpa bisa mengendalikan dirinya, dia melepaskan cairan hangat dari alat
kegagahannya ke ranjang hotel.
Dia bisa merasakan hal itu terjadi bersamaan dengan tubuhnya
yang menerima air hangat di dalam dari Huda.
"Uh..." Huda lemas terkulai *DOSA* *DOSA BESAR* *SENSORED*
"Ah..." Huda berkeringat hebat.
"Aku sangat menyukainya..." Alexis meletakkan
kepalanya di dada Huda.
"Astaga... Aku barusaja menjadi kaum Sodom..."
Huda terengah-engah.
"Maafkan aku.. aku terlalu menginginkanmu..." Rayu
Alexis.
"Intinya tepati janjimu!" Tagih Huda.
"Aku ini akan memberikan segalanya untukmu kamu tenang
saja..." Alexis mengecup tangan Huda dengan mesra.
"Aku capek... Aku mau tidur... Nanti kita coba lagi di
kamar mandi..." Pinta Huda dengan nada cuek sambil memejamkan mata.
"Uugh..." Gemas Alexis mengangguk.
Mereka terlelap untuk waktu tidak terlalu lama kemudian ke
kamar mandi untuk membersihkan badan. Yang benar saja, Huda sepertinya terbiasa
sudah. Dia membuat Alexis meletakkan tangannya ke tembok.
*DOSA BESAR* *DOSA SANGAT BESAR* megeluarkan suara penghibur.
Huda semakin nyaman dengan suara Alexis dan malas berpikir
memakai logika, dia berfantasi bahwa itu adalah bagian tubuh Yuna. Dia
melampiaskan gairah sexnya terhadap Yuna ke tubuh Alexis sambil memejamkan
mata.
Betapa puas Huda ketika lava miliknya masuk ke dalam tubuh Alexis
yang tergila-gila dengan barang miliknya itu. Alexis senantiasa akan selalu
mendatanginya di akhir permainan dan mengelapnya sepenuh hati seolah itu adalah
hal yang paling bermakna.
Alexis mengecup binatang
yang tertidur itu.
Huda tersenyum tipis, ada juga ternyata pria yang berminat
dengannya. Tak habis pikir Huda.
"Aku ingin setiap hari setiap malam Sayang..."
Rayu Alexis.
"Iya, ayo..." Huda merasa asyik karena bisa
memejamkan mata sambil membayangkan adiknya yang manis sekarang lewat bantuan
tubuh Alexis.
"Aku bisa memberikanmu sertifikat langsung
bergelar sebagai Mark Master tanpa harus menjadi Master Mason dan
Fellow Craft terlebih dulu jika aku mau..." Alexis membelai dada Huda yang
berisi.
"Ya, lakukan secepatnya..." Mata Huda memburu.
"Namun kamu harus belajar tahadapan-tahapannya supaya
kamu tidak dicurigai... Karena ada perjanjian dan sumpah darah juga dalam
Entered Apprentice sebelumnya..." Jelas Alexis.
"Tahapan apa?" Huda mengelus kepala Alexis.
"Apa saja yang harus kamu lakukan untuk memenuhi syarat
Entered Apprentice lalu ke Yellow Craft dan kemudian ke Master Mason sebelum
akhirnya kamu menerim gelar Mark Mason... Dan itu akan kamu lanjutkan sendiri
sampai ke level Royal Arc Mason... Dan aku akan bisa membantumu setelah itu
hingga bisa mencapai Order of Knight Templar..." Pesan Alexis agar Huda
ingat dan berhati-hati melewati ujian ke depan.
"Hm... Ada syarat lain jika kau mau agar aku menurut
kepadamu selama aku ke depan akan semakin dalam menjadi seorang Masonis...
Ehmh.." Huda berbisik sambil mengemut telinga Alexis dengan sedikit
menggeramkan nafas sehingga pria bule berumur toga puluh sembilan tahun itu
menggeliat terangsang.
"Ah... Katakan lah..." Jawab Alexis hangat sambil
mengecup dagu Huda.
"Pertama-tama sekarang kamu itu ada di level apa?"
Huda penasaran.
"Aku Royal Arc Mason sekarang..." Jawab Alexis.
"Aku ingin kamu masuk Islam..." Bisik Huda kepada
pangeran Alexis.
"Oh wah??" Alexis yang beragama Lutheran itu.
"Aku ingin kamu pulang ke Jerman setelah aku
memasukkanmu ke agama Islam baru aku akan ikut kamu ke negeri kamu..."
Huda memeluk Alexis meyakinkan.
"Oh... Okay... Jadi aku juga bisa sedikit belajar
bahasa Indonesia nantinya.." Ramah Alexis.
"Bagus lah..." Huda tersenyum tak habis pikir
sambil mengehela nafas ke udara.
Ponsel Huda berdering nyaring, Huda meraihnya lekas-lekas
karena itu dering untuk panggilan Yuna.
"Ya, Sayang?" Huda mengangkatnya.
"Ya Sayang, hati-hati di jalan ya..." Katanya lagi
setelah mendengar suara gadis yang dia selingkuhi itu.
Kemudian panggilan pun berakhir begitu pula dengan kesetiaan
Huda yang tamat.
Keesokan harinya Huda membawa Alexis ke rumahnya untuk
mengenalkan Islam kepadanya secara pelan-pelan. Dia hari ini berniat untuk
mengenalkan Alexis kepada Yuna.
"Tunggu di sini ya, aku akan menjemput dewiku.."
Huda menepuk bahu Alexis.
"Baik lah.." Alexis tersenyum pasrah kepada
pangerannya itu dan melanjutkan membaca buku risalah Islam yang berbahasa
Inggris, di dalamnya mengungkapkan pandangan dan fakta ilmiah dan fisika yang
jarang dipublikasikan.
"Ibu, jangan ganggu Alexis, bawakan saja dia buah, roti
atau minuman latte... Aku pergi dulu menjemput Yuna..." Kata Huda berlalu.
"Huda..." Mariam memegang bahu Huda, menahannya
untuk jangan terburu-buru pergi.
"Ada apa Ibu?" Huda mencoba membaca isi pesan
kedua bola mata ibunya yang terlihat gusar.
"Sudah lama sekali kamu tidak menyebutkan nama itu di
dalam rumah.. dan kau mengatakan kepadaku agar tidak bertanya apa pun tentang
dia... Kau melarang Ibu agar tidak terus kepo tentang kenapa kalian, tapi kini
kau menyebut nama itu dan bahkan ingin membawanya ke sini... Ibu tidak ingin
anak Ibu dipermainkan perempuan... Apa kah kemarin dia berbuat kesalahan
kepadamu? Ibu berhak tahu agar bisa bersikap tepat kepada kalian berdua jika
dia di rumah ini, ini rumah kita, tidak sembarangan orang Ibu perbolehkan masuk
ke rumah ini, ini bukan tempat umum!" Mariam terlihat sangat ngeyel agar
Huda mau berbicara kepadanya karena selama ini Huda selalu menghindari ibunya
jika itu membahas tentang Yuna.
"Hah...." Huda menghela nafas panjang, terdengar
sangat berat dan dia membuang muka ke arah lain.
"Dia melukaimu? Ibu bisa melihat betapa sakitnya dia.
Pasti dia melain hati? Benar kan? Kau memperlihatkan kekecewaan dari raut
wajahmu!" Mariam berniat untuk membuat Huda bisa kuat move on.
"Bukan... Bukan dia yang menduakanku, justru aku yang
menduakannya dan dia tidak sekali pun pernah menyia-nyiakanku, justru dia
sangat mencintaiku setulus hati, hingga dia... Mengorbankan segalanya... Dan
yang kulakukan hanya semakin menyakitinya..." Huda terlihat mengelap
matanya sambil terisak lalu berjalan cepat, terlihat punggungnya pundung dan
itu membuat Mariam menutup mulut dengan tangannya sambil tercengang atas
kelakuan anaknya yang terkenal baik kini justru menjadi seorang yang zalim
terhadap seorang perempuan lemah dan baik seperti Yuna.
Ucapan Huda barusan benar-benar meracuni suasana hati
Mariam, dia terus memikirkan kalimat demi kalimat yang Huda sampaikan barusan
sambil duduk di kursi makan dapur tanpa sadar sampai Huda kini sudah kembali
lagi.
"Assalamu alaikum! Bu!" Teriak Huda sambil
berjalan memasuki rumah menggandeng tangan Yuna seperti dulu awal bertemu.
Mariam dengan hati bergetar langsung berdiri dan matanya
langsung memburu Yuna, dia berjalan seolah ini hari terakhirnya melihat gadis
itu.
"Waalaikum salam, Yuna!" Sambut Mariam
meraih tangan Yuna yang satunya.
Yuna terlihat terkejut melihat reaksi Mariam. Gadis yang
kini sangat cantik mirip boneka itu menoleh ke abangnya, dan Huda menggeleng
pelan.
"Ah.. Ibu gimana kabarnya?" Yuna langsung melihat
Mariam dan memasang wajah riang.
"Ibu sehat, gimana sama Yuna? Yuna baik-baik
saja?" Wajah Mariam terlihat sangat memastikan.
"Uh..." Wajah Yuna berubah, dia kebingungan dan
matanya tidak bisa berhenti mencari sudut teraman namun tidak mendapati.
"Maaf ya, Yuna harus...." Mariam yang menyadari
perubahan itu langsung memeluk Yuna.
"Saya... Tidak apa-apa Bu..." Pelan Yuna sambil
menelan ludah. Dia melirik Huda yang menjawabnya dengan menggeleng kepala
pelan.
"Huda... Jaga Yuna baik-baik untuk Ibu... Janji
yah..." Mariam melepas pelukannya.
Yuna tersenyum tipis, "dia selalu menjaga saya, Ibu
tenang saja yah..."
"Iya, aku bersumpah padamu Bu... Oh ya aku mau kenalkan
dia kepada Alexis... Maaf kami ke kamar dulu..." Huda memberi kode dengan
matanya agar Mariam tidak semakin mendramatisir.
"Oh oh oh... Iya iya maaf maaf... Sampai lupa ada orang
barat di sini berkunjung... Di pikiran Ibu cuma ada Yuna tadi.. haha..."
Kekeh Mariam.
Yuna tersenyum sungkan lalu berjalan ke kamar karena
tangannya ditarik oleh Huda, Yuna melampai ke Mariam yang tersenyum.
Kemudian sesampainya di kamar Huda, Alexis terlihat sudah
tenggelam ke dalam buku milik Huda. Buku yang ditulis oleh gurunya itu membuat
dia bahkan tidak sadar dengan kedatangan Yuna dan Huda.
"..."
"Ah?!" Alexis terkaget ketika Huda menyentuh
bahunya dari belakang, dia langsung menoleh ke belakang dan mendapati sudah ada
gadis manis berparas seperti boneka gothic.
"Ini dia... Perkenalkan..." Huda berbicara mulai
dengan bahasa Inggris, dia memberikan dorongan kepada Alexis senyum hangat.
"Yuna..."
"Alexis.. eheh... Hi.. you are beautiful.."
"Halo... you-Handsome..." Jawab Yuna dengan bahasa
Inggris pula.
"Aku memperkenalkan kamu kepada Yuna karena dia
memiliki pengetahuan mata batin meski pun aku sepenuhnya belum pernah
berbincang kepada dia tentang itu karena aku sibuk mempersiapkan pernikahan
kami di masa depan... Jadi... Aku ingin agar..." Huda melantur untuk
memperkenalkan Yuna.
"Eh..?" Yuna nyengir kuda.
"Jadi, bagaimana?" Alexis bingung.
"Kamu tahu kan dalam alkemia kita bisa membuat seluruh
pikiran umat manusia mematuhi keinginan kita dan membuat mereka percaya bahwa
kita benar..." Huda membuka topik.
"Ya benar..." Alexis.
"Aku benar-benar akan membuka sebuah rahasia
pemahamanku kepadamu selama ini, termasuk untukmu Sayang..." Ulas Huda.
"Baik lah" jawab Yuna menyimak.
"Dalam Islam sebenarnya dikatakan matahari itu yang
beredar... Tapi ilmuwan di bawah naungan kalian mengatakan bahwa bumi mengitari
matahari, itu sebenarnya adalah metode membelokkan keyakinan masyarakat agar
berkiblat kepada sains kalian bukan? Dan itu sampai sekarang masih
diperdebatkan.." tanya Huda.
"Ya... Aku tahu itu... Aku sudah terbang keliling dunia
juga... Dan rute penerbangan itu mengikuti peta bumi non-globe jadi aku sadar
bahwa bumi memang datar juga... Lalu apa masalahnya, itu hanya sains dibuat
untuk anak-anak agar terus penasaran dengan wawasan agar terus ada penemuan
baru... Jika mereka tidak dibuat penasaran sampai menemukan ilmu yang benar
berarti kualitas cara mereka belajar dipertanyakan... Bukan kah begitu? Orang
yang awalnya menuruti fiksi menjadi tahu faktanya itu artinya mereka mencapai
puncak ilmu pengetahuan sejati... Jika tidak ada pemalsuan data sejak awal...
Mereka tidak akan berminat menemukan karya baru..." Dalih Alexis.
"Oke, dan saat mereka menemukannya maka kalian tidak
akan bantah kebenarannya?" Huda memastikan.
"Ya, itu pasti!" Sahut Alexis.
"Baik lah sekarang tentang upacara meminum darah
bayi... Itu untuk apa? Kenapa harus seperti itu?" Huda penasaran.
"Itu memang syaratnya menjadi kanibal supaya
mengaktifkan sifat sataniah dalam diri manusia agar bisa berkomunikasi dengan
setan... Itu ritual permulaan sebelum bergabung ke illuminati... Berbeda dengan
upacara bergabung di Freemason... Kita akan sumpah darah saja di situ tidak ada
minum darah... Mata kamu akan ditutup dan dijanjikan banyak orang di altar...
Kemudian .. baik lah aku katakan sesuatu.." Alexis akhirnya menyerah dan
mengalah, dia membeberkan rahasia pentingnya karena terlalu mencintai Huda.
"Apa itu?" Huda jadi penasaran.
"Kamu tahu bukan ksatria templar itu sejatinya menyukai
sesamanya... Dan.." Alexis melirik Yuna.
Yuna mengerjab mata pelan, Huda menghela nafas panjang.
"Siapa pun yang sudah melakukan hubungan intim dengan
petinggi Mason maka dia sah masuk freemason tanpa upacara hanya! Dengan satu
syarat! Kamu harus bisa mencapai kriteria tertentu... Yaitu kamu harus bisa
mencapai cahaya petunjuk tertinggi... Yang dibawa lewat iblis... Dan itu pasti
akan membawamu kepada pengkultusan istimewa... Karena yang merekrutmu langsung
adalah Dewi Semiramis.. ya... Mahluk itu... Ular bersayap..." Lirih Alexis.
"Semiramis...?" Yuna berpikir keras.
"Mungkin maksud dia, kamu harus mencapai kemakrifatan
dan itu bisa dilakoni dengan tirakat... Setelah kamu bisa meraga sukma dan
bertemu beberapa sosok hebat untuk mendapatkan restu mereka maka kamu bisa
dipromosikan para leluhur ghaib agar masuk ke Freemasonry... Tapi... Ada satu
halangan... Jika kamu sudah bisa meraga sukma," Yuna menarik kesimpulan,
dia menjelaskannya dengan bahasa Inggris yang sederhana.
"Apa itu?" Huda duduk di bed.
"Jika kamu punya leluhur beraliran putih seperti
leluhur muslim, mereka akan menghalangi jalanmu menemui mahluk-mahluk
mengerikan itu... Mereka tidak akan pernah ingin kamu tersesat... Kecuali jika
kamu sedang dicap tersesat oleh Tuhan maka... Mereka akan membiarkanmu
sendirian supaya kamu tahu kesimpulan akhir perbuatanmu sendiri nanti..."
Sambung Yuna.
Huda berdiri mendekati Yuna dan mengecup bibirnya dengan
lembut di depan Alexis yang tercengang dibakar api cemburu.
"Aku benar-benar bergelimang dosa sekarang, percaya
lah... Aku sangat-sangat pantas dicap sebagai pendosa sempurna saat
ini..." Senyum Huda tipis menahan getir di sanubarinya.
"Baik lah aku paham... Jadi kamu ke sini membawaku itu
untuk?" Yuna.
"Membantuku memahami dunia spiritual... Aku tahu kamu
bisa Sayang..." pinta Huda.
"Tapi aku tidak pernah mampu menembusmu, aku tidak bisa
menerawang siapa kamu..." Yuna berkelit.
"Sama, aku juga... Bahkan khodamku pun tidak mampu
menembusmu Sayang.." serius Huda kepada Yuna.
"Baik lah... Aku akan katakan sebuah rahasia
kepadamu... Aku itu.. sudah mengalami banyak pengalaman abnormal dan bertemu mahluk aneh, bahkan mimpi sebelum lahir..." Yuna
lirih.
"Akashic record?" Alexis penasaran dan
mengesampingkan kecemburuannya.
"Entah lah.. aku menunggu sambil bermain... Di padang
rumput tanpa pohon.. hanya ada satu pohon besar yang tumbuh dengan daun yang
besar... Di tempat luas itu... Banyak sekali anak-anak dan memegang mainannya
masing-masing... Lalu jika ada seorang pria menjemput maka anak itu tidak akan
pernah terlihat lagi sebab dia ke bumi..." Mata Yuna menerawang ke memori
lamanya.
"Lalu?" Huda kembali duduk di bed sambil
menarik tangan Yuna agar duduk di pangkuannya.
"Kemudian aku sebelum itu... Jauh sebelum ada di
situ...
Aku pernah melihat iblis sebelum dikutuk... Dan ingatan itu
ada... Dia menekuk satu lututnya ke lantai dan satunya berdiri, kepalanya
menunduk, badannya membungkuk, kedua tangannya menempel di lantai... Dia
menolak dengan halus perintah untuk sujud kepada Adam dengan bahasa yang sopan
namun dadanya menyalak-nyalak karena marah.." ingat Yuna.
"Itu sungguhan?" Alexis tercengang.
"Ya, maka itu aku mendoakan supaya iblis diampuni Tuhan
namun iblis memberiku surat agar aku berhenti melakukannya karena dia sudah
putus asa... Dan kemudian dia memberikanku sebuah kartu... Seperti kartu V.I.P.
sehingga aku bebas ingin keluar masuk lingkungan dia di alam lain..."
Lanjut Yuna.
"Sebenarnya siapa kamu itu?" Alexis mulai
tertarik dengan gadis berbola mata besar ini.
"Aku orang biasa, hanya saja aku meneliti banyak hal
dan aku akan terus meneliti... Aku tahu ini karena ayahku... Dia berkata
melihatku sholat namun di belakangku orang-orang menggunakan mukena hitam...
Sejak kecil aku sudah diikuti seekor jin zalim dan dia jahat kepadaku, dia
ingin aku mati putus asa supaya belenggu perjanjian antara aku dan dia terputus
sehingga terbebas... Dan akhir-akhir ini aku sadar apa yang membuat perjanjian
itu ada..." Yuna serius.
Huda mencium punggung tangan Yuna sambil memeluknya,
memejamkan mata mendengarkan informasi yang selama ini dia cari karena
ucapannya mirip dengan ucapan Zanum yang kini sudah tidak pernah menemuinya
semenjak Huda memperbanyak khodam jin dengan mengalahkan para mavia.
"Ini efek dari kegiatan ayahku yang suka memerangi
dukun santet, dulu itu ayahku adalah dukun sakti mandraguna dan di jaman dulu dia banyak bunuh kyai, dulu dia itu pembunuh handal. khodam-khodam mereka
diambil olehnya dan diikat dengan perjanjian namun ternyata mereka mencari
panutan supaya punya posisi aman... Karena kehidupan di alam ghaib itu keras...
Para jin saling menyerang... Terutama jin pengikut dajjal." Tegas Yuna.
Huda tidak mampu menarik kesimpulan sebab dia sudah berbuat
terlampau jauh. Dia hanya memeluk Yuna sambil mengecup lengannya dan memejamkan
mata menanti kalimat Yuna selanjutnya.
"Lalu apa yang akan kamu perbuat?" Alexis
penasaran.
"Sekarang ayah sudah bertaubat dan sudah pernah di ruqyah di pesantren, pernah dia sekali menikahi mantan satanis dari Israel atas saran gurunya lalu bercerai dan menikah lagi dengan ibuku.." Jelas Yuna.
"Ayah sekarang jadi dukun politikus! Membackup tokoh pemerintah!" Lanjut Yuna.
"Aku selain harus mengislamkan mereka, kelak aku ingin
mengirim mereka ke Palestina untuk berperang melawan khodamnya orang elite
global yang menyokong dana pertempuran ke Israel.." Yuna mengangkat satu
alis, Huda mengangguk pelan memahami dan ingin mengikuti apa yang akan Yuna
lakukan.
"Jadi menurutmu mereka semua belum Islam?" Alexis
meletakkan buku Huda yang sedari tadi dia pegang ke meja.
"Susah, mereka itu bukan khodam bekas dukun biasa...
Sebagian dukunnya abdi dajjal dan levelnya hafidz quran! Ditambah lagi aku sudah
berkecimpung dengan dosa. Hampir mustahil menurutku untuk mengislamkan mereka
semua..." Yuna meraih kepala Huda dan megelusnya.
"Maafkan aku..." Lirih Huda menyerah.
"Kalian tahu perkumpulan satanis di Bandung? Ada sebuah
pohon beringin besar dan di sana adalah pintu teleportasi ke Washington...
Kalian bisa ke sana jika ingin mempraktekan raga sukma instan tanpa proses
berguru.. kalian bisa bergabung dengan perkumpulan mereka... Aku yakin Alexis
bisa membimbing..." Usul Yuna.
"Kamu tahu dari mana informasi ini?" Alexis
tertegun.
"Aku punya teman di Semarang yang sering telepon aku
dan dia mengatakan pernah bermimpi sadar ke sana, dia masuk ke dalam pohon itu
mengikuti orang-orang bertudung hitam... Dan tembusnya adalah ke
Washington.." papar Yuna.
"Kamu tahu tidak tentang internet secara
global?.." Alexis singkat.
"Aku tahu tapi aku tidak punya komputer... Jadi aku ke
warnet, ada apa?" Yuna.
"Semua berita tentang Illuminati dan Freemasonry di
internet itu sebagian besar terlalu dilebih-lebihkan namun beberapanya memang
ada yang sudah bisa teleportasi.." Alexis padat.
"Itu lah aku katakan kalian harus bisa menguasai meraga
sukma untuk mengawali segala level jika ingin memiliki kekuatan suara
berpengaruh di dunia... Itu kan mimpimu?" Yuna menoleh kepada Huda.
"I.. iya.." lirih Huda gugup.
"Kamu harus cepat karena di masa depan akan ada
orang-orang gila yang memalsukan isu tentang orang Islam.. mereka akan membuat
dunia memandang bahwa muslim itu buruk!" Alert Yuna.
"Tapi bagaimana dengan dosaku?" Huda gugup.
"Kesampingkan dulu itu... Kalau manusia tidak punya
dosa artinya dia malaikat bukan manusia pada umumnya dan semua nabi punya
dosa..." Cambuk gagasan Yuna.
"Jadi sebaiknya mulai detik ini kita belajar menjadi
penyihir?" Huda ragu.
"Kita punya khodam dan mereka membuat kita jadi bisa
ilmu sihir jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan ayah tidak perlu sampai
tahu... Mungkin dia akan melihat auramu semakin hitam dan menjadi curiga tapi
apa lah... Auraku juga hitam! Meski aku sholat.." kata Yuna.
"Tidak... Justru ketika seseorang semakin memahami
risalah iblis maka dia akan memancarkan aura terang seperti perak..."
Sigap Alexis.
"Oh.. begitu..." Yuna mengangkat alisnya.
"Tapi ayahku benar-benar bisa membedakan
sepertinya..." Huda mengusap wajahnya.
"Yang penting kamu harus ke Bandung dulu!" Cemeti
semangat dari Yuna untuk Huda.
Alexis dan Huda saling bertatapan, "baik lah aku mau
mencoba" kata bule itu.
Keesokan harinya Huda datang ke depan rumah Yuna dengan
sebuah Jeep milik temannya.
"Assalamu alaikum..." Huda sedikit menyorak
di depan pintu.
"Waalaikum salam.." Herman datang ke teras.
"Pak.." Huda mencium punggung tangan ayahnya.
"Mau kemana makai mobil bagus?" Herman duduk di
kursi.
"Mau ke Bromo, boleh ajak Adik kah?" Kata Huda.
"Boleh tapi jangan sampai kenapa-kenapa" kata
Herman berpesan.
"Iya Pak, aman.." Huda singkat sambil tersenyum,
"oh ya, Pak. Tentang amalan membuka mata batin... Saya belum
mengamalkannya sampai sekarang... Saya masih ragu..." Ucap Huda lagi.
"Sebaiknya kamu amalkan, itu doa supaya kamu bisa
melihat keasliannya jin yang bersifat munafik. Mereka itu kadang membisikkan
kesesatan dalam nasehatnya yang sebenarnya hanya membuat kita rugi jika
melakukannya... Mereka bisa terlihat sangat alim atau rupa dirinya berubah-ubah
menyerupai orang lain.." Tutur Herman.
Huda terdiam sejenak mengoreksi pengalamannya sendiri dan
memang sebuah fakta sekarang yang sedang dia jalani.
"Ada apa Mas? Yuna keluar dari kamarnya ke teras.
"Mau ikut aku ga, Dik?" Ajak Huda.
"Boleh, bentar ya.." Yuna masuk lagi ke dalam
kamar untuk merias diri dengan busana yang sepadan.
"Kamu itu mengamalkan apa sih? Kenapa aura kamu sangat
hitam pekat, ajian apa yang kamu pakai? Apa kamu minum darah manusia?"
Herman mendekatkan wajahnya ke Huda dengan mata sayunya yang tajam.
"Ehm... Saya dulu ikut kuda lumping... Jadi... Katanya
kalau sudah kesurupan... Katanya sih... Saya jadi ngamuk minta ayam..."
Huda nyengir kuda.
"Kamu minum darah ayam?" Herman mempertegas
nadanya.
"Saya ga tahu, saya ga sadar Pak.." Huda menggaruk
kepalanya.
"Nak... Aku tidak bisa melihat masa depan tapi aku
merasakan kau akan menjadi orang hebat dan memimpin sebuah hal besar sebelum
usiamu tutup... Aku harap kau menggunakan kesempatan terakhirmu di dunia ini
dengan sempurna... Atau kau akan kehilangan segala hal..." Amanah Herman.
Huda menelan ludah pelan, "Iya Pak, akan saya coba
amalkan doa itu agar saya tahu siapa yang munafik..."
"Bagus" Herman mengangguk pelan.
"Aku sudah siap!" Yuna ke teras dengan
busana oversize rapi ala tomboy-nya.
"Iya, hati-hati di jalan!" Herman sebenarnya tidak
ingin mengijinkan, matanya terlihat sedih.
"Tidak apa, aku bisa jaga diri!" Yuna mencium
tangan ayahnya.
"Assalamu alaikum Pak.." Huda mencium tangan
Herman lalu beranjak ke Jeep yang dia pinjam.
"Iya, hati-hati!" Pesan Herman melihati dua
anaknya berlalu.
Setelah melewati gang masuk desa Yuna, mereka mulai
membicarakan masalah pribadi.
"Mana Alexis?" Yuna.
"Dia di rumah, aku sebenarnya dari kantor Polres
sebelum ke sini, aku sudah beli tiket untuk ke Jakarta... rencannya aku mau
ajak kamu mampir ke rumah temanku yang kerja di B.I.N tapi sebelum itu kita
nginep dulu di hotel karena mau ke Bandung, aku pikir gitu aja dulu... aku ga
tahu kenapa minat banget nginep di Jakarta dulu... Firasat aja..." Huda
mengenakan kacamata hitamnya.
"Ini mobil siapa?" Yuna heran.
"Mobil temen yang mau antar ke Juanda, dia nemenin Alexis
di Polres... Bentar aja aku ada urusan..." Huda menyopir santai.
"Ke Polres? Abis ini ke sana lagi?" Yuna syok.
"Iya, bentar aja... Sabar ya.. aku lupa mau ngajak kamu
ke sana buat bebasin kawanku dari sel penjara sebelum kita berangkat keluar
kota... Haha lupa banget aku.."
"Ga masalah sih... Yang penting aman aja... Kamu ga
akan dipenjarain kan?"
"Aman, kamu tenang aja Sayang"
Beberapa waktu menuju kantor polisi pun berlalu dan kini
mereka memarkir mobilnya ke halaman Polres. Huda berpesan agar Yuna menunggu di
ruang tunggu reserse reskrim bersama Alexis dan temannya karena Huda akan
menemui komandan AKBP di kantornya.
"Komandan?" Huda mengetuk pintu kerja kepala
polisi.
"Masuk..." Silah pria berwibawa dengan seragam
bermedalinya di balik meja kerja.
Huda membuka pintu itu, "silahkan duduk" kata
Erkan sang kepala kepolisian.
"Komandan, bagaimana dengan anggota saya, bisa
dibebaskan secara bersyarat?" Sambung Huda membahas permasalahan yang
sempat terpotong karena menjemput Yuna.
"Bisa... Tapi ada syaratnya... Delapan belas anggotamu
yang bebas harus diganti dengan delapan belas bandar yang pasti
tertangkap!" Pelan si komandan.
"Hah!" Huda melempar tawa menunjukkan giginya yang
rapi.
"Itu sih perkara sangat gampang..." Huda mengingat
tujuh orang yang kemarin mendatanginya akan ditumbalkan karena Huda sudah
mendapatkan identitas asli mereka sebenarnya lewat bantuan Zanum dan kaki
tangannya.
"Jangan bilang gampang, Keceng! Kami sudah berusaha
mati-matian menangangi mafia dari Australi yang mencengkram Jawa Timur dan kamu
belum bisa membuka jalan juga..." Gemas sang Komandan.
Huda melirik, "ya itu karena saya ga buka jalan kan?
Sekarang saya sedang membuka jalannya, mau ga?" Pancing Huda.
"Heh, baik lah.." komandan merasa seperti
diperlakukan bak anak kecil oleh Huda sepintas.
"Setelah saya megangkat kakiku dari Kediri, kalian
tidak akan berhenti menangkap bandar, percaya lah kepadaku... Ini... Saya kasih
nomor telpon anak buahku yang akan jadi jalan... Dan saya ingin kalian
singkirkan semuanya dari Indonesia jika sanggup karena mereka terlalu banyak!
Penjara negara ini bahkan tidak cukup menampung mereka semua..." Huda
menulis nomor di kertas kosong yang ada di atas meja AKBP Erkan Sudarta.
"Yah! Kau benar Keceng! Makanya jangan kasih kroco,
kasih babonnya!" Tegas si Komandan dengan nada kekeluargaan.
"Sanggup kehilangan anggota kah? Komandan pikir mereka
tidak ada pegangan di belakangnya kah?" Huda menyandar punggung ke sofa
dan melipat dua tangan di depan dadanya.
"Hmmh... Kalau cuma pegangan, kami setiap jum'at juga
sowan kepada para kyai dan kyai pondok pesantren Kulon Kali itu kamu tahu kan
betapa banyak karomahnya... Mereka itu para waliyullah tidak diragukan lagi...
Jika memang untuk jihad di jalan kebenaran kenapa tidak berani, Keceng?!"
Tekat Erkan.
"Ya baik lah! Kalau begitu... Tikus babon Australia
sekarang ada di Surabaya di perumahan Jeruk Indah nomor lima di sana ada
komplek lima gang dari rumah itu adalah markas besar pabrik pembuatan sabu-sabu
oplosan... Jika sanggup silahkan ke sana..." Huda meletakkan dua tangannya
ke meja kepala polisi.
"Kamu serius?" Erkan mengangkat dua alis.
"..." Huda mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Memangnya apa lagi yang Komandan tunggu? Kerahkan lah
surat perintah dan permohonan wilayah kerjasama dengan Polres Surabaya..."
Sinis Huda.
"Kroco dia nyebar di Kediri?" Erkan menekan
telunjuknya ke meja.
"Ya! Bandot adalah salah satu dari mereka rumahnya di
desa Bambu Kuning, kecamatan mana saya lupa pokoknya itu nama desanya... Saya
ini bukan orang sini.. jadi tidak begitu paham alamat lengkap... Saya bukan
kurir..." Huda meyilangkan dua tangannya lagi.
"Keceng! Jika ini tembus aku pastikan delapan belas
anak buah kamu akan aku bebaskan semua!" Tunjuk Erkan dengan mata fokus.
"Saya sudah bilang, kelompok Kelelawar Hitam sudah
tidak lagi menebar narkoba... Tujuanku cuma satu, masuk ke dalam grup elite-nya
makanya saya mau jadi bandar terkuat di Asia Tenggara... Dan kabar terbaru ini
hanya Komandan yang tahu... Maka jika bocor... Kedokku akan bubar dan saya
tidak bisa meneruskan misi ini." Huda memicingkan mata.
"Apa tujuanmu masuk ke lingkungan elite?" Erkan
penasaran dengan wajah skeptis.
"Membalas dendam karena mereka lah saya sejak kecil
menjadi seperti ini, sekaligus memberi tahu mereka bahwa Indonesia ini bukan
negara yang bisa dipermainkan." Huda membalas tatapan pria berusia empat
puluh lima tahun di hadapannya dengan tajam.
Erkan mengangguk paham, "ya.. aku pernah mendengar
cerita orang sepertimu juga, dia datang dan berjanji dengan tekat yang sama...
Dan pulang hanya tinggal nama..." Komandan itu merebahkan bahunya di
punggung sofa.
"Saya tahu... Taruhanku memang nyawa tapi bukannya saya
ini sudah tidak bernilai?" Huda menyindir.
"Ah...." Erkan memahami kondisi Huda dan menghela
nafas panjang sambil membuang muka tanda tak dapat membantu.
"Satu-satunya jalan menebus dosaku kepada negeri ini
adalah dengan menumpas semua bandar narkoba seumur hidupku semampu sisa nyawaku
bertahan." Senyum Huda percaya diri.
"Kau memang hebat Keceng! Aku bahkan tidak bisa
menangkapmu karena sistem yang kau gunakan padahal Keceng ini sekarang ada di
hadapanku!" Jujur Erkan.
"Ya gimana lagi, semua komandan di atas Anda adalah
konsumenku... Belum lagi usaha pendapatan daerah ternyata bergantung hutang ke
perusahaanku..." Huda angkat alis.
"Untungnya kau bukan orang Cina." Erkan mengangkat
dua alis.
"Hahaha!" Gelak tawa Huda.
"Hehe.." Erkan tertawa palsu karena cemas dengan
posisinya saat ini.
"Kau tak perlu khawatir Keceng, sebulan paling lama,
aku berjanji, kau bisa pergi dengan tenang dan lanjutkan misimu... Apa kau
butuh bantuan?" Erkan senyum flamboyan.
"Aku menelpon Komandan kemarin dan dia sudah
mengirimkanku tiga laptop lengkap untuk bekal melakukan segalanya... Saya akan
bisa memantau kalian semua dari jauh dan saya pastikan gerakan kalian tidak
akan bisa dilacak mereka... Asalkan menuruti semua perintahku dalam operasi
ini... Mereka itu juga menggunakan satelit pelacak jadi jangan asal comot
anggota dalam misi ini... Gunakan penyamaran preman..." Huda menegaskan
dengan pelan.
"Baik" Erkan mengangguk-angguk pelan.
Setelah membicarakan langkah kemana penangkapan akan
digerakkan kemudian Huda keluar dari ruangan Erkan dengan diantar keluar oleh
sang penguasa ruangan.
Sampai Yuna dan Alexis pun diantar dengan cara terhormat
oleh para anggota.
"Jangan pernah enggan mengabari!" Erkan menepuk
bahu Huda yang berisi.
"Siap, Ndan! Jangan khawatir! Secepatnya saya akan
kirim anak buah untuk bantu juga." Senyum Huda optimis.
Setelah mereka beramah tamah perpisahan, menggunakan Jeep
yang sama, Huda, Alexis dan Yuna disopir oleh teman Huda ke bandara Juanda dan
di sana mereka terbang ke bandara Halim Perdana Kusuma.
Setibanya di bandara, mereka ke hotel terdekat untuk
beristirahat. Huda menyewa kamar yang sama untuk bisa beristirahat dengan Yuna
sementara Alexis memiliki kamarnya sendiri.
"Satu langkah lagi menuju Bandung... Tapi kamu harus
cari grup satanis di Jakarta mungkin mereka tahu alamatnya biar kita tidak
muter-muter ketika di Bandung..." Saran Yuna saat membaringkan diri ke
kasur.
"Baik, dewiku..." Huda mengecup tangan Yuna lalu
langsung terlelap karena stres dan letih.
Melihat Huda yang sudah lelap, Yuna penasaran dengan Alexis
dan akhirnya mengendap diam-diam menemui bule itu. Yuna membuka pintu dengan
pelan agar si mancung tidak bangun dan berjalan pelan ke pintu kamar Alexis di
sebelahnya.
"Alexis!" Panggil Yuna sambil mengetuk pelan.
Tak lama kemudian Alexis yang tinggi banget sampai kepala
yuna saja di bawah bahunya, membuka pintu dan sedikit kaget karena itu Yuna
yang ada di hadapannya.
"Ada apa Boneka?" Kata Alexis dengan bahasa
Inggrisnya yang khas logat orang Eropa.
"Aku ingin bicara tapi jangan di sini! Ayo!" Yuna
meggandeng tangan Alexis.
"Tunggu!" Alexis meraih kunci dan mengunci pintu
lalu berjalan mengikuti Yuna yang sudah duluan.
Mereka menuju ruang loby sangat luas dan duduk di sofa dekat
jendela kaca.
"Ada apa Boneka?" Alexis penasaran.
"Jadi kamu sudah merekrut Huda ke dalam Illuminati
ya?" Yuna mengerjap.
"Bukan, bukan Illuminati tapi Freemason, kemarin dia
masuk ke industri musiknya dan sudah merasakan dampak negatifnya... Waktu tidur
dia sering mengalami sleep paralyze dan kakinya ditarik mahluk kambing
bertanduk... Makan dan makanannya berubah menjadi janin busuk... Ya sejenis
halusinasi... Dia bahkan harus minum darah aborsi dulu sebelum manggung supaya
konsentrasi sebab yang dia lihat bukan keramaian penonton tapi monster-monster
menyeramkan sedang melotot kepadanya... Jadi harus minum darah agar halusinasinya
berhenti... Selalu seperti itu jika dia mulai berhalusinasi... Karena itu...
Ya, kami bertemu ketika makan malam di sebuah event pertemuan." Alexis
terdengar meyakinkan.
"Tidak banyak orang tahu tentang ksatria templar, aku
melihat hal aneh di logo mereka... Mereka itu menggunakan kuda sebagai satu
tunggangan dan satu perisai. Kau tahu maksudnya bukan? Aku bukan orang bodoh...
Aku tahu ada aktifitas sesama jenis dalam organisasimu." Yuna tegas.
Alexis terlihat menelan ludah dalam ketenangannya.
"Kau dan dia sudah melakukannya?" Yuna memegang
lengan atas Alexis.
Alexis menatap mata Yuna dan terlihat menahan nafas, agak
lama mata Alexis pun berpaling.
"Hah!" Yuna menghela nafas panjang.
"Maaf..." Alexis mengusap wajahnya.
Yuna langsung berdiri dan berjalan dengan kesal, Alexis syok
dan langsung menyusul lalu menarik tangan gadis manis seperti manekin itu.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Alexis panik.
Yuna menatapnya penuh kebencian dan Alexis merasa hatinya
tergetar oleh itu.
"Kau tahu kan dia sangat setia dan mencintaiku... Lalu
aku harus pura-pura tidak mengetahui segalanya saat kau menusuknya dari
belakang." Yuna menekan nadanya dengan suara lirih yang geram.
"Ah!" Alexis melepas tangan Yuna dan memegangi
kepalanya sendiri.
"Ah Yuna!" Alexis memegang kedua bahu gadis itu.
"?..." Yuna masih menusukkan matanya ke wajah Alexis
yang memucat.
"Bahkan aku tidak pernah melakukannya!"
"Apa?"
"Ya! Karena dia lah yang melakukannya kepadaku
haha!" Alexis mulai merasa aneh dengan pengakuannya.
"Astaga!" Yuna menganga.
"Kyaa!! Jijik!!" Yuna berlari panik ke kamarnya.
"Yunaa!" Alexis mengejar.
"Brak!" Yuna membanting pintu kamar hotel setelah
hilang dibaliknya.
"Hah?" Huda sampai terbangun dan jantungnya
berdebar hebat.
Melihat Yuna yang berkacak pinggang dengan muka masam.
"Sa... Sayang?" Huda masih terengah-engah dalam
kagetnya.
"Huda!" Bentak Yuna namun terasa masih manja.
"A... Ada apa? Kenapa kamu marah..." Huda masih
belum bangkit dari bed-nya, dia masih menenangkan jantungnya yang berdebar
karena tadi dia juga mengalami tidur ketindihan.
"Adekmu itu!" Tunjuk Yuna ke bagian bawah Huda.
"Ah?!" Huda langsung menoleh ke barangnya dan
membuka celana langsung untuk mengintipnya.
"Masih utuh Sayang!" Panik Huda.
"Aduuh!!" Yuna mengelap muka dengan tangannya.
"Anumu itu kalau masuk ke belakangnya Alexis jangan
pernah lagi dusel-dusel ke aku ya!" Perintah Yuna.
"Aaah... Ampun Yang!" Huda merangkak
menuruni bed dan memegangi kaki Yuna.
"Ampun Yang, ampun! Aku cuci tujuh kali aku gosok pakai
tanah deh!" Mohon Huda.
"Astaga, Huda!" Bentak Yuna tak habis pikir.
"Bodoh!" Pekiknya.
"Iya iya iya aku bodoh iya aku bodoh!" Huda
menciumi kaki Yuna.
"Kau gila, Huda!" Yuna berteriak kecil menahan
emosi sambil menangis kecewa.
"Aku mohon ampun Sayang, aku mohon ampun,
ampun..." Huda memeluk pinggang Yuna yang terisak-isak menahan emosi.
"Aku yang paling bodoh, kenapa tidak bertanya sebelum
berangkat coba! Padahal aku yang kasih tahu kamu soal ksatria templar itu lah
leluhur mereka dan kalau mereka punya upacara nyleneh! Malah kamunya nurut aja
demi cita-cita balas dendam kamu dibanding lari nikahin aku!" Yuna
menangis.
"Apa aku bisa Yuna menikahi kamu sementara ayah kita
satu orang yang sama?!" Tangis Huda pecah.
"BISA!!!" Bentak Yuna sambil melotot.
Alexis sedari tadi ternyata masih berdiri di depan pintu
hotel untuk menguping dibantu smartphone paling mahal miliknya
yang memiliki penterjemah dan penyadap suara, belum ada orang yang punya smartphone itu
di Indonesia.
"Kau... Anumu... Aku... Gimana coba... Bekas itu! Aduh
aku jijik..." Yuna menangis memukul-mukul bahu Huda.
"Iya iya aku salah iya maaf aku salah!" Huda
tertunduk malu.
"Emangnya enak kah?" Yuna geram, dia memegang
kepala Huda dan melotot ke matanya yang kini hanya beberapa inchi darinya.
"Lumayan..." Gumam Huda jujur.
"Plas!" Yuna menampar pipi Huda.
"Sadar! Sadar! Jangan gila!" Yuna menganggap Huda
terlalu mabuk.
Huda hanya pasrah dan memajang wajah bloon.
"Enak katamu? Lumayan?" Yuna geram.
"Aku mem... Aku membayangkanmu..." Mata Huda
mengalirkan air hangat.
"?...." Hati Yuna rasanya rontok mendengar itu.
"Kau tahu, aku tidak bisa senantiasa melakukan hal yang
aku suka itu bersamamu... Karena kau keluargaku..." Huda bersuara berat.
"Banyak beban di pikiranku tentang hidupku, ibuku,
kamu, ayah... Dosa-dosaku yang tak tertolong lagi... Aku... Dari kecil...
Menyelamatkan nyawa ibuku dengan melakukan dosa... Aku menemukan obat hatiku
yaitu kamu namun ternyata mencintaimu juga dosa... Dan aku melampiaskan
keinginanku untuk bersamamu dengan cukup membayangkan wajahmu dengan berbuat
dosa... Aku selalu menambah dosaku... Aku tidak melakukannya dengan Alexis pun
akan tetap terpuruk ke dalam dosa... Aku bisa mabuk, membunuh, judi... Adu
nyawa di ring... Karena aku marah kenapa aku seperti ini..." Huda bersuara
sangat berat menahan kepalanya yang pusing dan akhirnya jatuh pingsan.
"Hudaa!" Yuna berteriak.
"Kita itu masih bisa nikah!!! Kita berbeda ibunya!!!" Pekik Yuna sampai wajahnya memerah.
"Yuna?! Apa kalian okay?!" Alexis langsung
berteriak spontan di depan pintu tanpa peduli jika ketahuan menguping sedari
tadi.
Yuna berjalan cepat meraih kunci dan membuka kunci pintu,
dia membukanya "Huda pingsan!"
Alexis langsung lari mendekati pujaan hatinya yang terkapar
di lantai dan meletakkan telinga ke dadanya, "astaga, Huda! Ayo kita bawa
dia ke rumah sakit! Jantungnya lemah!" Alexis angkat kepala dan membopong
Huda ke bed.
"Sial.." Yuna terisak kemudian pergi ke
resepsionis di bawah meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, ini semua karena aku kah?" Gumam Alexis
sambil membelai Huda yang terpejam.
"Tapi aku tidak mau menyerah dengan hubungan kita...
Maafkan aku..." Bisik Alexis mesra yang lalu mengecup bibirnya lembut.
Yuna berjalan guntai ke resepsionis untuk meminta bantuan
panggil ambulans dan beberapa saat kemudian mobil putih berpalang merah itu
datang, Yuna mengantar para perawat ke kamarnya dan mereka membawa Huda dengan
tandu memasuki mobil.
Alexis dan Yuna hanya diam duduk berhadapan mendampingi
Huda. Yuna memiliki mata kosong dan pikirannya null. Rasanya sangat sadis
mengenal Huda ini dan hidupnya yang normal berubah drastis jika dipikir-pikir.
Huda terantar ke ranjang pasiennya dan segala perawatan
dibiayai Alexis. Kemudian setelah menyelesaikan segala administrasi, Yuna dan Alexis
duduk di bangku taman rumah sakit, mereka duduk diam bersama beberapa saat
dalam keheningan.
"Apa kau tahu apa yang Huda alami sejak kecil? Dia
pernah menceritakan semua kepadaku..." Yuna berujar pelan.
"Boleh kah aku tahu?" Alexis iba.
"Dulu dia diculik dan disiksa karena dipaksa untuk
menjual narkoba, beruntung dia tidak dilecehkan... Teman-teman seumurannya ada
yang mati menerima hal yang sama... Dan dia punya dendam membalas itu... Dan
setelah dia menemukanku juga memperlakukanku sebaik mungkin sebagai kekasihnya,
teryata ibunya adalah ibu tiriku..." Yuna menghirup nafas dengan perih.
"Astaga? Tapi kalian saling mencintai?" Alexis
tidak kuat menerima kecupan fakta ini.
"Kau tahu, dia menemuiku pertama kali dan langsung
mencintaiku karena dia begitu kesepian sebelumnya dan aku menemaninya berjuang
ditengah serangan musuhnya.. lalu kau sekarang datang.." Yuna tersenyum
berat.
"Aku juga mengalami banyak hal berat dari keluargaku...
Dan mengalami cinta itu saat bertemu dia.." Alexis membuang muka lemas.
"Alexis..." Yuna terdiam.
Alexis pun terhenyak.
"Kau saat bertemu dia merasakan aura pekat yang
menyelimutinya bukan dan bagimu dia memiliki keistimewaan?"
"Iya.. mungkin karena itu semua satanis memperebutkan
dia..."
"Ya, karena itu hidupnya penuh kesialan.. hidupnya
dikutuk sejak awal... Mungkin ibunya juga keturunan orang seperti
keluargamu..." Yuna berpikir jauh ke belakang dengan terawangannya.
"Aku ingin membantunya tapi bagaimana caranya?.." Alexis
kehabisan akal.
"Dia ingin meghancurkan elite... Dan kau itu keluarga
komunitas elite.. apa kau yakin masih menginginkan Huda?" Bujuk Yuna.
"Aku sudah terlanjur putus asa semenjak mengenal Huda,
aku seperti menemukani dunia baru, karena itu aku ingin mualaf... awalnya aku
ingin berubah menjadi orang biasa setelah ke Indonesia dan hidup ikut dia. Tapi
dia justru ingin terjun ke duniaku lebih jauh dan aku tidak menyangka ada kamu
di antara kami..." Alexis mulai terbuka.
"Kau tahu aku ini juga bertujuan sama dengan Huda sebab
ini misi keluargaku, keturunanku itu mewarisi misi leluhur menumpas kelompok
kalian karena kalian musuh kami... Kalian memusnahkan naskah sejarah kaum
kami..." Yuna mulai mengajak Alexis bersilat lidah.
"Ya aku akui ... Itu fakta sejarah..."
"Keluargamu itu ahli kitab dalam kitab suciku... Mereka
memalsukan semuanya, Alexis. Mereka mengganti segalanya.. tahun... Ilmu
ilmiah... Sejarah.. risalah agama... Rantai amanah politik... merombak hukum
jual beli.. mengubah mata uang... Semua..." Gadis yang ternyata sangat
gemar membaca berita sejarah dunia itu mulai memancing.
"Aku tahu maksudmu Yuna.. dan aku tidak membantah itu..
aku tahu kamu tidak bodoh..."
"Aku akan mengawasimu dari jauh Alexis, kau tahu aku
punya kemampuan batin bukan?"
"Ya... Auramu sangat mengandung kekuatan aku bisa
merasakannya" Alexis pasrah.
"..." Yuna menoleh ke Alexis.
"Jadi jangan mempermainkan Huda, jika dia punya tujuh
ribu khodam... Maka aku akan memiliki tujuh puluh ribu khodam... Jika kamu
punya delapan puluh ribu khodam maka aku akan memiliki sembilan ratus ribu
khodam... Aku tahu aku berdosa tapi aku pastikan setelah Huda pergi denganmu..
jumlah khodamku akan terus bertambah... Karena aku menempuh jalan ibadahnya
muslim.. karena itu golonganmu sekuat tenaga bersekutu sebab satu orang
sepertiku selalu selangkah di depan kalian apa lagi orang suci muslim"
ancam Yuna halus.
"Aku tidak akan menghianati siapa pun... Aku hanya akan
diam di hadapan para petinggi... Aku akan menuruti kemauan Huda... Dan jika dia
terancam bahaya dan aku terpojok, aku akan memanggilmu..." Janji Alexis.
"Buat lah aku percaya pada ucapanmu ini sebab aku tidak
bisa mengadakan kepercayaan dengan orang sepertimu, aku berbeda dengan Huda
yang tenggelam dalam masa lalunya... Aku tidak pernah minum bir saat
berpikir.." Yuna berdiri dan berjalan pelan meninggalkan Alexis yang
terbisu oleh masalahnya.


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar